Koboko Waterfall Pendakian Penuh Bonus

Kampar, lagi-lagi membuatku terkagum-kagum. Apalagi kalau bukan karena air terjunnya?. Dari semua air terjun di Kampar yang pernah ku kunjungi, Koboko lah yang menawarkan sensasi perjalanan yang seru.

Sekitar pukul delapan kami bertolak dari Pekanbaru menuju lokasi, tak lupa aku mengencangkan helmku dan duduk manis di dudukan penumpang. Tiga jam perjalanan diiringi gerimis mengundang mewarnai perjalanan yang panjang dan berliku.

“Selamat Datang di Air Terjun Koboko,”  Air Terjun Koboko ini terletak di Kecamatan Kampar Kiri tepatnya di Desa Lipatkain Selatan. Spanduk selamat datang sumringah menyambut kami ketika kami tiba di sana, sebelum masuk lebih jauh ke lokasi, terlebih dulu kami singgah di salah satu tambak ikan rekan temanku. Di situ kami menitipkan helm, baju ganti, motor dan sepatu agar tidak memberatkan perjalanan. Seperti air terjun pada umumnya, perjalanan pasti diawali dengan pendakian.

Berganti dengan sendal jepit, aku melangkahkan kakiku di tanah becek bewarna kuning, ya memang kala itu cuaca tidak terlalu mendukung. Satu hal yang ku sesalkan adalah meninggalkan motor di tempat kawannya kawanku. Kau tau kenapa? Ternyata perjalanan dari rumah dia hingga posko masuk bisa ditempuh dengan motor, dan sama sekali tidak selicin yang dikatakan. Ya sudahlah jalani saja, pikirku.
Cukup membayar lima ribu rupiah kami diizinkan masuk.

“Cuma tiga kali tanjakan dek,” kata petugas.

Pernahkah kuceritakan padamu kawan? Meski aku lebih suka mendaki dari pada turunan, tapi aku tetap termasuk lamban. Seperti biasa aku selalu berada dipaling belakang, tapi tak pernah kusesalkan karena stok air semua ada padaku. Aku hanya tertawa picik.

Jalanan mulai menanjak, dengan terengah engah aku memantapkan langkahku. Pupus hatiku kala mendengar ketika temanku mengatakan. “Semangat wey, ini belum tanjakan pertama.”

“Gilak,” pikirku.

Untung saja, bukit-bukit indah di kanan kiri berhasil memanjakan mata kami ketika dalam perjalanan, dari kejauhan tampak sebuah bukit yang ditanami sawit yang belum tinggi.

Tibalah kami di sebuah pohon yang memiliki tanda panah ke bawah. (Tanda ini tertanda Sispala atau Siswa Pencinta Alam, sepertinya Mapala belum datang ke sini). Ku longokkan kepalaku mengintip ke bawah. Waw, tak mungkin perjalanan dilanjutkan lewat jurang ini, pikirku. Bayangkan, turunan tersebut memiliki kemiringan lebihh dari 45 derajat, ditambah gerimis sedari tadi dan pastinya licin. Di situ ada jalan ke atas, tetapi tanda menunjuk ke bawah. Dilema kami menentukan manakah jalan yang benar.

Berdasarkan pengalaman temanku yang dulu pernah ke koboko, ia mengatakan dengan ragu-ragu kalau jalan memang lewat turunan ini. Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti tanda. Gemericik air terdengar ketika kami melangkahkan kaki menuruni jurang curam ini. Tak pelak beberapa dari kami terpeleset saking licinnya. Aku pun mencengkeram rumput-rumput atau pohon-pohon dalam jangkauan tanganku, tak mau kubanyangkan diriku menggelinding ke bawah.

Sesampainya di bawah, perjalanan dilanjutkan dengan turunan-turunan. Tak ada lagi tanjakan seperti sebelum kami turun tadi, ditambah lagi dengan air yang mengalir di sela-sela kaki kami. Segar kurasakan, napas tak lagi terengah-engah. Kami berjalan seperti menyusuri aliran sungai dengan riak-riaknya yang manja. Tak menyesal kutinggalkan sepatu dan menggantinya dengan sendal jepit.
Bak sebuah game, aliran air yang kami lewati memiliki level yang semakin lama semakin sulit, awalnya hanya melewati genangan air, lalu melalui titian kayu-kayu yang disusun jarang seperti tangga yang direbahkan. Hanya saja sudah rusak dan lapuk.

