4

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan inayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

 

Pekan baru, 20 Desember 2014

 

 

 

 

Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………… ii

BAB 1 PENDAHULUAN……………………………………………………………………………….. 1

  1. LATAR BELAKANG…………………………………………………………………………… 1
  2. RUMUSAN MASALAH………………………………………………………………………. 1
  3. TUJUAN……………………………………………………………………………………………… 2

BAB 2 PEMBAHASAN………………………………………………………………………………….. 3

  1. IMAN KEPADA ALLAH SWT……………………………………………………………. 3
  2. TAQWA KEPADA ALLAH SWT………………………………………………………… 8
  3. IKHLAS KEPADA ALLAH SWT………………………………………………………… 18

BAB 3 PENUTUP…………………………………………………………………………………………… 20

  1. KESIMPULAN…………………………………………………………………………………….. 20
  2. SARAN……………………………………………………………………………………………….. 20

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………. 21

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Kita sebagai umat islam memang selayaknya harus berakhlak baik kepada Allah karena Allah lah yang telah menyempurnakan kita sebagai manusia yang sempurna. Untuk itu akhlak kepada Allah itu harus yang baik-baik jangan akhlak yang buruk.Seperti kalau kita sedang diberi nikmat, kita harus bersyukur kepada Allah.

Menurut pendapat Quraish Shihab bahwa titik tolak akhlak kepada Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji; demikian agung sifat itu, jangankan manusia, malaikat pun tidak akan mampu menjangkaunya.

Seorang yang berakhlak luhur adalah seorang yang mampu berakhlak baik terhadap Allah ta’ala dan sesamanya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

 

حُسْن الْخُلُق قِسْمَانِ أَحَدهمَا مَعَ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ ، وَهُوَ أَنْ يَعْلَم أَنَّ كُلّ مَا يَكُون مِنْك يُوجِب عُذْرًا ، وَكُلّ مَا يَأْتِي   مِنْ اللَّه يُوجِب شُكْرًا ، فَلَا تَزَال شَاكِرًا لَهُ مُعْتَذِرًا إِلَيْهِ سَائِرًا إِلَيْهِ بَيْن مُطَالَعَة وَشُهُود عَيْب نَفْسك وَأَعْمَالك .

وَالْقِسْم الثَّانِي : حُسْن الْخُلُق مَعَ النَّاس .وَجَمَاعَة أَمْرَانِ : بَذْل الْمَعْرُوف قَوْلًا وَفِعْلًا ، وَكَفّ الْأَذَى قَوْلًا

وَفِعْلًا

 

Keseluhuran akhlak itu terbagi dua.Yang Pertama, akhlak yang baik kepada Allah, yaitu meyakini bahwa segala amalan yang anda kerjakan mesti (mengandung kekurangan/ketidaksempurnaan) sehingga membutuhkan udzur (dari-Nya) dan segala sesuatu yang berasal dari-Nya harus disyukuri.

Dengan demikian, anda senantiasa bersyukur kepada-Nya dan meminta maaf kepada-Nya serta berjalan kepada-Nya sembari memperhatikan dan mengakui kekurangan diri dan amalan anda.Kedua, akhlak yang baik terhadap sesama.kuncinya terdapat dalam dua perkara, yaitu berbuat baik dan tidak mengganggu sesama dalam bentuk perkataan dan perbuatan.

 

 

 

 

  1. Rumusan Masalah

Adapun contoh akhlak kepada Allah SWT yang akan di bahas dalam makalah ini adalah :

  1. Iman kepada Allah SWT
  2. Taqwa kepada Allah SWT.
  3. Ikhlas kepada Allah SWT.

 

 

 

 

  1. Tujuan Penulisan
  2. Tujuan umum

Agar seluruh muslimin dan muslimat senantiasa mengetahui cara berakhlak kepada Allah SWT.

 

  1. Tujuan khusus

Agar masing-masing mahasiswa mampu berakhlak kepada allah SWT dengan cara beriman kepada Allah SWT, bertaqwa kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintahnya dan menghentikan seluruh larangannya serta menerapkan sikap ikhlas dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

POKOK PEMBAHASAN

 

  1. IMAN KEPADA ALLAH

1.1 Pengertian Iman Kepada Allah SWT

Iman kepada Allah adalah mengakui adanya Allah yang maha pencipta semua mahkluk, pada hakikatnya iman kepada Allah bagi manusia sudah terjadi ketika manusia sudah terjadi ketika manusia iyu dilahirkan, manusia membutuhkan perlindungan atau pertolongan yang sifatnya mutlak[1]

Zat Allah adalah sesuatu yang ghaib, akal manusia tidak mungkin dapat memilarkan zat Allah, oleh sebab itu mengenai adanya Allah, kita harus puas dengan apa yang di jelaskan Allah melalui firman-firmannya dan bukti-bukti berupa adanya alam semesta ini, akal pikiran manusia dapat di gunakan untuk memikirkan dan merenungkan alam ciptaan tuhan, dengan di dukung oleh keterangan – keterangan ayat-ayat Al-Quran dan sunnah Rasullah , akan bertrambah subur iman seseorang kedudukan dan keteguhan iman sangat besar artinya dalam kehidupan seseorang. Iman yang teguh akan membuahkan sikap ihklas dan bersyukur dengan demikian seseorah yang teguh imannya senantiasa akan meras tenteram sebagaiman firman Allah (Q.S Ar-Ra’du: 28)

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ(28)

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

1.2.      Dasar beriman kepada Allah

Jika di perhatikan proses pengamatan manusia, mula-mula panca indera menerima rangsangan dari luar , kesan dan rangsangan itu disalurkan ke otak, otak menerima dan menyadari rangsangan itu, lalu meminta pertimbangan kepada hati, hasil pertimbangan dilaporkan kembali ke otak, melalui saraf, otak mengintruksikan anggota tubuh untuk berbuat[2]

Semua kesan / rangsangan dari luar tentang alam ini dipertimbangkan oleh hati, hati yang memberi pertimbangan atau berkeyakinan untuk berbicara berbuat, adanya alam semesta ini dan zat yang menciptakannya, yakni Allah di yakini oleh hati. Keyakinan ini di ikuti dengan ucapan pengakuan akan adanya Allah serta dibarengi pula dengan perbuatan berupa amal ibadah kepadanya, pengakuan hati merupakan dasar iman. Perlu di ingat bahwa hanya pengakuan tidak akan ada artinya tanpa ucapan lisan dan pengalaman anggota badan, sebab pengakuan hati, pengucapan lisan dan pengalaman anggota badan merupakan satu kesatuan yang tak dapat di pisahkan.

