MAKALAH AKHLAK “TAWAKAL SYUKUR DAN HAYA’’

5

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Islam merupakan agama yang sempurna yang didalamnya terdapat aturan-aturan baik untuk didunia maupun akhirat. Aturan-aturan tersebut dapat kita ketahui melalui firman-firman Allah SWT.
Sebagai muslim, kita tidaklah sukar untuk menentukan baik buruk, sebab apa yang diperintahkan ALLAH sudah pasti baik dan apa yang dilarang ALLAH sudah tentu pula buruk, tinggal lagi kita kerjakan yang baik dan kita tinggalkan yang buruk.
Rasullah sebagai teladan bagi kehidupan setiap muslim. Dalam situasi sekarang ini hendaklah kita tunjukan ahlakul mahmudah contohnya tawakkal, syukur, haya’ dan lain-lain. Adapun hal-hal yang menyangkut akan permasalahan dalam TAWAKA, SYUKUR dan MALU (HAYA’) akan dikaji dalam makalah ini.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa tawakal itu ?
2. Bagaimana cara bersyukur ?
3. Apakah itu haya’ ?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui bagaimana cara tawakal
2. Untuk menjelaskan apa itu syukur
3. Untuk memahami apa itu haya’
BAB II
PEMBAHASAN

A. TAWAKKAL
a. Pengertian tawakal
Tawakkal adalah menyerahkan segala urusan kepada allah dengan penuh kepercayaan kepadanya disertai mengambil sebab yang diizinkan syariat. Berdasarkan pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa tawakkal yang dilakukan seseorang bisa dinilai sebagai tawakkal yang dibenarkan jika terpenuhi dua syarat:
a) Kesungguhan hati dalam bersandar kepada allah
b) Menggunakan sebab yang diizinkan syariat.
Tawakkal itu berasal dari kata wakalah disebutkan “Seseorang meng-wakalah-kan urusannya kepada Fulan, maksudnya adalah seseorang itu telah menyerahkan urusannya kepada si Fulan dan ia berpegang kepada orang itu mengenai urusannya. Orang yang kepadanya diserahi urusan disebut “wakil”. Orang yang menyerahkan kepadanya disebut “orang yang mewakilkan kepadanya atau muwakkil”. Maka tawakkal adalah suatu ibarat tentang pegangan hati kepada wakil sendiri.

Allah berfirman dalam surat almaidah ayat 23 :

Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”
Dan dalam surat an-nisa’ ayat 81 :

Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: “(Kewajiban kami hanyalah) taat.” Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi pelindung.”

b. Keutamaan Bertawakkal
a) Tawakkal adalah setengah agama
Sebagaimana yang tercantum dalam surat Al Fatihah ayat 5, Allah berfirman, yang artinya: “Hanya kepadaMu kami beribadah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.” Para ahli tafsir menjelaskan bahwa induk Al Qur’an adalah surat Al Fatihah.
b) Tawakkal merupakan pondasi tegaknya iman dan terwujudnya amal shaleh
Ibnul Qoyyim menyatakan, “Tawakkal merupakan pondasi tegaknya iman, ihsan dan terwujudnya seluruh amal shaleh. Kedudukan tawakkal terhadap amal seseorang itu sebagaimana kedudukan rangka tubuh bagi kepala. Maka sebagaimana kepala itu tidak bisa tegak kecuali jika ada rangka tubuh, demikian pula iman dan tiang-tiang iman serta amal shaleh tidak bisa tegak kecuali di atas pondasi tawakkal.” (Dinukil dari Fathul Majid 341)
c) Tawakal merupakan bukti keimanan seseorang
Allah berfirman, yang artinya: “Bertawakkal-lah kalian hanya kepada Allah jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al Maidah: 23). Ayat ini menunjukkan bahwa tawakkal hanya kepada Allah merupakan bagian dari iman dan bahkan syarat terwujudnya iman.
d) Tawakkal merupakan amal para Nabi ‘alahimus shalatu was salam
Hal ini sebagaimana keterangan Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma ketika menjelaskan satu kalimat: “hasbunallaah wa ni’mal wakiil” yang artinya, “Cukuplah Allah (menjadi penolong kami) dan Dia sebaik-baik Dzat tempat bergantungnya tawakkal.” Beliau mengatakan, “Sesungguhnya kalimat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alahis shalatu was salam ketika beliau dilempar ke api. Dan juga yang diucapkan Nabi Muhammad ‘alahis shalatu was salam ketika ada orang yang mengabarkan bahwa beberapa suku kafir jazirah arab telah bersatu untuk menyerang kalian (kaum muslimin)…” (HR. Al Bukhari &An Nasa’i).
e) Orang yang bertawakkal kepada Allah akan dijamin kebutuhannya
Allah berfirman, yang artinya, “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhannya).” (QS. At Thalaq: 3)

