cerpen : Nafi dan Kalkulus

Nafi dan Kalkulus

Nafi adalah mahasiswa semester 1 jurusan pendidikan matematika di sebuah universitas negeri di Riau, sebenarnya ia tidak terlalu pandai dalam matematika. Tapi satu hal yang patut diacungi jempol, nafi adalah anak yang rajin. Pintar itu dapat dicari kalau kita rajin belajar, prinsipnya. Nafi masuk di jurusan pendidikan matematika karena nafi hanya jebol di jurusan itu melalui jalur SNMPTN. Sebenarnya ia sangat menginginkan kuliah di Jawa dan mengambil jurusan lain yang sangat disukainya, tetapi takdir berkata lain.

Menjalani hidup dengan sesuatu yang tak dicintainya bukan lah hal yang mudah, tapi meski ia tidak mencintai matematika, ia berjuang keras agar matematika mau jatuh cinta padanya. Peluh orang tuanya di kampunglah yang membuat ia bersemangat meski menjalani hari-hari dengan matematika, yang ketika SMA selalu mendapat nilai alakadarnya tapi selalu lewat kkm meskip tak pernah melewati batas 90.

Nafi adalah tipikal gadis periang yang tidak mudah tersinggung meski di ejek teman-temannya, karena bertubuh pendek, kecil dan agak berisi. Padahal tingginya mencapai 147 cm, meski demikian teman-temannya tetap mengejeknya. Dimana nafi berdiri disitu ia disuruh berdiri. Ini bukan peribahasa kawan.

“perkenalkan nama saya nafi”. Kata nafi berdiri memperkenalkan diri di hari pertama kuliah setelah PNDK (ospek).

“tegak woi”. Celetuk seorang anak laki-laki dibelakang.

“ini dah tegak ha, perlukah aku tegak diatas kursi”.

Seluruh kelas tertawa dibuatnya.

***

Setelah beberapa hari dan sudah lewat satu minggu kuliah, nafi mulai mengerti pelajaran yang harus dihadapinya, benaknya selalu mengatakan. ‘yang lain aman, hanya satu yang sepertinya jadi musuh terberatku, Kalkulus’. Pikir nafi.

Hari-demi hari berlalu, minggu demi minggu terlewatkan tak terasa sudah dua bulan ia kuliah, dan sebentar lagi UTS. Nafi sangat heran melihat temannya yang sekali diajarkan kalkulus langsung faham dan langsung bisa mengerjakan soal didepan kelas, sedangkan nafi harus bersusah payah duduk dimeja paling didepan, mendengarkan dengan seksama, dan harus dijelaskan sekali lagi oleh temannya baru ia bisa mengerti.

“silahkan yang bisa maju kedepan”. Kata pak suhandri suatu hari.

Pak suhandri adalah dosen kalkulus dikelas PMT 1a, kelas nafi. Ia adalah dosen yang pintar, tetapi menurut nafi, pak suhandri mengajarkan terlalu cepat. Padahal mungkin nafi yang lambat.

“pak, kok soal nya beda sama contoh?”. Tanya nafi.

“ya iyalah, kalau sama kapan kalian mau belajar berfikir?”.

“pak jelasin sekali lagi dong!”

“yang mana?”

“hehehe… semuanya pak”. Kata nafi malu-malu.

***

“minggu depan kita UTS, persiapkan diri baik-baik, minimal kalian harus dapatkan nilai 80 agar ujian nanti beban kalian tak terlalu berat”. Kata pak suhandri ketika akan mengakhiri kelasnya.

“kalau tak dapat 80 pak”. Tanya dila

“ya nggak papa, tapi UAS nanti nilai kalian harus tinggi, kan enak kalau sekarang dapat 80 nanti UAS tinggal kejar target yang tak terlalu tinggi”.

“katanya minimal dapat B ya pak?” tanya bibah

“bukan B sayang, tapi B+”.

“kalau tak dapat pak?”. Tanya nafi menimpali

“ya kalian ngulang lah nanti semester 5 sama adek-adek kalian. Itu pun kalau kalian tak malu”.

***

Setelah kuliah nafi memusatkan diri belajar kalkulus dengan konsentrasi penuh, mengerjakan soal-soal, makan dengan teratur, minum susu banyak-banyak. (apa hubungannya coba?). satu minggu ia persiapkan untuk belajar kalkulus. Nafi sangat percaya diri ia bisa mengerjakan kalkulus dan mendapat nilai sempurna, minimal 80. Pikirnya.