Namun demikian untuk mencapai iman yang benar tidak cukup adanyan dengan pengakuan hati,pengucapan lisan dan mengamalkan angota badan tetapi juga harus di padukan dengan tuntunan oleh Allah (Alquran)serta hadis rasullulah

 

 

1.3.Cara beriman kepada Allah

a.Bersifat Ijamli

cara beriman bersifat ini,maksudnya mempercayai Allah secara umum atau secara garis Allah,kita percaya akan allah itu ada dan allah maha pencipta,maha pengatur,maha pengusa hanya Allah yang pantas di sembah oleh manusia dan meminta pertolongan dan tempat manusia akan kembali.

b.Bersifat Tafsili

Cara beriman dengan tafsili yaitu mempercaiyai Allah secara terperenci,mempercai dengan sepenuh hati bahwa Allah mempunyai sifat wajib,dan Allah,mempunyai sifat mustahil yang jumlahnya sama dan memiliki sifat jaiz dalam hal kutrat dan iradatnya.

 

1.4. Bukti-Bukti adanya Allah

1.hakikat manusia sebagai makluk yang bertuhan

Pada hakikat manusia membutuhkan yang maha kuasa tempat berlindung dan semua agama mengakui adanya tuhan

2.ayat-ayat Alquran

Di dalam kitap alquran terdapat ayat-ayat adanya Allah tuhan yang maha kuasa di antaranya:

 

a.surat Albaqarah ayat 163

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ(163)

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

b.surat ar rum ayat 25

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنْتُمْ تَخْرُجُونَ(25)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya.Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).

c.surat arrad ayat 2 s/d 4

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ(2)وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ(3)وَفِي الْأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(4)

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan.Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan.Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya.Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang.Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.

3.kejadian alam semesta

Akal yang sehat tentu akan menyandari bahwa adanya sesuatu adanya yang mengadakannya.demikiaan pula dengan alam semesta ini beserta isi nya pasti ada yang menciptakan dan pencipta jagat raya ini pasti zat pencipta alam surat Ibrahim ayat 23 Allah berfirman

 

4.kejadian manusia

Lewat kejadian manusia terbukti manusia di ciptakan oleh zat maha kuasa.tidak mungkin manusia ada dengan sendirinya Allah berfirman Almukminun ayat 12-14

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ(12)ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ(13)ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ(14)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

 

 

 

 

 

1.5.     Aspek-Aspek yang mencakup iman kepada Allah SWT

Adapun yang mencakup aspek iman kepada Allah SWT ialah:

  1. Iman Akan adanya Allah

Kebesaran Allah ini dapat dibuktikan oleh fitrah, akal, syara’ (Al-Quran dan Hadis) danperasaan, hal ini sebagaimana terperinci di dalam poin-poin berikut ini :

  1. Dalil kebesaran Allah berdasarkan fitrah.

Semua mahkluk di ciptakan oleh Allah dalam keadaan beriman kepada penciptanya, tanpa melalui proses berputar. Seseorang tidak akan berpaling dari fitrah ini kecuali jika ada sesuatu yang memalingkan hatinya dari fitrah tersebut. Sebagaimana sabda nabi

“tidak ada anak yang terlahir kecuali di lahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi dan Nasrani atau Majusi(H.R Bukhari)

  1. Dalil Keberadaan Allah Berdasarka Akal

Semua makhluk baik yang pada zaman dulu pmaupun yang kan dating pasti membutuhkan pencipta yang menciptakannya. Sedang mereka tidak mungkin ada dengan sendirinya atau mungkin ada secara kebetulan.

Allah telah menyebutkan dalil ‘aqli (aqal) dan bukti yang qath’I (pasti) pada surah at-thur yang artinya : “ apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri”.

Maksudnya ialah bahwa mereka tidak mungkin diciptakan tanpa ada yang menciptakannya. Dan tidak mungkin mereka menciptakan dirinya sendiri sehingga tidak ada yang lain kecuali Allah lah yang menciptakannya.

  1. Mengimani Allah Sebagai Rabbi

Maksudnya ialah mengimani bahwa Allah satu-satunya Rabbi, dimana tidak ada sesuatu ataupun penolong baginya dalam masalah ini. Yang dimaksud dengan rabi adalah zat yang menciptakan, menguasai dan memerintah, yaitu tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada raja kecuali Allah dan hak memerintah hanya miliknya semata.

Allah berfirman : Q.S Al-A’raf : 54

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ(54)

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.Q.S Fathir : 13

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ(13)

Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.

Dalam hal ini tak ada seorang pun manusia yang meningkari bahwa Allah adalah Rabbi kecuali orang-orang yang sombong yang ia sendiri tak yakin dengan apa yang ia katakan.

  1. Mengimani Allah sebagai Illah

Maksudnya adalah mengimani bahwa Allah adalah satu-satunya Illah yang sebenarnya dan tidak ada sekutu baginya. Yang dimaksud dengan Illah ialah Al-ma’luuh atau Al-Ma’buud yang berarti zat yang disembah oleh manusia dengan maksud untuk mencintai dan mengangungkannya. Allah berfirman (Q.SAl-Baqarah : 163)

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ(163)

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Al-Imran : 18

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ(18)

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

  1. Mengimani sifat-sifat dan Nama-nama Allah

Maksudnya Adalah menetapkan dan nama-nama sifat yang telah ditetapkan oleh Allah untuk dirinya sendiri baik dalam tetapnya maupun dalam sunnah Rasulnya. Tentunya dengan gambaran yang sesuai dengan keagungan Allah, tanpa harus merubah, mengingkari, memuaskan, tentang bentuk atau caranya ataupun menyerupakannya dengan sesuatu apapun. Allah SWT berfirman :

 

(Q.S Al-A’raaf : 180)

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ(180)

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

(Q.S Ar-Rum : 27)

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ(27)

Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(Q.S As-Syura : 11)

قَوْمَ فِرْعَوْنَ أَلَا يَتَّقُونَ(11)

(yaitu) kaum Fir`aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?”[3]

 

 

 

  1. Taqwa Kepada Allah SWT

 

  • Pengertian Taqwa kepada Allah SWT.

