Category: MAKALAH


Pendidikan Sebagai Ilmu dan Sistem dalam Perspektif Matematika

written bye: Karsini, Mujawaroh Annafi, Tengku Aprilia Nurjannah as a task of lecturer: Musa Taher

Pendidikan Matematika 2C , UIN Suska Riau 2015

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pendidikan merupakan suatu keharusan bagi manusia karena pada hakekatnya manusia lahir dalam keadaan tidak berdaya, dan tidak langsung dapat berdiri sendiri, dapat memelihara dirinya sendiri. Manusia pada saat lahir sepenuhnya memerlukan bantuan orang tuanya. Karena itu pendidikan merupakan bimbingan orang dewasa mutlak diperlukan manusia

untuk menghasilkan hasil belajar yang baik maka seorang pendidik/guru harus memiliki ilmu pendidikan agar ketika melakukan proses belajar mengajar mampu menerapkan teori belajar di dalam kelas. Ilmu pendidikan adalah ilmu yang mempelajari serta memproses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, pembuatan mendidik.

Matematika merupakan subjek yang sangat penting dalam sistem pendidikan di seluruh dunia. Negara yang mengabaikan pendidikan sebagai prioritas utama akan tertinggal dari kemajuan segala bidang, dibanding negara lain yang memberikan tempat bagi matematika sebagai subjek yang sangat penting. Oleh karena itu, pendidikan sebagai ilmu diperlukan dalam proses pembelajaran matematika. Maka pendidikan sebagai ilmu dalam perspektif matematika menjadi salah satu topik yang menarik.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa yang dimaksud pendidikan dan sistem
  3. Apa yang dimaksud dengan matematika
  4. Bagaimana pendidikan menjadi ilmu dalam perspektif matematika
  5. Bagaimana pendidikan menjadi sistem dalam perspektif matematika
  6. Tujuan
  7. Mengetahui pengertian pendidikan dan sistem
  8. Mengetahui apa itu pendidikan yang menjadi dasar ilmu dalam perspektif matematika
  9. Mengetahui apa itu pendidikan sebagai sistem dalam perspektif matematika
  10. Menyelesaikan tugas Ilmu Pengetahuan Matematika

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Pendidikan dan Sistem

Pendidikan adalah hidup. Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Sedangkan secara Definitif pendidikan (pedagogie) adalah suatu kegiatan bimbingan yang dilakukan secara sadar ataupun secara sengaja yang dilakukan orang dewasa kepada orang yang belum dewasa (baca : anak) sehingga timbul hubungan antara keduanya yang bertujuan untuk mendewasakannya.

Sistem adalah satu keseluruhan terpadu yang terdiri dari berbagai elemen yang masing-masing elemen terkait dengan elemen yang lain. Sedangkan sistem secara etimologis berasal dari bahasa yunani “systema” yang berarti sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan.

  1. Pengertian Matematika

Kata matematika berasal dari beerkataan latin mathematika yang mulanya diambil dari perkataan yunani mathematike yang berarti mempelajari.

Matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris. Kemudian pengalaman itu diproses didalam dunia rasio, diolah secara analisis dengan penalaran didalam struktur kognitif sehingga sampai terbentuk konsep-konsep matematika. Supaya konsep-konsep matematika yang terbentuk itu mudah dipahami oleh orang lain dan dapat dimanipulasi secara tepat, maka digunakan bahasa matematika atau notasi matematika yang bernilai global (universal). Konsep matematika didapat karena proses berpikir, karena itu logika adalah dasar terbentuknya matematika.[1]

Matematika adalah disiplin ilmu yang melatih bagaimana cara berpikir dan mengolah pikiran secara kualitatif dan mengajarkan manusia untuk berpikir kritis. Karena tujuan pendidikan matematika adalah melatih kemandirian dalam berpikir.

Matematika adalah ilmu yang tidak jauh dari realitas kehidupan manusia, dari zaman purba, berabad-abad sebelum masehi, manusia telah mempunyai kesadaran akan bentuk-bentuk benda disekitarnya yang berbeda satu dengan yang lain. Kesadaran inilah yang menjadi bibit lahirnya geometri.

Matematika dapat dipandang sebagai pelayan (servant) sekaligus ratu (queen) dari ilmu-ilmu lain. Sebagai pelayan matematika adalah ilmu dasar yang mendasari dan melayani berbagai ilmu pengetahuan yang lain. Tidak mengherankan apabila dalam fungsinya sebagai pelayan ilmu yang lain, matematika muncul di ilmu kimia, fisika, biologi, astronomi, psikologi, dan masih banyak yang lain. Sebagai ratu, perkembangan matematika tidak tergantung pada ilmu-ilmu lain. Banyak cabang matematika yang dulu biasa disebut matematika murni, dikembangkan oleh beberapa matematikawan/matematikawati yang mencintai dan belajar matematika hanya sebagai hobi tanpan mempedulikan fungsi dan manfaantnya untuk ilmu-ilmu yang lain. Dengan semakin berkembangnya teknologi, banyak cabang matematika murni yang ternyata dikemudian hari bisa diterapkan dalam berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir.[2]

  1. Pendidikan Sebagai Ilmu dalam Perspektif Matematika

PrespektifMerupakan sebuah cara pandang seseorang mengenai dunia sosia disekitarnya atau dapat juga disebut sebagai sudut pandang (point of view)[3]

Ilmu merupakan pengetahuan yang di dapatkan lewat metode ilmiah. Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik perlu sarana berfikir, yang memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Matematika adalah bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan berdasarkan pembuktian berdasarkan teori koheren. System matematika di susun di atas beberapa dasar pernyataan yang dianggap benar, yakni aksioma. Dengan mempergunakan beberapa aksioma maka disusun suatu teorema. Di atas teorema dikembangkan kaidah-kaidah matematika yang secara keseluruhan system yang konsisten. Plato (427-347 S.M) dan AristotelesEuclid dalam menyusun ilmu ukurnya (384-322 S.M) mengembangkan teori koheren berdasarkan pola pemikiran yang dipergunakan

Dalam abad ke-20 ini, seluruh kehidupan manusia sudah mempergunakan matematika, baik matematika ini sangat sederhana hanya untuk menghitung satu, dua, tiga, maupun yang sampai sangat rumit, misalnya perhitungan antariksa. Ilmu-ilmu pengetahuan pun , semuanya sudah mempergunakan matematika, baik matematika sebagai pengembangan aljabar maupun statistik, dll.

Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini, sebab pada dasarnya pelajaran matematika diberikan untuk:

  1. Membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama.
  2. Mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain.
  3. melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsistensi, dan inkonsistensi.
  4. mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi, dan dugaan, serta mencoba-coba.
  5. mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. [4]

Matematika merupakan bidang studi yang dipelajari oleh semua siswa dari sekolah dasar hingga sekolah lanjutan tingkat atas, dan bahkan juga di perguruan tinggi. Cornelius (dalam Mulyono Abdurahman, 2003: 253) mengemukakan lima alasan perlunya belajar matematika karena matematika merupakan:

  1. Sarana berpikir yang jelas dan logis,
  2. Sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari,
  3. Sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman,
  4. Sarana untuk mengembangkan kreativitas,
  5. Sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya

Matematika memandang pendidikan sebagai ilmu ditinjau dari pola berpikirnya, di antaranya berpikir secara logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain. Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama. Karena itu kegiatan proses berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu juga berbeda-beda. Dapat dikatakan

dan tiap-tiap jenis penalaran mempunyai kriteria kebenarannya masing-masing.

Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri yang pertama ialah adanya pola pikir yang secara luas dapat disebut logika. Dalam hal ini dapat kita katakan bahwa tiap bentuk penalaran mempunyai logikanya tersendiri. Atau dapat juga disimpulkan bahwa kegiatan penalaran merupakan suatu proses berpikir logis. Berpikir logis disini harus diartikan sebagai kegiatan berpikir menurut pola tertentu, atau dengan kata lain, menurut logika tertentu.

Dapat dijelaskan bahwa beberapa manfaat mempelajari matematika:

  1. Matematika sebagai bahasa ilmu pengetahuan

Tanpa bekal matematika yang baik sedikit sekali ilmu pengetahuan modern untuk dapat dipelajari, hal ini disebabkan hukum-hukum dasar pengetahuan alam dinyatakan dalam bahasa matematika. Karena matematika sifatnya dinamis, maka ilmu pengetahuan lainnyapun makin banyak menggunakan matematika.

Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingi disampaikan.Lambang-lambang matematika bersifat “Artifisial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya.Bila kita mempelajari kecepatan jalan kaki seseorang anak maka obyek “kecepatan jalan kaki seorang anak” dapat diberi lambang dengan v dalam hal ini v hanya mempunyai satu arti yaitu kecepatan jalan kaki seorang anak. Bila dihubungkan dengan dengan obyek lain umpanya “jarak yang ditempuh seoang anak” (s). maka dapat dibuat lambang hubungan tersebut sebagai t = s/v, di mana t melambangkan waktu berjalan kaki seorang anak. Pernyataan t = s/v kiranya jelas : Tidak mempunyai konotasi emosional dan hanya mengemukakan informasi mengenai hubungan s, v dan t, artinya matematika mempunyai sifat yang jelas, spesifik dan informatf dengan tidak menimbulkan konotasi yang bersifat emosional.

  1. Matematika mengajak berfikir logis

Logika adalah sarana untuk berpikir sistematik, valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir, seperti setengah tidak boleh lebih besar daripada satu. Berpikir membutuhkan jenis-jenis pemikiran yang sesuai. Pikiran diikat oleh hakikat dan struktur tertentu, kendati hingga kini belum seluruhnya terungkap. Pikiran kita tunduk kepada hukum-hukum tertentu.

Salah satu kegunaan yang sering kita kemukakan ialah bahwa matematika melatih orang untuk berfikir secara logis. Badal karangan-karangan masa Purba, nama “LOGIKA” untuk pertama kali muncul pada Cicero (abad ke 1 sebelum masehi), dalam seni berdebat. Sekitar permulaan abad ke 3 sesudah masehi Alexander Aphrodisias adalah orang yang pertama menggunakan kata LOGIKA dalam arti yang sekarang.

Untuk menemukan pengetahuan kita harus dapat mengambil kesimpulan dari berbagai pernyataan berupa pakta atau pendapat. Logika formal adalah bidang ilmu yang membahas tentang pernyataan-pernyataan atau posisi dalam hubungannya dengan penalaran secara deduksi (Britannica, 1982). Proses Deduksi, yaitu penarikan kesimpulan bersifat individual dari pernyataan/ kerangka berpikir logis yang bersifat umum. Bidang ilmu tertua yang menerapkan deduksi berdasarkan logika formal adalah matematika. Salah satu yang dapat dipakai sebagai contoh Geometri Eulidus.

  1. Pendidikan Sebagai Sistem dalam Perspektif Matematika

Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan pendidikan. Suatu usaha pendidikan menyangkut tiga unusur pokok, yaitu unsur masukan, unsur proses usaha itu sendiri, dan unsur hasil usaha. Hubungan ketiga unsur itu dapat digambarkan sebagai berikut Proses Pendidikan Sebagai Suatu Sistem

Masukan usaha pendidikan ialah peserta didik dengan berbagai ciri-ciri yang ada pada diri peserta didik itu (antara lain bakat, minat, kemampuan, keadaan jasmani,). Dalam proses pendidikan terkait berbagai hal, seperti pendidik, kurikulum, gedung sekolah, buku, metode mengajar, dan lain-lain, sedangkan hasil pendidikan dapat meliputi hasil belajar (yang berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan) setelah selesainya suatu proses belajar mengajar tertentu. Dalam rangka yang lebih besar, hasil proses pendidikan dapat berupa pembekalan peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama dan mampu mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1979) menjelaskan pula bahwa, “Pendidikan merupakan suatu sistem yang mempunyai unsur-unsur tujuan/sasaran pendidikan, peserta didik, pengelola pendidikan, struktur/jenjang. Kurikulum dan peralatan/fasilitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah kami uraikan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan adalah fenomena yang fundamental atau asasi dalam hidup manusia yaitu dimana ada kehidupan disitu pasti ada pendidikan. Pendidikan sebagai gejala sekaligus upaya memanusiakan manusia itu sendiri. Pendidikan adalah upaya sadar untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki manusia. Upaya pendidikan mencakup keseluruhan aktivitas pendidikan (mendidik dan dididik) dan pemikiran yang sistematik tentang pendidikan.

Ilmu pendidikan, yaitu ilmu yang menelaah fenomena pendidikan dalam perspektif yang luas dan integratif. Untuk mengembangkan disiplin ilmunya, ilmu pendidikan memiliki metode: normative, eksplanatori, teknologis, deskriptif fenomenologis, hermeneutis, dan analitis kritis. Sedangkan sifat-sifat ilmu pendidikan adalah: empiris, rohaniah, normatif, historis, teoritis, dan praktis

Matematika memandang pendidikan sebagai ilmu ditinjau dari pola berpikirnya, di antaranya berpikir secara logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain. Manfaat mempelajari matematika adalah matematika dapat digunakan sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Matematika juga mengajarkan kita untuk berpikir logis.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Andriani Melly, Hariyani Mimi, Pembelajaran Matematika SD/MI, Benteng Media, Pekanbaru, 2013

Supatmono Catur, Matematika Asyik, Grasindo, jakarta, 2009

Martono Nanang, Pendidikan Bukan Tanpa Masalah, Gava Media, Yogyakarta, 2010

Andriani Melly, Hariyani Mimi, Pembelajaran Matematika SD/MI, Benteng Media, Pekanbaru, 2013

 

 

[1] Andriani Melly, Hariyani Mimi, Pembelajaran Matematika SD/MI, Benteng Media, Pekanbaru, 2013, hal. 2

[2]Supatmono Catur, Matematika Asyik, Grasindo, jakarta, 2009, hal. 8

[3]Martono Nanang, Pendidikan Bukan Tanpa Masalah, Gava Media, Yogyakarta, 2010, hal. 18

[4]Andriani Melly, Hariyani Mimi, Pembelajaran Matematika SD/MI, Benteng Media, Pekanbaru, 2013, hal. 13

Iklan

disusun oleh:

Siti Masithoh Nur Arrahmin

Mujawaroh Annafi

Sahrul Hidayat

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang masih memberikan nafas kehidupan, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah “study Qur’an/ulumul Qur’an”. Tidak lupa shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan inspirator terbesar dalam segala keteladanannya. Tidak lupa penulis sampaikan terima kasih kepada dosen mata kuliah Study Qur’an/Ulumul Qur’an, Herlina. Semoga apa yang beliau ajarkan kepada kami menjadi manfaat dan menjadi amal jariyah bagi beliau di Akherat kelak. Amiin.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Study Qur’an. Dalam makalah ini akan dibahas beberapa pembahasan mengenai pengertian Ilmu Al – qur’an, Ruang Lingkup Al – qur’an, dan Sejarah Perkembangan Ilmu Al-Qur’an.

Penulis mengucapkan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca yang budiman. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan dari guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.

 

Penulis

 

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………………………………………………………………………

Bab I Pendahuluan…………………………………………………………………………

1.1 Latar Belakang Masalah ………………………………………………………..

1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………………

1.3 Tujuan Penulisan…………………………………………………………………..

1.4 Metode Penulisan………………………………………………………………….

Bab II Pembahasan…………………………………………………………………………

2.1 Pengertian Ilmu Al-Qur’an…………………………………………………….

2.2 Ruang Lingkup Ilmu Al-Qur’an……………………………………………..

2.3 Sejarah Perkembangan Ilmu Al-Qur’an……………………………………

Bab III Penutup……………………………………………………………………………..

3.1 Kesimpulan………………………………………………………………………….

3.2 Saran…………………………………………………………………………………..

Daftar Pustaka……………………………………………………………………………….

 

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman untuk umat islam. Kitab yang mencakup hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan didunia maupun diakhirat yang dirangkum dalam Al-Qur’an. Banyak sejarah yang mengungkap bagaimana turunnya Al-Qur’an dan bagaimana cara nabi Muhammad SAW menyampaikan kepada umatnya. Banyak lika-liku yang dihadapi nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan ajaran agama islam dengan Al- Qur’an sebagai pedomannya. Begitu pentingnya Al-Qur’an sehingga umat islam wajib memahami, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an. Dalam mempelajari Al- Qur’an banyak aspek  yang dibahas mengenahi Al-Qur’an, salah satunya adalah ilmu Ulumul Qur’an. Ulumul Qur’an adalah cabang ilmu Al-Qur’an yang membahas tentang asal-usul Al-Qur’an baik asal-usul turunnya maupun isi yang terkandung didalamnya. Sehingga menjadi penting untuk mempelajari ilmu tersebut. Agar dalam memahami Al-Qur’an menjadi lebih mudah dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam makalah yang saya buat berisi pembahasan tentang  pengertian, ruang lingkup dan cabang-cabang ilmu Al-Qur’an.