c. Macam-macam Tawakkal
Ditinjau dari sisi tujuanya, tawakkal dibagi menjadi dua macam:
a) TawakkalkepadaAllah
Bertawakkal kepada Allah merupakan bentuk ibadah yang sangat agung, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Tawakkal kepada Allah baru akan sempurna jika disertai keadaan hati yang merasa butuh kepada Allah dan merendahkan diri kepadaNya serta mengagungkannya.
b) Tawakkal kepada selain Allah
Bertawakkal kepada selain Allah ada beberapa bentuk:
1. Tawakkal dalam hal-hal yang tidak mampu diwujudkan kecuali oleh Allah, seperti menurunkan hujan, tolak balak, tercukupinya rizki dst. Tawakkal jenis ini hukumnya syirik besar.
2. Tawakkal dalam hal-hal yang hanya mampu dilakukan oleh Allah namun Allah jadikan sebagian makhluqnya sebagai sebab untuk terwujudnya hal tersebut. Misalnya kesehatan, tercukupinya rizqi, jaminan keamanan, dst. Yang bisa mewujudkan semua ini hanyalah Allah. Namun Allah jadikan dokter dan obat sebab terwujudnya kesehatan, Allah jadikan suami sebagai sebab tercukupinya rizqi keluarganya, Allah jadikan petugas keamanan sebagai sebab terwujudnya keamanan, dst.. Maka jika ada orang yang bersandar pada sebab tersebut untuk mewujudkan hal yang diinginkan maka hukumnya syirik kecil, atau sebagian ulama menyebut jenis syirik semacam ini dengan syirik khofi (samar). Namun sayangnya banyak orang yang kurang menyadari hal ini. Sering kita temukan ada orang yang terlalu memasrahkan kesembuhannya pada obat atau dokter. Termasuk juga ketergantungan hati para istri terhadap suaminya dalam masalah rizqi. Seolah telah putus harapannya untuk hidup ketika ditinggal mati suaminya… Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari bencana yang sering menimpa hati manusia ini..
3. Tawakkal dalam arti mewakilkan atau menugaskan orang lain untuk melakukan tugasnya. Tawakkal jenis ini hukumnya mubah selama tidak disertai jiwa merasa butuh dan penyandaran hati kepada orang tersebut.

B. DEFINISI SYUKUR
Menurut bahasa: terlihatnya bekas makan pada tubuh hewan, dikatakan “dabbatun syakur” jika hewan tersebut kelihatan gemuk.
Menurut istilah: terlihatnya bekas nikmat Allah dalam lisan hamba-Nya, dengan pujian dan pengakuan. Dan dalam qalbunya dengan kesaksian dan kecintaan.Dan dalam anggota badannya dengan tunduk dan taat.
Syukur adalah shighat mubalagoh bagi isim fa’il artinya pelaku syukur yang banyak melakukan, dengan demikian artinya : yang banyak bersyukur. Jadi dalam kemewahan atau hidup senang dan sejahtera banyak bersyukur atau berterima kasih kepeda yang memberi ikmat yakni ALLAH SWT.
Syukur adalah sarana untuk memanfaatkan dan memelihara karunia-Nya. Hati yang bersyukur memperkuat dan memantapkan kebaikan yang ada, serta akan menghasilkan kebaikan yang belum ada. Orang awam hanya bersyukur bila memperoleh rezeki material. Orang-orang yang telah mengalami pencerahan batin selalu bersyukur, baik ketika memperoleh nikmat maupun tidak. Orang-orang yang telah memperoleh nur ilahitidak mempedulikan nikmat maupun penderitaan, karna mereka melihat karunia dan rahmat allah dibalik semua penampakan serta pengalaman.
a. Kewajiban bersyukur
Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 152 :

“Karena itu ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku

Dalam ayat lain Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 172 :

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”
b. Nikmat Secara Umum
a) Nikmat penciptaan. Allah berfirman: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. 16: 78)
b) Nikmat sarana hidup. Allah berfirman: “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan. Dan kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air, Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?” (QS 36: 33-35)
c) Nikmat sistim hidup. Allah berfirman: “..bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. 2:185)
c. Nikmat Secara Khusus
a) Nikmat syurga. Allah berfirman: “Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan) (QS. 76: 22).
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS 4: 69)