 

Taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. Hujahnya adalah Al Quran At Tahrim ayat 6 yang bermaksud: “Wahai orang yang beriman, hendaklah kamu memelihara kamu dan keluargamu dari api neraka”. Dalam Al Quran, ALLAH sering menyeru dengan kalimat ittaqu atau yattaqi.

Tambahan huruf pada asal kata waqa membawa perubahan makna.Di sini ittaqullah mempunyai maksud hendaklah kamu mengambil ALLAH sebagai pemelihara /benteng/pelindung.Yaitu hendaklah jadikan Tuhan itu pelindung.Jadikan Tuhan itu benteng.

Bila sudah berada dalam perlindungan, kubu atau benteng Tuhan maka perkara yang negatif dan berbahaya tidak akan masuk atau tembus. Artinya jadikanlah Tuhan itu dinding dari segala kejahatan.

Taqwa merupakan perintah yang wajib atas setiap orang Islam.Setiap orang beriman diperintahkan oleh Allah dengan benar2 bertaqwa kepada Allah. Dalil2 Al-Qur’an dan  Hadis Nabi berkenaan “taqwa”  serta kewajipan “bertaqwa” terlalu banyak , diantaranya :

Firman Allah :

يأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ اتَّقُواْ اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya”. [Al-Imran (3) : 102]

Firman Allah :
قُل لاَّ يَسْتَوِى الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُواْ اللَّهَ يأُوْلِى الاٌّلْبَـبِ

لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah (wahai Muhammad): Tidak sama yang buruk dengan yang baik, walaupun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Oleh itu bertaqwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal fikiran, supaya kamu berjaya.  
[Al-Maedah (5) : 100 ]

 

Sedangkan takwa secara lebih lengkapnya adalah, menjalankan segala kewajiban, menjauhi semua larangan dan syubhat (perkara yang samar), selanjutnya melaksanakan perkara-perkara sunnah (mandub), serta menjauhi perkara-perkara yang makruh(dibenci).

Kata takwa juga sering digunakan untuk istilah menjaga diri atau menjauhi hal-hal yang diharamkan, sebagaimana dikatakan oleh Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ketika ditanya tentang takwa, beliau mengata-kan, “Apakah kamu pernah melewati jalanan yang berduri?” Si penanya menjawab, ”Ya”. Beliau balik bertanya, “Lalu apa yang kamu lakukan?”Orang itu menjawab, “Jika aku melihat duri, maka aku menyingkir darinya, atau aku melompatinya atau aku tahan langkah”. Maka berkata Abu Hurairah, ”Seperti itulah takwa.”

Pada prinsipnya ketakwaan seorang adalah apabila ia menjadikan suatu pelindung antara dirinya dengan apa yang ia takuti. Maka ketakwaan seorang hamba kepada Rabbnya adalah apabila ia menjadikan antara dirinya dan apa yang ia takuti dari Rabb (berupa kemarahan, siksa, murka) suatu penjagaan/pelindung darinya. Yaitu dengan menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Maka tampak jelas, bahwa hakikat takwa adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Thalq bin Hubaib, “Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan nur (petunjuk) dari Allah karena mengharapkan pahala dari-Nya. Dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah karena takut akan siksa-Nya.”

Ketaqwaan seorang muslim kepada Allah SWT. Taqwa bukan sebatas melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan.Bukan sebatas menunai ketaatan dan menjauhkan kemaksiatan. Bukan sebatas membuat apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang. Bukan juga sebatas meninggalkan apa yang haram dan menunaikan apa yang fardhu. Bukan sebatas menjauhkan yang syirik dengan beramal dan taat kepada Allah. Bukan sebatas menjauhkan diri dari segala apa yang akan menjauhkan diri kita daripada Allah. Bukan sebatas membatasi diri kepada yang halal saja dan bukan sebatas beramal untuk menjuruskan ketaatan kepada Allah semata-mata.

Usaha untuk menjadikan Allah sebagai pemelihara atau pelindung atau pembenteng ialah dengan melaksanakan perkara-perkara yang disuruh oleh Allah lahir dan batin. Dengan kata-kata yang lain, perkara yang disuruh itu ialah membina sifat-sifat mahmudah. Mengumpulkan dan menyuburkan sifat-sifat mahmudah itulah usaha bagi menjadikan Allah itu sebagai pemelihara atau pelindung. Membina sifat-sifat mahmudah itulah usaha ke arah taqwa

Definisi taqwa adalah memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala Perintahnya dan menjauhi segala larangannya.[4]

 

 

  • Empat Kriteria Taqwa

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali Imran: 102).

Apa saja kriteria takwa itu? Imam Ali ra mendefinisikan taqwa dalam empat kriteria, yakni Al-khouf bil Jalil wal hukmu bit tanzil wal isti’dad li yaumil rahil war ridho bil qolil. (Takut kepada Allah yang Maha Mulia, berhukum dengan al-Quran yang telah diturunkan, bersiap diri untuk hari akhir, dan ridho dengan bagian sedikit)

Pertama,Al-Kouf bil Jalil (Takut kepada Allah yang Maha Mulia).Yang dimaksud takut disini bukan seperti kepada algojo atau atasan yang jahat. Namun, yang dimaksud takut disini adalah takut karena kebesaran dan kemahabijaksanaan Allah SWT, sehingga dia takut jika melanggar aturan Allah SWT, bahkan dia takut padaNya meskipun manusia tidak melihatnya.Hal ini pernah tercermin pada seorang wanita yang meminta Nabi saw agar ia dihukum rajam karena perbuatannya, sebab dia takut akan siksa Allah di akhirat.

