Menilik Surga Tersembunyi di Balik Bukit Rimbang Baling

Setiap perjalanan yang hebat biasanya selalu diiringi dengan jalan yang menanjak dan berliku. Pun perjalanan menuju Desa Kota Lama di Rimbang Baling. Kawasan yang terletak di Gema Kabupaten Kampar ini memiliki trek yang menantang adrenalin. Rimbang Baling adalah nama salah satu kawasan Suaka Margasatwa di Riau.

Ketika ke sana kondisi kendaraan harus benar-benar prima dan dipastikan tidak akan bocor atau mogok karena hal-hal yang tidak diinginkan. Dari Gema menuju Kota Lama dilalui dengan menyeberangi sungai selebar kira-kira 30 meter, tidak perlu khawatir baik motor maupun mobil bisa menyeberang dengan membayar tujuh ribu rupiah untuk pulang dan pergi. Perjalanan dilanjutkan dengan jalanan tanah kuning, di sisi kiri kanan begitu banyak kerbau-kerbau yang sedang merumput, tak heran bila sepanjang perjalanan kamu menemukan ranjau berbentuk kotoran kerbau.

Ketika jalan semakin menanjak dan berbatu, mata akan dimanjakan dengan pemandangan bukit-bukit hijau yang bebas dari pemandangan sawit. Perlu kau tahu kawan, Riau adalah daerah yang kaya akan minyak, sehingga sawit menjadi perimadona mata pencaharian masyarakatnya. Bukit-bukit hijau yang berdiri gagah di sisi kiri dan kanan perjalanan membuat mata enggan merasa mengantuk. Perjalanan bak mendaki gunung dan menuruni lembah pun tak terasa kala menikmati keindahan syurga yang Tuhan taburkan di Rimbang Baling.

Aku berhenti di sebuah turunan, memanjat bukit yang ada di sebelah kiri jalan, tak butuh waktu lama pemandangan hijau terpampang dari ketinggian, tak lupa ku petik gambar untuk mengabadikan momen perjalanan kali ini. Nun di bawah lembah sana terlihat atap-atap rumah warga, jembatan dan sungai yang dari kejauhan berwarna hijau menandakan jernihnya air sungai, semua itu menandakan bahwa ada peradaban manusia jauh di bawah kaki ku berdiri kala itu.

“Selamat Datang di Desa Kota Lama” sebuah gapura berwarna biru langit dipadu dengan warna putih menyambut kedatangan kami kala memasuki desa. Setelah melewati gapura tersebut, rumah-rumah warga mulai terlihat. Dan sesuatu yang benar-benar menakjubkan, kiri-kanan rumah warga adalah hutan yang masih terjaga kelestariannya.

Motor yang membawaku berbelok ke kiri melewati jembatan gantung sepanjang kurang lebih 50 meter mengangkangi sungai Subayang, berdiri tegap dengan kaki-kaki besinya yang dicat berwarna kuning, papan-papan setebal lima sentimeter dipasang melintang dengan baut-baut yang sedikit berkarat menimbulkan bunyi gluduk-gluduk  setiap ada sepeda motor yang melintasinya. Masih, memandang ke kiri bukit yang hijau, pun ke kanan, di bawah jembatan terbentang sungai Subayang yang jernih dan berkilau diterpa sinar matahari. Beberapa perahu bermotor yang warga desa menyebutnya dengan nama Robin kerap melintas sungai melawan arus.

Ketika pagi menjela, bukit-bukit yang berdiri gagah tertutup embun-embun berwarna putih seperti awan, berada di sana seolah-olah berada di pegunungan yang dingin.

Warga Desa Kota Lama benar-benar menggantungkan sebagian hidupnya dengan sungai, bak jantung bagi manusia, sungai adalah segalanya. Mereka minum, mencuci, mandi dan lainnya di sungai. Pertama kucelupkan kaki di tepi sungai dan berjalan di atas batu-batu benar-benar memberikan sensasi dingin menyegarkan. Saban sore terlihat warga desa mandi di sungai yang jernih, berenang ke sana kemari tanpa khawatir akan tenggelam. Pulau, sebutan untuk tepi sungai yang memiliki lahan luas dengan batu-batu sebesar buah mangga berserakan, ada sebuah area luas yang ditutupi rumput hijau tempat bermain anak-anak. Di pulau situlah warga melakukan aktivitas sehari-harinya.

