Story Baper On Marapi

1486726209739

Singgalang dilihat dari Marapi

“Buk ngopi Buk.”

“Iya Pak,” sahutku. Aku merapatkan jaket tebalku agar angin malam tak terlalu menusuk tulangku. Kami membuat api unggun kecil bersama-sama yang sejak sore tadi kami kumpulkan.

Butuh waktu lama untuk menghangatkan air demi membuat kopi, segera setelah air panas, kami langsung menuangkannya ke dalam gelas yang telah diisi kopi.

“Ahhh, hangat,” ucapku. Cepat-cepat aku habiskan kopiku karena beberapa menit lagi kopi itu pasti akan menjadi dingin.

***

Sofiah, temanku yang aku kenal beberapa bulan yang lalu ketika kami Pelatihan di Lampung, ironis memang, meski sama-sama dari Riau tapi kami dipertemukan di ujung Sumatera. Dia kuliah di Universitas Islam Riau (UIR), biar lebih keren dia menyebutnya UI Riau. Beberapa minggu sebelumnya dia memberitahu melalui Blackberry Messenger (BBM), agar aku bersiap-siap untuk ikut dia mendaki tanggal 16 Januari ketika libur semester ganjil. Dengan santai aku menjawab aku ikut kalau uangku terkumpul ya. Aku menjawab dengan santai, dalam hati aku berpikir pasti ujung-ujung dari ajakan ini tidak jadi.

Hari terakhir ujian semester lima, aku dikejutkan dengan dering hp yang memang jarang sekali berbunyi. Nomor tak dikenal menghiasi layar hpku, tanpa pikir panjang aku pun mengangkatnya.

“Hallo, assalamualaikum,”

“dimana fi? Jadi ikut kan? Besok kita ke Sumbar, tapi gak jadi ke Singgalang jadinya ke Marapi,” kata suar di seberang hp, yang kutau itu adalah Sofi.

“jadi pergi? Besok? Tapi kan besok masih tanggal 15, aku belum siapkan revisi tugas ku lho,”

“Iya besok kita dari Pekanbaru, senin kita nanjak. Siapkan lah lagi tugasmu,”

“aku gak ada siap-siap do,”

“aman tu, biar kami yang siapkan. Ada aku teman sekosku sama satu anak Fikom,”

“Ok,” kataku menutup telpon.

Ternyata Sofi benar-benar serius tentang ajakannya beberapa minggu silam, cepat-cepat aku menyelesaikan tugasku agar bisa ikut nanjak ke Marapi. Eitts, tunggu dulu. Marapi? Teringat percakapanku dengan seorang leader di pendakian pertamaku di Marapi. Aku tersenyum sendiri mengingat betapa bodohnya diriku sekarang. Aku mengambil laptop menyelesaikan tugas dan segera mengirimkannya ke salah seorang temanku agar ia yang mengumpulkannya ke dosen.

Salah satu alasanku ingin pergi menanjak lagi adalah, begitu banyak rencana yang aku buat bersama teman-teman satu kelasku jika ujian telah usai. Ujian memang sudah selesai tapi tugas masih terus membayangiku seolah-olah tak mengizinkanku lepas dari semester lima. Alih-alih lega setelah UAS kami disibukkan dengan tugas akhir yang menggunung, itulah yang membuat kami lupa tentang rencana-rencana relaksasi yang jauh-jauh hari kami rencanakan. Dari makan di Waroeng Steak, nonton bioskop, liburan ke Solok. Semuanya gagal, setelah selesai semuanya teman-temanku lebih memilih pulang kampung dari pada menjalankan rencana indah ini. Akhirnya aku memilih mengaminkan ajakan Sofi.

***

“kenalan dulu lah ya kita, ni Nafi, kawanku anak Gagasan, UIN” kata Sofi mengenalkan ku pada kedua temannya. “Fi ni Fitra, ini Laras,” tambahnya.

“Nafi,” balasku sambil tersenyum.

Pagi sebelum keberangkatan kami memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Mereka menyuruhku bersiap-siap sejak pagi, bahkan sebelum sarapan bersama aku sudah sarapan duluan di kos. Hingga akhirnya aku tertidur duluan sampai jam sepuluh pagi, hingga akhirnya mereka datang dan mengajak sarapan lagi. Menyebalkan. Dari pada nolak, kan gak enak wkwkwk.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Sumatera Barat dengan Sepeda Motor, Fitra dengan Sofi dan aku dengan Laras. Yup kami memang Cuma berempat. Fitra sebagai satu-satunya laki-laki diantara kami, maka ia membawa beban yang paling berat, Sofi dan Carrier. (maaf ya Sof).

Berbekal GPS Sofi dan Fitra terus melaju ketika sampai di Sumbar, aku dan Laras hanya mengikuti mereka dari belakang. Menurut rencana kami, kami akan tiba di pos 1 sebelum matahari terbenam dan mendirikan tenda di area itu sebelum paginya mendaki. Tapi manusia hanya bisa berencana hasilnya Tuhan yang menentukan, arah yang ditunjukkan oleh GPS mengarahkan kami jalur pendakian yang lain, bukan jalur biasanya. arah itu memang ada tetapi tidak banyak yang melalui jalur itu atau bisa terbilang sepi bahkan katanya pos ditutup.

Hingga akhirnya, setelah bertanya kesana kesini tak menemukan jalan,kami memutuskan untuk kembali ke Padang Panjang dan menginap di hotel. (waw)

***

Kami masuk melalui jalur yang biasa dilalui oleh pendaki, lewat pasar Bukittinggi kemudian berbelok ke arah yang aku lupa nama jalannya hingga kami sampai di pos satu. Di situ kami menitipkan motor dan helm dan beberapa barang bawaan yang sekiranya tidak kami perlukan ketika digunung. (aku benar-benar menyesal telah menitipkan barangku di sini).

“hosh…hosh…” napas Sofi terengah-engah ketika kami baru mulai pendakian.

Jalanan masih semen belum mencapai tanah tapi ini benar-benar melelahkan, aku kasihan melihat Sofi, ini kali pertamanya ia mendaki. Sedangkan Laras dan Fitra, menurutku mereka sudah terbiasa mendaki. Tak jauh berbeda dengan Sofi aku juga mengalami kelelahan karena dulu barang bawaan dibawakan sedangkan sekarang harus membawa sendiri, meskipun tidak separah Sofi (hahaha), tapi aku paling banyak menghabiskan stok air minum. (yang ini aku benar-benar minta maaf, kalo aku dehidrasi bisa fatal akibatnya).