Semakin jauh kami melangkah aliran air pun semakin besar. Dan melewati turunan yang cukup terjal, air yang melewati bebatuan berlumut kami lewati bersama-sama, bergantian saling berpegang agar tidak jatuh. Sesekali aku melepaskan sendalku agar tidak licin. Bahkan sendalku sempat hanyut terbawa derasnya air. Karena itu sendal pinjaman tentu saja aku tak boleh kehilangan dia. Wkwkwk.

Di turunan lainnya ada sebuah tali untuk berpegang, bahkan kami melewati sebuah batang yang dijadikan titian berdiameter kira-kira 15 cm, lagi-lagi aku melepas sendalku agar tak terpeleset, karena sungai di bawah kami sangat tenang dan terlihat dalam. Tahukah kau kawan? Kau harus berhati-hati dengan air yang tenang, karena kau tak tau ada apa di dalamnya.

Gemuruh air jatuh dari ketinggian terdengar sayup-sayup di telinga kami, bergegas kami menuju ke sana. Lagi kami harus melewati kali atau sungai yang tak dalam tapi cukup kuat arusnya.
Perjalanan kali ini memberikan sensasi yang luar biasa apalagi bagi yang suka menantang adrenalinnya. Datanglah dan buktikan sendiri.

Iklan

SISI KELAM SURGA DI UJUNG SUMATRA

pulau tegal

pulau tegal

Birunya air laut, luasnya hamparan pasir putih, deburan ombak beriak-riak manja di kaki-kaki manusia. Sebuah surga nun di ujung Sumatra.

Sebuh bangunan berbentuk persegi panjang  berukuran 6 x 3 meter, dengan warna putih kusam dipadu dengan cat merah jambu yang sudah memudar. Siapapun tak akan tahu ketika menapakkan kaki di Pulau Tegal, jika bangunan itu adalah sebuah sekolah dasar. Sebuah sekolah yang hanya memiliki dua kelas, kelas satu dan kelas dua.

img_6680

Sekolah yang telah berdiri sejak 15 tahun yang silam, timbul tenggalam diantara perubahan zaman, dihidupkan kembali Juli 2016 lalu, tanpa adanya tenaga pengajar tamatan Sekolah Tinggi, sekolah ini tetap mencoba berdiri tegar.

Bisa dibayangkan, seperti apa kondisi waktu belajar setiap hari, hanya ada satu orang guru tamatan SD, hanya berbekal idealisme sebagai pengajar, tanpa imbalan yang memadai sebagai pemberi ilmu bagi masa depan muridnya.

Pria paruh baya, bertubuh kurus dengan kulit kecoklatan  tengah mencoret-coret papan berwarna hitam dengan kapur putih di tangannya. Dihadapannya sepuluh anak-anak tampak serius memperhatikannya. Ya dialah satu-satunya pengajar di SD ini. Pria tamatan SD yang mengabdikan hidupnya untuk mengajar di Pulau kampung halamannya.

Basri namanya, pria berusia 51 tahun ini bercerita meninggalkan desa untuk mencari penghasilan yang layak bagi keluarganya, Basri juga berhenti mengajar selama tujuh tahun, tetapi Juli 2016 ia kembali ke Pulau Tegal untuk mengajar. Meskipun hanya berstatus tamatan SD, itu tak menyurutkan niatnya untuk mengajar. “Saya tidak punya pendidikan yang tinggi, tapi saya diminta sama warga buat ngajar anak-anak,” ucapnya.

basri

Senasib dengan gurunya, siswa-siswa yang hanya terdiri dari 18 orang ini, harus menerima kenyataan dan bersyukur bisa sekolah walaupun hanya sampai kelas dua. Untuk melanjutkan ke kelas tiga, siswa-siswa di sini harus menyeberang ke Pulau lain, sehingga kebanyakan dari mereka lebih memilih bekerja membantu orang tua ketika tamat kelas dua.

Ekonomi, uang, lagi-lagi menjadi penghambat majunya pendidikan di negeri kaya raya ini. Jika ingin melanjutkan sekolah ke kelas tiga saja anak-anak ini harus menyeberang ke Desa Sidodadi. Memang tak butuh waktu lama untuk sampai ke seberang, tetapi butuh kocek tebal untuk menyewa perahu, bisa sampai 200 ribu rupiah dalam satu kali sewa perahu yang memuat 11 orang. Tak hanya itu, gelombang lautan pun acapkali membuat pakaian basah lebih dulu sebelum sampai ke seberang meskipun hanya 15 menit.