Iklan

Gallery Mahasiswa PPL: Hari Guru di MTs Muda

Hari Guru Nasional jatuh pada tanggal 25 November. Namun perayaan di sekolah tempatku PPL hari guru tahun 2017 ini dirayakan tanggal 27 November. Why? karena tanggal 25 November 2017 bertepatan hari sabtu, sedang di MTs Muhammadiyah 02 Pekanbaru menganut aliran Full Day School dan hari sabtu adalah hari libur atau hari ekskulnya anak-anak Muda.

karena itu hari senin dirayain lah hari guru. Banyak sekali lomba-lomba yang diadakan di sekolah. tak hanya lomba siswa, tapi lomba buat guru juga diadakan.

Lomba untuk siswa diantaranya, menghias kue, kebersihan kelas, yel-yel kelas, mengecat tong sampah dan lain-lain yang aku lupa apa saja. Sedangkan lomba untuk guru sangatlah kocak menurutku, buat Bapak-bapak guru lomba mengupas telur puyuh dan guru perempuan lomba mengupas kerang dengan satu tangan. Yup satu tangan, bayangkan betapa rusaknya kuku-kukuku setelah lomba. Tapi Alhamdulillah aku dan rekan setim ku mendapatkan juara tiga.

Sebelum lomba-lomba dilaksanakan upacara bendera terlebih dahulu, setelah itu potong kue oleh guru-guru. Banyak siswa-siswa memberikan hadiah untuk guru-guru kesayangannya terlebih buat wali kelas. Hadiah mereka memang kecil tapi sudah pasti sangat berarti bagi guru yang bersangkutan. Seperti bunga, kue, coklat dan ungkapan kasih sayang dan terimakasih lainnya.

Itulah kali pertama aku merayakan hari guru. Di sekolahku dulu aku tak pernah merayakan hari guru dan memberikan hadiah untuk guru. PPL ini lah aku memberikan hadiah juga untuk guru-guru dan guru pamong. Bersama-sama kami iuran membeli bunga, temanya “Seribu Bunga Untuk Guru” tulisannya “Happy Teacher’s Day, We Love You, bye: PPL UIN Suska 2017”.

Jangan lupa klik Like,Comment and Subscribe youtube channel aku. Stalking Ig: @mujawarohannafi

Nge Camp bersama Fopersm4 di Desa Wisata Buluh Cina

Buluh Cina? di mana itu? bagi mahasiswa UIN Suska Riau pasti sudah tidak asing dengan nama Buluh Cina. Tapi Buluh Cina yang aku maksud di sini bukanlah jalan Buluh Cina yang merupakan jalan menuju kampus kita tercinta UIN Suska Riau, tetapi sebuah desa yang terletak di kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Desa Wisata Buluh Cina jaraknya tidak jauh dari Pekanbaru. Hanya 15 menit dari Marpoyan Damai melalui jalan Pasir Putih. Tetap berada di jalur Pasir Putih, lurus terus jangan berbelok hingga ada pertigaan, jika belok kiri kamu akan sampai di Jalan Lintas Sumatera, jika lurus terus kamu akan sampai di Desa Buluh Cina. Tak perlu bingung karena nanti kamu akan bertemu gerbang di sebelah kanan yang bertuliskan Selamat Datang di Desa Wisata Buluh Cina.

Jika ingin menikmati perjalanan yang lebih seru lagi, jangan sungkan untuk menyeberang. Cukup bayar Rp. 3000 kamu dan motormu sudah bisa sampai seberang. Pergilah ke Pulau, kamu juga bisa nge-camp di sini bareng teman-temanmu. Aku bersama Forum Pers Mahasiswa Riau (Fopersm4), nge-camp selama satu malam untuk menentukan siapa koordinator Fopersm4 selanjutnya.