“pak… Buk… Naik pak? Semangat bu! ” sapa para pendaki yang turun dari gunung.
Bukan hal asing bila para pendaki saling menyapa baik ketika turun ataupun naik. Seolah-olah sudah menjadi kebiasaan dan bukti keramahtamahan para pendaki. Tak heran bila ada yang mengatakan bahwa mendaki mengajarkan bagaimana bersosialisasi dan beramah tamah. Di Marapi sapaan Bapak dan Ibu adalah sapaan yang lumrah digunakan para pendaki baik tua maupun muda, anak-anak maupun dewasa semua dipanggil sama, tergantung gender hehehe.
Dengan susah payah menanjak, memanjat dan melompat, akhirnya kami tiba di cadas. Kami memutuskan untuk berhenti dan beristirahat di warung kosong. Wajar apabila tidak ada yang berjualan karena biasanya pedagang berjualan di hari libur seperti hari minggu atau tanggal merah.
“alhamdulillah, akhirnya nyampe juga di cadas, ” ujarku sambil tiduran di salah satu dudukan warung yang memanjang.

Warung yang merupakan satu-satunya warung di cadas ini hanyalah bangunan yang dibuat seadanya dengan menggunakan atap terpal dan kayu-kayu sederhana dan terbuka, biasanya menjual gorengan, itu yang aku tahu.

Beberapa saat kemudian Sofi dan Laras menyusul aku dan Fitra yang sudah sampai duluan. Tanpa pikir panjang mereka langsung membaringkan tubuh mereka di dudukan satunya. Tak lama kemudian aku merasa diriku sudah berada di alam lain. Yup… Aku tertidur saking kelelahannya.
Sebelum kami tiba di pondokan tersebut ternyata sudah ada pendaki lain yang beristirahat di sana. Fitra mengajak mereka mengobrol santai, ternyata ketiga pendaki itu juga berasal dari Pekanbaru bahkan mereka dari kampus yang sama dengan ke tiga rekanku, UIR.

“kami duluan ya Pak, ” ujar pria berambut panjang kepada Fitra.

“Iya Pak, ”

“Fit kita pasang tenda di mana?” tanyaku

“terserah”

“di sini ajalah,” kata sofi menimpali.

“Jangan di sini lah, kita cari tetangga biar enak nanti, ” kataku mengingat kami hanya punya satu laki-laki di antara kami.

“ya udah gimana kalo dekat sama abang yang tadi? Aku sih terserah kalian” tanya Fitra

“bolehlah terserah, ”

Fitra kembali memimpin perjalanan kami yang terhenti cukup lama. Dia berjalan sangat cepat dan kembali meninggalkan kami bertiga, aku duduk di bebatuan karena sudah sangat kelelahan. Yang ku tahu dia sudah menemukan tempat tak jauh dari tiga mahasiswa UIR tadi dan segera ia mendirikan tenda.

Setelah selesai kudengar salah seorang dari tetangga di bawah kami mengajak Fitra untuk mencari air. Aku tak tahu di mana mereka mengambil air karena Fitra juga tidak ada mengajak kami dan aku juga tidak akan pergi meskipun diajak.

Sekitar pukul lima kami menjamak salat dzuhur dan asar, aku dan Sofi mencari kayu-kayu kering untuk dibakar, kami tidak membawa kompor. Hal ini membuat kami menyesal karena sangat sulit menyalakan api tanpa bantuan minyak ditambah angin yang bertiup dari berbagai arah.
Menurut ku Sofi adalah pejuang tangguh, ia bersusah payah menghidupkan api yang sedari tadi tak kunjung hidup. Aku pun membantu mencarikan daun-daun kering yang mudah terbakar. Tak terhitung berapa banyak lembar tisu yang dibakar Sofi, tapi api hanya bertahan sebentar lalu padam. Padahal kami ingin membuat susu panas untuk Laras yang sedang tidak enak badan, juga untuk Fitra yang pasti lelah karena membawa beban paling berat, terspesial untuk aku dan Sofi yang memang sedang kepengen minum susu. Tapi sayang sampai Fitra datang dan Laras bangunpun api tak kunjung hidup.

“minum air hangat buk,? ” tawar tetangga kami.

“makasih pak, kami sedang proses”

“gak bawa kompor buk? ”

“kami mau menyatu dengan alam pak” jawabku beralasan.

Setelah sekian lama api tak kunjung hidup, abang berambut panjang datang membawa kompor kepada kami, mungkin dia kasian sama ibu-ibu yang berjuang hidup-hidupan demi api.
Dari ke tiga abang tetsebut kami memberi mereka nama sesuai dengan ciri khad mereka. Abang baik hati yang berambut panjang kami sebut Abang Cantik, karena rambutnya terlihat cantik dan kalau dilihat lama-lama abang tu memang cantik, abang satunya belakangan kami panggil Abang Ganteng, ya memang ganteng apalagi kalau dilihat lama-lama. Kalau yang satunya Abang Mapala, kata Sofi dia sering terlihat di sekre mapala yang dekat dengan sekrenya, LPM aklamasi.
Setelah makan malam Fitra yang kurus tinggi meringkuk kedinginan di dalam tenda. Kasihan dia jaket ungu kesayangannya tak cukup tebal menahan terpaan dinginnya malam. Sementara Sofi masih berjuang menghidupkan api. Poor Us.

Lelah dengan aktivitas sia-sianya akhirnya Sofi bergabung denganku menikmati kebesaran Tuhan yang menakjubkan, meski langit hanya menunjukkan sedikit bintangnya, tetapi awan enggan bergerak sehingga kami menikmati panorama singgalang di malam hari meski hanya siluetnya saja, lampu-lampu penduduk di bawah gunung juga terlihat bak bintang yang dipindahkan dari langit ke bawah. Ooh pantas saja langit sepi bintang ternyata begitu…

“fotoin Fi, ” kata Sofi membuyarkan lamunanku

Cekrek cekrek… Tiba-tiba Laras keluar dari tenda dan ikut berfoto bersama kami. Aku bersyukur ia sudah terlihat lebih baik daripada tadi, meski setelah itu ia kembali masukbke dalam tenda.
“Buk Ngopi Buk, ” abang cantik sudah ada di dekat tenda kami.
Sebelumnya abang cantik bertanya, apakah kami punya kayi bakar yang cukup, dari atas tentu saja kami punya tapi tak berguna. Dengan menggunakan kekuatan bulan… Oops jadi keinget Sailor Moon. Maksudnya memakai gas, abang cantik dengan mudah menyalakan api di kayu-kayu yang tak mau dibakar Sofi. Ternyata abang cantik juga membawa kompor gas kecil yang sore tadi dipinjamkan ke kami. Akhirnya kamipun bisa menikmati indahnya malam bersama kopi yang hangat. Tak lupa kami membangunkan Fitra dan Laras meski yang keluar cuma Fitra.