  • Rumusan Masalah
  1. Apakah pengertian Ilmu Al-Qur’an?
  2. Apa saja ruang lingkup Ilmu Al-Qur’an?
  3. Apa sejarah perkembangan Ilmu Al-Qu’ran?
  • Tujuan Penulisan
  1. Mendeskripsikan pengertian Ilmu Al-qur’an.
  2. Mendeskripsikan ruang lingkup dalam Ilmu Al-Qur’an.
  3. Mendeskripsikan sejarah perkembangan Ilmu Al-Qur’an
    • Metode Penulisan

Dalam pembuatan makalah ini penulis menggunakan metode studi pustaka, yaitu dengan cara mengolah data dari beberapa sumber buku dan media elektronik.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  • Pengertian Ilmu Al-Qur’an

Kata ‘ilmu’ berasal dari bahasa arab yaitu ‘ulum. Dan adapun ‘ulum adalah bentuk jamak dari kata ‘ilm[1]. ‘ilm dalam kamus bahasa arab berarti ilmu pengetahuan[2]. ‘Al-Qur’an’ menurut bahasa ialah: bacaan yang dibaca. Al-Qur’an adalah “mashdar” yang diartikan dengan arti isim maf’ul yaitu “maqru = yang dibaca”[3]. Al-Qur’an berasal dari kata qara’a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun. Adapun qiraah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata yang satu dengan yang lainnya dalam suatu ucapan yang tersusun rapi. Qur’an sebagaimana qiraah yaitu mashdar dari kata qaraah, qiraatan, quranan[4].
(Al-Qiyamah 17-18)

Artinya: “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (didadamu) dan (membuat pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaan itu.

Menurut istilah ahli agama (‘uruf Syara’), ialah: “Nama bagi kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W yang ditulis dalam mashhaf”. Mashhaf boleh dibaca Mishhaf atau Mushhaf. Maknanya: Lembaran-lembaran yang dikumpulkan dan diikat, merupakan buku.

Para ahli ushul fiqh menetapkan bahwa Al-Qur’an adalah nama bagi keseluruhan Al-Qur’an dan nama bagi suku-sukunya. Ahli ushul membahas Al-Qur’an dari jurusan kedudukannya sebagai pokok dalil hukum. Maka tiap yang menjadi pokok dalil itu, ialah: ayat-ayatnya. Maka tiap satu ayat itu, dinamai “Al-Qur’an”[5].

 

Ulumul Qur’an memiliki beberapa definisi dari berbagai ulama’ diantaranya: menurut Al- Suyuti dalam kitab Itmamu al-Dirayah, Ulumul Qur’an ialah suatu ilmu yang membahas tentang keadaan al- Qur’an dari segi turun, sanad, adab, dan makna-maknanya, yang berhubungan dengan hukum-hukumnya dan sebagainya. Kemudian, menurut Al-Zarqani dalam kitab Manahilul Irfan fi Ulumil Qur’an yaitu: Ulumul Qur’an ialah pembahasan-pembahasan masalah yang berhubungan dengan al-Qur’an, dari segi turun, urut-urutan, pengumpulan, penulisan, bacaan, penafsiran mukjizat, nasikh dan mansukhnya, serta penolakan (bantahan) terhadap hal-hal yang  bisa menimbulkan keraguan terhadap al-Qur’an (yang sering dilancarkan oleh Orientasi dan Ateis dengan maksud untuk menodai kesucian al-Qur’an) dan sebagainya.

Sedangkan menurut Muhammad ‘ali al-Sabuni ‘ulum al-Qur’an adalah suatu pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur’an al-Majid yang abadi dari segi caranya turun, pengumpulan, urutan, dan pembukuan, mengetahui, sebab-sebab turunnya, yang turun di mekkah atau di madinah, mengetahui nasihkh dan mansukh, yang muhkam dan yang mustasyabih dan lain sebagainya.[6]

Ulumul Qur’an adalah ilmu yang mencakup semua aspek ilmu al-Qur’an, tidak seperti ilmu tafsir yang menitik beratkan pada arti atau makna yang terkandung didalam al- Qur’an. Sehingga ruang lingkup dalam Ulumul Qur’an memiliki cakupan yang luas dan dalam. Keberadaan Ulumul Qur’an menjadi benteng yang dapat memperkuat dan menamgkis serangan yang berupa celaan terhadap kebenaran al- Qur’an.

Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan, bahwa Ulumul Qur’an adalah suatu ilmu yang lengkap dan mencakup semua ilmu yang ada hubungannya dengan al-Qur’an, baik berupa ilmu-ilmu agama, misalnya tafsir, maupun ilmu bahasa arab, misalnya ilmu I’rabil qur’an.[7]

 

 

  • Ruang Lingkup Ilmu Al-Qur’an

2.2.3 Pembahasan ilmu-ilmu al-Qur’an yang pokok

Segala macam ilmu al-Qur’an, walaupun sedemikian banyak-nya, namun ia kembali kepada beberapa macam saja yaitu:

  1. Auqatun nuzul mawathinul nuzul

Berpaut dengan dia, dipautkan ayat-ayat yang diturunkan di Makkah yang dinamai Makkiyah, ayat-ayat yang diturunkan di kala Nabi diberada di kampung yang dinamai Hadlariyah, ayat-ayat yang diturunkan didalam saffar dinamai safariyah, ayat-ayat yang diturunkan disiang hari dinamakan nahariyah, ayat-ayat yang diturunkan di malam hari yang dinamai lailiyah, ayat-ayat yang diturunkan di musim panas dinamai shaifiyah, ayat-ayat yang diturunkan di musim dingin dinamai shitayyah, ayat-ayat yang diturunkan di kala nabi di pembaringan dinamai firasiyah.[8]

  1. Sababun Nuzul

Sebab-sebab Turunnya (suatu ayat) adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan. Pada umumnya, Asbabun Nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatu ayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu. Selain itu, ada juga yang memahami ilmu ini untuk menetapkan hukum dari hikmah dibalik kisah diturunkannya suatu ayat[9]. Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui Asbabun Nuzul suatu ayat dapat membantu Mufassir memahami makna ayat. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul suatu ayat dapat memberikan dasar yang kokoh untuk menyelami makna suatu ayat Al-Qur’an.[10]

  1. Tarikhun Nuzul
  2. Nuzul

Membahas tentang ayat-ayat yang menunjukkan tempat dan waktu turunnya al-Qur’an misalnya: makkiyah, madaniyyah, safariyah dan lain sebagainya. Kemudian juga membahas tentang asbabun nuzul dan sebagainya.

  1. Sanad

Membahas tentang hal-hal yang menyangkut tentang sanad yang mutawattir, ahad, para periwayat, para penghapal al-Qur’an dan cara tahammul (penerimaan riwayat).

  1. Ada’ al-Qiro’ah

Membahas tentang waqof, ibtida’, madd dan lain sebagainya.

  1. Pembahasan tentang lafadz al-Qur’an yang berujung pada pembahasan dalam ilmu Nahwu.
  2. Pembahasan makna al-Qur’an yang berhubungan dengan hukum, yaitu ayat yang mempunyai makna hukum dalam berbagai aspek baik duniawi maupun ukhrawi. Selain itu, pembahasan ini mengarah pada ilmu tafsir yang membahas berbagai makna, isi yang terkandung dalam al-Qur’an.

2.2.4 Bagian-bagian ilmu al-Qur’an dan macam-macamnya

Menurut T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, pokok-pokok ilmu al-Qur’an yaitu:[11]

  1. Ilmu Mawathinin Nuzul

Ilmu yang membahas tentang tempat-turun ayat, musim awal dan akhirnya.

  1. Ilmu Tawarikhin Nuzul

Ilmu yang menjelaskan masa turun ayat dan tertib turunnya satu demi satu dari awal hingga akhir.

 

  1. Ilmu Asbabin Nuzul

Ilmu yang menerangkan tentang sebab-sebab turunnya ayat.

  1. Ilmu Qira’at

Ilmu yang menerangkan rupa-rupa bacaan-bacaan/qiraat yang diterima Rasulullah.

  1. Ilmu Tajwid

Ilmu yang menerangkan cara membaca al-Qur’an

  1. Ilmu Gharibil Qur’an

Ilmu yang menerangkan makna kata yang ganjil yang tidak terdapat didalam kitab kitab atau percakapan sehari-hari

  1. Ilmu I’rabil Qur’an

Ilmu yang menerangkan baris al-Qur’an dan kedudukan lafadz dalam susunan kalimat.

  1. Ilmu wujuh wan Nazhair

Ilmu yang menerangkan kata-kata al-Qur’an yang banyak arti.

  1. Ilmu Ma’rifatul Muhkam Wal Mutsyabih

Ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang dipandang muhkam dan ayat-ayat yang dianggap muhkam dan ayat-ayat yang dianggap mutasyabih.

  1. Ilmu Nasikh Wal Mansukh

Ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang dianggap mansukh oleh sebagian mufassirin.