Sharma, sosok wanita paruh baya yang berjualan jajanan kecil di dekat sekolah mengaku bersyukur, anaknya bisa sekolah walaupun tidak tamat SD. “Yang penting bisa baca tulis, kalau mau lanjut ya lanjut, tapi ya mau bagaimana lagi,” tuturnya.

Anak-anak di sini memakai pakaian keseharian ketika sekolah, beralaskan sendal atau bahkan tanpa memakai sendal, hanya satu atau dua diantara mereka yang memaki seragam merah putih dan memakai sepatu.

lampung

Lebih dari itu, bukan lagi hal aneh jika melihat anak berusia 12 tahun masih duduk di kelas dua. Adalah hal lumrah, jika seorang kakak yang berusia 12 tahun duduk satu kelas dengan adiknya yang berusia 10 tahun. Bisa dikatakan, mampu banca tulis disini adalah suatu hal yang istimewa dan patut disyukuri.

Lampung, kota tapis bersemi ini dikaruniai banyak keindahan alam yang menjadi kekuatan untuk memajukan perekonomian masyarakat Lampung.

Pulau Tegal salah satu Pulau di tanah Lampung dengan luas + 98 hektarare, dihuni oleh 36 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 100 penduduk ini, mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan dan juga sebagai petani sayuran.

Suatu area pesisir pantai dengan deburan ombak yang tenang. Air laut yang jernih diwarnai dengan hamparan pasir putih. Serta panorama bahari bawah laut yang masih terjaga, dan mampu membias mata orang yang memandang dengan  terumbu karangnya yang tersembunyi. Namun sayang, surga dunia di ujung Sumatra ini tak mampu mensejahterakan penghuninya.

Bak dua sisi mata uang logam, ironis memang, tapi itulah kenyataan. Sebuah potret buram pendidikan di Indonesia yang tersampul dengan cover  yang mempesona.

MENGUAK BERBAGAI SUDUT PANTAI SARI RINGGUNG DAN PULAU TEGAL

2

Langit cerah biru di Bandar Lampung, mentari pagi yang menyibakkan sinarnya disela dedaunan. Bus berwarna biru langit, menghantarkan melewati tanjakan dan turunan serta kelokan yang membuat badan oleng kekanan dan kekiri kala bus berbelok di kelokan tajam. Menikmati pemandangan bukit-bukit dengan pepohanan hijau serta batuan cadas yang membuat mata celingak-celinguk ke arah jendela.

1,5 jam waktu yang dibutuhkan dari Bandar Lampung menuju wisata Pantai Sari Ringgung yang terletak di Desa Sidodadi, Pesawaran. Harga tiket masuk Pantai Sari Ringgung, tarif untuk perorang 10 ribu rupiah, motor 5 ribu rupiah, mobil 10 ribu, bus sedang 200 ribu dan bus besar 250 ribu. Harga dapat berubah sewaktu-waktu.

Memasuki kawasan Pantai Sari Ringgung, mata disuguhkan pemandangan yang akan membuat insan kekinian merogoh kocek mengambil kamera, birunya lautan, halusnya pasir putih, dan debur ombak di pesisir. Kapal-kapal berwarna-warni dengan bendera merah putih terlihat berjejer di dermaga, menanti penumpang yang ingin mengekplore Pulau lain yang tak jauh dari Sari Ringgung.

Berfoto atau selfie merupakan aktivitas yang tidak bisa dipisahkan oleh manusia zaman sekarang, dimanapun, kapanpun tanpa mengenal siapapun. Apalagi ketika sedang perjalanan, setiap hal adalah momen yang tidak dapat dilewatkan, spot selfie adalah hal yang biasa dicari-cari.

Berfoto di tepi pantai dan merasakan deburan ombak yang menyapu jejak-jejak yang ditinggalkan ditambah dengan semilir angin laut, apalagi terdapat background Pulau-pulau yang berada diseberang Sari Ringgung.

Untuk mendapatkan jangkauan pandangan yang lebih luas, pengunjung dapat mendaki Puncak Indah, dimana dari Puncaknya bisa melihat pemandangan Anak Gunung Krakatau yang perkasa. Bahkan tak perlu sampai puncak, di beberapa tempat tertentu wisatawan bisa melihat seluruh Sari Ringgung beserta gugusan Pulau-pulau yang ada disekitarnya. Jalan menuju puncak sebagian sudah diperkeras, dan diberikan tangga-tangga untuk memudahkan pengunjung mencapai puncak.