Sampai di Pulau kami mendirikan tenda sambil menikmati sunset sore itu hingga malam tiba. Kami menikmati malam yang damai bersama iringan suara jangkrik dan suara hewan malam yang merdu kami bermain-main dan bercengkerama memainkan permainan Werewolf yang lumayan seru sebelum dimulainya Musyawarah Tahunan (Mustah).

Usai Mustah yang diiringi rintik-rintik hujan dan Yusrialis terpilih menjadi koordinator Fopersm4, kami melanjutkan permainan, beberapa beristirahat di dalam tenda, sedang yang lainnya duduk-duduk menatap bulan yang kala itu sedang purnama di tempat yang indah berbentuk hati yang terbuat dari bambu. Sayangnya ketika kami pergi ke sini saat itu sedang musim hujan sehingga sebagian pulau tertutup air. Katanya jika musim kemarau air surut dan pulau akan terlihat seperti pantai, serta bisa memasang tenda di situ. Tapi ini pun menurutku sudah waw

Berbekal penerangan handphone kami menghabiskan malam dengan damai, merebus ubi dan pisang. Semua terasa menyenangkan. Meskipun kami belum kenal semuanya tapi rasa keleluargaan terjalin dengan sendirinya.

Keesokan paginya, kami membereskan tenda dan membersihkan lokasi agar kami pergi tanpa meninggalkan secuil sampah. Setelah itu perjalanan di teruskan ke Danau Tanjung Putus, mendayung perahu dan yang lainnya berjalan-jalan menaiki gajah tentunya bersama pawang gajah.

Danau Tanjung Putus, danau yang cukup lebar untuk bersampan ria di sana. pergi ke tengah-tengah danau untuk sekadar duduk di pondok terapung yang merupakan satu-satunya pondok kecil di tengah danau. Atau hanya untuk sekadar berselfi ria.

Pemandangan di sekitar danau juga tak kalah menarik, terdapat pohon-pohon besar dan rindang yang cocok buat kamu si hobi selfie.

ig: @mujawarohannafi

Full Day School dalam Pandangan Siswa

Full Day School atau bisa dikatakan sebagai sekolah dari pagi hingga sore memang memberikan polemik tersendiri di dunia persekolahan. Banyak yang setuju dan banyak yang tidak setuju. Terjun di dunia pendidikan adalah hal baru bagi saya sebagai mahasiswa Program Pengalaman Lapangan (PPL).

Pernah suatu ketika saya tengah duduk-duduk di sofa yang ada di teras sekolah. Kala itu waktu menunjukkan pukul 14.30, dengan wajah ngantuk dan basah sehabis mencuci muka, siswa tersebut dating menghampiriku.

“Kapanlah saya bisa tidur siang bu?, saya capek buk, ngantuk. Kalau tidur di kelas nanti nama saya dicatat di jurnal bu,” Tutur salah seorang siswa kelas VII. “Kenapa sekolah sampai sore bu?, gak masuk semua pelajaran yang dijelaskan guru, sampai rumah capek,” tambahnya.

“Ya udahlah balik lagi ke kelas, nanti dicariin guru,” jawabku disertai kalimat-kalimat motivasi agar ia mau kembali masuk ke kelasnya.

“Malas saya bu, gak masuk ke otak saya. Ngantuk bu,”

Akhirnya setelah mendengarkan curahan hati siswa tersebut, dan diberi sedikit nasehat dan cerita singkat, anak bertubuh kecil ini mau mendengarkan dan mau kembali ke kelasnya.

“Inilah ngapa saya tak besar-besar bu, kurang tidur,” katanya sambil berlalu.

***

Menjadi guru PPL tidak hanya harus masuk ke kelas yang telah diberikan sekolah. Adakalanya guru rapat, guru sakit atau sedang berhalangan. Maka guru PPL wajib mengisi kelas kosong tersebut. Inilah hal yang paling tidak aku sukai ketika PPL. Akan lebih baik bila guru yang berhalangan memberikan titah apa yang harus dilakukan di dalam kelas. Apabila tidak memberikan wasiat maka aku harus memutar otak agar dua jam pelajaran tidak berlalu dengan anak yang lari-lari dan bernyanyi tidak karuan di kelas.