  1. Ilmu Ba’dail Qur’an

Ilmu yang menyatakan keindahan susunan bahasa Qur’an

  1. Ilmu I’jazil Qur’an

Ilmu yang menerangkan kekuatan susunan lafadz al-Qur’an hingga ia dipandang sebagai mukjizat dapat melemahkan segala ahli bahasa arab.

 

 

  1. Ilmu Tanasbi Ayatil Qur’an

Ilmu yang menerangkan persesuaian antara ayat yang didepan dengan ayat yang sesudahnya.

  1. Ilmu Aqsamil Qur’an

Ilmu yang menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan yang terdapat dalam al-Qur’an.

  1. Ilmu Amtasil Qur’an

Ilmu yang menerangkan tentang perumpamaan-perumpamaan al-Qur’an.

  1. Ilmu Jadalil Qur’an

Ilmu yang menerangkan macam-macam debatan yang telah dihadapkan al-Qur’an kepada segenap kaum musyrikin dan lain-lain.

  1. Ilmu Adabi Tilawatil Qur’an

Ilmu yang menerangkan segala rupa aturan yang harus dipakai dan dilaksanakan di dalam membaca al-Qur’an.

  • Sejarah Perkembangan Ilmu al-Qur’an[12]

Al-Qur’an adalah mukjizat dalam Islam yang abadi dimana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kemukjizatannya. Para sahabat sangat bersemangat untuk mendapatkan pengajaran Al-Qur’an Al-Karim dari Rasulullah. Mereka ingin menghafal dan memahamminya. Bagi mereka, ini merupakan suatu kehormatan. Abu Abdirrahman As-Sulami meriwayatkan, bahwa orang-orang yang biasa membacakan Al-Qur’an kepada kami, seperti Utsman bin Affan dan Abdullah bin Mas’ud, serta yang lainnya; apabila mereka belajar sepuluh ayat dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam, mereka enggan melewatinya sebelum memahami dan mengamalkannya. Mereka mengatakan, “Kami mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal sekaligus.”

 

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam tidak mengizinkan mereka menulis apa pun selain Al-Qur’an, sebab ditakutkan dapat tercampur aduk dengan yang lain. Muslim meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, bahwa Rasulullah saw bersabda,

لا تكتبوا عني ومن كتب عني غير القران فليمحه  وحدثوا غني ولا حرج ومن كذب علي متعمدا فليتبوا مقعده من النار

Artinya: “Jangan sekali-kali menulis apa pun dariku. Barangsiapa menulis sesuatu selain Al-Qur’an dariku maka hapuslah. Sampaikanlah haditsku, tidak masalah. Namun, barangsiapa mendustakan aku dengan sengaja, maka nerakalah tempatnya.”

Demikianlah yang terjadi pada masa Rasul, masa Khalifah Abu Bakar, dan Umar Radhiyallahu Anhuma. Lalu pada masa Khalifah Utsman Radhyallahu Anhu, sesuai dengan tuntunan kondisi –seperti yang akan dijelaskan kemudian membuat suatu terobosan ijtihad mulia, yaitu demi menyatukan kaum muslimin dengan pedoman satu mushaf yang kemudian diberi nama mushaf Al-Imam. Selanjutnya, mushaf tersebut dikirim ke berbagai negeri saat itu. Adapun tulisan huruf-hurufnya disebut sebagai rasm Utsmani, yang dikaitkan dengan nama Khalifah Utsman. Langkah ini adalah awal munculnya ilmu penulisan rasm Al-Qur’an. Hal ini dianggap sebagai cikal bakal dari munculnya ilmu Al-Qur’an.

Di antara para mufassir terpopular di kalangan sahabat Nabi adalah; empat khalifah, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy’ari dan Abdullah bin Az-Zubair. Di antara murid-murid Ibnu Abbas yang cukup termasyhur adalah Said bin Jubair, Mujahid, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Thawus bin Kisan Al-Yamani dan Atha’ bin Abi Rabah.

Murid Ubay bin Ka’ab yang popular di Madinah adalah Zaid bin Aslam, Abul Aliyah, dan Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi. Di Irak terdapat murid Abdullah bin Mas’ud yang juga terkenal sebagai mufassir. Mereka yaitu; Alqamah bin Qais, Masruq bin Al-Ajda’, Aswad bin Yazid, Amir Asy-Sya’bi, Hasan Al-Bashri, dan Qatadah bin Di’amah As-Sadusi.Abad kedua Hijriyah adalah masa kodifikasi.

Pada masa selanjutnya, sekelompok ulama melakukan penafsiran secara komprehensif terhadap Al-Qur’an sesuai tertibnya ayat yang ada dalam mushaf. Di antara mereka yang terkenal adalah Ibnu Jarir Ath-Thabari (wafat 310 H).

Demikianlah, pertama kali tafsir dilakukan dengan metode dari mulut ke mulut dan periwayatan, lalu melalui proses kodifikasi, tapi masih masuk dalam bab-bab hadits. Lalu pada tahap berikutnya dikodifikasikan secara mandiri. Kemudian muncul tafsir bil ma’tsur (yang menggunakan dalil-dalil Al-Qur’an, hadits Nabi, serta perkataan para sahabat dan salafushshalih) dan tafsir bir-ra’yi (yang menggunakan akal atau pendapat pribadi). Dalam bidang ilmu tafsir muncul karya-karya tematik yang berkaitan dengan tafsir Al-Qur’an yang cukup penting bagi seorang mufassir.

Sangat banyak karya-karya ulama yang mengkaji disiplin ulumul Qur’an. Karya-karya itu dirangkum dalam satu karya besar sebagaimana yang disinyalir oleh Az-Zarqani dalam kitabnya Manahil Al-’Irfan fi ‘Ulum Al-Qur’an bahwa di dalam Dar Al-Kutub Al-Mishriyah, ada sebuah kitab karya Ali bin Ibrahim bin Said, terkenal dengan sebutan Al-Hufi. Nama kitab tersebut Al-Burhan fi ‘Ulumi Al-Qur’an, terdiri dari 30 jilid. Di dalamnya terdapat 15 jilid yang mana di sana penulisannya menyebut ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan tertib mushaf yang mencakup pembahasan ulumul Qur’an.

 

Lalu, Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengikuti jejak Al-Hufi. Ia menulis kitab “Funun Al-Afnan fi ‘Aja’ibi ‘Ulum Al-Qur’an.” Badruddin Az-Zarkasyi (wafat 794 H) menulis “Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an.” Jalaluddin Al-Balqini (wafat 824 H) menulis “Mawaqi’ Al-’Ulum min Mawaqi’ An-Nujum,” menambahi sedikit kitab Az-Zarkasyi. Kemudian, Jalaluddin As-Suyuthi (wafat 911 H) dengan kitabnya yang cukup terkenal yaitu “Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an.”. Inilah beberapa kajian yang dikenal sebagai studi ilmu-ilmu Al-Qur’an. Sekarang, kita beralih kepada definisi singkat tentang ulumul Qur’an.

 

[1] Subhi Al-Salih, Mahabbits fi ‘Ulum Al-Qur’an, (Beirut, Darli al-malayyin, 1997)

[2] Achmad Sunarto, Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya, Pustaka Barokah, 2010), hlm 150.

[3] M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an Tafsir, (Yogyakarta, Bulan Bintang, 1980), hlm 15.

[4] Manna’ Khalil al-Qattan, Mahabbits fi ‘Ulum Al-Qur’an, (Beirut, Man syurat al-a’Asr al hadist, 1973), hlm 20.

[5]M. Hasbi Ash-shiddieqy, Op.cit, 1980, hlm 16.

[6] Al-Sabuni, al-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, (Tp: ‘Alma al-Kutub, tt), hlm 8 dalam Helina, Studi Al-Qur’an, (Pekanbaru, Benteng Media CV, 2013), hlm 4.

[7] http://www.academia.edu/8259383/Pengertian_Ruang_lingkup_dan_cabang2_ilmu_Al-Quran

[8] M. Hasbi ash-shiddieqy, Op.Cit., hlm 114

[9] Muchotob Hamzah, Studi Al-Qur’an Komprehensif, (Yogyakarta, Gama Media, 2003), hlm 3

[10] Hudzaifah.org – Asbabun Nuzul (Sebab-Sebab Turunnya Ayat) Surat Al Qadr

[11] T.M Hasbi Ash-Shiddieqy, Op.Cit., hlm 116

[12]H. Aunur Rafiq El-Mazni, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2010), hlm. 3 – 10.

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Ulumul Qur’an adalah suatu ilmu yang lengkap dan mencakup semua ilmu yang ada hubungannya dengan al-Qur’an, baik berupa ilmu-ilmu agama, misalnya tafsir, maupun ilmu bahasa arab, misalnya ilmu I’rabil qur’an.