Fitra sangat pandai bercerita, aku Fitra, Sofi dan abang cantik bercengkerama menghabiskan sisa-sisa malam sampai aku dan Sofi beranjak karena sudah mengantuk. Aku tak tau kapan Fitra dan abang cantik meninggalkan kami, Fitra bilang dia akan tidur di tenda abang cantik. ketika aku terbangun tengah malam suasana sudah sepi, yang aku rasakan kaki-kaki di samping kanan dan kiriku menggigil kedinginan, aku benar-benar merindukan kasur.

***

“kalian mau ke Puncak tak, bentar lagi kita pergi ni, ” suara Fitra membangunkanku dari tidur yang tidak nyenyak.

Segera aku terbangun dan keluar tenda, kudapati waktu menunjukkan hampir pukul setengah empat subuh. Aku dan Sofi memutuskan untuk ikut naik ke Puncak Marapi dan menyaksikan sunrise yang konon katanya sangat indah. Laras lebih memilih menjaga tenda daripada ikut. “aku dah sering nengok” tuturnya.

Sebelum pergi kami bergabung dengan tenda tetangga kami. Abang cantik yang baik hati tengah memanaskan air untuk membuat kopi tak lupa ia menawarkanku kopi.

“ibu mau kopi hitam atau kopi sponsor? ”

“kopi sponsor”

Sebelum naik penjaga pos memberikan setiap pendaki kopi Tora Bika dan berpesan untuk membawa turun dan memberikan bungkusnya lagi kepadanya. Mungkin itu yang membuat abang cantik menyebutnya kopi sponsor.

Sayangnya abang cantik dan abang mapala tidak berniat untuk melihat sunrise bersama kami, alasannya sama dengan Laras. Jadi hanya abang ganteng lah yang ikut naik ke Puncak, katanya ini kali pertamanya mendaki Marapi. Sedangkan Fitra, kurasa dia sebenarnya enggan naik ke Puncak, tapi mungkin ia kasihan dengan kami yang dari kemarin ngebet ingin ke Puncak. Meskipun ini bukan yang pertama bagiku tapi aku sudah lupa jalan ke sana, hanya Fitra yang tau.
Pukul empat kurang sepuluh, itu waktu yang kuingat. Kami mulai lagi pendakian, di cadas yang terjal, kami harus berhati-hati agar tidak menginjak dan berpegang pada batu yang salah. Jika tidak pasti kami akan tergelincir ke bawah. Aku tak mau membayangkan apa jadinya aku kalau sampai itu terjadi, bisa-bisa ada tugu baru di samping tugu Abel, beruntung kami tidak membawa beban berat, hanya tas berisi air minum dan sedikit makanan. Tentu saja Fitra yang membawanya. Poor Fitra.
Gelapnya subuh dan keringat yang dihembus angin pagi membuat gigi kami bergemelutuk, mengantarkan kami di sebuah lapangan luas bak lapangan sepak bola, kami berjalan santai melewati tanah yang landai dengan butiran pasir berwarna abu-abu. Bongkahan-bongkahan batu berserakan dimana-mana, sempat kulihat batu-batu yang disusun membentuk sebuah nama, tak hanya satu tapi cukup banyak. Mungkin itu kreativitas para pendaki.

Kami terus berjalan menuju bukit di seberang lapangan, bukit-bukit itu juga berbatu-batu, tidak ada satu tumbuhanpun sejauh mata memandang hanya pasir dan batu. Puncak Merpati, itulah tujuan kami.Tempat tertinggi di Marapi.

Sesampainya di sana kami bertemu dengan pendaki lain yang juga ingin menikmati sunrise. Ketika kami sampai di atas terdengar adzan subuh berkumandang dari desa di kaki gunung. Segera kami menunaikan salat subuh di Puncak, kubentamg sajadah yang dibawa Fitra, bertayamum dan salat bergantian di atas sana. Perlu kau ingat kawan, mengagumi kebesaran Tuhan bukan berarti kau harus meninggalkan kewajibanmu kepada Nya. Puncak Merpati tidak terlalu luas sehingga kami harus lebih berhati-hati agar tidak terpeleset.

Dari arah matahari terbit terlihat bukit berwarna hijau yang pasti itu adalah taman Edelwis, tempat hidup bunga abadi. Melihat ke arah Tenggara Danau Singkarak memantulkan langit pagi memanjakan mata kami, gunung-gunung tinggi seperti Singgalang dan Tandikek berdiri dengan gagah meremehkan kami. Melihat ke bawah, rumah-rumah, ladang-ladang penduduk membuatku menyadari, betapa kecilnya kami.

Sayang sekali yang ditunggu-tunggu muncul malu-malu dan bersembunyi di balik awan yang bergerak perlahan, entah apa dosaku hingga mentari terbit dengan enggannya meskipun kami sudah menunggu sedari subuh.

Matahari mulai beranjak naik, Fitra yang telah selesai memotret semua yang diinginkan memutuskan untu turun terlebih dahulu. Sedangkan aku, Sofi dan abang ganteng masih berfoto ria juga menyampaikan salam untuk teman-teman kami, dengan kertas yang ditulis dengan spidol.