Untuk itulah, setelah googling sebelum masuk kelas IX.2 akhirnya aku memutuskan untuk menerapkan diskusi di kelas ini. Ketika itu pelajaran Kewarganegaraan, guru yang bersangkutan tengah sakit dan tidak meninggalkan titah apa-apa untuk pengganti sementara.

Perlu kamu tahu beberapa hal kawan, setelah beberapa kali masuk ke kelas ini, akhirnya aku menyimpulkan kelas XI.2 mayoritas bersikap sok cool, dingin dan misterius, padahal mereka sangat manis. Ini hanya pendapat pribadi. Aku tak tahu, entah karena tak suka pelajarannya, entah tidak suka dengan guru PPL atau entah karena apa.

Kembali ke Full Day School, ku putuskan ini akan menjadi tema diskusi bersama anak-anak ini. Kubagi menjadi empat kelompok, sistemnya sistem debat. Dimana aku mengelompokkan dua kelompok sebagai kelompok yang pro dan dua kelompok kontra.

Setelah berdiskusi selama 15 menit mereka dipersilahkan megutarakan hasil diskusi bersama kelompoknya, lalu kelompok kontra menanggapi kelompok pro dan begitu terus secara bergantian. Jauh pasak daripada tiang. Bukannya berjalan sesuai dengan harapan, mereka malah bertengkar terkait tema yang kuambil ini. Aku sebagai moderator di mata mereka mungkin diangap sama dengan lemari di samping papan tulis. Tak dihiraukan.

“Pendapat kami tentang Full Day School adalah, dalam proses belajar setiap hari banyak membahas materi, lebih padat dan lebih detail. Proses belajar mengajar pun lebih efektif. Murid-murid juga dapat fokus pada materi yang disampaikan. Selain itu proses belajar selama lima hari itu lebih bagus, dan pada hari jumat siswa-siswi dapat fokus pada kegiatan ekstrakulikuler mereka, serta dapat mengembangkan keahlian, berprestasi di bidangnya masing-masing, dan pada hari sabtu mereka dapat beristirahat dan jalan-jalan bersama keluarga,” ungkap perwakilan kelompok pro.

Setelah dipersilahkan untuk menanggapi kelompok tiga kontra pun berorasi. “Kami tidak setuju dengan adanya Full Day School, karena kami butuh refresing diri, kami butuh istirahat. Belajar sampai sore itu membuat kami bosan dan sampai-sampai kami tertidur di kelas. Jika ada Full Day School seharusnya kami tidak diberi tugas lagi, karena sampai di rumah kami butuh istirahat. Jika kami kekurangan istirahat, kami akan sakit. Oleh karena itu berilah kami sedikit istirahat dengan membatalkan Full Day School. Karena kami bukan Robot Pak!.”

Belum sempat diberi waktu untuk menanggapi, kelompok pro tidak terima dengan argumentasi kelompok kontra. “Kalau kau mau tidur, tidur aja di rumah. Tak usah sekolah di sini,”

“Ya nggak bisa gitu, kami butuh istirahat. Capek sekolah sampai sore,” jawab kelompok kontra.

“Pulang saja kau, tak usah sekolah,” sela kolompok pro.

Aku yang berteriak menengahi mereka pun tak digubris sedikit pun. Bukannya berjalan sesuai kata moderator, mereka malah main hakim sendiri. Setelah suara ku ku maksimalkan fungsinya akhirnya aku bisa kembali menguasai kelas, di saat-saat langka ini aku segera menghentikan perdebatan yang kalau tidak segera dihentikan akan memicu perkelahian. Ku kumpulkan semua hasil diskusi mereka, dan segera mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Beruntung waktu sebentar lagi habis, dan pelajaran setelahnya adalah tahfiz. Mereka pun beranjak dan mengambil al-Qur’an untuk memantapkan hafalannya.

Alhamdulillah, dalam hati aku bersyukur.