Namun Rasulullah saw masih mengulur-ngulur waktu dalam menjatuhkan sangsi karena kehamilannya. Meskipun pelaksanaan sangsi diundur, namun wanita ini tidak sabar menunggu, dan pada waktunya ia pun dengan kesadaran sendiri mendatangi Nabi saw untuk dihukum. Setelah Nabi saw menjatuhkan hukuman rajam padanya hingga wafat, Nabi pun menshalatkan jenazahnya. Saat itu Umar bin Khattab ra bertanya memprotes Nabi, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau mau menshalatkan wanita penzina ini?” Nabi saw menjawab, “Wahai Umar, seandainya taubat wanita ini ditimbang dengan taubat sepuluh penduduk Madinah, pastilah taubatnya melampaui mereka”.
Perasaan takut kepada Allah inilah yang membuat manusia berhati-hati dalam melakukan segala kejahatan.
Kedua, al-hukmu bit tanzil (Berhukum kepada al-Quran yang diturunkan). Banyak di antara umat Islam yang ingin berhukum kepada Al-Quran, namun mereka masih memakai hukum kuffar.Mau bertuhankan Allah namun masih percaya dengan praktek klenik dan khurafat.
Suatu hari dua muallaf Yahudi telah resmi masuk Islam, namun dalam amalannya, mereka masih menikmati ritual agama Yahudi, dimana setiap hari sabtu masih melakukan ibadah cara Yahudi, maka turunlah ayat Allah SWT:

 

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah: 208)

Ayat ini menunjukkan agar kita totalitas dalam berIslam serta hanya mengacu kepada tuntunan al-Quran dan sunnah Rasulullah saw, serta tidak mencampuradukkan ritual Islam dengan ritual agama lain.
Ketiga, Al-isti’dad li yaumil rahil (Menyiapkan diri untuk hari akhirat). Nabi saw pernah menyatakan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang dapat menahan hawa nafsunya dan beramal untuk persiapan setelah meninggal dunia. Karena pada hakekatnya, hidup di dunia laksana menyebarang jalan.Artinya, dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan alam akhirt-lah tujuan akhir hidup kita.Oleh karena menyiapkan diri untuk tujuan akhir adalah penting, agar selamat sampai tujuan.

Suatu hari, tatkala Umar bin Abdul Aziz menerima tampuk kekhalfihan, beliau bersitirahat sejenak setelah menghadiri upacara pemakaman khalifah sebelumnya. Baru saja umar rebahan untuk beristirhat, tiba-tiba ada orang yang berkata, “Wahai, tidakkah anda segera mengembalikan harta yang pernah diambil khalifah sebelummu secara zhalim?”. Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Tunggulah sebentar, aku akan beristirahat terlebih dahulu, nanti setelah zuhur akan aku serahkan harta yang pernah diambil secara zalim itu”. Namun kemudian orang itu berkata, “Siapakah yang menjaminmu tetap hidup setelah zuhur nanti?”. Mendengar kata-kata itu, segera saja Umar bin Abdul aziz tersentak dan tidak bisa tidur lagi, dan beliau segera mengembalikan harta yang pernah diambil secara zalim oleh khalifah sebelumnya.
Perasaan Umar seperti di atas adalah karena beliau ingin agar di akhirat tidak dituntut siapapun.Ini adalah penyikapan orang yang selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.
Keempat, al-ridho bil qolil (Ridho dengan bagian yang sedikit).Sikap ini sepadan dengan makna qona’ah (rasa puas dengan pemberian Allah).Sikap ini sangat sulit jika tidak didorong dengan sikap husnuzzhon (baik sangka) kepada Allah SWT, sebab sifat dasar manusia adalah selalu ingin lagi dan ingin lagi.
Keluarga pasangan Ali bin bi Thalib dan Fatimah adalah cermin manusia yang ridho dengan pembagian Allah, bahkan saat Allah telah memberi rezeki pada mereka, mereka harus memberikannya kembali kepada orang yang lebih tidak mampu dari mereka.
Itulah empat kriteria takwa yang didefiniskan Saidina Ali bin Abi Thalib.

 

Adakah kriteria itu dalam diri kita?Jika belum, berarti waktu / masa kita yang lalu harus dievaluasi, demikian juga fungsi wasiat takwa.Wallahu a’lam.[5]

 

 

 

 

 

  • Unsur Takwa

 

  • Takut kepada Allah, dalam artian kita menanamkan rasa bahwa Allah itu mutlak adanya, Esa, dimana gerak kita selalu terlihat oleh-Nya.Taqwa jenis ini merupakan tingkatan awal, dalam hal ini Allah berfirman :

 

Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. 24:52)

 

“Hai manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah segala kandungan wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras. (QS. 22:1-2)”

 

Sekarang, sudah mulai jelas bukan? Jika kita mendasarkan pemahaman hanya pada tingkat ini saja, kapan kita akan merasakan nikmatnya iman? Kapan kita akan mengarahkan taqwa dengan benar? Jika yang kita ketahui hanya satu ”takut pada Allah”. Sedangkan takut pada Allah itu sendiri ada prosesnya.

 

“Demi kemuliaan-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan dua rasa takut dan dua rasa aman pada seorang hamba. Jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku akan memberinya rasa aman di akhirat. Dan jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan memberinya rasa takut di akhirat.”

 

  • Setelah kita melaui proses pertama, barulah kita beranjak pada tahapan yang kedua yaitu menjalankan perintah al-Qur`an dan menjauhi apa yang jelas-jelas di larang dalam kitab-Nya. Al-Qur`an surat al-Isra: 9 menjelaskan:

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”

“Barang siapa membaca al-Qur`an dan mengamalkannya, pada hari kiamat kelak kelak Allah akan memakaikan mahkota pada kedua orang tuanya, yang gemerlapan (sinarnya) lebih baik daripda sinar matahari dalam salah satu rumah dunia, sekiranya sinar itu di dalamnya. Lantas bagaimana dugaan kalian mengenai orang yang mengamalkannya sendiri.”