3

Tak cukup hanya Sari Ringgung, diseberangnya membentang Pulau Tegal. Untuk sampai ke sana, pengunjung bisa menyewa perahu, penduduk disini menamakannya dengan Taksi Perahu. Mencapai Pulau Tegal harus menyeberangi laut dengan gelombang yang lumayan besar, acapkali pakaian basah lebih dulu sebelum sampai ke Pulau. disarankan kepada pengunjung untuk tidak menjilt bibir, karena pasti akan terasa asin.

Butuh waktu kurang lebih 15 menit untuk mencapai pulau tegal, sewa taksi sekitar 200 ribu yang mampu menampung sebelas orang. Ditengah perjalanan pengunjung bisa menikmati pesona Masjid Apung Al-Aminah dan juga keramba yang sekilas mirip rumah di tengah laut.

Deburan ombak yang tenang. Air laut yang jernih diwarnai dengan hamparan pasir putih yang lembut dan luas. Serta panorama bahari bawah laut yang mengagumkan. Membias mata orang yang memandang dengan keindahan terumbu karang yang tersembunyi. itulah sedikit gambaran dari keindahan pulau Tegal yang kurang diperhatikan oleh pemerintah.

4

Pulau Tegal masih belum begitu terekspose, Lebih dari pada itu, Pulau Tegal memang menyimpan surga tersembunyi, beranjak dari Labuan Apung, menggunakan taksi perahu selama 15 menit, terdapat area snorkeling yang terletak di kawasan Batu Payung, memiliki biota laut yang kaya dan ekosistem yang beragam, tak perlu menyelam terlalu dalam karena surga bawah laut ini bisa dinikmati bahkan dari kedalaman kurang dari satu setengah meter.

5

Biasanya taksi perahu juga menyewakan peralatan snorkeling, jadi tidak perlu repot-repot mencari kesana kemari, cukup membayar 40 ribu rupiah pengunjung bisa menikmati karang-karang di Batu Payung, bahkan nahkoda perahu bersedia jika pengunjung memintanya menjadi guide.

Hutan yang masih rimbun dengan pemandangan yang hijau asri menambah keindahan desa Gebang. Pulau dengan luas + 98 hektarare yang dihuni oleh 36 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 100 penduduk ini, mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan dan juga sebagai petani sayuran. Penghasilan mereka sebagai nelayan dan petani belum mencukupi kebutuhan ekonomi.

Nurjani, nahkoda taksi perahu menuturkan penghasilan perbulannya hanya mencapai 600 ribu, itu pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dapurnya saja, belum lagi untuk membeli bahan bakar minyak. Ia berharap pemerintah mencanangkan program agar penduduk Pulau Tegal tidak tertinggal, “meskipun kita sedikit, tapi kan kita masih rakyat Indonesia,” ujar Nurjani.

Oleh: Kelompok 6 (Ifroh, Nafi, Hani, Kristina) PJTLN TEKNOKRA 2016

1

nafi, hany, kristina, ifroh

PANTAI SOLOP BERBILANG PESONA

IMG_5124

Tekuak indah alam membentang

Di rantau bumi sri gemilang

Pulau Cawan aduhai negeri Mandah

Pantai Solop Berbilang pesona

 

Desiran angin laut menerpa wajah ketika menginjakkan kaki di pasir pantai solop. Hamparan laut luas tak bertepi membentang luas di hadapan mata. Cangkang-cangkang kerang terlihat di sepanjang pantai, Pantai Solop memang dikenal dengan pasirnya yang unik. Tidak seperti pantai lainnya, pasir di sini bukanlah pasir biasa, melainkan pasir yang terbentuk dari fosil-fosil hewan laut, seperti siput dan berbagai jenis kerang-kerangan lainnya. Penduduk di sini menyebutnya pasir sersah.

Mangrove yang tumbuh di pesisir pantai juga memberikan pemandangan berbeda dari pantai biasanya, daunnya yang lebat menghalangi matahari membakar kulit, akar-akarnya yang kuat setinggi lebih dari dua meter ini, memberikan tempat istirahat untuk berbarin,g atau hanya untuk duduk melepas lelah sambil menikmati hembusan dinginnya angin laut.

Untuk sampai di Pantai Solop, memerlukan waktu sekitar satu 1,5 jam menggunakan speed boat dari Pelabuhan Rumah Sakit Tembilahan. Untuk biaya, hanya harus merogoh kocek 100 ribu rupiah untuk sampai di Pantai yang terletak di Mandah ini. Jangan khawatir karena itu sudah termasuk biaya pulang dari Solop nantinya.