Sofi punya banyak amunisi untuk kealayan makhluk abad 21 ini. Aku bersyukur karena itu berarti aku bisa memintanya. Setelah itu kertas-kertas tadi difoto dan cekrek… Tak cukup satu mungkin seribu.
Setelah puas berfoto kami langsung turun ke cadas, entah mengapa kami mengurungkan niat untuk pergi ke taman Edelwis. Tapi kami menyempatkan diri berfoto di Tugu Abel sebelum turun.
Tak perlu kuceritakan kisah memalukan ku saat turun. Singkatnya, aku sangat bersemangat ketika naik tapi aku seperti kehilangan separuh kehidupanku saat turun. Satu hal kuceritakan padamu kawan, aku rindu ketika turun melalui cadas ini bersama seseorang di pendakian pertamaku, kisah manis yang tak ingin kulupakan seumur hidupku. (alay? Biarlah! Ini ceritaku, bukan ceritamu!).
Lelah menuruni cadas yang curam, kami sampai di tenda masing-masing, bapak-bapak tetangga kami mengajak masak dan makan bersama yang tentu saja kami setujui. Kau tentu ingat kawan, kami tidak punya kompor. Segera kami mengumpulkan mie instan dan air yang kami miliki dan memberikannya ke bapak-bapak untuk dimasak. Kami lanjut selfie, hahaha benar-benar bukan istri idaman.
Lelah berselfie ria kami menuju tenda tetangga kami dan membantu sedikit yang kami bisa. (yakalee gak bantuin).

Tak pernah kusangka dan tak pernah kuduga, makanan yang disediakan sangat banyak satu porsi bisa untuk tiga kali makan. Aku berpikir bagaimana cara menghabiskannya.
“gilak, ini porsi makan dua hari, ” kata Sofi sambil mensuir-suir daging ayam.
Sambil menunggu semuanya siap abang mapala membuat teh jahe, bukan teh jahe instan tapi benar-benar jahe yang dipotong dan diseduh bersama gula dan teh, sementara abang cantik yang baik hati tengah asik membakar sampahnya.

“Fit bangun Fit, sarapan yok! Turun ke bawah ya” aku membangunkan Fitra yang sedang berkelana di alam mimpi.

“hmmm”

“cepat bangun”

“iyaa”

Nasi putih ditambah mie instan memenuhi piring-piring kami, kompor masih hidup berada di tengah-tengah tenda, tentu saja memanaskan sambal yang membeku. Setelah semuanya siap kami mulai menyantap sarapan bersama-sama, yup kami bertujuh dalam satu tenda menikmati sarapan pagi dengan panorama Singgalang di depan pintu tenda. Ooh benar-benar menyenangkan, “ini seperti keluarga” batinku

Tak pernah kusadari kisah semalam di gunung Marapi akan mengawali kisah baper yang tentunya disulut Fitra dengan aku sebagai bahan bullyannya. Menyebalkan.

1486726227094

***

“bang bagi foto-foto di atas tadi” pinta Sofi

“pakai Line aja lah Sof, ” kataku menimpali

“sekarang aja lah, pakai Bluetooth, line susah nanti”
Akhirnya mereka berduapun bertukar foto lewat Bluetooth.

“nanti kirim ke line ku ya Sof, ” pintaku.

“yoi”

Siang nanti kami harus segera turun biar tidak kemalaman sampai di bawah. Menurut perkiraan jika kami turun pukul 11 kami akan sampai pukul tiga sore. Aku hanya menatap sendu ke arah mereka.

“kita akan sampai dekat-dekat maghrib” kataku ketus. Sofi hanya tersenyum.

“kalau turun cepat nyo, ” timpal Fitra.

Laras sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Ketika turun aku yang memimpin dan Sofi di belakangku. Aku tak perlu risaukan Fitra dengan Laras. Mereka lebih kuat dibandingkan kelihatannya.
Meskipun awalnya aku yang memimpin, pada kenyataannya aku yang paling terakhir.

1486703988605 1486704467076 1486726253676

MENGUAK BERBAGAI SUDUT PANTAI SARI RINGGUNG DAN PULAU TEGAL

2

Langit cerah biru di Bandar Lampung, mentari pagi yang menyibakkan sinarnya disela dedaunan. Bus berwarna biru langit, menghantarkan melewati tanjakan dan turunan serta kelokan yang membuat badan oleng kekanan dan kekiri kala bus berbelok di kelokan tajam. Menikmati pemandangan bukit-bukit dengan pepohanan hijau serta batuan cadas yang membuat mata celingak-celinguk ke arah jendela.

1,5 jam waktu yang dibutuhkan dari Bandar Lampung menuju wisata Pantai Sari Ringgung yang terletak di Desa Sidodadi, Pesawaran. Harga tiket masuk Pantai Sari Ringgung, tarif untuk perorang 10 ribu rupiah, motor 5 ribu rupiah, mobil 10 ribu, bus sedang 200 ribu dan bus besar 250 ribu. Harga dapat berubah sewaktu-waktu.

Memasuki kawasan Pantai Sari Ringgung, mata disuguhkan pemandangan yang akan membuat insan kekinian merogoh kocek mengambil kamera, birunya lautan, halusnya pasir putih, dan debur ombak di pesisir. Kapal-kapal berwarna-warni dengan bendera merah putih terlihat berjejer di dermaga, menanti penumpang yang ingin mengekplore Pulau lain yang tak jauh dari Sari Ringgung.

Berfoto atau selfie merupakan aktivitas yang tidak bisa dipisahkan oleh manusia zaman sekarang, dimanapun, kapanpun tanpa mengenal siapapun. Apalagi ketika sedang perjalanan, setiap hal adalah momen yang tidak dapat dilewatkan, spot selfie adalah hal yang biasa dicari-cari.

Berfoto di tepi pantai dan merasakan deburan ombak yang menyapu jejak-jejak yang ditinggalkan ditambah dengan semilir angin laut, apalagi terdapat background Pulau-pulau yang berada diseberang Sari Ringgung.

Untuk mendapatkan jangkauan pandangan yang lebih luas, pengunjung dapat mendaki Puncak Indah, dimana dari Puncaknya bisa melihat pemandangan Anak Gunung Krakatau yang perkasa. Bahkan tak perlu sampai puncak, di beberapa tempat tertentu wisatawan bisa melihat seluruh Sari Ringgung beserta gugusan Pulau-pulau yang ada disekitarnya. Jalan menuju puncak sebagian sudah diperkeras, dan diberikan tangga-tangga untuk memudahkan pengunjung mencapai puncak.

3

Tak cukup hanya Sari Ringgung, diseberangnya membentang Pulau Tegal. Untuk sampai ke sana, pengunjung bisa menyewa perahu, penduduk disini menamakannya dengan Taksi Perahu. Mencapai Pulau Tegal harus menyeberangi laut dengan gelombang yang lumayan besar, acapkali pakaian basah lebih dulu sebelum sampai ke Pulau. disarankan kepada pengunjung untuk tidak menjilt bibir, karena pasti akan terasa asin.