@mujawarohannafi (Ig)

Koboko Waterfall Pendakian Penuh Bonus

Kampar, lagi-lagi membuatku terkagum-kagum. Apalagi kalau bukan karena air terjunnya?. Dari semua air terjun di Kampar yang pernah ku kunjungi, Koboko lah yang menawarkan sensasi perjalanan yang seru.

Sekitar pukul delapan kami bertolak dari Pekanbaru menuju lokasi, tak lupa aku mengencangkan helmku dan duduk manis di dudukan penumpang. Tiga jam perjalanan diiringi gerimis mengundang mewarnai perjalanan yang panjang dan berliku.

“Selamat Datang di Air Terjun Koboko,”  Air Terjun Koboko ini terletak di Kecamatan Kampar Kiri tepatnya di Desa Lipatkain Selatan. Spanduk selamat datang sumringah menyambut kami ketika kami tiba di sana, sebelum masuk lebih jauh ke lokasi, terlebih dulu kami singgah di salah satu tambak ikan rekan temanku. Di situ kami menitipkan helm, baju ganti, motor dan sepatu agar tidak memberatkan perjalanan. Seperti air terjun pada umumnya, perjalanan pasti diawali dengan pendakian.

Berganti dengan sendal jepit, aku melangkahkan kakiku di tanah becek bewarna kuning, ya memang kala itu cuaca tidak terlalu mendukung. Satu hal yang ku sesalkan adalah meninggalkan motor di tempat kawannya kawanku. Kau tau kenapa? Ternyata perjalanan dari rumah dia hingga posko masuk bisa ditempuh dengan motor, dan sama sekali tidak selicin yang dikatakan. Ya sudahlah jalani saja, pikirku.
Cukup membayar lima ribu rupiah kami diizinkan masuk.

“Cuma tiga kali tanjakan dek,” kata petugas.

Pernahkah kuceritakan padamu kawan? Meski aku lebih suka mendaki dari pada turunan, tapi aku tetap termasuk lamban. Seperti biasa aku selalu berada dipaling belakang, tapi tak pernah kusesalkan karena stok air semua ada padaku. Aku hanya tertawa picik.

Jalanan mulai menanjak, dengan terengah engah aku memantapkan langkahku. Pupus hatiku kala mendengar ketika temanku mengatakan. “Semangat wey, ini belum tanjakan pertama.”

“Gilak,” pikirku.

Untung saja, bukit-bukit indah di kanan kiri berhasil memanjakan mata kami ketika dalam perjalanan, dari kejauhan tampak sebuah bukit yang ditanami sawit yang belum tinggi.

Tibalah kami di sebuah pohon yang memiliki tanda panah ke bawah. (Tanda ini tertanda Sispala atau Siswa Pencinta Alam, sepertinya Mapala belum datang ke sini). Ku longokkan kepalaku mengintip ke bawah. Waw, tak mungkin perjalanan dilanjutkan lewat jurang ini, pikirku. Bayangkan, turunan tersebut memiliki kemiringan lebihh dari 45 derajat, ditambah gerimis sedari tadi dan pastinya licin. Di situ ada jalan ke atas, tetapi tanda menunjuk ke bawah. Dilema kami menentukan manakah jalan yang benar.

Berdasarkan pengalaman temanku yang dulu pernah ke koboko, ia mengatakan dengan ragu-ragu kalau jalan memang lewat turunan ini. Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti tanda. Gemericik air terdengar ketika kami melangkahkan kaki menuruni jurang curam ini. Tak pelak beberapa dari kami terpeleset saking licinnya. Aku pun mencengkeram rumput-rumput atau pohon-pohon dalam jangkauan tanganku, tak mau kubanyangkan diriku menggelinding ke bawah.

Sesampainya di bawah, perjalanan dilanjutkan dengan turunan-turunan. Tak ada lagi tanjakan seperti sebelum kami turun tadi, ditambah lagi dengan air yang mengalir di sela-sela kaki kami. Segar kurasakan, napas tak lagi terengah-engah. Kami berjalan seperti menyusuri aliran sungai dengan riak-riaknya yang manja. Tak menyesal kutinggalkan sepatu dan menggantinya dengan sendal jepit.
Bak sebuah game, aliran air yang kami lewati memiliki level yang semakin lama semakin sulit, awalnya hanya melewati genangan air, lalu melalui titian kayu-kayu yang disusun jarang seperti tangga yang direbahkan. Hanya saja sudah rusak dan lapuk.

