MAKALAH AKHLAK “Akhlak kepada Allah SWT: Berdo’a,Bertaubat dan Berdzikir”

6

  1. Akhlak Kepada Allah SWT

Kata akhlak berasal dari kata bahasa arab, yaitu “khuluq” yang artinya budi pekerti, perangai tingkah laku atau tabiat, dan dapat kita ketahui bahwa akhlak sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam pada jiwanya. Sedangkan menurut istilah, akhlak ialah daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah dan tanpa berpikir dan di renungi lagi.[1][1]

Dengan demikian akhlak pada hakikatnya adalah sikap yang melekat pada diri manusia, sehingga manusia dapat melakukan tanpa berpikir, akhlak dikenal juga dengan istilah moral dan etika. Moral yang berati adat atau kebiasaan, moral selalu dikaitkan dengan ajaran baik dan buruk di terima umum atau masyrakat, karena adat istiadat dalam satu masyarakat merupakan standar menentukan baik dan buruknya.

Sedangkan akhlak kepada Allah dapat di artikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebgai makhluknya. Sehingga akhlak kepada allah dapat di artikan segala sikap atau pebuatan manusia yang di lakukan tanpa berfikir lagi yang memang ada pada diri manusia sebagai mamba Allah SWT.

 

  1. Do’a

Menurut bahasa “ad-du’aa” artinya memanggil, meminta tolong, atau memohon sesuatu. Sedangkan doa menurut pengertian syariat adalah memohon sesuatu atau memohon perlindungan kepada Allah SWT dengan merendahkan diri dan tunduk kepadaNya. Doa merupakan bagian dari ibadah dan boleh dilakukan setiap waktu dan setiap tempat, karena Allah SWT selalu bersama hamba-hambaNya.

Do’a dalam pengertian adalah pendekatan diri kepada Allah SWT dengan sepenuh hati[2][3], dan rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah menegaskan keistemewaan do’a di sisi Allah SWT adalah melebihi segala keistimewaan yang ada, dalam hal ini rasulullah bersabda: tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi allah di banding dengan do’a (hr. tarmizi, nasai,abu dawud). Do’a adalah bentuk pengagungan terhadap allah dengan di sertai keikhlasan hati serta permohonan petolongan disertai kejernihan nurani agar selamat dari segala. selamat dari segala musibah serta meraih keselamatan abadi. Doa berarti memohon atau meminta sesuatu yang baik kepada Allah SWT yang Maha Pemurah. Allah SWT menyuruh orang-orang Islam berdoa atau meminta sesuatu kepadaNya seperti firman Allah SWT Q.S Al-mu’min : 60.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

 

Etika dalam Berdo’a

Etika dalam do’a adalah bagian dari ibadah untuk mendapatkan kemakbulan dalam berdo’a.[3][4]

 

  1. Memulai Berdo’a dengan Membaca Basmalah

Berdoa hendaknya dimulai dengan membaca basmalah (karena malakukan perbuatan yang baik hendaknya dimulai dengan basmalah), hamdalah dan sholawat.

 

  1. Memilih Waktu

Seorang muslim dalam berdo’a hendaklah memilih waktu dan situasi yang baik sehingga do’anya dapat di kabulkan Allah SWT: seperti pada hari arafah, hari jumat, bulan ramdhan, malam lailatul-qadar,waktu sahur (menjelang shubuh), atau di tengah keheningan malam.