Butuh waktu kurang lebih 15 menit untuk mencapai pulau tegal, sewa taksi sekitar 200 ribu yang mampu menampung sebelas orang. Ditengah perjalanan pengunjung bisa menikmati pesona Masjid Apung Al-Aminah dan juga keramba yang sekilas mirip rumah di tengah laut.

Deburan ombak yang tenang. Air laut yang jernih diwarnai dengan hamparan pasir putih yang lembut dan luas. Serta panorama bahari bawah laut yang mengagumkan. Membias mata orang yang memandang dengan keindahan terumbu karang yang tersembunyi. itulah sedikit gambaran dari keindahan pulau Tegal yang kurang diperhatikan oleh pemerintah.

4

Pulau Tegal masih belum begitu terekspose, Lebih dari pada itu, Pulau Tegal memang menyimpan surga tersembunyi, beranjak dari Labuan Apung, menggunakan taksi perahu selama 15 menit, terdapat area snorkeling yang terletak di kawasan Batu Payung, memiliki biota laut yang kaya dan ekosistem yang beragam, tak perlu menyelam terlalu dalam karena surga bawah laut ini bisa dinikmati bahkan dari kedalaman kurang dari satu setengah meter.

5

Biasanya taksi perahu juga menyewakan peralatan snorkeling, jadi tidak perlu repot-repot mencari kesana kemari, cukup membayar 40 ribu rupiah pengunjung bisa menikmati karang-karang di Batu Payung, bahkan nahkoda perahu bersedia jika pengunjung memintanya menjadi guide.

Hutan yang masih rimbun dengan pemandangan yang hijau asri menambah keindahan desa Gebang. Pulau dengan luas + 98 hektarare yang dihuni oleh 36 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 100 penduduk ini, mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan dan juga sebagai petani sayuran. Penghasilan mereka sebagai nelayan dan petani belum mencukupi kebutuhan ekonomi.

Nurjani, nahkoda taksi perahu menuturkan penghasilan perbulannya hanya mencapai 600 ribu, itu pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dapurnya saja, belum lagi untuk membeli bahan bakar minyak. Ia berharap pemerintah mencanangkan program agar penduduk Pulau Tegal tidak tertinggal, “meskipun kita sedikit, tapi kan kita masih rakyat Indonesia,” ujar Nurjani.

Oleh: Kelompok 6 (Ifroh, Nafi, Hani, Kristina) PJTLN TEKNOKRA 2016

1

nafi, hany, kristina, ifroh

PANTAI SOLOP BERBILANG PESONA

IMG_5124

Tekuak indah alam membentang

Di rantau bumi sri gemilang

Pulau Cawan aduhai negeri Mandah

Pantai Solop Berbilang pesona

 

Desiran angin laut menerpa wajah ketika menginjakkan kaki di pasir pantai solop. Hamparan laut luas tak bertepi membentang luas di hadapan mata. Cangkang-cangkang kerang terlihat di sepanjang pantai, Pantai Solop memang dikenal dengan pasirnya yang unik. Tidak seperti pantai lainnya, pasir di sini bukanlah pasir biasa, melainkan pasir yang terbentuk dari fosil-fosil hewan laut, seperti siput dan berbagai jenis kerang-kerangan lainnya. Penduduk di sini menyebutnya pasir sersah.

Mangrove yang tumbuh di pesisir pantai juga memberikan pemandangan berbeda dari pantai biasanya, daunnya yang lebat menghalangi matahari membakar kulit, akar-akarnya yang kuat setinggi lebih dari dua meter ini, memberikan tempat istirahat untuk berbarin,g atau hanya untuk duduk melepas lelah sambil menikmati hembusan dinginnya angin laut.

Untuk sampai di Pantai Solop, memerlukan waktu sekitar satu 1,5 jam menggunakan speed boat dari Pelabuhan Rumah Sakit Tembilahan. Untuk biaya, hanya harus merogoh kocek 100 ribu rupiah untuk sampai di Pantai yang terletak di Mandah ini. Jangan khawatir karena itu sudah termasuk biaya pulang dari Solop nantinya.

Sesampainya di sana, dengan tiket masuk sebesar lima ribu rupiah, pengunjung sudah bisa menikmati indahnya pantai sepuasnya. Eit tunggu dulu, Solop yang terletak di Pulau Cawan ini, tidak hanya menawarkan pesona pantainya yang indah, terhitung sejak 2015 lalu, Dinas kelautan dan Perikanan Indragiri Hilir mengembangkan eko wisata hutan mangrove.

IMG_5247Setelah membeli tiket masuk, pengunjung bisa memilih untuk langsung ke Pantai atau terlebih dahulu menikmati eksotisnya mangrove Pulau Cawan ini. Jembatan dari kayu bercat hijau di padu dengan warna kuning dan sangat panjang ini, memungkinkan untuk mengeksplore hutan lebih jauh lagi. Tak hanya itu, bangunan papan seperti rumah pohon setinggi lima tingkat akan dijumpai di sana, sehingga bisa memperluas jarak pandang dari ketinggian.

IMG_5063

Menurut Ersalam, pengawas wisata, pengunjung ramai pada saat libur panjang seperti libur Idul Fitri, “lebaran kemarin bisa sampai ribuan,” tuturnya. Nur Aseha, pengunjung mengungkapkan, ia sangat senang bisa sampai di Pulau Cawan “yah, nggak nyesel lah jauh-jauh datang kesini,” ungkapnya.

Meski letaknya jauh dari perkotaan dan dihuni kurang lebih 40 Kepala keluarga, eko wisata yang buka hanya di akhir pekan ini juga menyediakan tempat ibadah yang terletak di dekat pantai, serta sebuah toilet di dalam hutan. Jadi pengunjung tidak perlu khawatir ‘kebelet’ ketika sedang menjelajah hutan.

Keindahan Pantai Solop juga diabadikan dalam lagu yang di ciptakan oleh mantan Gubernur Riau, Rusli Zainal. Dalam liriknya menjelaskan keelokan pantai Solop dan pesona alamnya yang indah, serta keramahan penduduk Pulau Cawan. ”Pantai solooop…, soloop…, solooop…Pantai sejati,” akhir lirik lagu Pantai Solop.