Nafi tinggal di asrama kampus, yang mengedepankan pendidikan islam, jadi malam adalah waktunya untuk belajar agama seperti, mengaji dan mendengarkan kajian dari para ustadz dan ustadzah. Selain itu pagi hari ada kegiatan bernama pagi bahasa. Biasanya kegiatan malam akan libur pas malam minggu atau sedang musim-musim UAS, tapi bukan UTS. Demi kalkulus, nafi meninggalkan kajian malam dan memusatkan diri untuk belajar dan belajar, bahkan nafi juga meninggalkan pagi bahasa demi kalkulus.

Saat soal dibagi nafi tersenyum-senyum saat mengerjakan soal, ia merasa bisa menyelesaikannya dengan baik, tetapi saat mengerjakan soal pertama pikirannya kacau dan blank, semua yang dipelajarinya banyak yang hilang dan ia menjadi sangat gugup melihat soalnya, hanya beberapa soal saja yang bisa ia kerjakan. Ia melirik kiri kanan tapi pada saat itu bibah dan dila dalam posisi yang cukup jauh dan berbeda paket ujian. Sudah dikatakan oleh pak suhandri bahwa saat ujian akan ada dua paket.

Nafi mencoba mencari contekan kedepan belakang dan samping, tetapi bukan jawaban yang ia dapatkan melainkan teguran kelas dari pak suhandri.

“maaf pak”. Nafi merasa malu melakukan itu semua, padahal ia sudah mempersiapkan semuanya dengan baik. ‘bagaimana bisa jadi seperti ini?’ pikirnya.

Akhirnya nafi memutuskan menjawab semua soal sejauh yang bisa dia ingat dan kerjakan. Nafi berhasil mengerjakan semua soal meski ia merasa sangat tidak yakin itu benar. Nafi berpikir dengan demikian mungkin ia bisa mendapat sedikit nilai untuk upah menulis.

Setelah ujian berakhir nafi menyesal dan meratapai kejadian tadi, ia menyesal meninggalkan kajian dan pagi bahasa dan membuat semua itu menjadi sia-sia. Ia menyesal telah meremehkan kalkulus. Ia berpikir mungkin itu hukuman untuknya, agar ia tidak menganggap enteng suatu mata kuliah dan agar nafi belajar untuk tidak meninggalkan kewajibannya sebagai mahasantri di asrama.

Seperti yang diduga nafi, ia mendapatkan nilai yang cukup menyakitkan untuk diceritakan. Saat ia mendapatkan lembarannya ia membuka sedikit dan langsung dimasukkan kedalam tas. Sedih hatinya melihat temannya mendapatkan nilai sempurna, tapi ia segera sadar bahwa itu tidak baik, sedih ketika temannya bahagia. Nafi tanyakan kepada teman-temannya mencari tahu adakah yang senasib dengannya atau bahkan lebih buruk dari padanya. Sungguh suatu sikap pecundang, pikir nafi setelah tak menemukan teman yang senasib dengannya. 58, ooops bukan, tapi 57. Itulah yang diperoleh nafi. Setelah itu ia diam tak berbicara apa-apa ketika teman-temannya menanyakan berapa nilainya. Nafi menangis, menangis dalam diam dan menyesali perbuatannya. ‘biar jelek tapi hasil sendiri’ kata nafi membesarkan hatinya sendiri.

Nafi menghitung, berapa yang harus dicapainya agar ia bisa lolos UAS nanti dan tidak mengulang, setelah menhitung semuanya nafi memperoleh angkan yang fantastis, 89. Itulah nilai yang harus ia capai untuk memperoleh B+. Nafi kembali menangis.

“oh tuhan, jika 80 aja sulit untuk kudapatkan, apalagi 89”. Katanya pada dirinya sendiri.

Tapi nafi bukan lah orang yang mudah menyerah, masih ada kesempatan. Yang penting ada kemauan dan usaha pikirnya.

***

“sebentar lagi kita uas ya” ucap pak suhandri suatu hari

“apa pak? Minggu depan uas” celetuk nafi dengan muka terkejut

“kita uas, setelah pertemuan minggu depan”. Jawab pak suhandri sambil geleng-geleng kepala. Kemudian ia menutup pertemuan hari itu seperti biasa.

“apa maksudnya, aku dak ngerti ha?”. Bisik nafi ke Habibah.