Semakin jauh kami melangkah aliran air pun semakin besar. Dan melewati turunan yang cukup terjal, air yang melewati bebatuan berlumut kami lewati bersama-sama, bergantian saling berpegang agar tidak jatuh. Sesekali aku melepaskan sendalku agar tidak licin. Bahkan sendalku sempat hanyut terbawa derasnya air. Karena itu sendal pinjaman tentu saja aku tak boleh kehilangan dia. Wkwkwk.

Di turunan lainnya ada sebuah tali untuk berpegang, bahkan kami melewati sebuah batang yang dijadikan titian berdiameter kira-kira 15 cm, lagi-lagi aku melepas sendalku agar tak terpeleset, karena sungai di bawah kami sangat tenang dan terlihat dalam. Tahukah kau kawan? Kau harus berhati-hati dengan air yang tenang, karena kau tak tau ada apa di dalamnya.

Gemuruh air jatuh dari ketinggian terdengar sayup-sayup di telinga kami, bergegas kami menuju ke sana. Lagi kami harus melewati kali atau sungai yang tak dalam tapi cukup kuat arusnya.
Perjalanan kali ini memberikan sensasi yang luar biasa apalagi bagi yang suka menantang adrenalinnya. Datanglah dan buktikan sendiri.

SISI KELAM SURGA DI UJUNG SUMATRA

pulau tegal

pulau tegal

Birunya air laut, luasnya hamparan pasir putih, deburan ombak beriak-riak manja di kaki-kaki manusia. Sebuah surga nun di ujung Sumatra.

Sebuh bangunan berbentuk persegi panjang  berukuran 6 x 3 meter, dengan warna putih kusam dipadu dengan cat merah jambu yang sudah memudar. Siapapun tak akan tahu ketika menapakkan kaki di Pulau Tegal, jika bangunan itu adalah sebuah sekolah dasar. Sebuah sekolah yang hanya memiliki dua kelas, kelas satu dan kelas dua.

img_6680

Sekolah yang telah berdiri sejak 15 tahun yang silam, timbul tenggalam diantara perubahan zaman, dihidupkan kembali Juli 2016 lalu, tanpa adanya tenaga pengajar tamatan Sekolah Tinggi, sekolah ini tetap mencoba berdiri tegar.

Bisa dibayangkan, seperti apa kondisi waktu belajar setiap hari, hanya ada satu orang guru tamatan SD, hanya berbekal idealisme sebagai pengajar, tanpa imbalan yang memadai sebagai pemberi ilmu bagi masa depan muridnya.

Pria paruh baya, bertubuh kurus dengan kulit kecoklatan  tengah mencoret-coret papan berwarna hitam dengan kapur putih di tangannya. Dihadapannya sepuluh anak-anak tampak serius memperhatikannya. Ya dialah satu-satunya pengajar di SD ini. Pria tamatan SD yang mengabdikan hidupnya untuk mengajar di Pulau kampung halamannya.

Basri namanya, pria berusia 51 tahun ini bercerita meninggalkan desa untuk mencari penghasilan yang layak bagi keluarganya, Basri juga berhenti mengajar selama tujuh tahun, tetapi Juli 2016 ia kembali ke Pulau Tegal untuk mengajar. Meskipun hanya berstatus tamatan SD, itu tak menyurutkan niatnya untuk mengajar. “Saya tidak punya pendidikan yang tinggi, tapi saya diminta sama warga buat ngajar anak-anak,” ucapnya.

basri

Senasib dengan gurunya, siswa-siswa yang hanya terdiri dari 18 orang ini, harus menerima kenyataan dan bersyukur bisa sekolah walaupun hanya sampai kelas dua. Untuk melanjutkan ke kelas tiga, siswa-siswa di sini harus menyeberang ke Pulau lain, sehingga kebanyakan dari mereka lebih memilih bekerja membantu orang tua ketika tamat kelas dua.