IMG_5064

Mujawaroh Annafi

Merdeka? Dulu Bambu Runcing, Kini Batang Kelapa

page

Sepanjang Jalan Penunjang yang menghubungkan Pulau Kijang dengan Kotabaru, sebuah Desa kecil nun di ujung Riau, berkibarlah sang merah putih dengan gagah di depan rumah-rumah warga.

Sebuah jalan yang merupakan jalan provinsi terbentang berkilo-kilo meter jauhnya, namun tak seperti jalan pada umumnya, bukan jalan semen, apalagi beton. Melainkan aspal yang tinggal tanah berlumpur dengan kerikil-kerikil kecil, yang di atasnya dijejer puluhan batang kelapa agar masih bisa dilewati kendaraan.

71 tahun Indonesia merdeka, bukanlah angka muda bila dihitung dari umur manusia. Seharusnya di angka berawalan tujuh ini rakyat sudah memiliki infrastruktur yang memadai, tak hanya di kota besar, tapi di desa-desa kecil. Sekali lagi itu SEHARUSNYA.

Merdeka bagi masyarakat kecamatan Reteh adalah merdeka dari penjajahan, lalu bagaimana dengan kesejahteraan, ekonomi, fasilitas penghubung?. Rakyat di sini masih berjuang, tapi tak seperti dulu yang menggunakan bamboo runcing, tetapi batang kelapa dan batang pinang.

Semua itu dilakukan agar perekonomian, pendidikan dan aktivitas lainnya berjalan dengan lancar. Batang kelapa di susun berjejer menutupi jalanan yang berlumpur dan berair bak kubangan kerbau. Tak jarang banyak kendaraan bermotor terperosok ke dalamnya sehingga butuh waktu berjam-jam agar kendaraan bisa keluar.

Tak hanya satu tempat, tapi hampir di sepanjang jalan. Adalah hal lumrah jika melihat puluhan batang kelapa di negeri seribu parit ini, tak hanya jalanan, jembatan pun harus ditutup dengan batang kelapa agar bisa di lewati.

Batang kelapa yang besar-besar sangat membantuk kala musim hujan datang meskipun sedikit licin dan mengambang di air, tak berbeda dengan musim kemarau, jika di musim hujan bak kubangan kerbau maka di musim panas batang-batang tersebut menjadi neraka bagi bokong pengendara, panas dan menyakitkan. Tapi itu masih lebih baik.

Semua orang berjuang, anak-anak sekolah dengan sabar melewati jalan itu setiap hari demi pendidikan, para warga yang giat memperbaiki jalan dan mengganti batang, serta pemimpin yang bermanis-manis kata, sehingga tak heran jika nanti ia terkena diabetes.

Begitulah, saban hari, sepanjang tahun, hinggga belasan tahun. Ketika generasi berganti generasi, pemimpin berganti pemmpin, sampai rakyat kenyang memakan janji-janji manis petinggi negeri ini, tetapi masih, jalan itu bak kubangan kerbau.

Rasanya ingin melihat mereka yang duduk di kursi panas, sekali saja untuk duduk di boncengan motor belakang, dan melintasi Kotabaru hingga Pulau Kijang, biarkan mereka merasakan manisnya perjalanan. Siapa tahu, mereka mendapat Hidayah!.

Mujawaroh Annafi

MENGINTIP BERBAGAI MITOS DI ISTANA SIAK

IMG_2766

Empat jam dari kota pekanbaru menuju istana Siak, melewati hamparan pohon-pohon sawit yang berjejer rapi di kiri dan kanan jalan. Hingga akhirnya sampai di sebuah jembatan panjang nan megah yang menandakan bahwa anda telah memasuki kabupaten Siak.

Istana Siak merupaka objek wisata yang terkenal di daerah Siak, kerajaan Siak berdiri selama lebih dari dua abad, dari tahun 1723 hingga tahun1946. Akhir kerajaan ini seiring denga nikrar sultan terakhirnya, Sultan Syarif Qasim II untuk bergabung dengan negara kesatuan Republik Indonesia, ketika Indonesia merdeka dari jajahan Belanda. Sejak itulah, Kerajaan Siak menjadi bagian yang tak terpisahkan lagi dari Republik Indonesia.

Istana Siak hingga saat ini keadaannya masih terawat dengan baik, meskipun telah berulang kali mengalami pergantian cat. Bentuk dari istana sendiri masih dijaga keasliannya. Untuk memasuki bangunan bergaya campuran antara Eropa, Turki, dan Melayu ini cukup membayar tiga ribu rupiah untuk orang dewasa dan 2500 rupiah untuk anak-anak dan 1000 rupiah untuk penitipan sendal.

Ketika pertama kali memasuki istana Siak anda akan disuguhkan dengan beberapa patung bak pejabat kerajaan, dengan raja duduk di singgasananya, patung-patung itu seolah-olah bercerita tentang raja dan menteri-menterinya yang tengah sibuk membicarakan suatu hal yang penting. Di sekeliling tempat raja duduk bersama menteri-menterinya, terdapat cermin berbingkai besar yang menempel di dinding-dindingnya. Diantara cermin-cermin tersebut ada sebuah cermin ukuran biasa yang diletakkan di salah satu sudut ruangan tersebut, cermin itu adalah cermin permaisuri kerajaan Siak, Tengku Agung. Cermin tersebut terbuat dari kristal. Menurut penjaga istana, M. Pardianto, konon jika seseorang bercermin di situ maka ia akan menjadi awet muda.

IMG_2632 IMG_2653

Ruangan itu seperti perempatan jalan, belok kanan, kiri dan lurus adalah ruangan lain dari istana. Belok kanan adalah ruangan berisi tempat duduk atau tempat makan kerajaan, di situ diletakkan didalam lemari kaca sebuah singgasana yang merupakan replika dari singgasana aslinya yang berlapis emas 18 karat. “yang asli diletakkan di museum nasional,” ujar Pardianto.

Berbagai ornamen diletakkan disitu, di dinding atas tampak berbagai macam hiasan berupa kepala anjing yang menggigit burung dan kelinci. Hiasan tersebut bukan hanya hiasan yang hanya memperindah ruangan, tetapi juga memiliki makna yang mendalam. Pardianto mengatakan, Pada zaman penjajahan dulu, ketika mengadakan perundingan dengan Belanda, diperoleh kesepakatan yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Namun jauh panggang dari api, seperti dalam perundingan dengan perusahaan dagang milik Belanda, Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), sultan Siak dan masyarakatnya harus untuk menjual rempah-rempah dan barang lainnya kepada Belanda, dan tidak di perbolehkan menjual kepada yang lain. Belanda membeli dengan harga yang sangat murah dan secara perlahan-lahan Masyarakat kerajaan Siak mengalami penderitaan. “Itu adalah bahasa kiasan yang digunakan sultan untuk belanda, Jadi belanda di ibaratkan seperti anjing, dan bangsa kita yang menderita diibaratkan sebagai burung atau kelinci” tuturnya.