Sesampainya di sana, dengan tiket masuk sebesar lima ribu rupiah, pengunjung sudah bisa menikmati indahnya pantai sepuasnya. Eit tunggu dulu, Solop yang terletak di Pulau Cawan ini, tidak hanya menawarkan pesona pantainya yang indah, terhitung sejak 2015 lalu, Dinas kelautan dan Perikanan Indragiri Hilir mengembangkan eko wisata hutan mangrove.

IMG_5247Setelah membeli tiket masuk, pengunjung bisa memilih untuk langsung ke Pantai atau terlebih dahulu menikmati eksotisnya mangrove Pulau Cawan ini. Jembatan dari kayu bercat hijau di padu dengan warna kuning dan sangat panjang ini, memungkinkan untuk mengeksplore hutan lebih jauh lagi. Tak hanya itu, bangunan papan seperti rumah pohon setinggi lima tingkat akan dijumpai di sana, sehingga bisa memperluas jarak pandang dari ketinggian.

IMG_5063

Menurut Ersalam, pengawas wisata, pengunjung ramai pada saat libur panjang seperti libur Idul Fitri, “lebaran kemarin bisa sampai ribuan,” tuturnya. Nur Aseha, pengunjung mengungkapkan, ia sangat senang bisa sampai di Pulau Cawan “yah, nggak nyesel lah jauh-jauh datang kesini,” ungkapnya.

Meski letaknya jauh dari perkotaan dan dihuni kurang lebih 40 Kepala keluarga, eko wisata yang buka hanya di akhir pekan ini juga menyediakan tempat ibadah yang terletak di dekat pantai, serta sebuah toilet di dalam hutan. Jadi pengunjung tidak perlu khawatir ‘kebelet’ ketika sedang menjelajah hutan.

Keindahan Pantai Solop juga diabadikan dalam lagu yang di ciptakan oleh mantan Gubernur Riau, Rusli Zainal. Dalam liriknya menjelaskan keelokan pantai Solop dan pesona alamnya yang indah, serta keramahan penduduk Pulau Cawan. ”Pantai solooop…, soloop…, solooop…Pantai sejati,” akhir lirik lagu Pantai Solop.

IMG_5064

Mujawaroh Annafi

Merdeka? Dulu Bambu Runcing, Kini Batang Kelapa

page

Sepanjang Jalan Penunjang yang menghubungkan Pulau Kijang dengan Kotabaru, sebuah Desa kecil nun di ujung Riau, berkibarlah sang merah putih dengan gagah di depan rumah-rumah warga.

Sebuah jalan yang merupakan jalan provinsi terbentang berkilo-kilo meter jauhnya, namun tak seperti jalan pada umumnya, bukan jalan semen, apalagi beton. Melainkan aspal yang tinggal tanah berlumpur dengan kerikil-kerikil kecil, yang di atasnya dijejer puluhan batang kelapa agar masih bisa dilewati kendaraan.

71 tahun Indonesia merdeka, bukanlah angka muda bila dihitung dari umur manusia. Seharusnya di angka berawalan tujuh ini rakyat sudah memiliki infrastruktur yang memadai, tak hanya di kota besar, tapi di desa-desa kecil. Sekali lagi itu SEHARUSNYA.

Merdeka bagi masyarakat kecamatan Reteh adalah merdeka dari penjajahan, lalu bagaimana dengan kesejahteraan, ekonomi, fasilitas penghubung?. Rakyat di sini masih berjuang, tapi tak seperti dulu yang menggunakan bamboo runcing, tetapi batang kelapa dan batang pinang.

Semua itu dilakukan agar perekonomian, pendidikan dan aktivitas lainnya berjalan dengan lancar. Batang kelapa di susun berjejer menutupi jalanan yang berlumpur dan berair bak kubangan kerbau. Tak jarang banyak kendaraan bermotor terperosok ke dalamnya sehingga butuh waktu berjam-jam agar kendaraan bisa keluar.

Tak hanya satu tempat, tapi hampir di sepanjang jalan. Adalah hal lumrah jika melihat puluhan batang kelapa di negeri seribu parit ini, tak hanya jalanan, jembatan pun harus ditutup dengan batang kelapa agar bisa di lewati.

Batang kelapa yang besar-besar sangat membantuk kala musim hujan datang meskipun sedikit licin dan mengambang di air, tak berbeda dengan musim kemarau, jika di musim hujan bak kubangan kerbau maka di musim panas batang-batang tersebut menjadi neraka bagi bokong pengendara, panas dan menyakitkan. Tapi itu masih lebih baik.