Ekonomi, uang, lagi-lagi menjadi penghambat majunya pendidikan di negeri kaya raya ini. Jika ingin melanjutkan sekolah ke kelas tiga saja anak-anak ini harus menyeberang ke Desa Sidodadi. Memang tak butuh waktu lama untuk sampai ke seberang, tetapi butuh kocek tebal untuk menyewa perahu, bisa sampai 200 ribu rupiah dalam satu kali sewa perahu yang memuat 11 orang. Tak hanya itu, gelombang lautan pun acapkali membuat pakaian basah lebih dulu sebelum sampai ke seberang meskipun hanya 15 menit.

Sharma, sosok wanita paruh baya yang berjualan jajanan kecil di dekat sekolah mengaku bersyukur, anaknya bisa sekolah walaupun tidak tamat SD. “Yang penting bisa baca tulis, kalau mau lanjut ya lanjut, tapi ya mau bagaimana lagi,” tuturnya.

Anak-anak di sini memakai pakaian keseharian ketika sekolah, beralaskan sendal atau bahkan tanpa memakai sendal, hanya satu atau dua diantara mereka yang memaki seragam merah putih dan memakai sepatu.

lampung

Lebih dari itu, bukan lagi hal aneh jika melihat anak berusia 12 tahun masih duduk di kelas dua. Adalah hal lumrah, jika seorang kakak yang berusia 12 tahun duduk satu kelas dengan adiknya yang berusia 10 tahun. Bisa dikatakan, mampu banca tulis disini adalah suatu hal yang istimewa dan patut disyukuri.

Lampung, kota tapis bersemi ini dikaruniai banyak keindahan alam yang menjadi kekuatan untuk memajukan perekonomian masyarakat Lampung.

Pulau Tegal salah satu Pulau di tanah Lampung dengan luas + 98 hektarare, dihuni oleh 36 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 100 penduduk ini, mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan dan juga sebagai petani sayuran.

Suatu area pesisir pantai dengan deburan ombak yang tenang. Air laut yang jernih diwarnai dengan hamparan pasir putih. Serta panorama bahari bawah laut yang masih terjaga, dan mampu membias mata orang yang memandang dengan  terumbu karangnya yang tersembunyi. Namun sayang, surga dunia di ujung Sumatra ini tak mampu mensejahterakan penghuninya.

Bak dua sisi mata uang logam, ironis memang, tapi itulah kenyataan. Sebuah potret buram pendidikan di Indonesia yang tersampul dengan cover  yang mempesona.

MENGUAK BERBAGAI SUDUT PANTAI SARI RINGGUNG DAN PULAU TEGAL

Langit cerah biru di Bandar Lampung, mentari pagi yang menyibakkan sinarnya disela dedaunan. Bus berwarna biru langit, menghantarkan melewati tanjakan dan turunan serta kelokan yang membuat badan oleng kekanan dan kekiri kala bus berbelok di kelokan tajam. Menikmati pemandangan bukit-bukit dengan pepohanan hijau serta batuan cadas yang membuat mata celingak-celinguk ke arah jendela.

1,5 jam waktu yang dibutuhkan dari Bandar Lampung menuju wisata Pantai Sari Ringgung yang terletak di Desa Sidodadi, Pesawaran. Harga tiket masuk Pantai Sari Ringgung, tarif untuk perorang 10 ribu rupiah, motor 5 ribu rupiah, mobil 10 ribu, bus sedang 200 ribu dan bus besar 250 ribu. Harga dapat berubah sewaktu-waktu.

Memasuki kawasan Pantai Sari Ringgung, mata disuguhkan pemandangan yang akan membuat insan kekinian merogoh kocek mengambil kamera, birunya lautan, halusnya pasir putih, dan debur ombak di pesisir. Kapal-kapal berwarna-warni dengan bendera merah putih terlihat berjejer di dermaga, menanti penumpang yang ingin mengekplore Pulau lain yang tak jauh dari Sari Ringgung.