b) Nikmat hidayah. Allah berfirman: “..dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang Telah menunjuki kami kepada (surga) ini. dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya Telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran.” dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS 7: 43)
c) Nikmat pertolongan. Allah berfirman: “Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 3: 126)
d. Cara Bersyukur
a) Dengan hati. Yaitu dengan mengakui bahwa hanya dari Allah semua nikmat itu datang. Allah berfirman: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS 16. 53)
b) Dengan lisan. Yaitu dengan banyak mengucapkan “alhamdulillaah”; dengan mengungkapkan nikmat Allah; semua ucapannya harus baik; berterima kasih atas kebaikan orang lain.
c) Dengan anggota badan: menggunakan nikmat Allah untuk ketaatan kepada-Nya dan bukan untuk kemaksiatan kepada-Nya; melakukan sujud syukur.
e. Keutamaan- keutamaan Bersyukur
a) Bertambahnya nikmat Allah. Allah berfirman: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS 14: 7)
b) Terpelihara dari godaan syaitan. Allah berfirman: “..Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS 7: 16-17).
c) Terpelihara dari siksa. Allah berfirman: “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ?dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS 4: 147)
d) Mendapat balasan yang baik. Allah berfirman: “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS 3: 145)
e) Mendapat keridlaan dari Allah. Allah berfirman: “Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu, dan dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu dia memberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan. Sesungguhnya dia Maha mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.” (QS 39: 7)
1. Haya’ (malu)
a. Pengertian malu
Malu adalah satu kata yang mencakup perbuatan menjauhi segala apa yang dibenci.[Lihat Raudhatul ‘Uqalâ wa Nuzhatul Fudhalâ’ (hal. 53)]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhûr. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.
Perasaan malu didalam hati dikala akan melanggar larangan agama, malu kepada tuhan bahwa jika ia mengerjakan kekejian akan mendapat siksa yang pedih.perasaan ini menjadi pembimbing jalan menuju keselamatan hidup, perintis mencapai kebenaran dan alat yang menhalangi terlaksananya perbuatan yang rendah. Orang yang memiliki sifat ini, semua anggotanya dan gerkak geriknya akan senantiasa terjaga dari hawa nafsu, karna setiap ia akan mengerjakan perbuatan yang rendah, ia tertegun, tertahan dan akhirnya tiada jadi, karna desakan malunya, takut mendapat nama yang buruk,takut menerima siksaan allah swt kelak diakhirat. Tetapi janganlah malu itu hanya kepada manisia saja, maka berbuat yang baik kalau diketahui manusia tetapi kalau ditempat sunyi ai berbuat buruk sebab orang tida melihat. Maka hendaknya malu terhadap makhluk, juga lebih-lebih lagi malu terhadap kholik.
b. KeutamaanMalu
a) Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.
b) Malu adalah cabang keimanan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan.
c) Allah Azza wa Jalla cinta kepada orang-orang yang malu.
d) Malu adalah akhlak para Malaikat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ أَسْتَحْيِ مِنْ رُجُلٍ تَسْتَحْيِ مِنْهُ الْـمَلاَ ئِكَةُ.
“Apakah aku tidak pantas merasa malu terhadap seseorang, padahal para Malaikat merasa malu kepadanya.” [Shahîh: HR.Muslim (no. 2401)]
e) Malu adalah akhlak Islam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.
“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” [Shahîh: HR.Ibnu Mâjah (no. 4181) dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/13-14) dari Shahabat Anas bin Malik t . Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 940)]
f) Malu sebagai pencegah pemiliknya dari melakukan maksiat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Untuk beriman kepada allah kita harus mempunyai sifat tawakkal, syukur dan haya’.Karna sifat ini sangat dibutuhkan dalam memahami tentang beriman kepada allah.Yang tawakal adalah berserah diri kepada allah setelah usaha yang kita lakukan.Dan syukur adalah mensyukuri dari apa yang telah allah berikan untuk kita, karna apa yang menurut kita baik belum tentu menutur allah itu baik pula. Allah tidak memberikan apa yang kita mau tapi allah memberikan apa yang kita butuhkan.Dan haya’ adalah rasa malu yang kita miliki apabila kita tidak menjalankan perintah allah, dan malu apabila melanggar apa yang telah allah perintahkan kepada kita semua.

B. Saran
Dalam makalah ini mungkin masih banyak kesalahan-kesalahan yang terekspos karna kitapun masih dalam tahap belajar.Jika berkenan hendaknya pembaca mampu untuk mengkritik dan menambahkan kekurangan-kekurangan yang ada pada makalah ini. Kami sangat menghargai apapun kritikan itu selagi hal itu masih menyangkut akan masalah-masalah yang ada dalam makalh ini.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri.2008.Minhajul Muslim Konsep Hidup Ideal Dalam Islam.Jakarta.Daru. Haq
Prof.Dr.H.A.Rohman Ritonga Ma.2005.Amelia.Surabaya
Dr.Rasihon Anwar,M.Ag.2008.Aqidah Akhlak.Pustaka Setia Bandung
Imam Al Ghazali.2003.Ihya’ Ulumiddin Jilid VIII. Semarang.CV Asy Syifa’

Drs.barmawie umary.1995.materia akhlak.solo.ramadhani

Drs. Bukhari Dahlan.2006.tiga puluh tiga akhlak mukmin muslim.pekan baru. Suska press uin suska riau

Syekh fadhlalla.2012.al-hikam 264 hikmah dan renungan spritual harian.jakarta.PT serambi ilmu semesta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s