  • Hari harafah adalah hari dimana kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia berkumpul disuatu tempat, padang arafah , berkumpul untuk mendekatkan diri kepada allah dalam pelaksanaan ibadah haji.
  • Bulan ramadhan memiki keistimewaan untuk memprbanyak do’a dikarnakan pada bulan itu dibukakan pintu-pintu surga dibuka seleba-lebarrnya.
  • Hari jumat memiliki keistimewaan untuk memperbnyak do’a dikarnkan termasuk hari yang paling mulia dalam satu minggu.sebab di dalamnya terdapt waktu yang apabila seseorang memanjatkan pasti dikabulkan allah.
  • Malam lailatul-qadar memiliki keistimewaan untuk memperbnyak doa di karenakan termasuk malam yang palng di muliakan allah, beribadah di dalamnya lebih baik bribadah seribu bulan, Dalam hal ini rasulullah menegaskan: “Barang siapa melakukan ibadah pada malam qadar (lailatul qadar) di landasi iman dan keikhlasan hati, maka di ampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.
  • Waktu sahur (menjelang subuh) memiliki keistimewan untuk memperbanyak doa dikarnakan disaat itu hati seseorang sedang dalam keadaan tenang bersih lagi suci.
  • Pada waku sahur, allah menebarkan ampunan dan rahmat-nya kepada setiap manusia yang memanjatkan doa.

 

  1. Mengangkat Tangan dan Menghadap Kiblat

Seorang muslim ketika berdo’a hendaklah menghadap kiblat.sebab yang demikian adalah sunat. Disamping itu hendaklah mengangkat tangan ketika berdo’a, dan mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah ketika selesai brdo’a. Karna itu bagian dari sunnah rasul.

Do’a yang di panjatkan disertai mengangkat tangan mudah di kabulkan oleh Allah SWT, dalam hal ini Rasulullah menegaskan: “sesungguhnya tuhan mu hidup kekal lagi maha mulia, merasa malu terhadap hamba-nya yang mengangkat tangan tinggi-tinggi ketika berdo’a sehingga tidak ada lagi alasan untuk tidak mengabulkan permohonannya .”(HR A bu daud dan tirmidzi dari salaman AL-Fairisi).

 

  1. Dimulai dengan Memuji Allah SWT

Seoramg muslim ketika berdo’a hendaklah memulai do’anya dengan memuji keagungan Allah, bahwa pujian kepada Allah bershalawat kepada Nabi baik di tengah, di awal maupun di akhir do’a. Bahwa pujian kepadaAallah dengan menyebut asma-nya yang mulia (asmaul-husna) dan bacaan shalawat nabi ketika memulai suatu do’a merupakan etika dalam berdo’a. Sebuah do’a akan di kabulakan Allah bila disertai bacaan asmaul-husna dan shlawat nabi, dan para nabi meyakinin bahwa hal tersebut merupakan etika yang sngat tinggi di dalam berdo’a, sehingga mereka menjadikan pujian terhadap allah merupakan permulaan dari do’a.

 

  1. Khusyuk dalam Berdo’a

Ketika dalam berdo’a hendaklah menunjukkan siakap merendahkan diri dan kekhsyuk’an hati. Misalnya, dengan mengulang bacaan do’a hingga tiga kali, tidak tergesa-gesa , serta penuh keyakinan bahwa do’a yang panjatkan pasti di kabulkan oleh Allah SWT kepada setiap hambanya yang memanjatkan do’a dalam Al-Qur’an telah di tegaskan :

Artinya : ”berdo’a lah kepada tuhan mu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut .sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah allah memperbaikinya , dan berdo’alah kepadnya dengan rasa takut tidak di terima dan penuh harapan akan di kabulkan , sesungguhnya rahmat allah sngatlah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik .”(QS-A’raf:55-56).

 

  1. Dengan Suara Sederhana

Ketika memanjatkan do’a hendalah dengan volume suara yang sederhana, tidak tidak terlalu keras tidak pula terlalu pelan. Sebab orang yang berdo’a berarti sedang berdialog dan berhadapan langsung dengan Allah SWT, dan selayaknya bila dia merendahkan suara hingga hatinya lebih khusyuk dan merasa dekat dengan-Nya.