Habibah yang sedari tadi diam dan tersenyum saja akhirnya menjawab pertanyaan nafi sambil tersenyum simpul.

“maksudnya tu fi, minggu depan kita kan masuk, nah minggu depannya lagi kita ujian. Paham?”.

“ooohh”. Ucap nafi sambil manggut-manggut. “mu dah siap buat ujian nanti, setelah ku hitung-hitung, aku butuh nilai minimal 89 untuk mendapatkan B+, bisa nggak ya nanti?”. Nafi berkata lebih kepada dirinya sendiri dibandingkan bertanya kepada Habibah.

“entahlah fi, aku pun belum siap, nilai aku Cuma dapat 68”.

“ndeh… itu masih mending, aku? Cuma 57”. Jawab nafi sambil membereskan buku dan menyiapkan buku untuk pelajaran selanjutnya.

***

“aaaah… belajar belajar belajar, kalkulus kalkulus kalkulus”. Ucap nafi sambil memegang buku kalkulus.

Setelah pulang kuliah, nafi langsung ke kamar asramanya membuka-buka buku kalkulusnya yang sudah lecek karena sering di buka, meski jarang ia baca. Nafi sangat bersemangat untuk belajar, karena ia tidak mau kejadian yang sama terulang kembali, seperti kejadian uts nya yang lalu. Itulah yang membuat ia mau tidak mau harus belajar dengan keras jika ia tidak mau mengulang.

Buku diatas meja berserakan, kepala terikat kain putih bertuliskan ‘belajar’. Ia lebih seperti orang yang mau berjuang merebutkan kemerdekaan dari pada orang yang mau belajar, bedanya, kalau orang yang berjuang merebutkan kemerdekaan memakai bambu runcing ditangan kanannya, sedangkan nafi memakai pena yang ia pinjam dari temannya. Entah mengapa setiap hari penanya selalu hilang, bukan karena dicuri tetapi karena teledor dan ceroboh, hingga hilang entah kemana. Nafi tidak pernah punya pensil selama kuliah, meskipun ia berada di jurusan matematika dan sekarang sudah mendekati akhir semester pertama. Ia seperti tidak berniat untuk kuliah. Tapi kalau dilihat dari semangatnya itu tidak mungkin.

5 menit berlalu, terlihat mata nafi mulai sayu tanda mengantuk. Kemudian ia meletakkan penanya diatas mejanya yang berserakan.

“huaaah, ngantuknya mungkin lebih baik aku refresing dulu” dilihatnya jam di hp yang menunjukkan pukul 13.10 wib ‘5 menit cukuplah untuk facebookan’ pikirnya dalam hati.

5 menit terlewat, nafi kembali mengecek jam di hpnya. ‘ah tanggung 5 menit lagi ah’ ia kembali menggeser-geser androidnya, tanpa terasa jam menunjukkan pukul 13.30. ‘shalat dulu ah’. Pikirnya. Nafi bermaksud setelah salat ia akan kembali belajar, tetapi perutnya mulai keroncongan dan akhirnya dia memutuskan untuk makan terlebih dulu. Setelah ia selesai makan rasa kantuk mulai menyerangnya. Akhirnya bujuk rayu setan berhasil membuatnya tidur dan berfikir kalau ujiannya masih terlalu lama untuk difikirkan sekarang. Dan terlelaplah nafi sampai pukul 4 sore.

Begitulah nafi, walaupun sudah ada kata ‘belajar’ terikat di kepalanya, rasa malas menyebabkannya selalu mengulur-ulur waktu. Ia baru belajar saat keesokan harinya materi kuliah kalkulus. Tetapi sekali ia memegang pena dan sudah benar-benar niat untuk belajar, tak ada satupun yang bisa menghalanginya termasuk rasa malas itu. Ia benar-benar serius untuk membuang rasa malas itu demi nilai kalkulus. Selalu teringat didalam pikirannya, meskipun ia tidak suka matematika tetapi orang tuanya telah bersusah payah membiayai kuliahnya. Terbayang wajah ibunya sedang menunduk dibawah pohon pinang yang merupakan mata pencaharian orang tua nafi, disana sambil membawa beberapa karung dan obat nyamuk yang selalu setia menemani ibunya. Tidak jauh dari situ ayahnya mendongakkan kepalanya keatas membawa sebuah galah panjang. Dengan matanya yang sipit dan sayu namun tetap jeli melihat pinang-pinang yang berwarna kuning diatas sana. Itulah yang membuat nafi tetap bersemangat meski ia tidak mencintai matematika. ‘belajar keras, ingat orang tua dirumah!’ kata nafi pada dirinya sendiri saat ia sedang berusaha membuang jauh-jauh rasa malas yang sering menyapanya.