 

“Demikianlah (perintah Allah), barang siapa mengagungkan syair-syair Allah (lambang-lambang-Nya), sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati (QS. Al-Hajj:32)”

 

“Barang siapa membaca al-Qur`an dan menguasainya (benar-benar memahami maknanya), kemudian ia menghalalkan yang dihalalkan oleh al-Qur`an dan mengharamkan yang diharamkannya, kelak al-Qur`an akan memasukkannya ke dalam surga dan mengizinkan ia memberi syafaat kepada sepuluh orang keluargannya (semuanya) yang telah diharuskan masuk neraka. (HR. Tirmidzi)

 

  • Mempersiapkan  diri untuk Hari Akhir. Tingkatan ketiga yaitu mempersiapkan untuk hari Akhir.Tahapan taqwa ini merupakan tolak ukur dimana kita melakukan semua aktifitas di dunia ini dalam rangka mempersiapkan diri untuk bertemu dengan-Nya.Membuktikan ketaqwaan kita secara tepat untuk melangkah pada fase kehidupan ke-3 dan seterusnya (alam barzah dan akhirat).

 

“Tidak seorangpun di antara kalian kecuail diajak bicara oleh Allah tanpa penerjemah. Kemudian ia menoleh ke kanan, maka ia tidak melihat sesuatu melainkan apa yang pernah dilakukannya (di dunia). Ia pun menoleh ke kiri, maka ia tidak melhat sesuatu melainkan apa yang pernah dilakukannya (di dunia). Lalu ia menoleh ke depan, maka ia tidak melhat sesuatu melainkan neraka di depan wajahnya. Karena itu, jagalah diri kalian dari neraka meski dengan sebutir kurma.”

 

  • Ikhlas menerima apa yang ada. Tahapan terakhir, setelah kita melakukan proses taqwa di atas, kita harus menyertakan rasa rela. Rela di sini dalam artian kita sepenuhnya ridha (ikhlas) dengan ketetapan Allah yang digariskan kepada kita baik lahir maupun batin, rela pada kuantitas bentuk materi yang sedikit.

Barang siapa meninggalkan dunia (wafat) dengan membawa keikhlasan karena Allah swt.saja,ia tidak menyekutukan Allah sedikitpun, ia melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, maka ia telah meninggalkan dunia ini  dengan membawa ridha.

 

Bersyukur juga harus kita perhatikan, mengapa? Karena begitu sedikit manusia yang bersyukur, banyak dari mereka menganggap syukur hanya dengan kalimat al-hamdulillah namun tak banyak dari mereka mengetahui cara bersyukur.

 

Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS. 34:13)

 

Dan orang-orang yang berjuang untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. 29:69)

 

Seperti itulah tahapan bertaqwa kepada Allah.Seperti itu pula konsep taqwa, yang bila salah satu dari keempatnya hilang, maka berkuranglah ketaqwaan itu.  Oleh sebab itu, surat al-Baqarah: 41 yang artinya “maka hanya kepada-Ku kamu harus bertakwa“. Pertanyaannya; taqwa yang bagaimana?Dan di tingkat mana ketaqwaan itu tertanam?

 

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan ketaqwaan sebenar-benarnya.(Al-Imran: 102)[6]

 

2.4  Tingkatan Takwa

 

  • Taqwa nya Orang Orang yang hanya Melaksanakan Perintah Allah dan Menjauhi Larangan Allah dengan Sekedarnya atau hanya melaksanakan agar gugur kewajiban saja.

Taqwa semacam ini, adalah taqwa nya orang orang yang nggak sehat rohani nya.karena orang yang taqwa semacam ini hanya menjadikan beban saja kepada orang yang melakukannya. semisal orang tersebut melaksanakan sholat tanpa ada kesadaran dari hati untuk melaksanakan sholat tapi lebih karena orang tersebut takut akan berdosa jika tidak melaksanakan sholat atau meninggalkannya. sholatnya pun asal saja, tidak tepat waktu, tidak sholat secara berjamaah di masjid atau musholla tapi “yang penting melaksanakan sholat”.

 

  • Taqwa nya Orang Orang yang ingin menjadikan ibadah itu sebagai suatu hal yang terbaik dalam hidupnya agar bisa menjadi Solusi dan Penolong bagi dirinya dalam menghadapi Problematika Hidup.

Dalam Tingkatan Taqwa yang kedua ini, akan diilustrasi sebuah Kisah yang sangat menarik. Kurang lebihnya Kisah itu seperti Ini : “Pada saat itu Hujan Deras dan angin bertiup sangat kencang. ada Tiga orang yang terjebak didalam  sebuah Gua yang tertutup sebongkah Batu Besar akibat tertiup angin. sehingga ketiga orang ini tidak bisa keluar dari goa.

Namun Karena ketiga orang ini masing masing adalah seorang yang bertaqwa dan beramal sholeh maka mereka akhirnya bisa keluar dari dalam Goa karena Pertolongan dari Allah.

Saat terjebak didalam Goa, Orang Pertama yang berprofesi sebagai Penggembala berdoa :” Ya Allah, Aku adalah seorang Penggembala, tiap malam aku selalu memeras susu dari ternakku untuk aku minumkan kepada kedua orang tuaku.  pernah pada suatu malam kedua orang tuaku karena kecapek’an, mereka tertidur, dan akhirnya aku belum sempat meminumkannya, pada saat itu anakku menangis minta susu itu, tapi aku tidak memberikan susu itu kepada anakku karena kedua orang tuaku belum meminumnya. aku menunggunya sampai mereka bangun dari tidurnya, lalu aku meminumkannya, baru setelah itu baru aku berikan susu itu kepada anak dan istri ku.” jika hal itu adalah sesuatu yang terbaik menurut Engkau, Tolong Engkau bukakan Batu yang menutup Goa ini agar Kami dapat keluar. maka seketika itu juga Batu besar yang menutup Goa itu membuka sedikit, namun Mereka bertiga masih belum bisa keluar dari Goa.