Ruang lingkup Ilmu Al-Qur’an meliputi:

  1. Pembahasan ilmu Qur’an yang pokok, terdiri dari: Auqatun nuzul mawathinul nuzul, Sababun Nuzul, dan Tarikhun Nuzul
  2. Bagian-bagian ilmu al-Qur’an dan macam-macamnya, terdiri dari: Ilmu Mawathinin Nuzul, Ilmu Tawarikhin Nuzul, Ilmu Qira’at, Ilmu Tajwid, Ilmu Gharibil Qur’an, Ilmu I’rabil Qur’an, Ilmu wujuh wan Nazhair, Ilmu Ma’rifatul Muhkam Wal Mutsyabih, Ilmu Nasikh Wal Mansukh, Ilmu Ba’dail Qur’an, Ilmu I’jazil Qur’an, Ilmu Tanasbi Ayatil Qur’an, Ilmu Aqsamil Qur’an, Ilmu Amtasil Qur’an, Ilmu Jadalil Qur’an, Ilmu Adabi Tilawatil Qur’an.

Pada zaman rasulullah para sahabat menghafal dan memahami al-Qur’an karena bagi mereka itu adalah suatu kehormatan. Lalu pada masa Khalifah Utsman Radhyallahu Anhu, di susunlah Al-Qur’an menjadi satu mushaf untuk menyatukan kaum muslimin yang kemudian diberi nama mushaf Al-Imam. Hal ini dianggap sebagai cikal bakal dari munculnya ilmu Al-Qur’an. Pada masa selanjutnya, sekelompok ulama melakukan penafsiran secara komprehensif terhadap Al-Qur’an sesuai tertibnya ayat yang ada dalam mushaf.

3.2 Saran

Setelah mempelajari study qur’an, kita sebagai umat islam harus mempercayai kebenaran ilmu-ilmu Al-Qur’an dan mengamalkannya serta mengembangkan ilmu Al-Qur’an agar dapat memajukan umat islam.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Subhi Al-Salih, Mahabbits fi ‘Ulum Al-Qur’an. Beirut: Darli al-malayyin, 1997.

Achmad Sunarto, Kamus Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Barokah, 2010

  1. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an Tafsir. Yogyakarta: Bulan Bintang, 1980.

Manna’ Khalil al-Qattan, Mahabbits fi ‘Ulum Al-Qur’an. Beirut: Man syurat al-a’Asr al hadist, 1973.

Al-Sabuni, al-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, (Tp: ‘Alma al-Kutub, tt) dalam Helina, Studi Al-Qur’an. Pekanbaru: Benteng Media CV, 2013.

http://www.academia.edu/8259383/Pengertian_Ruang_lingkup_dan_cabang2_ilmu_Al-Quran

Muchotob Hamzah, Studi Al-Qur’an Komprehensif. Yogyakarta: Gama Media, 2003.

Hudzaifah.org – Asbabun Nuzul (Sebab-Sebab Turunnya Ayat) Surat Al Qadr

  1. Aunur Rafiq El-Mazni, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010.

 

 

 

 

 

 

 

 

7

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur sebelumnya penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “AKHLAK KEPADA RASULULLAH” ini dengan tepat waktu. Sholawat beserta salam tak lupa penulis sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang syafa’atnya kita nanti – nantikan di yaumul kiamah nanti.

Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :

  1. Bapak Khairunnas Rajab, M.Ag, selaku dosen yang telah memberikan arahan kepada kami dalam rangka penyelesaian makalah ini.
  2. Kepada orang tua yang telah memotivasi kami sehingga makalah ini terselesaikan.
  3. Kepada teman – teman dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari dalam penyusunan dan pembuatan makalah ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, baik dalam penulisan maupun penyajian materi. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan demi kesempurnaan dalam penyusunan dan penulisan makalah ini kedepannya.

 

 

Pekanbaru, Desember 2014

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Sebagai seorang muslim kita harus berakhlak kepada Rasulullah SAW, meskipun beliau sudah wafat dan kita tidak berjumpa dengannya, namun keimanan kita kepadanya membuat kita harus berakhlak baik kepadanya, sebagaimana keimanan kita kepada Allah, membuat kita harus berakhlak baik kepada-Nya. Pada dasarnya Rasulullah SAW adalah manusia yang tidak berbeda dengan manusia pada umumnya. Namun, terkait dengan status “Rasul” yang disandangkan Allah atas dirinya, maka terdapat pula ketentuan khusus dalam bersikap terhadap utusan yang tidak bisa disamakan dengan sikap kita terhadap orang lain pada umumnya.

  1. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang muncul adalah:

  1. Mengapa kita wajib mencintai dan taat kepada Rasulullah Saw ?, dan
  2. Bagaimana cara berakhlak kepada Rasulullah Saw ?
  3. Tujuan

Dari rumusan masalah di atas, tujuan pembuatan makalah ini adalah:

  1. Menjelaskan mengapa kita wajib mencintai dan taat kepada Rasulullah Saw.
  2. Menjelaskan bagaimana cara berakhlak kepada rasulullah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

“Akhlak Kepada Rasulullah”

Allah berfirman :

لَقَدْ جَاءَ كُمْ رَسُولٌ مِّنْ أُنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَاعَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِاُ لْمُؤْمِنِيْنَ رَءُ وْفٌ رَّحِيْمٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat rasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang – orang yang beriman.” (Q.S. at-taubah : 128)

Iman kepada para nabi merupakan salah satu butir dalam rukun iman. Sebagai umat islam, tentu kita wajib beriman kepada Rasulullah saw. beserta risalah yang dibawanya. Untuk memupuk keimanan ini, kita perlu mengetahui dan mempelajari sejarah hidup beliau, sehingga dari situ kita dapat memetik banyak pelajaran dan hikmah.

Ditinjau dari silsilah keturunannya, nama lengkap Rasulullah adalah Abu Qasim Muhammad bin ‘abdillah bin ‘abdil Muthathalib bin Khasyim bin Abdi Manaf bin Qushayy bin Khilab bin Murrah bin Ka’ bin Lu-ayy bin Ghalib bin fihhr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas binMudhar bin Nizar bin Ma’add bin ‘adnan, dan Adnan adalah salah satu keturunan Nabi Allah Isma’il bin Ibrahim al-Khalil. [1]

Beliau adalah penutup para nabi dan rasul, serta utusan Allah kepada seluruh umat manusia. Beliau adalah hamba yang tidak boleh disembah, dan rasul yang tidak boleh didustakan. Beliau adalah sebaik-baik makhluk, makhluk paling mulia dihadapan Allah, derajatnya paling tinggi, dan kedudukannya paling dekat oleh Allah.

Beliau diutus kepada manusia dan jin dengan membawa kebenaran dan petunjuk, yang diutus oleh Allah sebagi rahmad bagi alam semesta.

 

Sebagaimana firman Allah :

وَمَآ أَرْسَلْنَكَ أِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعَلَمِيْنَ

“Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmad bagi seluruh alam” (Q.S. Al-Anbiyaa’ : 107). [2]

Allah menurunkan kitab-Nya kepadanya mengamanahkan kepadanya atas agama-Nya, dan menugaskannya untuk menyampaikan risalah-Nya. Allah telah melindunginya dari kesalahan dalam menyampaikan risalah itu. Allah ta’ala mendukung nabi-Nya dengan mukzizat-mukzizat yang nyata dan ayat-ayat yang jelas, memperbanyak makan untuk beliau, memperbanyak air. Dan beliau mengabarkan sebagian perkara ghaib.

  1. KEWAJIBAN MENCINTAI RASULULLAH

Mencintai Rasulullah adalah wajib dan termasuk bagian dari iman, semua orang islam mengimani bahwa Rasulullah adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Makna mengimani ajaran Rasulullah Saw adalah menjalankan ajarannya, menaati perintahnya dan berhukum dengan ketetapannya.

Ahlus sunah mencintai Rasulullah Saw dan mengagungkannya sebagaimana para sahabat beliau mencintai beliau lebih dari kecintai mereka kepada diri mereka sendiri dan keluarga mereka, sebagaimana sabda Rasulullah :

لايؤمن أحدكم حتّى اكون أحبّ اليه من نفسه ووالِده وولَده والنّاس أجمعين.