***

“teman, hari jum’at kan kita libur, ke perpus yuk. Belajar bersama”. Kata darma suatu hari.

Darma adalah salah satu teman nafi yang cukup pintar. Di hari jum’at dan sabtu kelas mereka tidak ada mata kuliah apapun sehingga dihari-hari demikian selain digunakan untuk merefresh otak juga mereka gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliah yang menumpuk, tetapi mendekati uas ini tugas-tugas kuliah tidak terlalu banyak sehingga mereka leluasa menggunakan waktu libur itu sebaik-baiknya.

“boleh, aku ikut. Jam berapa?” tanya bibah “ikut yuk naf?”.

“ok” ucap nafi singkat

“gimana kalau jam setengah sembilan aja”.

“ok, fix, kita belajar kalkulus jam setengah sembilan” jawab bibah

“oya… jangan lupa bawa bahan-bahannya ya!?” darma mengingatkan

Jum’at pagi pukul 9.30 wib, mereka bertiga telah berkumpul diperpustakaan lantai dua. Perpustakaan ini cukup besar terdiri dari 4 lantai, lantai bawah adalah tempat untuk absen mahasiswa di perpustakaan, selain itu juga digunakan sebagai hotspot wifi, untuk mencari tugas dan internetan gratis. Buku-buku kebanyakan terletak dilantai 3 dan 4, sedangkan dilantai 2 adalah tempat penyimpanan loker. Didekat tangga menuju lantai 3 ada ruang besar yang berisi beberapa buku dan koran-koran serta skripsi mahasiswa, jadi di tempat itu tidak terlalu ramai. Disana Cuma ada mereka bertiga dan seorang petugas perpustakaan yang sedang bersih-bersih.

Setelah berbincang-bincang sedikit mereka bertiga langsung belajar. Belajar apa yang tidak dimengerti dan menyelesaikan masalah bersama. Kebanyakan Darma yang mengerjakan, karena disitu ia yang paling pintar dalam matematika. Biasanya mereka belajar ber empat, yang satu lagi namanya Dila. Dia pintar, dan sering mengerjakan soal yang diberikan dosen ke depan kelas. Ia tidak bisa ikut belajar bersama karena rumahnya sangat jauh dari kampus.

Setengah jam berlalu, mereka bertiga mulai merasa jenuh. Bukannya lanjut belajar mereka malah ngobrol ngalur-ngidul tentang apa saja, dari kelas mereka, yang paling bodoh dikelas, yang paling pintar, dosen yang tak enak, dosen yang enak, sampai senior-senior mereka yang ganteng-ganteng pun tak luput mereka bicarakan. Setelah topik itu habis mereka berganti topik ke kampung, kemudian kekampus lagi lalu ke kampung lagi sampai ujung-ujungnya kekantin. Tak terasa waktu lebih banyak mereka gunakan untuk mengobrol dari pada belajar. Untung saja ruangan itu sepi kalau tidak mereka sudah pasti kena tegur oleh yang lain. Saat itu waktu menunjukkan pukul 10.45 wib. Mereka memutuskan untuk mencari makan karena sudah lelah belajar. Itu kata mereka. “lagian bentar lagi kan orang mau shalat jum’at, perpuskan mau tutup juga”. Kata nafi menambahkan.

Yah, hari itu berlalu begitu saja tanpa mendapatkan apa-apa. Nafi tersadar setelah ia sampai diasrama, masih banyak materi kalkulus yang belum ia kuasai dengan baik. Ia kembali belajar dengan sunggu-sungguh dimejanya, menandai beberapa yang tidak mengerti, dan akhirnya tertidur dengan pulas dimejanya memimpikan ia sedang mendapat nilai terburuk di pelajaran kalkulus.

“TIDAAAAK” nafi menjerit ketakutan dan langsung bangun seketika dengan nafas terengah-engah dan dahi berkeringat.

“ngapa fi?” tanya sulfi teman sekamarnya.

“tak de lah”. Katanya “hari selasa nanti aku uas, aku harus dapat nilai tinggi agar nanti tak mengulang. Ish masih banyak pula yang belum aku paham” nafi menggerutu.