 

  1. Memilih Do’a Qur’ani dan Hadisi

Ketika berdo’a hendaklah kita memilih do’a-do’a yang telah di ajarkan Al-Qur’an maupun Al-Hadist, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’Ulumuddin menegaskan: yang terbaik bagi seseorang yang memanjatkan do’a adalah memilih do’a yang benar-benar telah diajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadist, sebab kemakbulannya sudah teruji, keberhasilannya dalam mendatangkan kemaslahatan bagi ummat.

 

  1. Tidak Menyimpang dari Syariat

Ketika berdo’a hendaklah jangan menyimpang dari garis ajaran syariat Islam, dan jangan berdo’a untuk kesengsaraan orang lain atau untuk kecelakaan diri sendiri. Sebab sudah kebiasaan bagi manusia, bila dilanda musibah yang berat kemudian putus asa dan berdo’a dengan do’a yang konyol, misalnya, meminta agar segera meninggal atau mendapatkan musibah yang lebih berat lagi dan apabila marah pada orang lain, kemudian mendo’akannya dengan do’a yang tidak baik.

 

  1. Taubat

Taubat adalah kembali dari kemaksiatan kepada ketaatan atau kembali dari jalan yang jauh dari allah ke jalan yang lebih dekat ke pada allah dan meninggalkan seluruh dosa dan kemaksiatan, menyesali perbuatan dosa yang telah lalu, dan berkeinginan teguh untuk tidak mengulngi lagi perbuatan dosa tersebut pada waktu yang kan datang[4][5]. Allah berfirman Q.S. Al-Tahrim 8:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Hukum taubat adalah wajib bagi setip muslim atau muslimah yang sudah mukallaf (balig dan berakal). Taubat baru dinggap sah dan dapat menghapus dosa apabila telah memenuhi syarat yang telah di tentukan. Bila dosa itu terhadap Allah SWT. Maka syarat taubatnya ada tiga macam, yaitu:

  1. Menyesal terhadap perbuatan maksiat yang telah diperbuat.
  2. Meninggalkan perbuatan maksiat itu.
  3. Bertekan dan berjanji dengan sungguh-sungguh tidak akan    mengulangi lagi perbuatan maksiat itu.

Namun bila dosa itu terhadap sesama manusia, maka syarat taubatnya ditambah dua lagi yaitu :

  1. Meminta maaf kepada orang yang di dzalimi dan dirugikan.
  2. Menganti kerugian setimbang dengan kerugian yang di alaminya akibat perbuatan zalim itu atau minta kerelaan.

Dosa terhadap sesama manusia akibat perbuatan zalim itu hendaknya disellesaikan di dunia ini juga. Karena kalau tidak., pelaku dosanya di alam akhirat termasuk orang yang merugi bahkan celaka. Apabila seorang telah terlanjur berbuat dosa, kemudian bertaubat dengan sebenar-benarnya, tentu ia akan memperoleh banyak hikmah dan manfaat. Tentu saja taubat yang dilakukan harus memenuhi syarat taubat seperti tersebut. Adapu hikmah daan manfaat yang diperoleh dari taubat itu antara lain: dosanya diampuni, memperolah rahmat Allah, dan bimbingan untuk masuk surga. Allah  SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga”.  (Q.S At-Tahrim, 66 : 8).

Perlu diketahui dan disadari oleh setiap orang yang telah terlanjur berbuat dosa, bahwa seorang yang telah membaca istigfar (mohon ampunan dosa kepada Allah), tetapi terus menerus berbuat dosa, maka ia akan dianggap telah mengolok-ngolok Tuhannya. Demikian juga seorang yang berbuat dosa dan baru bertaubat ketika “sakaratul maut” maka taubatnya tidak akan diterima Allah SWT.

Taubat yang di terima dan benar itu   mempunyai beberapa tanda :

  1. Agar setelah taubat ia menjadi lebih baik dari sebelumnya.
  2. Agar rasa takut itu terusmenyertainya, dan tidak pernah merasa aman dari siksa allah SWT.
  3. Hatinya merasa terlepas, dan hancur tercabik-cabik karena menyesal dan merasa takut,sesuai dengan besar kecilnya dosanya.
  4. Merasa remuk-redam tersensiri dalam hati, yang tidak diserupai oleh apa pun, seperti seorang hamba yang telah berbuat salah dan memberontak kepada tuhannya.