Semua orang berjuang, anak-anak sekolah dengan sabar melewati jalan itu setiap hari demi pendidikan, para warga yang giat memperbaiki jalan dan mengganti batang, serta pemimpin yang bermanis-manis kata, sehingga tak heran jika nanti ia terkena diabetes.

Begitulah, saban hari, sepanjang tahun, hinggga belasan tahun. Ketika generasi berganti generasi, pemimpin berganti pemmpin, sampai rakyat kenyang memakan janji-janji manis petinggi negeri ini, tetapi masih, jalan itu bak kubangan kerbau.

Rasanya ingin melihat mereka yang duduk di kursi panas, sekali saja untuk duduk di boncengan motor belakang, dan melintasi Kotabaru hingga Pulau Kijang, biarkan mereka merasakan manisnya perjalanan. Siapa tahu, mereka mendapat Hidayah!.

Mujawaroh Annafi

Trip To Marapi Sumbar

24-26 Maret 2016

Ingin ku ceritakan padamu kawan, suatu kisah manis di antara yang paling manis dalam hidupku yang belum panjang ini. Suatu masa dimana aku begitu bahagia dan tak ingin melupakannya, suatu masa dimana aku berdiri di tanah ribuan meter di atas permukaan laut katanya. Suatu masa di mana aku ingin waktu berulang kembali sekali lagi.

Kisah manis yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya, adalah hal dimana sulit untukku mengatakannya dengan pasti, suatu hal yang selalu kuingkari bahwa aku benar-benar menyukainya.
***
Malam yang dingin bertabur jutaan bintang menemani malamku di atas tanah kering berumput di cadas Marapi, urung aku masuk ke dalam tenda meski kaki-kaki ini bergetar menahan ngilu akibat perjalanan delapan jam siang tadi. Semakin lama aku duduk di situ semakin malam memelukku dengan erat. Menggigil dan sesak pipis aku dibuatnya, kulepaskan pelukan malam dengan enggan dan melangkahkan kakiku menuju tenda yang letaknya persis di atas tempatku duduk saat ini.

Kulihat di dalam tenda telah penuh dengan orang-orang yang sama lelahnya dengan ku, menyisakan tempat tanpa matras yang cukup untu dua orang. Aku dan temanku masuk dan aku tertidur di depan pintu tenda. Tidur tanpa alas, bukan! tidur beralaskan batu-batu kecil yang tertutup alas tenda. Maafkan aku teman, saat itu aku benar-benar mengutuk kalian yang tidur duluan, kalian pakai sleeping bag (SB) dan matras, sedangkan kami, SB pun kami bagi dua.

Subuh buta, aku terbangun karena teriakan dari guide kami. “Siapa yang ingin muncak siap-siap, bawa barang seperlunya,”katanya. Aku pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan ke puncak Marapi yang katanya butuh waktu satu jam, tas ransel berisi air dan makanan ringan tak lupa ku keluarkan senter karena hari masih gelap, tak pula kulihat jam di handphone ku. Mungkin itu sekitar pukul empat dini hari.

Kaki-kaki yang kelelahan kupaksa untuk berjalan melalui jalan-jalan curam yang berbatu. Jika tak berhati-hati memilih batu untuk berpegang, alamatlah tergelincir ke bawah. Tak ingin kubayangkan sejauh itu, untung saja hari gelap sehingga aku tidak terlalu melihat apa yang di belakangku.

Kulihat seseorang menunggu di sebuah batu besar di belokan kecil, mengawasi langkah-langkah pendaki perempuan yang melaluinya. “Guide,”pikirku.

Sepanjang aku mengingat, ia mengulurkan tangan padaku, namun aku menolaknya. Lalu ia memimpin perjalanan kami. Kala hampir mencapai tanah lapang, ia yang ada di depanku membuatku penasaran. Rasa-rasanya tak pernah aku melihat dia sebelum subuh ini, ingin ku melihat wajahnya, namun ketika ia mengarahkan senter ke jalan kami, cahayanya menyilaukan sehingga aku tidak bisa mengawasi wajahnya dengan baik. Dan aku masih penasaran.

Jalan yang kami lalui semakin mudah untuk dilewati, beberapa di antara rombongan terpisah. Ada yang berjalan duluan berburu sunset, ada yang berfoto-foto di tugu…. Tinggalah kami berempat, aku, Karsini, Bang Hafiz, dan Guide yang masih misterius. Ia berkata, kalau ingin melihat sunset, kita harus cepat, tadi kita telat berangkat. Dan benar saja kami sudah telat berada di tanah datar berpasir yang sangat luas. Ia berteriak memanggil temannya nun di seberang lapangan sana, meski hanya siluetnya yang terlihat.