Artinya: Tidak beriman salah seorang diantaramu, sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya dan manusia semuanya. (H.R. Bukhari Muslim).[3]

Sebagaimana yang terdapat dalam kisah “Umah bin Khaththab r.a., yaiu sebuah hadis dari sahabat ‘Abdullah bin Hisyam r.a, ia berkata ’ :

“kami mengiringi Nabi dan beliau menggandeng tangan ‘Umar bin Khaththab r.a,’ kemudian Umar berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat kucintai melebihi apapun selain diriku”, maka Rasulullah menjawab “tidak, demi yang jiwa ku berada ditangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu”, lalu Umar berkata “Sungguh sekaranglah saatnya, demiAllah engkau sangat kucintai melebihi diriku” maka Rasulullah berkata : “sekarang engkau benar wahai Umar”. (H.R. Al-Bukhori).[4]

Allah swt berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِى يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Katakanlah (Muhammad): “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 3:31).[5]

 

Berdasarkan hadis-hadis diatas, maka mencintai Rasulullah adalah wajib dan harus didahulukan daripada kecintaan kepada segala sesuatu selain kecintaannya kepada Allah, sebab mencintai Rasulullah adalah mengikuti sekaligus keharusan dalam mencintai Allah. Mencintai Rasulullah adalah kecintaan karena Allah, ia akan bertambah seiring dengan kecintaannya kepada Allah.

 

  1. TAAT

Kita wajib menaati nabi Muhammad Saw dengan menjalankan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Hal ini merupakan konsekuensi dari syahadat (kesaksian) bahwa beliau adalah rasul (utusan Allah). Dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah memerintahkan kita untuk menaati nabi Muhammad Saw. diantaranya ada yang diiringi dengan perintah taat kepada Allah sebagaimana firman-Nya :

يَـأيُّهَا اْلَذِيْنَ ءَامَنُواْ أَطِيْعُواْ اللَّهُ وَأَطِيْعُواْ الرَّسُولُ…

“Wahai orang-orang yang beriman ‘taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad)’…..” (Q.S. Annisa : 59).

Allah SWT menyeru hamba-hamba-Nya yg beriman dengan seruan “Hai orang-orang yg beriman” sebagai suatu pemuliaan bagi mereka karena merekalah yg siap menerima perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Dengan seruan iman merekapun menjadi semakin siap menyambut tiap seruan Allah SWT. Kewajiban taat kepada Allah dan kepada Rasul-Nya adalah dengan melaksanakan perintah-perintah -Nya serta larangan-larangan -Nya.

Kaum muslimin harus taat kepada Ulil Amri apabila dalam memerintah mereka menyeru kepada yg ma’ruf dan mencegah yg munkar. Akan tetapi jika mereka menyuruh kepada hal-hal yg dapat melalaikan kewajiban untuk taat kepada Allah SWT atau bahkan menyuruh perbuatan yang melanggar aturan Allah SWT maka tiap kita kaum muslimin tidak boleh menaatinya. Rasulullah SAW telah bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yg ma’ruf dan tidak ada ketaatan terhadap makhluk dalam maksiat terhadap sang Khaliq.

Jika terjadi perbedaan pendapat di antara kaum muslimin atau antara mereka dengan Ulil Amri atau sesama Ulil Amri maka wajib baginya mengembalikan persoalan itu kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yaitu dengan merujuk kepada kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.[6]

Jika benar-benar beriman seseorang hanya akan kembali kepada kitabullah dan unnah Rasul-Nya dalam menyelesaikan segala perkara dan tidak akan berhukum kepada selain keduanya. Jika tidak maka iman seseorang dapat diragukan dari ketulusannya.
Jika seseorang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir ia akan taat kepada Allah dan Rasul-Nya karena ia mengimani benar bahwa Allah SWT sesungguhnya Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang nampak maupun yang tersembunyi

Terkadang pula Allah mengancam orang yang mendurhakai Rasulullah, sebagaimana firman-Nya :

…فَلْيَحْذَرِالَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ،أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْيُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ

“… Maka hendaklah orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Q.S. An-Nur : 63).[7]

Artinya hendaknya mereka takut jika hatinya ditimpa fitnah kekufuran, nifaq, bid’ah, atau siksa pedih didunia. Allah telah menjadikan ketaatan dan mengikuti Rasulullah sebagai sebab hamba mendapatkan kecintaan Allah dan amounan atas dosa-dosanya, sebagai petunjuk dan mendurhakainya sebagai suatu kesesatan.

Allah mengebarkanbahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi segenap umatnya. Allah berfirman :

لَّقَدْكَانَ لَكُمْ فِى رَسُوْلِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْكَانَ يَرْجُوْاْ اللَّهَ وَالْيَوْمَ الأَخِرَوَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيْرًا

“Sungguh, telah ada pada diri rasulullah itu suri teladan yang baik untuk mu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmad) Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah ” (Q.S. Al-Ahzaab : 21).

Al-Hafizh Ibnu Katsir r.a. berkata : “ayat yang mulia ini adalah pokok yang agung tentang meneladani rasulullah Saw dalam berbagai perkataan, perbuatan dan perilakunya.” Untuk itu, Allah Swt memerintahkan manusia untuk meneladani sifat sabar, keteguhan, kepahlawanan, perjuangan dan kesabaran nabi dalam menanti pertolongan dari Rabb nya ketika perang ahzab. Semoga Allah senantiasa mencurahkan salawat kepada beliau hingga hari kiamat.[8]

Kunci kemuliaan seorang mukmin terletak pada ketaatannya kepada Allah dan rasul-Nya, karena itu para sahabat ingin menjaga citra kemuliaannya dengan mencontohkan kepada kita ketaatan yang luar biasa kepada apa yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada Rasul sama kedudukannya dengan taat kepada Allah, karena itu bila manusia tidak mau taat kepada Allah dan Rasul- Nya, maka Rasulullah tidak akan pernah memberikan jaminan pemeliharaan dari azab dan siksa Allah swt, di dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:

 

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا

Barang siapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka (QS 4:80).

Di dalam ayat lain, Allah swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu”. (QS 47:33).[9]

 

Manakala seorang muslim telah mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh kenikmatan sebagaimana yang telah diberikan kepada para Nabi, orang yang jujur, orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh, bahkan mereka adalah sebaik-baik teman yang harus kita miliki, Allah swt berfirman:

 

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً ﴿ألنسا ٦٩﴾

 

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya) mereka itu akan bersama- sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, orang yang mati syahid dan orang yang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS 4:69).

Oleh karena itu, ketaatan kepada Rasulullah saw juga menjadi salah satu kunci untuk bisa masuk ke dalam surga. Adapun orang yang tidak mau mengikuti Rasul dengan apa yang dibawanya, yakni ajaran Islam dianggap sebagai orang yang tidak beriman.

 

  1. MENGHIDUPKAN SUNNAH

Bagi seorang muslim, mengikuti sunah atau tidak bukan merupakan suatu pilihan, tetapi kewajiban. Sebab, mengenalkan ajaran Islam sesuai denagn ketentuan Allah dan Rasul-Nya adalah kewajiban yang harus diaati. Mengenai kewajiban mengikuti Nabi dan menaati sunnahnya serta mengikuti petunjuknya, Allah berfirman :

 

…وَمَآءَائَـىكُمُ الرَّسُلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَكُمْ عَنْهُ فَاْنَتَهثوْاْ،وَاتَّقُواْ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيْدُ العِقَابِ

“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah.dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukum-Nya.” (Q.S. al-Hasyr : 7).[10]

 

Kemudian, Allah berfirman yang artinya :

“Berimanlah kamu sekalian kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi, yang beriman kepada Allah dan semua firman-firman-Nya. Hendaklah kamu mengikutinya, niscaya kamu akan mendapatkan petunjuk”. (7 : 157).

Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda : “Al-Qur’an adalah berat dan sulit bagi orang-orang yang membencinya. Barangsiapa yang berpegang teguh dengan apa yang aku katakan, memahami dan menguasaianya, maka ia akan mendapatkan bahwa perkataanku adalah sama dengan al-qur’an. Barangsiapa meremehkan dan mengabaikan al-qur’an serta perkataanku maka ia akan merugi didunia ini dan diakhirat nanti. Ummatku diperintahkan menuruti perkataanku dan perintahku dan mengikuti sunnahku. Barangsiapa rela terhadap perkataanku mestilah ia rela terhadap al-qur’an”.

Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : “Barangsiapa menghadirkan sunnahku kedalam kehidupan maka sunggu ia telah menghadirkanku kedalam hidupnya. Dan barangsiapa menghadirkan aku dalam hidupnya ia akan bersama ku dalam surga”.

Kemudian ‘Amr ibn ‘Awf al-Muzani berkata bahwa rasulullah mengakatakan bahwa Bilal ibn al-Harits : “ barang siapa meghidupkan kembali sunnahku setelah wafatku ia akan menerima pahala dari semua orang yang bertindak dengan sunnahku tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Barang siapa memperkenalkan bid’ah sehingga Allah dan Rasul-Nya tidak berkenan karenanya ia akan sama seperti mereka yang bertindak dengan beliau tanpa mengurangi sedikitpun hukuman mereka.”.[11]

Aku tinggalkan kepadamu dua pusaka, kamu tidak akan tersesat selamanya bila berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnahku (HR. Hakim).