Berfoto atau selfie merupakan aktivitas yang tidak bisa dipisahkan oleh manusia zaman sekarang, dimanapun, kapanpun tanpa mengenal siapapun. Apalagi ketika sedang perjalanan, setiap hal adalah momen yang tidak dapat dilewatkan, spot selfie adalah hal yang biasa dicari-cari.

Berfoto di tepi pantai dan merasakan deburan ombak yang menyapu jejak-jejak yang ditinggalkan ditambah dengan semilir angin laut, apalagi terdapat background Pulau-pulau yang berada diseberang Sari Ringgung.

Untuk mendapatkan jangkauan pandangan yang lebih luas, pengunjung dapat mendaki Puncak Indah, dimana dari Puncaknya bisa melihat pemandangan Anak Gunung Krakatau yang perkasa. Bahkan tak perlu sampai puncak, di beberapa tempat tertentu wisatawan bisa melihat seluruh Sari Ringgung beserta gugusan Pulau-pulau yang ada disekitarnya. Jalan menuju puncak sebagian sudah diperkeras, dan diberikan tangga-tangga untuk memudahkan pengunjung mencapai puncak.

 

Tak cukup hanya Sari Ringgung, diseberangnya membentang Pulau Tegal. Untuk sampai ke sana, pengunjung bisa menyewa perahu, penduduk disini menamakannya dengan Taksi Perahu. Mencapai Pulau Tegal harus menyeberangi laut dengan gelombang yang lumayan besar, acapkali pakaian basah lebih dulu sebelum sampai ke Pulau. disarankan kepada pengunjung untuk tidak menjilt bibir, karena pasti akan terasa asin.

Butuh waktu kurang lebih 15 menit untuk mencapai pulau tegal, sewa taksi sekitar 200 ribu yang mampu menampung sebelas orang. Ditengah perjalanan pengunjung bisa menikmati pesona Masjid Apung Al-Aminah dan juga keramba yang sekilas mirip rumah di tengah laut.

Deburan ombak yang tenang. Air laut yang jernih diwarnai dengan hamparan pasir putih yang lembut dan luas. Serta panorama bahari bawah laut yang mengagumkan. Membias mata orang yang memandang dengan keindahan terumbu karang yang tersembunyi. itulah sedikit gambaran dari keindahan pulau Tegal yang kurang diperhatikan oleh pemerintah.

4

Pulau Tegal masih belum begitu terekspose, Lebih dari pada itu, Pulau Tegal memang menyimpan surga tersembunyi, beranjak dari Labuan Apung, menggunakan taksi perahu selama 15 menit, terdapat area snorkeling yang terletak di kawasan Batu Payung, memiliki biota laut yang kaya dan ekosistem yang beragam, tak perlu menyelam terlalu dalam karena surga bawah laut ini bisa dinikmati bahkan dari kedalaman kurang dari satu setengah meter.

5

Biasanya taksi perahu juga menyewakan peralatan snorkeling, jadi tidak perlu repot-repot mencari kesana kemari, cukup membayar 40 ribu rupiah pengunjung bisa menikmati karang-karang di Batu Payung, bahkan nahkoda perahu bersedia jika pengunjung memintanya menjadi guide.

Hutan yang masih rimbun dengan pemandangan yang hijau asri menambah keindahan desa Gebang. Pulau dengan luas + 98 hektarare yang dihuni oleh 36 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 100 penduduk ini, mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan dan juga sebagai petani sayuran. Penghasilan mereka sebagai nelayan dan petani belum mencukupi kebutuhan ekonomi.

Nurjani, nahkoda taksi perahu menuturkan penghasilan perbulannya hanya mencapai 600 ribu, itu pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dapurnya saja, belum lagi untuk membeli bahan bakar minyak. Ia berharap pemerintah mencanangkan program agar penduduk Pulau Tegal tidak tertinggal, “meskipun kita sedikit, tapi kan kita masih rakyat Indonesia,” ujar Nurjani.

Oleh: Kelompok 6 (Ifroh, Nafi, Hani, Kristina) PJTLN TEKNOKRA 2016