cerpen: Night With Friends

night with friends

Desa madani, malam itu sangat sunyi dan gelap. Saat itu sedang ada pemadaman listrik sehinggap penghuni desa itu lebih memilih untuk meringkuk di tempat tidur dari pada berada diluar rumah. Sunyi malam hanya dipecahkan oleh suara jankrik yang bersahut-sahutan ditambah dengan suara burung hantu yang menambah kesan seram desa itu. Di desa kami, suara motor dimalam hari adalah hiburan tersendiri di hati penduduknya, ada yang menganggap itu mengganggu ketenangan ada yang menganggap itu hiburan. Tapi kebanyakan dari mereka jika merasa terganggu lebih memilih menutup telinga mereka erat-erat dengan bantal lusuhnya dibanding menegur anak-anak muda yang kadang-kadang nongkrong di gapura.

Aku dan teman-temanku pada malam itu tengah asik mengendarai motor keliling pasar dan kembali lagi ke desa madani, di gapura yang tak jauh dari rumah temanku yang bernama Ardi. Kami lalu duduk-duduk sambil mengobrol ngalor ngidul ketawa-ketawa memecah gelap dan heningnya malam itu. Kami melanjutkan malam dengan bermain catur dan membuata api unggun seadanya. Ardi menuang anggur ke gelas-gelas plastik yang dicuri dari rumah ardi.

“tuang banyak-banyak di”.kata yose mengangkat gelasnya.

“skak… tambah punya ku sedikit”. Kata waton tiba-tiba.

“tuang sendiri, emang aku babu loe”. Jawab ardi sekenanya.

Yose memindahkan bidaknya “skakmat”. Katanya bangga. Bersamaan dengan itu terdengar suara motor rombeng dari jembatan yang tak jauh dari gapura. Setelah dilihat dari dekat menggunakan obor yang mereka buat sekenanya ternyata itu adalah Alis yang datang sambil menenteng gitar bututnya.

“woi, main gitar yok!”. Tawar alis

Waton yang sedari tadi kalah bermain catur dengan yose langsung mengiyakan dan meneguk habis anggurnya yang tinggal sedikit.

“minta anggur bro!”. Alis meminta

“abis, ambil lagi ar!!”. Suruh yose ke ardi

“anggurnya habis bro, cuma tinggal yang rasa jeruk sama leci, kalian mau yang mana?”.

“aku rasa jeruk”. Kata alis.

“ah,nggak-nggak leci lebih nikmat”. Yose menyela.

Aku pun menyarankan agar ardi mengambil kedua-duanya.

“ide bagus tu dodi!”. Timpal waton. “eh, lis sekalian beli makanan kek” tambah waton.

“duet tu tak de”.

“iuran woi, iuran”.

“aku nggak ya, kan aku dari tadi dah nyediain minum buat kalian”. Sela ardi.

Kami lalu iuran sampai terkumpullah Rp. 5000.

“buat beli apa ne?”. Tanya alis sambil mengengkol motornya.

“apa aja lah yang penting lama habisnya”. Jawab yose

“oke sip”. Jawab alis sambil mengacungkan jempol dan mengegas pol motor maticnya.

Sambil menunggu alis dan ardi, kami lanjut bercerita sambil main catur yang sekarang giliranku bermain dengan yose. Permainan itu tak berlangsung lama karena aku memang tidak terlalu pandai bermain catur. Hanya dalam 10 langkah yose sudah men skakmat aku dan raja ku pun terjatuh mengenaskan dihadapan bidak pion yang terlihat lemah. Saat itu ardi yang sudah datang menertawakan kebodohanku dalam bermain catur. Kami kembalii menuang air minum yang sekarang rasa leci itu, sambil menunggu alis.

Alis datang sambil membawa kresek hitam kecil ditangannya.

“beli apa ?”. tanyaku langsung saat ia mematikan motor.

“kuaci”.

“apa?”. Kata kami serentak “semuanya?”.

“ya iyallah, kan kalian tadi yang bilang suruh beli yang awet-awet”. Jawab alis sekenanya tanpa tampang bersalah sedikitpun.

“ya, tapi nggak kuaci juga dong, susah tau makannya”. Kata yose

“iya, lagian kalau beli ya jangan kuaci semuanya lah…”. waton menimpali.

“tak mau ya udah, aku makan sendiri”. Kata alis sambil menyambar gitar dan melemparkan kuaci kepadaku. “mau nggak dod?”.

Akhirnya dengan sangat terpaksa malam itu kami lanjutkan dengan makan kuaci sambil mendengarkan suara alis yang sumbang.

“sini-sini biar aku yang main” yose menyambar gitar “kau main, suara ke timur, gitar keselatan”.

“serah lu lah”.

“mau nyanyi apa bro?”.

“bondan, ya sudah lah”. Usul ku sambil asik membuka kuaci.

“oke”. Jreng-jreng “sisakan dua bungkus ya, buat yang main gitar”.

Apapun yang terjadi

Kukan slalu ada untuk mu

Janganlah kau bersedih

Cause everthings gonna be ok

Waton mulai nge rapp

satu dari sekian kemungkinan

kau jatuh tanpa ada harapan

saat itu raga ku persembahkan

‘apa lanjutannya bro, kayaknya gua lupa?’ kata waton dengan tetap nge rapp.