Orang kedua kemudian Berdoa lagi, “Ya Allah… aku Pernah akan Berbuat Zina dengan saudari sepupuku, karena Dia butuh Uang, kemudian aku bilang kepadanya, aku akan berikan uang / harta  kepadamu tapi dengan syarat engkau harus mau berzina denganku, lalu pada saat aku akan menidurinya…, aku terigat kepadaMu dan aku tidak jadi Melakukannya, lalu aku tinggalkan Uang dan hartaku untuk saudari sepupuku yang tidak jadi aku zinahi. Jika hal itu adalah termasuk perbuatan terbaik yang pernah aku lakukan, maka aku mohon kepadaMu ya Allah… Buka kan Pintu mulut Goa ini agar Kami bisa Keluar. Maka Batu yang menutupi pintu goa itupun bergeser sedikit… namun masih juga mereka bertiga belum bisa keluar.

Lalu Orang Ketiga juga Berdoa… Orang ketiga ini adalah seorang Pengusaha Kaya Raya (Majikan) dan mempunyai banyak Karyawan.pada saat gajian, ada seorang karyawannya yang tidak hadir dan belum mengambil gaji nya. lalu pengusaha ini mengambil inisiatif untuk membelikan gaji karyawan tersebut beberapa ekor kambing. beberapa tahun berlalu si karyawan ini tidak muncul juga hingga akirnya kambing pun bertambah banyak sampai sampai bukit penuh dengan kambing. suatu ketika karyawan yang belum mengambil gaji nya tersebut menghadap sang majikan untuk mengambil hak nya yang belum sempat diambil pada waktu itu. tanpa disangka oleh karyawan.., majikan itu ternyata memberikan seluruh kambing itu kepada si karyawan, betapa senang si Karyawan itu.

Dari cerita diatas, lalu Majikan ini ber do’a… “Ya Allah… Jika perbuatanku itu Kau catat sebagai Amal Ibadah terbaikku..aku mohon PadaMu… agar engkau menolongku agar Batu yang menutup Goa ini terbuka lebar… dan Akhirnya… dari ketiga amal sholeh dan perbuatan terbaik ketiga orang ini goa pun terbuka lebar sehingga mereka bertiga bisa  selamat dan keluar dari Goa.

Oleh karena itu, Amalan yang terbaik yang timbul dari hati itulah sebaik baik taqwa dan bisa memberikan Pertolongan kepada diri kita sendiri.

 

  • Taqwa nya Abu Bakar As-sidiq (Yaitu Taqwa yang sudah habis habisan, mengorbankan segalanya di jalan Allah.. termasuk Jiwa Raga dan Harta Benda namun masih merasa masih terlalu banyak dosa)

Menurut Riwayat Hadist Soqih, Abu Bakar assidiq adalah Sahabat Nabi yang Kaya Raya, dan mempunyai banyak super market, Lalu kemudian menjadi Miskin dan tidak memiliki harta apapun, bahkan jubah dan sorban nya pun hanya dari karung goni yang kusut. semua harta nya di gunakan untuk membantu perjuangan Rasullullah. namun pengorbanannya itu tidak menjadikan abu Bakar assyidiq berbangga diri, malah beliau masih merasa masih sangat banyak dosa dan selalu berdoa mohon ampun kepada Allah SWT. inilah taqwa yang menduduki tingkatan paling atas.[7]

 

 

2.5  Syarat Takwa

 

  1. Ilmu

Dijadikan sebagai syarat untuk menggapai derajat taqwa, karena ilmu adalah merupakan langkah awal untuk melakukan  atau menentukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Seseorang bila ingin mencapai sebuah tujuan, maka dia harus mengetahui (baca: meng-ilmu-i) hakikat (bentuk, rupa dan keriteria) tujuan tersebut dengan jelas, tidak samar-samar, lalu dia harus mengetahui persiapan apa yang ia lakukan untuk mencapai tujuan tersebut, dan dia harus mengetahui apa konsekuensi yang harus ia pelihara ketika telah mencapai tujuan tersebut… dan seterusnya – dan seterusnya.

Allah berfirman:

فَاعْلَمْأَنَّهُلَاإِلَهَإِلَّااللَّهُوَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ

“Ketahuilah bahwasannya tiada tuhan (yang patut disembah dengan benar) melainkan Allah, dan mohon ampunlah atas dosa-dosamu”.[QS. Muhammad:19]

 

Pada ayat ini Allah berfirman dengan menggunakan fi’il ‘amr (kata kerja perintah), yaitu: ف – اعلم , dimana fi’il ini mashdarnya adalah علم (Ilmu), yang ma’nanya adalah: “Ketahuilah” atau “ilmuilah” . Oleh karena itu dengan berdasarkan dalil ini Al Imam Muhammad bin Isma’il Al Bukhoriy dengan kedalaman ilmunya dalam memahami Al Qur’an, dan dengan kecerdikannya dalam ber – istinbath (mengeluarkan hukum dari/dengan dalil), meletakan sebuah Bab dalam kitab Shahihnya, dengan berkata:

 

باب العلم قبل القول و العمل

“Bab Ilmu terlebih dahulu sebelum berkata dan beramal / berbuat”  [Shahih Bukhoriy – Kitab Al Ilmu]

 

Demikian juga dengan taqwa, taqwa adalah merupakan puncak tujuan yang paling mulia bagi manusia dalam beragama, oleh karena itu satu hal yang lebih utama lagi bagi seorang muslim untuk berilmu tentangnya, dan ini suatu keharusan, yaitu diantaranya berilmu tentang hakikat taqwa, lawazim (unsur-unsur) taqwa, tentang syarat dan rukunnya, tentang konsekuensinya, dan kepada siapa dia bertaqwa.