Sebab – sebab manusia harus bertaubat :

  1. Telah melakukan dosa kecil atau dosa besar.
  2. Supaya setiap amalan diterima oleh Allah dengan mudah.
  3. Supaya manusia tidak sombong dengan kekuasaan dan keagungan Allah.

Sebab Allah menerima taubat hambanya :

  1. Allah maha penyayang dengan mengampunkan dosa hambanya.
  2. Supaya hambanya bersih daripada dosa dan memperoleh balasan syurga di akhirat.
  3. Orang yang bertaubat akan berasa benci dengan dosa yang dilakukan.
  4. Supaya seseorang itu sentiasa melakukan kebaikan dan meninggalkan kejahatan.

Syarat – syarat taubat :

  1. Menyesal terhadap maksiat yang dilakukan.
  2. Berhenti melakukan maksiat dengan segera.
  3. Berazam tidak akan mengulangi lagi.
  4. Berterus terang memohon maaf jika berkaitan dengan hak orang lain.

Hikmah Taubat :

  1. Memberi peluang kepada orang yang berdosa kembali kejalan Allah.
  2. Memberi ketenangan hati kepada muslim yang bertaubat.
  3. Mendapat keampunan serta petunjuk Allah.
  4. Sebagai satu cara mendekatkan diri kepada Allah.
  5. Dzikir

Pengertian dzikir menurut bahasa berasal dari kata “dzakaro” yang artinya ingat [5][6]. Kata dzikir mengambil dari masdarnya dzikron, kemudian terkenal dengan istilah dzikir. Sedangkan dzikir menurut syara’  adalah ingat kepada Allah dengan etika tertentu yang sudah ditentukan dalam Al Qur’an dan Hadits dengan tujuan mensucikan hati dan mengagungkan Allah.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab : 41).

Allah sudah menunjukkan dasar pokok bahwa dzikir mampu menentramkan hati manusia. Hanya dengan dzikirlah hati akan menjadi tentram, sehingga tidak timbul nafsu yang jahat. Berdzikir dapat dilakukan dengan berbagai cara dan dalam keadaan bagaimamanapun, kecuali ditempat yang tidak sesuai dengan kesucian Allah. Seperti bertasbih dan bertahmid di WC.

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran : 191).

 

Dzikir Menurut Imam Nawawi Al BAntaniyu Penulis kitab Al Adzkar, menjelaskan dalam kitabnya bahwa dzikir bisa dilakukan dengan lisan dan hati. Tingkatan dzikir akan menjadi lebih sempurna jika melakukannya denga hati dan lisan. Jika harus memilih, mana yang lebih utama, menurutnya, harus dengan hati saja, namun akan lebih afdhol (utama) jika melakukannya dengan hati dan lisan sesuai dengan sunah Rosulullah.

Dzikir ialah menyebut allah dengan tasbih (subhanallah), membaca tahlil (la-ilaha illallahu), membaca tahmid (alhamdulillahi), baca tqdis (quddusun), membaca taqbir (allahu akbar), membaca hauqalah (la haula wala quata illa billahi), membaca hasbalah (hasbiyallahu), membaca basmalah (bismillahirrohmanirrohim)membaca Al-Qur’an dan membaca do’a-do’a yang di terima dari allah SAW.