Bersama jiwa cita-cita dan harapan

Kita sambung satu persatu sebab akibat…. alis melanjutkan.

“ganti-ganti bro!”. Kata ardi menghentikan lagunya.

Mungkin sudah satu album lebih mereka nyanyikan, yang hanya diambil reff nya saja. Kebersamaan seperti ini mungkin tak akan bisa dibeli, aku teringat lagunya ipang.

“lagu dangdut lebih seru deh kayaknya”. Ujar ardi.

“apa judulnya?”.

Hidup tanpa cinta aku langsung menyanyi dan yose sontak memainkan gitarnya dengan jari-jarinya yang lincah dan yang lain langsung menyahut.

Bagai taman tak berbunga

Hai… begitulah kata para pujangga

Aduhai begitulah kata para pujangga.

Taman suram tanpa bungaaaa…

Alis menyanyi solo ‘ada yang dicinta…. “lanjut woi…”. kata alis yang memang tak hafal.

Yang lain diam sejenak karena juga lupa liriknya. Tiba-tiba yose langsung menyambung.

Nana nana na…

Nana nana na

Na na nana na na nana na

Kami semua tertawa terbahak-bahak mendengar yose dengan suara sumbangnya menyanyikan lagu yang lupa liriknya. Lagu dangdut pun sudah habis dibabat oleh kami malam itu.

“nyanyi apa lagi woi?”. Tanya yose berhenti sejenak sambil makan kuaci.

“sini, biar aku nyanyi, dengar ya”. Kata ku ngesok sambil meminta gitar dari yose.

Balonku ada lima… rupa-rupa warnyanya aku menyanyi lagu balonku dengan irama dangdut, jadi tidak terkesan seperti lagu anak-anak. Cuma liriknya aja yang tidak diganti

Merah kuning kelabu, merah muda dan biru

Meletus balon hijau DOOR, hatiku sangat kacau. Saat itu aku berfikir, padahal balonnya merah kuning kelabu, merah muda dan biru, kok yang meletus balon hijau, balon dari mana pula itu. Habis lagu anak-anak kami pun berganti ke lagu yang lain.

“woi, yang mellow-mellow lah, biar gak ganggu orang tidur”. Kata alis.

“sempurna woi sempurna”. Ardi menyarankan

“ah nggak seru lah kalo dinyanyiin sama-sama”. Yose menyela

“ya udah aku yang main gitar, yose yang nyanyi, lo berdua yang dansa”. Kataku kemudian

“dansa dansa nenek kau?”. Kata ardi sambil melempar kulit kuaci ke arah ku.

“ya udah lo dengerin aja”. Kata yose menengahi. Yose pun segera menyanyi.

“dengarkan kawan-kawan, lagu ini kupersembahkan untuk kekasihku nan jauh dimato yang kucintai tulus dari hatiku yang paling dangkal”. Yose membuka lagunya dengan kata-kata dramatis. Dan akupun memainkan gitar dan alis serta ardi mendengarkan dengah penuh khidmat dengan mulut penuh dengan kuaci yang tidak lagi dikuliti tetapi langsung dimakan seadanya.

Ku begitu sempurna

Dimatamu ku begitu indah

Ku membuat dirimu akan selalu memujaku

Yose menyanyikannya dengan sangat khusuk, alis dan tanto kulihat sedang berguling-guling menahan tawa. Aku sendiri serasa mau muntah mendengarnya. Tetapi yose tidak menyadari kelakuan kami waktu itu.

disetiap langkahmu

kaukan selalu memikirkan diriku

tak bisa kau bayangkan hidupmu tanpa cintaku

aku, alis dan ardi sontak langsung menyahut saat yose mendekati reff.

Ku adalah darahmu

Kuadalah jantungmu

Ku adalah hidupmu

Lengkapi dirimu

Oh sayangku, ku begitu

Sempurna…sempurna…

Kami semua tertawa ngakak melihat muka yose yang melongo. Giliran yose yang main gitar lagi.

“dengerin ya… nanti kalian ikutin”. Katanya dengan muka sok pintar “ta ta ta tata ta ta”. Gayanya benar-benar seperti pelatih vokal di suatu acara kontes dangdut di tv. Kami pun langsung mengikutinya.

“ta ta tata tata ta ta ta ta”. Yose menyanyikan dengan irama yang lebih sulit. “tu wa ga pat… mulai”. Ajaknya keteman-temannya.

“ta ta ta”. Kami menyanyi dengan irama tersendat-sendat. “yang enak lah se… jangan panjang-panjang”. Celetuk alis tiba-tiba.

“iya.. susah woi”. Kataku menimpali.

“yang ini langsung sambung ya…” yose memetik gitar sambil menyanyi dengan irama sakitnya tu disini. “tata tata ta tatata ta ta ta tata ta, tu wa gapa pat”. Katanya sekali lagi.

Kami pun langsung menyambung karena sudah sangat kenal dengan lagu itu, lagu itu lebih mudah dinyanyikan dari pada lagu yose yang pertama tadi. Yah meskipun Cuma dengan lirik ta. Malam yang indah itu kami tutup dengan alunan lagu ipang Sahabat Kecil

Tak pernah terlewatkan

Dan tetap mengaguminya

Kesempatan seperti ini

Tak akan bisa dibeli….

Oleh: Mujawaroh Annafi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s