Ringkas kata kita harus berilmu tentang taqwa dengan baik dan benar serta jelas dan tidak samar-samar, sebelum kita berkata, dan berbuat/beramal dalam melangkah menggapai derajat taqwa.

 

Lawan dari ilmu adalah kejahilan (kebodohan). Maka suatu hal yang tidak mungkin (mustahil) seseorang akan mencapai tujuan, bila ia bodoh atau  tidak mengetahui alias jahilterhadap tujuannya sendiri. Demikian juga dengan ketaqwaan, seseorang tidak akan pernah mencapai derajat taqwa bila ia jahil (bodoh) tentang ketaqwaan.

Akan tetapi Ilmu yang dimaksud secara mutlak, yang tidak boleh seorang muslim bodoh (jahil) tentangnya adalah: Ma’rifatullah (mengenal Allah), Ma’rifat An Nabi (mengenal Nabi), dan Ma’rifat Diin Al Islam bil Adillah (mengenal agama Islam dengan dalil). Inilah yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimiy dalam “Al Ushul Ats Tsalatsah”.

 

Sebagian ulama menyatakan, bahwa ilmu yang dimaksud adalah: Apa yang Allah Firmankan dalam Al Qur’an, dan apa yang Rasululah sabdakan dalam Al Hadits, dan apa yang para shahabat Rasul katakan dalam memahami Al Qur’an dan Al Hadits.

 

Semua itu adalah lawazim taqwa yang sangat mendasar, setiap muslim bila ingin mencapai derajat taqwa harus bertolak dari ilmu-ilmu tersebut, bila tidak ia akan lemah dan rapuh, tidak akan pernah mencapai derajat taqwa.

  1. Ikhlas

Yang dimaksud adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan kepada -Nya, memurnikan ibadah hanya untuk Allah, dalam rangka menjalankan perintah dan menjauhi larangan -Nya, semuanya dilakukan hanya karena dan untuk Allah tabaraka wa ta’ala.

 

 

Allah berfirman:

 

وَمَاأُمِرُواإِلَّالِيَعْبُدُوااللَّهَمُخْلِصِينَلَهُالدِّينَحُنَفَاءَوَيُقِيمُواالصَّلَاةَوَيُؤْتُواالزَّكَاةَوَذَلِكَدِينُالْقَيِّمَةِ

” Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepadanya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan agar mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus”. [QS. Al Bayyinah: 5]

 

Agama yang lurus adalah agama yang jauh dari kesyirikan (menyekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan

 

Dijadikan ikhlas adalah sebagai syarat untuk mencapai derajat taqwa, karena tidak mungkin seorang muslim disebut orang yang bertaqwa sedangkan ia berbuat kesyirikan, memalingkan ibadah kepada selain Allah, menjadikan ibadahnya perantara-perantara kepada Allah dengan apa yang tidak diizinkan oleh Allah, atau Allah tidak menurunkan keterangan -Nya dalam kitab -Nya, atau dalam ibadahnya hanya untuk mencari penghidupan dunia, atau hanya karena wanita yang akan dinikahiya, hal-hal tersebut adalah yang merusak keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Bagaimana seseorang akan mencapai derajat taqwa sedangkan ibadahnya rusak, dan tertolak disisi Allah?

Allah berfirman:

ذَلِكَهُدَىاللَّهِيَهْدِيبِهِمَنْيَشَاءُمِنْعِبَادِهِوَلَوْأَشْرَكُوالَحَبِطَعَنْهُمْمَاكَانُوايَعْمَلُونَ

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya.seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. [QS. Al An’am: 88]

 

Oleh karena itu ikhlas adalah merupakan syarat mutlak untuk mencapai ketaqwaan.

 

 

 

  1. Ittiba’

mengikuti contoh (suri tauladan) Nabi Muhammad Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam diseluruh totalitas kehidupan kita dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hal ini dikarenakan 2 hal:

 

Pertama: Karena Rasulullah adalah manusia dan hamba Allah yang pertama kali yang telah mencapai puncak ketaqwaan. Beliaulah orang yang paling bertaqwa didunia. Oleh karena beliau orang yang paling mengerti tentang apa yang dikehendaki oleh Allah, sehingga beliau orang yang pertama kali yang mengerjakan semua perintah Allah, dan orang yang paling pertama kali yang menjauhi larangan Allah berdasarkan bimbingan dari Allah.

 

Kedua: Karena orang yang beramal atau ibadah kepada Allah, sedangkan ibadahnya tersebut tidak pernah ada ajarannya dari Rasulullah Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam , maka amalannya atau ibadahnya tersebut tertolak disisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada atasnya ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak”.[HR. Al Bukhoriy & Muslim, dari Ummul Mu’minin Aisyah radliallahu’anha]

 

Bagaimana kita akan mencapai ketaqwaan sedangkan amal ibadah kita tertolak disisi Allah? Oleh karena itu Ittiba’ (mengikuti contoh / sunnah) Rasul, adalah syarat untuk mencapai derajat taqwa.

Adapun ayat-ayat Al Qur’an yang berbicara dan memerintahkan untuk ittiba’ kepada Nabi, banyak diantaranya:

Allah berfirman:

قُلْإِنْكُنْتُمْتُحِبُّونَاللَّهَفَاتَّبِعُونِييُحْبِبْكُمُاللَّهُوَيَغْفِرْلَكُمْذُنُوبَكُمْوَاللَّهُغَفُورٌرَحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad), jika kamu (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampunkan dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.[QS. Ali Imran: 31].