 

  1. Bentuk dan Cara Berdzikir
  2. Dzikir dengan hati, yaitu dengan cara bertafakur, memikirkan ciptaan Allah sehingga timbul di dalam fikiran kita bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Semua yang ada di alam semesta ini pastilah ada yang menciptakan, yaitu Allah SWT. Dengan melakukan dzikir seperti ini, keimanan seseorang kepada Allah SWT akan bertambah.
  3. Dzikir dengan lisan (ucapan), yaitu dengan cara mengucapkan lafazh-lafazh yang di dalammya mengandung asma Allah yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada ummatnya. Contohnya adalah : mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, sholawat, membaca Al-Qur’an dan sebagainya.
  4. Dzikir dengan perbuatan, yaitu dengan cara melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Yang harus diingat ialah bahwa semua amalan harus dilandasi dengan niat. Niat melaksanakan amalan-amalan tersebut adalah untuk mendapatkan keridhoan Allah SWT. Dengan demikian menuntut ilmu, mencari nafkah, bersilaturahmi dan amalan-amalan lain yang diperintahkan agama termasuk dalam ruang lingkup dzikir dengan perbuatan.
  5. Manfaat Dzikirullah

Selalu ingat dan menyebut nama Allah setiap saat dan sepanjang waktu dikala berdiri, duduk dan berbaring merupakan gambaran nyata dari keimanan ,ketakwaan dan rasa tawakkal seseorang. Allah akan memperlihatkan menfaat nyata dari amalan dzikrullah seseorang dalam kehidupannya sehari hari hari antara lain :

  1. Mendapat ketenangan hati dan bebas dari perasaan jengkel, kecewa, sedih, duka, dendam dan stress berkepanjangan.
  2. Dikeluarkan Allah dari kegelapan (hidup yang penuh kesukaran, kesempitan,kepanikan, kekalutan ,kehinaaan dan serba kekurangan ) kepada cahaya yang terang benderang ( hidup bahagia,nyaman, aman, mulia, sejahtera dan berkecukupan).
  3. Terpelihara dan terhindar dari melakukan perbuatan keji dan mungkar.
  4. Terpelihara dari kelicikan dari tipu daya syetan yang menyesatkan.
  5. Selalu mendapat jalan keluar dari berbagai kesulitan yang datang menghadang dan mendapat rezeki dari tempat yang tidak pernah diduga, serta selalu dicukupkan semua kebutuhan hidupnya.

Untuk melaksanakan dzikir ada tata krama yang harus diperhatikan, yakni adab berdzikir. Semua bentuk ibadah bila tidak menggunakan tata krama atau adab, maka akan sedikit sekali faedahnya. Dalam kitab Al Mafakhir Al-’Aliyah fil Ma-atsir Asy-Syadzaliyah disebutkan pada pasal Adabuddz-Dzikr, sebagaiman dituturkan oleh Asy-Sya’roni bahwa adab berdzikir itu banyak tetapi dapat dikelompokkan menjadi 20 (dua puluh), yang terbagi menjadi tiga bagian; 5 (lima) adab dilakukan sebelum bedzikir, 12 (dua belas) adab dilakukan pada saat berdzikir,  2 (dua) adab dilakukan seelah selesai berdzikir.

Adapun 5 (lima ) adab yang harus diperhatikan sebelum berdzikir adalah :

  1. Taubat, yang hakekatnya adalah meninggalkan semua perkara yang tidak berfaedah bagi dirinya, baik yang berupa ucapan, perbuatan, atau keinginan.
  2. Mandi dan atau wudlu.
  3. Diam dan tenang. Hal ini dilakukan agar di dalam dzikir nanti dia dapat memperoleh shidq, artinya hatinya dapat terpusat pada bacaan Allah yang kemudian dibarengi dengan lisannya yang mengucapkan Lailaaha illallah.
  4. Menyaksikan dengan hatinya ketika sedang melaksanakan dzikir terhadap himmah syaikh atau guru mursyidnya.
  5. Meyakini bahwa dzikir thoriqoh yang didapat dari syaikhnya adalah dzikir yang didapat dari Rasulullah SAW, karena syaikhnya adalah naib (pengganti ) dari Beliau.