Selain itu, Rasul Saw juga mengingatkan umatnya agar waspada terhadap bid’ah dengan segala bahayanya, beliau bersabda:

Sesungguhnya, siapa yang hidup sesudahku, akan terjadi banyak pertentangan. Oleh karena itu,. Kamu semua agar berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para penggantiku. Berpegang teguhlah kepada petunjuk-petunjuk tersebut dan waspadalah kamu kepada sesuatu yang baru, karena setiap yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu di neraka”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Hakim, Baihaki dan Tirmidzi).

Al-Hasan ibn al-Hasan meriwayat bahwa Rasulullah bersabda : “Mengerjakan perkara kecil yang tergolong sunnah adalah lebih baik daripada melakukan banyak hal yang tergolong bid’ah.”.

Al-‘Irbad Sarriya menyampaikan peringatan Rasulullah “Kamu haruslah mengikuti sunnahku dan sunnah khalifah-khalifah yang tertunjuki. Berpegang teguhlah kepada-Nya denga kuat dan berhati-hati terhadap hal-hal yang baru. Hal-hal baru ini adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. Jabir menambahkan “setiap kesesatan berada dalam neraka.”

Secara umum bid’ah adaah sesat karena berada diluar perintah Allah Swt dan Rasul-Nya, akan tetapi banyak hal yang membuktyikan, bahwa Nabi membenarkan banyak persoalan yang sebelumnya belum pernah beliau lakukan. Kemudian dapat disimpulkan bahwa semua bentuk amalan, baik itu dijalankan atau tidak pada masa Rasulullah, selama tiak melanggar syari’at dan mempunyai tujuan , niat mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan ridho-Nya, serta untuk mengingat Allah serta Rasul-Nya adalah sebagian dari agama dan itu dperbolehkan dan diterima.

Sebagaimana nabi bersabda :

“Sesungguhnya segala perbuatan tergantung pada niat dan setaiap manusia akan mendapat sekedar paa yang diniatkan, siapa yang hijrahnya (tujuannya) itu adalah karena Alah dan Rasul-Nya, hijrahnya (tujuan) itu adalah berhasil.” (H.R. Bukhari)

 

Banyak sekali orang yang memfonis bid’ah dengan berdalil pada sabda Rasulullah :

“setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”.

Juga hadis Rasulullah :

“barang siapa yang didalam agama kami mengadakan sesuatu yang tidak dari agama ia ditolak”.

Mereka tidak memperhatikan terlebih dahulu apakah yang baru diakukan itu membawa kebaikan dan yang dikehendaki oleh agama atau tidak. Jika ilmu agama sedangkal itu orang tidak perlu bersusah payah memperoleh kebaikan.

Ditambah lagi tuduhan golongan orang ingkar mengenai suatu amalan , adalah kata-kata sebagai berikut : Rasulullah tidak pernah memerintah dan mencontohkannya. Begitu pula para sahabat tidak ada satupun diatara mereka yang mengerjakannya. Dan jikalau perbuatan itu baik kenapa tidak dilakukan oleh Rasulullah, jika mereka tidak melakukan kenapa harus kita yang melakukannya. Bahkan dengan hal itu mereka menyebutkan bahwa hal baru seperti tahlilan atau berzikir bersama adalah bid’ah, dan itu adalah sesat.

Dimana harus kita fahami macam-macam sunnah, antara lain adalah :

  • Sunnah Qauliyyah : sunnah dimana Rasulullah saw sendiri menganjurkan atau menyarankan suatu amalan, tapi tidak ditemukan bahwa rasulullah tidak pernah mengerjakannya secara langsung. Jadi sunnah ini adalah sunnah rasulullah yang dalilnya sampai kepada kita bukan dengan cara dicontohkan, melainkan hanya diucapkan saja oleh beliau. Contohnya adalah hadis rasulullah yang menganjurkan orang untuk belajar berenang, tetapi kita belum pernah mendengar rasulullah atau para sahabat belajar berenang.
  • Sunnah Fi’liyah : sunah yan ada dalilnya dan pernah dilakukan langsung oleh Rasulullah. Misalkan sunnah puasa senin kamis, makan dengan tangan kanan, dan lain-lain.
  • sunnahTaqriyyah : sunah dimana Rasulullah tidak pernah melakukan secara langsung dan tidak pula pernah memerintahkannya. Melainkan hanya mendiamkannya saja. Contohnya adalah beberapa amalan para sahabat yang saat dilakukan rasulullah mendiamkannya saja.[12]
  • Begitu juga dengan amalan ibadah yang belum pernah dilakukan nabi dan para sahabat juga tidak pernah disampaikan dan tidak pula didiamkan oleh beliau, yaitu yang dilakukan oleh para ulama. Misalkan mengadakan majlis maulidin Nabi Saw dan yasinan. Tidak lain para ulama yang melakukan ini adalah mengambil dalil-dalil dari kitabullah yang menganjurkan agar manusia selalu berbuat kebaikan atau dalil tentang pahala bacaan dan amal ibadah. Dan berbuat kebaikan ini banyak caranya asalkan tidak bertentangan dengan islam.

 

 

 

 

Mari kita rujuk ayat al-qur’an berikut :

 

…وَمَآءَائَـىكُمُ الرَّسُلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَكُمْ عَنْهُ فَاْنَتَهثوْاْ،وَاتَّقُواْ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيْدُ العِقَابِ

“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah.dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukum-Nya.” (Q.S. al-Hasyr : 7). [13]

Dalam ayat ini jelas bahwa perintah untuk tidak melakukan segala sesuatu jika telah tegas dan jelas larangannya.

Dan dalam hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh bukhari :

“Jika aku menyuruhmu melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampumu dan jika aku melarangmu melakukan sesuatu, maka jauhilah.”.

Maka para ulama mengambil kesimpulan bahwa bid’ah yang dianggap sesat adalah menghalalkan sebagian dari agama yang tidak diizinkan oleh Allah. Serta bertentangan dengan yang telah disyari’atkan oleh islam. Contoh bid’ah sesat yang mudah adalah sengaja shalat tidak menhadap kiblat, mengerjakan shalat dengan satu sujud, atau yang lebih banyak terjadi adalah bagi masyarakat keraton yaitu mendo’akan orang yang telah meninggal dengan sesaji serta memohon kepada Allah dan berdzikir menggunakan sesaji. Itulah yang dianggap sesat karna sesaji tidak ada dalam islam dan itu menyimpang dari stari’at islam.

Dengan demikian, menghidupkan sunnah Rasul menjadi sesuatu yang amat penting sehingga begitu ditekankan oleh Rasulullah Saw.

Contoh-contoh sunnah Rasulullah adalah :

  • Istigfar setiap waktu
  • Menjaga wudhu
  • Bersedekah
  • Shalat dhuha
  • Puasa Muharram dan shalat tahajud :

Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata : “ Rasulullah Saw bersabda :

 

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ المُحَرَّمُ وَأَضَلُ الصَّلاَ ةِ بَعْدَالفَرِيْضَة صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Seutama-utama puasa sesudah Ramadhan adalah puasa dibulan Muharram dan seutama-utama shalat sesudah shalat fardu ialah shalat malam.” ( H.R. Muslim no.1163).[14]

 

  1. MEMBACA SHALAWAT DAN SALAM.

Diantara hak Nabi Saw yang disyariatkan Allah atas umatnya adalah agar mereka mengucapkan shalawat dan salam untuk beliau. Allah Swt dan para malaikat-Nya telah bershalawat kepada beliau dan Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya agar mengucapkan shalawat dan taslim kepada beliau.

Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلئِكَتَهُ, يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ, يـآيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُواْصَلُّواْعَلَيْهِ وَسَلِّمُواْتَسْلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi Saw. ‘Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.’” (Q.S. Al-Ahzab : 56).

Al-Mubarrad berpendapat bahwa akar kata bershalawat berarti memohonkan rahmad dengan demikian shalawat berarti rahmad dari Allah sedang shalawat malaikat berarti pengagungan dan permohonan rahmad Allah untuknya.[15]

Jika bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw hendaklah seseorang menghimpunnya dengan salam untuk beliau. Karena itu, hendaklah tidak membatasi dengan salah satunya saja. Misalnya dengan mengucapkan “Shallallaahu ‘alaih (semoga shalawat dilimpahkan untuknya).” Atau hanya mengucapkan ‘alaihissalam (semoga dilimpahkan untuknya keselamatan)”. Jadi digabung : “washshalaatu wassalaamu ‘ala Rasulillah, atau Allahumma shalli wa sallim ‘ala Nabiyyina Muhammad, atau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”. hal itu karena Allah memerintahkan untuk mengucapkan keduanya.