 

Dan Allah berfirman:

“… Dan apa-apa yang didatangkan oleh Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah…” [QS. Al Hasyr: 7]

 

Dan Allah berfirman: “Barangsiapa yang taat kepada Rasul maka sungguh ia telah mentaati Allah” [QS.An Nisa: 80][8]

 

 

  1. Ikhlas Kepada Allah SWT

 

3.1. Pengertian Ikhlas Kepada Allah SWT

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Jadi segala apa yang kita lakukan itu semata-mata hanya mengharap ridho Allah SWT. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Dan apabila seseorang menghendaki sesuatu yang lain dengan ibadahnya ia ingin mendekatkan diri kepada selain Allah S.W.T. dalam ibadah ini dan untuk mendapatkan pujian makhluk (riya, pent.). Maka ini menggugurkan amal ibadah dan ia termasuk syirik. Di dalam Shahih dari hadits Abu Hurairah t, sesungguhnya Nabi S.A.W. bersabda, Allah S.W.T. berfirman (hadits qudsi):

(( أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ, مَن عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ ))

Artinya :

‘Aku adalah orang yang paling tidak membutuhkan sekutu, barangsiapa yang melakukan suatu amal ibadah yang ia menyekutukan selain-ku bersama-Ku, niscaya Aku meninggalkannya dan sekutunya.[9]

 

3.2. Hakikat Ikhlas

Sesuatu yang bersih dari campuran yang mencemarinya dinamakan sesuatu yang murni.Perbuatan membersihkan dan memurnikan itu dinamakan ikhlas. Allah SWT berfirman “(Berupa) susu yang bersih diantara tahi dan darah yang mudah ditelan bagi orang orang yang meminumnya”. (Q.S An-Nahl : 66). Apabilah suatu perbuatan bersih dari riya’ dan ditujukan bagi Allah SWT maka perbuatan itu dianggap murni

 

3.3 Pendapat para sufi tentang Keikhlasan

As-Susiy berkata, “Keikhlasan itu iyalah ketiadaan melihat ikhlas.Karena barang siapa menyaksikan keikhlasan didalam keikhlasan maka keikhlasannya membutuhkan keikhlasan”. Dikatakan kepada Sahl, “Manakah yang lebih berat terhadap nafsu?”.

Sahl menjawab “Keikhlasan, Keikhlasan karena ia tidak punya bagian dalam Keikhlasan”.

Ia berkata pula, “ Keikhlasan ialah tenangnya manusia dan gerak geraknya karena Allah SWT semata mata”

Al-Junaid berkata, “Keikhlasan adalah pembersihan amal amal dan kekeruhan-kekeruhan”

Al-Fudhail berkata “ Meninggalkan amal karena manusia adalah Riya dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan keikhlasan itu iyalah bila Allah SWT membebaskannya dari kedua sifat itu” dikatakan bahwa keikhlasan itu ialah pengawasan yang terus menerus dan melupakan segala kenikmatan. [10]

 

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal apa sajakah yang dapat membantu kita agar dapat mengikhlaskan seluruh amal perbuatan kita kepada Allah semata, dan di antara hal-hal tersebut adalah :

  1. Banyak Berdoa
  2. Menyembunyikan Amal Kebaikan
  3. Memandang Rendah Amal Kebaikan
  4. Takut Akan Tidak Diterimanya Amal
  5. Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka

 

 

BAB III

 

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

 

Seorang muslim itu harus berahlak baik kepada Allah SWT. Karena kita sebagai manusia yang di ciptakan oleh Allah dan untuk menyembah kepada Allah, sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya dan tidaklah Kami (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Dari uraian-uraian diatas dapat dipahami bahwa akhlak terhadap Allah SWT, manusia seharusnya selalu mengabdikan diri hanya kepada-Nya semata dengan penuh keikhlasan dan bersyukur kepada-Nya, sehingga ibadah yang dilakukan ditujukan untuk memperoleh keridhaan-Nya.

Adapun macam-macam akhlak kepada Allah SWT adalah,Iman kepada Allah SWT, Taqwa kepada Allah SWT, dan ikhlas kepada Allah SWT.

 

  1. Saran

Demi perbaikan mutu pembuatan makalah dikemudian hari maka kami sebagai penulis berharap berbagai kritik serta saran dari seluruh pembaca yang bersifat membangun dan bisa memotivasi mahasiswa supaya mengetahui cara berakhlak kepada Allah dengan cara bertaqwa dan menerapkan sifat iklas dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Mesan Alfat, Aqidah Ahklak, (Semarang :CV Toha Putra ,1994)
  2. Syaihk Muhammad bin Shalih Al- ukaimin, sifat Allah dalam pandangan Ibnu Tamiyah,(Jakarta : pustaka Azzam,2005)
  3. Husein, Mochtar. 2008. Hakikat Islam Sebuah Pengantar Meraih Islam Kaffah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  4. http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/takwa-semudah-itukah.html
  5. http://id.wikipedia.org/wiki/Taqwa
  6. Kahar, Masyhur.1985.Membina Moral Dan Akhlak.Jakarta:Kalam Mulia.
  7. Mth, Asmuni.1999.Akhlak Dalam Perspektif Al-Qur’an.Jakarta:Kalam Mulia
  8. Ilyas,Yunahar, Dr.H,Lc,MA, Kuliah Akhlak, Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam. 2007
  9. Imam Ghazali, Ringkasan Ihya’ ulumuddin, (Surabaya : Bintang Usaha Jaya, 2007)

 

 

[1]Mesan Alfat, Aqidah Ahklak, (Semarang :CV Toha Putra ,1994) Hal 48

[2]Ibid, Hal ,50

[3]Syaihk Muhammad bin Shalih Al- ukaimin, sifat Allah dalam pandangan Ibnu Tamiyah,(Jakarta : pustaka Azzam,2005) Hal 88

[4]Husein, Mochtar. 2008. Hakikat Islam Sebuah Pengantar Meraih Islam Kaffah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal 45

[5]http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/takwa-semudah-itukah.html

[6]http://id.wikipedia.org/wiki/Taqwa

[7]Kahar, Masyhur.1985.Membina Moral Dan Akhlak.Jakarta:Kalam Mulia. Hal 51

[8] Mth, Asmuni.1999.Akhlak Dalam Perspektif Al-Qur’an.Jakarta:Kalam Mulia. Hal 54

[9]Ilyas,Yunahar, Dr.H,Lc,MA, Kuliah Akhlak, Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam. 2007 Hal 18

[10] Imam Ghazali, Ringkasan Ihya’ ulumuddin, (Surabaya : Bintang Usaha Jaya, 2007) Hal 214

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s