IMG_2660

Di ruangan lain diletakkan berbagai peninggalan kerajaan seperti meriam, payung raja, foto keluarga, alat musik komet, Gendang Nobat, canang, dan berbagai peninggalan kerajaan lainnya.

Banyak mitos-mitos yang berkembang dikalangan masyarakat yang mengunjungi istana Siak, selain dari cermin permaisuri tadi ada juga kisah menarik dari berangkas besi milik raja. Menurut ceritaIMG_2665 berankas besi baja berwarna hitam tersebut tidak pernah berhasil dibuka, meski telah dicoba berkali-kali bahkan hingga memakai bor untuk bisa membukanya, bekas-bekas upaya untuk membuka brankas tersebut masih terlihat dengan jelas.

Ada dua tangga yang menghubungkan antara lantai satu ke lantai dua yaitu tangga naik dan tangga turun. Tangga berbentuk spiral ini berwarna kuning di padu dengan merah hati dan berlubang-lubang seperti saringan yang menyerupai corak batik. Cerita yang beredar adalah jumlah anak tangga yang dihitung setiap orang selalu berbeda-beda. Ada pula yang menyebutkan bahwIMG_2779a jumlah anak tangga ketika naik akan berbeda dengan jumlah ketika turun. “dulu saya hitung sampai 28 tapi teman saya sampai sampai 29,” tutur Alfin, pengunjung.

Air sumur yang terletak dibelakang istana juga dipercaya memiliki kemampuan magis. Konon air ini mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. ”airnya di ambil oleh masyarakat untuk obat penyakit dan airnya itu bisa diminum” ujar Pardianto “terserah kita mau percaya apa tidak,” tambahnya.

 

 

Travelogue Feature “Pesona Alam Batu Dinding”

Angin sepoi-sepoi yang dalam sekejap berubah kencang menerpa wajah-wajah kami, canda tawa terus bergulir sepanjang perjalanan, menyanyikan sejuta lagu abstrak hingga tenggorokan kami terasa kering. Tiga jam perjalanan dari Pekanbaru yang membuat perutku mual memang melelahkan hingga membuatku tertidur, ketika aku terbangun jalan mendaki dihadapan kami, sebuah pohon besar di sisi kiri kami dan sungai Subayang di kanan kami, hari ini, 24 Desember 2015, aku bersama kawan-kawan LPM (Lembaga Pers Mahasiswa) Gagasan menaiki mobil pick up untuk melihat langsung indahnya pemandangan air terjun Batu Dinding,

Akhirnya kami sampai di rumah warga setempat di desa tanjung belit, di situ mobil kami di parkir, cukup membayar Rp. 3000 untuk parkir dan Rp. 5000 untuk memasuki tempat wisata. Perjalanan kami tidak berhenti sampai di situ, kami harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki kira-kira 45 menit, karena jalanan yang becek, curam dan berlumpur tidak mungkin bisa dilewati oleh kendaraan.

Seperti mendaki bukit yang sangat miring, yang mampu membuat lutut seperti mau copot, kemudian jalanan menurun dan licin juga membuat kami harus berhati-hati agar tidak terpeleset dan menggelinding kebawah. Baru sepuluh menit berlalu nafasku sudah ngos-ngosan dan jalanku mulai melambat, beberapa dari kami mencari tongkat sebagai penopang badan yang keletihan. Lalu jalanan kembali datar lagi, menanjak dan menurun, suara-suara kumbang terdengar seperti menyanyikan melodi alam yang mempesona, di bawah birunya langit Kampar dan hijaunya hutan dan diiringi percikan-percikan air yang mengalir di sela-sela bebatuan. Kami melewati beberapa jembatan kayu dan sungai kecil berbatu dengan air jernih yang mengalir pelan, ikan-ikan pun seakan menari-nari riang bersama alunan melodi alam.

Jalanan semakin sempit dan menanjak tetapi semakin mudah untuk dilalui, karena telah dipasang anak tangga dari semen berbentuk balok sehingga menanjak dan menurun tidak terlalu berat bagi kami. Kami memilih jalan yang langsung menuju air terjun yang paling tinggi di situ, sayup-sayup terdengar gemericik air yang jatuh dari ketinggian, semangat kami kembali terpompa untuk segera mencapai air terjun yang memanggil-manggil kami.

Meluncur indah diantara bebatuan setinggi 10 meter, dengan gayanya yang anggun dan mempesona seolah mengatakan bahwa ialah yang tercantik disini, air terjun Batu Dinding, kami telah sampai dan menjawab rayuanmu. Belum sempat aku melepas tas di punggung ku, Toni, salah seorang temanku langsung menceburkan diri ke air dan berenang mendekati air yang turun dari atas. Air terjun ini kembali menggoda kami, seolah-olah mengedipkan mata dan menawarkan kesejukan atau lebih tepatnya dinginnya air di hari yang panas ini. Tanpa pikir panjang aku pun langsung menyusulnya.

Brrrrr dingin dan menyejukkan hati, air terjun yang memiliki dedalaman 4 meter dengan keliling kolam 7,3 meter ini menawarkan pesona yang mampu menghilangkan letihnya perjalanan panjang dengan berjalan kaki sejauh 1 km dari desa terdekat, meski tak bisa berenang berendampun sudah lebih dari cukup untuk melepaskan penat ku. Semua kelelahan, keletihan, dan perjuangan untuk sampai disini dibayar lunas oleh senyuman dan rayuan maut air terjun batu dinding.

Matahari semakin naik dan orang-orang pun ramai berdatangan ke tempat ini karena hari ini memang hari libur, wisatawan datang untuk menceburkan diri atau sekedar membasahi kaki dengan air dan berfoto. Setelah makan kami kembali menceburkan diri ke air untuk yang terakhir kalinya. Kami pun meninggalkan air terjun batu dinding dengan perasaan yang tak dapat dikatakan.