“ngape tak nanya kak rubi? Dia kan hebat matematika!” sulfi menyarankan.

Kak rubi adalah salah satu musyrifah atau pemimpin di asrama nafi, ia adalah mahasiswa semester atas jurusan matematika terapan di fakultas sains dan teknologi, jadi bisa dibilang ia masternya matematika. Akhirnya nafi pun memutuskan untuk beristirahat sejenak dan berencana akan mendatangi kak rubi nanti malam.

***

Malamnya dengan penuh kesabaran kak rubi menjelaskan panjang lebar mengenai apa yang nafi kurang mengerti.

“kayak gini caranya dek, yang ini diturunkan kesini sama dengan rumus yang ini!” kata kak rubi

“terus yang y’ (baca: ye aksen) ini datang dari mana kak?”.

“y’ di dapat dari penurunan y”

“kok x nya tidak ada aksennya kak?”

“itu karena x bisa berdiri sendiri sedangkan y tidak”. Dengan hati-hati kak rubi menjelaskan sekali lagi tentang salah satu materi tentang kalkulus “ dah ngerti dek?” kata kak rubi tiba-tiba.

“hehehe, belum kak,coba ulang dari awal lagi kak” jawab nafi malu-malu.

Kak rubi hanya menghela nafas, dan kembali mengajarkannya dengan lebih sabar. Sampai jam menunjukkan pukul setengah 12 malam. Nafipun segera berpamitan karena ia tau kapan waktunya kembali kekamarnya.

Waktu telah menunjukkan pukul 1.00 pagi, tetapi nafi tak sedikitpun bisa memejamkan mata, padahal besok adalah pertempurannya denga kalkulus. Nafi sudah belajar dengan keras, tetapi itu hanya membuatnya bertambah pusing dan tak bisa tidur, ia membuka-buka buku dan tetap tidak bisa menghilangkan kegusaran hatinya. Setelah pukul 3.13 pagi barulah nafi bisa tertidur walau tidak lelap, dalam tidurnya ia bermimpi sedang menghadapi uas kalkulus, ia duduk di meja paling depan karena datang telat. Sebenarnya ia tidak bisa dikatakan telat karena dosen saat itu belum datang, hanya saja teman-temannya yang datang lebih awal untuk mendapatkan meja paling belakang. Saat tengah mengerjakan soal-soalnya ia melihat sebuah soal yang belum ia pahami. Nafi tetap terlelap meski mimpi itu terus mengganggunya bahkan sampai ia bangun.

Tok-tok-tok “assalamualaikum” nafi mengetuk pintu kamar kak rubi sekitar pukul 6.00 pagi. satu jam sebelum pertempuran dimulai.

Kak rubi membukakan pintu dan mempersilahkan nafi masuk ke kamarnya.

“kak tentang yang nafi tanyakan semalam tu kak” kata nafi “belum ngerti kak, jelasin lagi sama satu yang lupa nafi tanyakan”.

Akhirnya nafi belajar lagi pagi itu dengan desakan mimpi yang mengganggunya sejak subuh tadi. Nafi belajar sampa pukul 06.45.

“kak, udah dulu ya”

“dah ngerti dek?”

“dingerti-ngertiin ajalah kak”

“kok gitu?”

“nafi belum lagi mandi kak, bentar lagi jam tuju, kalau telat nanti nafi dapat tempat paling depan. Dah dulu ya kak, assalamualaikum”. Nafi membereskan alat-alat tulisnya dan segera meninggalkan kamar kak rubi setengah berlari.

“walaikum salam”.

Ketika mencapai tangga nafi teringat sesuatu dan kembali ke kamar kak rubi. “makasih ya kak”. Katanya membuka pintu kamar kak rubi dan menutupnya kembali kemudian ia langsung kembali kekamarnya. Kak rubi terheran-heran melihat tingkah nafi yang aneh.

“ckckck” katanya sambil geleng-geleng kepala.

***

“bib, aku nanti tak bisa datang cepat, carikan tempat duduk ya”. Telpon nafi ke habibah. “o ya, kita duduk dekat-dekat ya” tambah nafi mengingatkan. ‘satu masalah dah siap’ gumam nafi sambil melanjutkan menyetrika bajunya.