Setelah melewati tanah lapang tadi, kami menuju bukit-bukit berbatu yang tidak ada tanamannya sama sekali, kabut asap subuh ditambah dinginnya pagi membuat nafas berasap itu semakin membuatku merasa seperti berada di bulan, meskipun aku tak pernah ke bulan, tapi anggap saja begitu.

Nur Alfarisi, ku ketahui namanya tentu saja setelah kita berkenalan, wajahnya tentu saja sudah terlihat dan menghilangkan rasa penasaranku. Sepanjang perjalanan ke puncak, dari sekian banyak guide, dari sekian banyak peserta rombongan, dialah yang bersama kami. Jika kau Tanya pada ku kawan, apakah dia tampan. Jawabannya Tidak. Dia tidak tampan, ya sama saja seperti yang lain.

Tapi tahukah kau kawan, sepanjang ia bersama kami, ada satu hal aneh yang kulihat. Entah mengapa semakin matahari naik dari haribaannya semakin ia terlihat menawan, semakin tampan, dan semakin aku menyukainya.

Jika banyak orang sesalkan rasa lelah dan letih di suatu pendakian, maka aku menganggapnya seperti sebuah anugerah dari Tuhan. Mendaki tidak lah sulit, tap perjalanan turun membuat rasa sakit ini semakin terasakan.

Lambatnya aku berjalan membuatku tertinggal di antara  yang lain. Padahal ketika mereka lambat dalam mendaki, aku selalu menunggu dan bersabar. Dasar penghianat!

Setelah menikmati indahnya ketinggian Marapi, bunga Edelwis yang mempesona, serta negeri di atas awan yang sangat indah dan menikmati makanan ringan yang kami bawa, akhirnya tibalah saatnya ucapkan salam perpisahan manis. Kalau kau pergi dengan menanjak, maka kau akan pulang dengan menurun.

Dalam perjalanan pulang, kami berenam, ketika sampai cadas tinggal berempat, ketika menyusuri cadas tinggal kami berdua, aku dan Alfa. Terik matahari pagi itu, menambah jelas pemandangan di bawah kami, sangat menyeramkan, jika tidak berhati-hati, aku benar-benar membayangkan diriku jatuh menggelinding ke bawah, ditambah jaketku yang berwarna putih sudah dipastikan orang hanya mengira itu adalah karung yang digelindingkan dari atas.

Semperempat perjalanan, kulalui dengan selamat. Paham dengan kegelisahanku Alfa mengulurkan tangannya dan menggandengku hingga ke bawah, beberapa kali kami hampir tergelincir. Jujur aku senang, senang sekali. Tapi aku tak tahu apa yang dipikirkannya saat itu, mungkin ia menganggapku beban. Tapi sebagai peserta, aku hanya berpikir itu sudah menjadi tanggung jawabnya.

Sesampai di camp kemah, kami berpisah ia memberiku air untuk minum. Lalu dia kembali ke tendanya tidur kelelahan.

Seminggu setelah pendakian berlalu, biasa saja. Sebulan kemudian aku merasakan rindu, rindu tentang dia. Jangan begitu kawan, ini bukan pengakuan. Tapi sebuah kisah yang tak ingin kulupakan. Benar bahwa aku menyukainya bahkan berbulan-bulan setelah pendakian itu berlalu, dimana aku mendaki tak pernah kulupa pendakian pertamaku. Oh Tuhan, mungkin ini yang namanya Baper.

Lalu kenapa aku tak dekati dia, gengsi itu jawabnya. Hahaha mamaku pernah bilang, “Jangan memaksakan diri untuk dicintai, jangan menjadi budak cinta.” Biarlah perasaan ini aku yang tahu, kalau seandainya nanti dia baca tulisan ini maka aku masih mengingatnya dan masih menyukainya.

Manusia tempat salah dan lupa, sangat disayangkan jika aku melupakan kisah manis ini. pengalaman mungkin tak terlupakan, namun aku ingin kisah ini diikat agar tak bercampur dengan imajinasiku.

 

23 Tahun Mencari Keadilan

Jumat, 26 February 2016 pukul 20:39 WIB dimulai diskusi bersama seorang pencari keadilan yang berasal dari Malang di kedai kopi Ulil di Jalan Ababil Pekanbaru. Pria berusia 57 tahun tersebut duduk di sebuah kursi dengan meja yang disusun persegi panjang, duduk mengelilingi di meja itu aktivis mahasiswa dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH).