Diperjalanan pulang kami melewati jalan lain yang akan mempertemukan kami dengan air terjun yang lain, setidaknya ada dua air terjun, meskipun tak setinggi air terjun yang tadi, lalu jalan kembali menurun dan semakin sempit dan licin dan kami kembali bertemu dengan air terjun yang ke tiga, yang lebih sering di sebut dengan Air Selancar, disini tidak terlalu ramai, hanya kami serombongan yang ada disini, bebatuan yang besar membuat kami mudah untuk bermain di air terjun yang satu ini dengan kemiringan kurang dari 45 drajat membuat kami mudah memanjat keatas, dan berbaring merasakan air yang mengalir melewati kepala hingga ujung-ujung jari. Dingin dan menyegarkan hanya ada kami tak ada yang lain. Sungguh indahnya kebersamaan. Setelah puas bermain dan berfoto akhirnya kami memutuskan untuk pulang kembali menuruni jalan licin dan terjal serta sempit.

Kembali kami pulang menaiki mobil pick up yang melaju kencang, membuat kami terhuyung-huyung diatas mobil, dan gelak tawa pun pecah menertawakan kebodohan kami di air terjun tadi, kami yang tak bisa berenang, kami yang tenggelam, kami yang meluncur bebas dan kami yang gila-gilaan. Kembali pulang dengan alunan lagu abstrak disepanjang perjalanan.

Moment lebaran di Kampung Halaman

IMG_20150717_115050

ini namanya ambeng, makan setelah raya fitri

IMG_20150717_170940

coro jowo ne jembatan kenangan bareng konco2

Lebaran atau hari raya idul fitri adalah momen yang ditunggu-tunggu baik oleh orang tua, remaja bahkan anak-anak pun pasti menanti saat-saat itu. Apalagi bagi mereka yang jauh dari orang tua seperti saya misalnya.

Sebagai seorang mahasiswa yang tinggal dikota orang tentunya saya jauh dari orang tua. Ketika harum lebaran mulai tercium, meskipun itu masih setengah bulan lagi. Semua orang sudah sibuk bertanya-tanya kapan pulang kampung?

Sungguh hari yang sangat membahagiakan ketika idul fitri datang, semua keluarga dari jauh berkumpul bertahun-tahun tak berjumpa akhirnya dipertemukan dimomen yang sakral ini. Kebahagian-kebahagiaan itu rasanya terlalu indah untuk dinikmati sendiri. Yaah meskipun hanya sementara, karena pada dasarnya kebahagiaan hakiki itu adalah syurganya Allah.

Dikampung, seperti tempat saya tinggal selalu ada tradisi mbarak. Yaitu tradisi dimana semua anak-anak muda dihari pertama sampai paling lama hari ketiga, dari anak SD, SMP, SMA sampai mahasiswa semua bersama-sama bersilaturrahmi keliling kampung mengunjungi rumah dari ujung selatan hingga ujung utara tak terlewat satu rumahpun kecuali jika orangnya tidak ada. Menurut pendapat saya mbarak yang memang bahasa jawa itu berasal dari kata bara’an yang artinya seumuran, mungkin maksudnya adalah berkumpul bersama dengan teman-teman yang seumuran. Itu sih pendapat saya, nanti saya tanyakan ke yang lebih tua.

Kalau dipikir-pikir memang benar sih, karena mbarak dibedakan selain berdasarkan laki-laki dan perempuan juga berdasarkan dari tingkat sekolahan yang tiap tingkatnya dipimpin oleh seorang pemuda/i (mahasiswa / yang belum menikah). Sedangkan pemuda/i yang tidak kedapatan menjadi pemimpin juga tetap mbarak bersama dengan golongannya.

Berhasilnya program pemerintah KB (keluarga Berencana) membuat generasi muda semakin sedikit, jadi sekarang ini semua mulai menggabungkan diri bersama-sama yang lain biar lebih rame. Dari empat tingkatan yang saya jelaskan diatas tadi mulai terbagi menjadi dua, biasanya Pemuda/i bergabung dengan SMA, dan SMP bergabung dengan SD, tetapi seiring berjalannya waktu itu mulai tidak berlaku lagi. Suka-suka mereka mau ikut yang mana. Kalau saya sih lebih memilih ikut anak SD, biar nampak muda dan geraknya cepat.

Hal-hal seperti ini tidak akan bisa kalian temukan dikota.

Tempat-tinggal saya di kelurahan madani yang dulunya bergabung dengan kelurahan pulau kijang. Kampung kami ini juga berbatasan dengan daerah jambi. Sebenarnya lebih dekat ke jambi dari pada kepekanbaru, ya meskipun pelosok. Kami menyebutnya sebelah, sama dengan orang sana yang menyebut kami sebelah juga.

Ditanah kering gambut dan berdebu lantas tak menyurutkan langkah kami untuk tetap mbarak, meskipun rumah penduduk tangganya tinggi-tinggi dan membuat kami capeknya setengah mati. Tapi kebersamaan, keseruan, dan kekeluargaan mengalahkan segalanya. Tak peduli jembatan kenangan yang mengerikan jika dilihat tapi sebenarnya aman untuk dilalui, jembatan (titi) yang kecil yang mampu membuat anak kecil tak berani melewatinya, tak peduli rumah orang kaya, tak peduli rumah orang biasa, tak peduli baju baru yang kotor, kami tetap bergembira bersama.

Dulu ketika aku masih SD dan SMP,*ralat. Maksud saya MI dan MTS butuh waktu sampai 4 hari untuk menyelesaikan satu kampung, dulu masih jalan kaki atau naik sepeda dan kalau hujan jalannya becek, kalau air pasang banjir. Saya sangat bersyukur sekarang semuanya sudah banyak berubah, jika dulu butuh 4 hari sekarang dua hari saja cukup untuk menyelesaikan satu kampung, jalannya sudah disemen, sudah pakai motor dan tidak banjir. Alhamdulillah.

Sebagai anak gaul indonesia, saya juga tidak ketinggalan dengan yang namanya selfie. Disetiap tempat dengan setiap momen yang berbeda tak terlewatkan untuk selfie, sebelum pergi, saat pergi, sedang pergi, sampai sudah pergi, selfie tak pernah terlupakan. Sengaja kubeli tongsis khusus untuk lebaran tahun ini jauh-jauh dari pekanbaru. Biar lah dikata orang norak, asal tetap hepi-hepi. Hahaha.