Jam 07.15 pad suhandri datang dan menyuruh merapikan tempat duduk dan meminta untuk tidak duduk terlalu dekat satu sama lain. Seperti hal nya seorang dosen, ia meminta agar tidak ribut, tidak mencontek, atau tengok kiri kanan. Ia segera membagikan soal yang terdiri dari dua paket. Soal-soal ini tentunya sudah di antisipasi oleh nafi dan teman-temannya, habibah dan dila. Mereka memposisikan diri secara silang atau lebih tepatnya seperti garis miring.

“yang mencontek dan menconteki langsung saya ambil kertasnya” kata pak suhandri sambil menimang kertas uas anak kelas lain. “waktu mengerjakan 40 menit dari sekarang”.

Pak suhandri memberikan soal yang tidak banyak menurutnya, hanya 6 soal. Tetapi beberap soal ada yang beranak dua atau empat sehingga jika dijumlahkan semua soalnya sebanyak 10 soal.

Keadaan tenang hanya berlangsung selama 10 menit, setelah itu bisik-bisik mulai terdengar dimana-mana, dimulai dari meja paling belakang, menjalar kedepan dan beterbanganlah kertas-kertas berbentuk gumpalan. Pak suhandri pun segera menyadarinya dan meningalkan kertas-kertasnya dan berjalan berkeliling ke belakang. Saat ia sampai dibelakang meja paling depan mulai beraksi karena mendapatkan kesempatan. Saat ia kembali lagi ke depan meja belakang kembali berulah. Kemudian pak suhandri memutuskan untuk duduk mengawasi di atas meja. Yap diatas meja, bukan dikursinya dengan kaki terjulur kebawah dan tangan dilipat didadanya. Matanya tetap waspada mengawasi mahasiswa yang diam-diam menghanyutkan.

Sebagai mahasiswa yang merupakan mantan siswa tentunya sudah berpengalaman menghadapi guru sepert itu. Mereka berkomplot, satu mengawasi mata dosennya dan yang lain sibuk menatap jawaban temannya.

Nafi berdo’a sebelum mengerjakan soal, ditutupnya kedua matanya dan dipegangnya soal. “ya Allah, mudahkanlah aku dalam mengerjakan soal, mudahkanlah aku mengingat pelajaran yang telah ku pelajari, dan bantu aku dalam mengerjakan soal-soal yang sulit dan semoga nanti hasilnya memuaskan ya Allah. Amiin”.

Nafi terlihat santai mengerjakan soal, mungkin karena ia sudah belajar dengan keras sehingga ia merasa bisa dengan mudah menyelesaikan soal-soal. Ia mendahulukan soal yang ia anggap mudah. Ternyata dibalik kertas soal, nafi menyiapkan sebuah jimat berbentuk kertas yang dilipat rapi, didalamnya ada soal serta jawaban yang meskipun tidak sama dengan soal ujian, tetapi caranya sama. Nafi sudah menyiapkan hal-hal tersebut untuk mengantisipasi adanya soal-soal yang belum ia kuasai dengan baik. Yap hanya soal-soal yang belum ia kuasai dengan baik. Tetapi meskipun berbagai cara telah dilakukannya seperti belajar dengan sungguh-sungguh dan membuat jimat, pasti ada beberapa soal diluar kemampuannya, bukan karena tak bisa tapi seperti pepatah lama yang mengatakan ‘manusia tempat salah dan lupa’. Tidak ada cara lain selain mengambil jalan terakhir yaitu mencontek.

“naf, naf…”. bisik bibah yang ada dibelakang teman samping nafi “nomer 3?” bibah berbisik sambil menunjukkan tiga jarinya “ tiga A” tambahnya.

‘wah kesempatan ni buat barter(tukar menukar jawaban)’ pikir nafi.

Nafi segera memiringkan kertas jawabannya, dengan sikap badan seolah-olah tengah mengerjakan soal dengan mata tertuju di mejanya untuk mengelabui mata dosen. Sekali-kali terdengar pak suhandri menyindir mahasiswanya.

“yang belakang ngapa tu? Apa tu bisik-bisik? Awas patah leher nanti!”. Pak suhandri mengingatkan sambil tersenyum “kalian tu calon guru, inikah yang akan kalian ajarkan nanti sama murid-murid kalian nanti?” nasehatnya sok bijak.

“sudah naf”. Bisik bibah pelan.

“bib, nomer lima yang C”. Bisik nafi balik nanya.

“tunggu ya? Pak suhandri nengok kita”.