Pria tersebut mulai bercerita tentang kisahnya mencari keadilan di Indonesia selama 23 tahun. Berawal dari anaknya yang berusia 12 tahun menyebrang jalanan yang sepi kendaraan, tiba-tiba muncul sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabrak anak itu hingga tewas di tempat. Kemudian mobil tersebut langsung melarikan diri, beberapa warga yang melihat kejadian itu langsung mengejar pelaku tabrak lari, usut punya usut pelaku adalah salah satu oknum polisi. Kasus tabrak lari putra sulungnya yang bernama Rifki Andika oleh oknum polisi Letnan Satu Joko Sumantri, SH.

Pada tahun 1999, kasus ini suda pernah diselidiki oleh Mahkama Militer, tetapi hanya di hokum penundaan pendidikan selama 6 bulan. Pada tahun 2006 kembali disidangkan terkait kasus tersebut, tetapi tetap tak memperoleh hasil. Kasus tabrak lari tersebut kembali dibawa ke pengadilan pada tahun 2008, dan Joko Sumantri diputuskan bebas karena kasus tersebut dianggap kadaluarsa. Pria itu tak terima terhadap putusan itu dan merasa bahwa itu tidak adil.

Pria itu adalah Indra Azwan, memakai pakaian yang selalu ia kenakan tiap kali menemui lembaga hokum Indonesia yang menurutnya adalah baju identitasnya. Pria berambut putih panjang sebahu yang diikat kebelakang, memakai penutup kepala berwarna biru bertuliskan Arema. Dengan baju hitam lengan pendek bergambar singa yang mengaum. Di tambah kacamata model lama yang bisa dikalungkan dileher. Wajah dan kulitnya tam20160226_210051pak memerah menandakan bahwa indra dulunya berkulit putih membuktikan, bahwa ia telah berjalan kaki berkeliling Indonesia dari sabang sampai ke pekanbaru dan akan melanjutkannya hingga ke Merauke. Aksi keliling Indonesia bermula dari Masjid Baiturrahman, Aceh selasa 09 February 2016.

 

Pertama Indra melakukan aksi jalan kaki dari Malang ke Jakarta pada tahun 2010 untuk menemui presiden. Aksinya mendapatkan banyak sorotan media kala itu, hingga akhirnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berniat menemuinya. Presiden memberikan uang sebanyak 25 juta ke Indra agar indra menghentikan aksinya, namun uang tersebut dikembalikan ke Presiden. “nyawa anak saya tidak bisa di beli dengan uang, saya hanya ingin pelaku dihukum seadil-adilnya,” katanya.

20160226_210650 20160226_210636

Indra menagih janji kepada pihak-pihak yang bersangkutan yang dulunya mengatakan ‘akan menyelesaikan masalahnya’, ketika ia menagih janji ternyata mereka tidak ada yang merespon. “ketika saya datang mereka semua langsung kabur,” tuturnya.

20160226_211735

indra azwan dan perwira polisi

Indra mengemukakan, jika dulu ia yang akan menemui presiden, maka sekarang presiden Joko Widodo lah yang harus menemuinya. Ia juga menambahkan bahwa ia tidak akan menghentikan aksinya. “saya dipanggil ke Istana oleh Jokowi atau saya mati,” tambahnya.

20160226_211540

surat wasiat indra azwan

Ia bercerita aksinya telah mendapatkan simpati dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dan ia berwasiat yang berbunyi, “andaikan terjadi sesuatu dalam menjalankan aksi untuk mencari keadilan. Di luar kewajaran (mati tidak wajar) atau dibunuh, tolong jenazah saya diantar ke Istana, serahkan mayat saya ke istana (presiden), jangan dimandaikan atau dikafani,”. Ketika disinggung masalah Munir yang mencari keadilah dan berwasiat sama tetapi ketika jenazahnya akan diantar ke istana di hadang oleh militer, sehingga jenazah tidak bisa di antar ke istana. Indra menampik hal itu akan terjadi kepadanya. “saya dan munir berbeda, wasiat saya juga dipegang di seluruh dunia, PBB juga punya salinan wasiat saya,” tuturnya.

Ketika diskusi Indra membawa dua spanduk yang bertuliskan “KEPADA MA, BERAPA SAYA HARUS MENEBUS SALINAN PUTUSAN? 23 TH MENCARI KEADILAN” dan “AKSI JALAN KAKI KELILING INDONESIA.

 

20160226_211855

kwitansi penyogokan dari presiden