Sedangkan 12 (dua belas) adab yang harus diperhatikan pada saat melakukan dzikir adalah :

  1. Duduk di tempat yang suci seperti duduknya didalam shalat.
  2. Meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya.
  3. Mengharumkan tempatnya untuk berdzikir dengan bau wewangian, demikian pula dengan pakaian di badannya.
  4. Memakai pakaian yang halal dan suci.
  5. Memilih tempat yang gelap dan sepi jika memungkinkan.
  6. Memejamkan kedua mata, karena hal itu akan dapat menutup jalan indra dhohir, karena dengan tertutupnya indra dhohir akan menjadi penyebab terbukanya indra hati atau bathin.
  7. Membayangkan pribadi guru mursyidnya diantara kedua matanya. Dan ini menurut ulama thoriqoh merupakan adab yang sangat penting.
  8. Jujur dalam berdzikir. Artinya hendaknya seseorang yang berdzikir itu dapat memiliki perasaan yang sama, baik dalam keadaan sepi (sendiri) atau ramai (banyak orang).
  9. khlas, yaitu membersihkan amal dari segala ketercampuran. Dengan kejujuran serta keikhlasan seseorang yang berdzikir akan sampai derajat Ash-Shidiqiyah dengan syarat dia mau mengungkapkan segala yang terbesit di dalam hatinya (berupa kebaikan dan keburukan ) kepada syaikhnya.Jika dia tidak mau mengungkapkan hal itu, berarti dia berkhianat dan akan terhalang dari fath (keterbukaan bathiniyah).
  10. Memilih shighot dzikir bacaan La ilaaha illallah, karena bacaan ini memiliki keistimewaan yang tidak didapati pada bacaan-bacaan dzikir syar’i lainnya.
  11. Menghadirkan makna dzikir didalam hatinya.
  12. Mengosongkan hati dari segala apapun selain Allah dengan La ilaaha illallah, agar pengaruh kata “illallah” terhujam didalam hati dan menjalar ke seluruh anggota tubuh.

Dan 4 (Empat) adab setelah berdzikir adalah :

  1. Bersikap tenang ketika telah diam (dari dzikirnya), khusyu’ dan menghadirkan hatinya untuk menunggu waridudz-dzkir. Para ulama thoriqoh berkata bahwa bisa jadi waridudz-dzikr datang dan sejenak memakmurkan hati itu pengaruhnya lebih besar dari pada apa yang dihasilkan oleh riyadloh dan mujahadah tiga puluh tahun.
  2. Mengulang-ulang pernapasannya berkali-kali. Karena hal ini (menurut ulama thoriqoh) lebih cepat menyinarkan bashiroh, menyingkapkan hijab-hijab dan memutus bisikan-bisikan hawa nafsu dan syetan.
  3. Menahan minum air. Karena dzikir dapat menimbulkan hararah (rasa hangat di hati orang yang melakukannya, yang disebabkan oleh syauq dan tahyij (rasa rindu dan gairah) kepada Al-Madzkur/ Allah SWT yang merupakan tujuan utama dari dzikir, sedang meminum air setelah berdzikir akan memadamkan rasa tersebut.
  4. Para guru mursyid berkata:”Orang yang berdzikir hendaknya memperhatikan tiga tata krama ini, karena natijah (hasil) dzikirnya hanya akan muncul dengan hal tersebut.”Wallahu a’lam.

 

 

 

 

[1][1] Amril, Akhlak Tasawuf, (Pekanbaru: Program Pascasarjana uin suska riau, 2007), hlm 3

 

[2][3] Abu Naufal al-Mahalli, Doa yang didengar Allah, (Yogyakarta: Pustaka Firdausi, 2005), hlm 27

[3][4] Abu Naufal al-Mahalli, Doa yang didengar Allah, (Yogyakarta: Pustaka Firdausi, 2005), hlm 49

[4][5] Hasbi Ashiddieqy, Pedoman Dzikir dan Doa, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1956), hlm 60

[5] [6] Ibnul Qayyim al jauziyah, Tobat Kembali pada Allah, (Jakarta: Gema Insani Press, 2006), hlm 19

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s