Setelah beberapa saat bibah segera melakukan apa yang nafi lakukan tadi. Dan nafi menyalin jawaban bibah secepat yang ia bisa.

“sudah bib, mu yang limit udah? Tengok ha!” pinta nafi sedikit memaksa.

“aku juga belum, nanti aku tanyakan ke dila”.

Mendekati menit-menit akhir barulah bibah mendapatkan jawaban tentang limit tadi dan segera memiringkan jawaban agar bisa ditengok oleh nafi.

“sudah naf?”. Tanya bibah

“sudah. Makasih ya”.

“iya masama, dah siap semua?”

“sudah…”.

“coba tengok!”.

Nafi memperlihatkan jawaban lembarannya ke bibah. Dan bibah sedikit terkejut melihat jawaban nafi.

“punya mu nomer dua salah, caranya gak kayak gitu”. Kata bibah dengan muka sok pintar.

“oke, waktu habis. Silahkan dikumpul”. Kata pak suhandri mengejutkan mahasiswanya yang tengah asik mencontek.

Terdengar gerutuan mahasiswa yang belum siap dan beberapa mahasiswa yang sudah siap segera menyetorkan jawabannya kedepan kelas.

“yang betul kayak gini”. Kata bibah sambil menunjukkan jawabannya

Karena sudah panik nafi segera merebut jawaban bibah, ia tidak terlihat oleh pak suhandri karena pada saat itu teman-temannya sedang ramai menyetorkan jawabannya kedepan kelas.

“sini bib” nafi menyambar kertas bibah.

“ayo cepat, telat tidak bapak terima”. Ancam pak suhandri kepada mahasiswanya yang belum juga menyetor “ dua menit waktu tambahan”.

“cepat naf, cepat” kata bibah panik

“tunggu dulu bib” jawab nafi yang mulai panik “ sabar ha…”

“cepat naf, bapak dah mau pergi”.

“dikit lagi ha…”. tulisan nafi lebih seperti cakar ayam dibandingkan dengan tulisannya yang lain dan terlihat kesan buru-buru saat ia menuliskan itu.

Pak suhandri mulai membereskan kertasnya dan mulai berjalan keluar. Bibah bertambah panik namun rasa persahabatannya mengalahkan rasa egonya sehingga ia membiarkan nafi menyelesaikan jawabannya.

“cepat fi…”

“iya ne dah siap ha…”. nafi segera berlari mengejar pak suhandri yang sudah berjalan selangakah dari pintu. “ni pak, punya saya, maaf sedikit terlambat”.

Nafi sangat beruntung karena pada saat itu pak suhandri masih mau menerima jawabannya. Lega-kelegaan hangat menjalari badan nafi yang sudah berkeringat dingin.

Nafi, bibah dan dila pergi ke kantin memuaskan perut mereka yang kelaparan karena uas yang meneganggkan, dan waktu dikantin mereka habiskan sambil makan dan menertawakan kejadian tadi. Mereka berharap meski demikian kejadiannya mereka bisa mendapatkan nilai B+ agar tidak mengulang. Mereka telah berusaha mati-matian hari itu, segelas es teh manis dan sepiring ayam penyet sedikit banyak memberikan ketentraman di perut dan otak mereka. Tinggal menunggu hasilnya nanti.

***

Hari demi hari berlalu, waktu yang pandai menipu mengungkapkan bahwa tak terasa uas semua mata kuliah telah selesai, hari-hari menegangkan pun sudah hilang. Hari saat uas mata kuliah terakhir telah berakhir. Anak-anak kelas nafi pun merayakannya dengan berfoto-foto bersama, karena ada rumor yang mengatakan bahwa semester dua nanti akan ada penetapan kelas berdasarkan nilai. Dan saat yang paling ditunggu-tunggu oleh mahasiswa adalah PULANG KAMPUNG. Beberapa mahasiswa terlihat sangat bahagia dan menyanyikan lagu balik kampung dengan suara sumbang.

“naf, jangan lupain aku ya”. Kata bibah “sorry selama aku dikampung nanti aku mungkin tak ada sms mu” tambahnya.

“napa emangnya”.

“maklum lah fi, kan aku dikampuang nan jauh dimato, tak ado sinyal disana tu do”.

“dasar anak pelosok”. Celetuk nafi.

“apa mu bilang?, mu kan anak pelosok juga”.

“setidaknya kampung aku masih ada sinyal”. Bantah nafi dengan bangga.

“ada kok sinyal ceria ditempatku”.

“eleeh, itu pun harus pergi ke tempat tetangga kan”. Ejek nafi yang sudah mengetahuinya sejak lama.

“woi, tak buliah bekelahi baiko tu do, sesamo anak pelosok tu jangan lah saling mengejek!”. Kata dila menengahi.

Setelah mengucapkan salam perpisahan, mereka pun berpisah dan berjanji untuk membawa oleh-oleh khas daerah masing-masing.

“jangan terlalu pikirkan nilai, masih lama lagi keluarnya”. Kata dila sambil melambaikan tangan.

***

Setelah semua ujian selesai, bahkan sebelum ujian, nafi selalu berdo’a agar ia bisa mencapai targetnya terutama di mata kuliah kalkulus yang menjadi momok menakutkan baginya. “ya Allah, semoga aku nanti tidak ada yang mengulang ya Allah, semoga kalkulus sesuai target ya Allah, kabulkanlah do’aku ya Allah” pinta nafi setiap usai shalat.

“klung”. Bunyi bbm dari ponsel nafi berbunyi ‘woi tengok nilai keterampilan belajar matematika, dah keluar ha’.

Dengan perasaan dag dig dug nafi membuka simak (sistem informasi mahasiswa dan akademik) melalui ponselnya, setelah mengisi NIM dan password, nafi melihat nilainya yang ternyata mendapat nilai B+. Itu tidak terlalu mengejutkan nafi, dia yakin bahwa semua mata kuliah berhasil lolos dan mendapatkan nilai minimal B+, hanya satu yang membuat nafi selalu gemetaran saat membuka simak, yaitu nilai kalkulus. Ia tidak terlalu yakin bisa mendapatkan nilai sempurna, jika ia bisa mendapatkan nilai B+ ia sudah sangat bersyukur. Karena nilai minimal yang harus dicapai agar tidak mengulang adalah B+, ia tidak berharap banyak untuk memperoleh A sekalipun A-. Setelah nilai satu mata kuliah muncul, nafi menjadi sangat rajin membuka simak. Hampir setiap pagi setiap hari ia membuka simak, dan nilai mata kuliah yang selalu menghantuinya tidak muncul-muncul juga.

Disuatu pagi yang cerah, nafi membuka ponselnya. ‘kok hp ku nggak ting-tong-ting-tong sih dari tadi’ pikirnya. bosan dengan obrolan, nafi berpindah melihat umpan. Dan terkejut melihat PM temannya di bbm ‘alhamdulillah kalkulus’.

“apa! Nilai kalkulus sudah keluar”. Kata nafi pada dirinya sendiri.

Dengan perasaan bergejolak nafi membuka hp nya dan segera membuka browser. Namun apalah daya, mungkin jaringan dikampung pada saat itu sedang tidak bersahabat dengan nafi. Dengan jengkel nafi menutup browsernya. Sore harinya nafi kembali dan membuka browsernya ketika sudah memasukkan NIM dan password dan tinggal mengklik login, tiba-tiba hp nya mati, nafi sangat menyesal tidak men-charg baterai nya sewaktu listrik masih hidup tadi. ‘AAARGH’ jerit nafi dalam hati. Hingga keesokan harinya, nafi telah men-charg baterainya, dan memeriksa jaringan yang ternyata pagi itu dalam kondisi yang sangat baik. Nafi segera membuka browsernya. Dan… loadingnya cukup lama, semakin membuat nafi deg-deg-gan tak karuan.

“ya Allah, semoga aku tak mengulang, semoga aku tak mengulang”. Pinta nafi sambil memandangi ponselnya.

Dan….

“ALHAMDULILLAH B+”. Nafi langsung sujud syukur “subhana manlayanamu wala…” ‘ups, itu kan bacaan ketika lupa’ pikir nafi. Dan cepat-cepat ia menggantinya “subhanallahi walhamdulillahi walaa ila ha illallahi wa allahuakbar 3x”.

Akhirnya dengan segala kerja keras, belajar, usaha, kerja keras dan berdo’a mampu membawa nafi ketujuannya yaitu mencapai target B+ yang pada mulanya itu terlihat tidak mungkin.

oleh: Mujawaroh Annafi

ditulis berdasarkan pengalaman pribadi dengan sedikit penyedap rasa meskipun membuat cerpen terasa lebih nggak enak.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s