Mengucapkan shalawat untuk Nabi Saw, diperintakan oleh syari’at pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib dan sunnah muakaddah. Diantara waktu itu adalah ketika shalat diakhir tassyahud, diakhir qunud, saat khutbah seperti khutbah jum’at dan khutbah hari raya, setelah menjawab mu’adzin, ketika berdo’a, ketika masuk dan keluar masjid, jugaketika menyebut nama beliau.

Rasulullah Saw telah mengajarkan kepada kaum muslimin tentang tata cara mengucapkan shalawat. Rasulullah menyarankan agar memperbanyak shalawat kepadanya pada harijum’at, sebangaimana sabdanya :

 

أَكْثِيْرُ الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهِ عَشْرًا

“Perbanyaklah kalian membaca shalawat untukku pada hari dan malam jum’at, barang siapa yang bershalawat untukku sekali, niscaya Allah bershalawat untuknya 10 kali.”

 

Kemudian ibnul qayyim menyebutkan beberapa manfaat dari membaca shalawat kepada Nabi, diantaranya adalah :

  • Shalawat merupakan bentuk ketaatan kepada perintah Allah
  • Mendapatkan 10 kali shalawat dari Allah bai yang bershalawat sekali untuk beliau
  • Diharapkan dikabulkannya do’a apabila didahului dengan shalawat
  • Shalawat merupakan sebab mendapatkan syafaat dari Nabi, diiringi permohonan kepada Allah agar memberikan wasilah (kedudukan yang tinggi) kepada beliau pada hari kiamat
  • Sebab diampuninya dosa-dosa
  • Shalawat adalah sebab sehingga nabi menjawab orang yang mengucapkan shalawt dan salam kepadanya.

Para ulama ahlus sunnah telah banyak meriwayatkan lafadz-lafadz shalawat yang shahih, sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya, diantaranya :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَهِيْنمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِبدٌ مَجِيْدٌ

“Ya, Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad , sebagaimana engkau telah memberikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah berikanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”[16]

 

  1. MENCINTAI KELUARGA NABI

Mengikuti kerabat rasulullah Saw yang mulia dan berlepas diri dari musuh mereka, adalah masalah penting yang telah diwajibkan oleh islam dan telah dianggapnya sebagai bagian dari cabang agama. Rasulullah menggambarkan ahlil baitnya sebagai suatu benda yang berat dan berharga, sebanding dengan al-qur’an dan benda berharga lainnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia sesungguhnya aku tinggalkan dua perkara yang besar untuk kalian, yang pertama adalah Kitabullah(Al-Quran) dan yang kedua adalah Ithrati(Keturunan) Ahlul baitku. Barang siapa yang berpegang teguh kepada keduanya, maka tidak akan tersesat selamanya hingga bertemu denganku ditelaga al-Haudh.” (HR. Muslim dalam Kitabnya Sahih juz.2, Tirmidzi).[17]

Nabi Saw bersabda :

Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Sesungguhnya Nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham, sesungguhnya Nabi hanya mewariskan ilmu kepada mereka, maka barangsiapa yang telah mendapatkannya, berarti telah mengambil bagian yang besar”. (HR. Abu daud dan Tirmidzi)

Karena ulama disebut sebagai pewaris Nabi, maka orang yang disebut ulama seharusnya tidak hanya memahami tentang beluk beluk agama Islam, tapi juga memiliki sikap dan kepribadian sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi dan ulama seperti inilah yang harus kita hormati. Adapun orang yang dianggap ulama karena pengetahuan agamanya yang luas, tapi tidak mencerminkan pribadi Nabi, maka orang seperti itu bukanlah ulama yang sesungguhnya dan berarti tidak ada kewajiban bagi kita untuk menghormatinya.

Rasulullah menyebut keluarga sucinya sebagai jalan kebebasan, pintu keselamatan, dan cahaya petunjuk. Rasulullah juga mewajibkan kita untuk mencintai dan menaati mereka.

Dari abi dzarr ia berkata, ‘saya mendengar Rasulullah Saw bersabda’: “Jadikanlah ahlul baitku bagimu tidak ubahnya seperti kepala bagi tubuh dan tidak ubahnya dua mata bagi kepala. Karena sesungguhnya tubuh tidak akan memperoleh petunjuk kecuali dengan kepala, dan begitu juga kepala tidak akan memperoleh petunjuk kecuali dengan kedua mata.”.

Kecintaan kepada kerabat Rasulullah Saw yang di istilahkan sebagai ahlul bait manfaatnya kembali kepada orang yang melakukannya. Rasulullah mengatakan bahwa kecintaan ini merupakan upah dari Allah Swt atas risalah yang disampaikannya. Sebagaimana firman Allah, “katakanlah, Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah apapun atas seruanku, kecintaan kepada keluargaku” (Q.S. Asy-syura : 23).

Kecintaan yang disebutkan disini bukanlah kecintaan biasa, melainkan kecintaan yang mendorong manusia kepada maqam kedekatan ilahi, dan mampu memasuki pintu kebahagiaan abadi.[18]

Mengenai ruang lingkup ahli bait ini, para ulama masih berbeda penafsiran. Antara lain adalah :

  1. Menurut ahlus sunnah, cakupan ahli bait sangat luas dan beragam, mulai dari Ali, Hasan, Husein dan keturunannya, istri-istri Nabi saw., keluarga ja’far dan keluarga Abbas, serta bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim. Kepada a-‘Abbas Nabi bersabda: “Demi Allah yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya, keyakinan tidak akan munculah didalamhati seseorang sampai dia mencintai Allah dan Rasulullah. Barang siapa mencelakai paman saya ini berarti mencelakai saya. Seorang paman adalah seperti ayah sendiri”

Nabi juga berkata kepada al-‘abbas : “Berkanlah makanan kepada Ali dengan makanan yang engkau berikan kepada anak-anakmu, wahai pamanku.”. kemudian nabi mengumpulkan mereka dan menyelimuti mereka dengan jubahnya, sambil berkata, “Ini adalahpamanku dan layaknya ayahku dan mereka adalah Ahlul Baitku, jadi lindngilah mereka dari api neraka seperti saya menyelimuti mereka” Pintu dan dinding menjawab, Amin ! Amin !”.

Nabi sering menggandeng tangan Usamah ibn Zayd dan al-Hasan dan berkata : “cintailah mereka ya Allah, sebagaimana saya mencintai mereka”.

Abu bakar berkata : “Hormatilah nabi muhammad dengan menghormati Ahlul Baitnya”, ia juga berkata : “Demi Allah jiwaku dalam kekuasaan-Nya, kerabat terdekat Rasulullah lebih aku sayangi daripada kerabat dekatku sendiri.”

Rasul bersabda : “Allah mencintai siapa yang mencintai Hasan”.

Nabi juga bersabda : “Barang siapa mencintai dua orang tersebut dan ayah serta ibu mereka akan bersamaku pada hari kebangkitan”.

Rasulullah bersabda : “barang siapa merendahkan quraysh Allah akan merendahkan mereka”.

Rasulullah bersabda : “Cintailah kaum Quraysh dan janglah mendahului mereka”.

Kepada Ummu Salamah Nabi bersabda : “Janganlah melukaiku denagn menyakiti Aisyah”.[19]

  1. Sedangkan bagi kalangan Syiah, istilah ahli bait lebih sempit lagi. Yaitu berkisar kepada 12 imam : Ali, Hasan, Husein dan 9 keturunan Husain.
  2. Menurut Asy-Syeikh DR, Muhammad Abduh Al-Yamani menyimpulkan bahwa keluarga nabi saw., terdiri dari Fatimah, Ali, Hasan, Husain dan para keturunannya. Sedangkan istri Rasulullah juga termasuk keluarga Nabi Saw berdasarkan keumuman ayat Al-Qur’an serta konteks hadist.
  3. Dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari zaid bin Arqam r.a. disimpulkan bahwa diantara mereka yang termasuk ahli bait adalah anggota keluarga beliau ayng diharamkan menerima sadaqah yaitu keluarga Ali, keluarga Uqoil, keluarga Ja’far, keluarga Abbas. Sesungguhnya istri-istri beliau juga termasuk dalam anggota ahlul bait.
  4. Adapun istri-istri Rasulullah Saw dalam pendapat yang Raajih (benar) maka sesungguhnya mereka masuk kepada keluarga nabi. Sebagaimana firman Allah yang memerintahkan tentang berhijab kepada istri-istri Nabi, “Sesungguhnya Allah berkehendak untuk menghilangkan kekejian dari kalian Ahlul bait (keluarga Rasulullah Saw) dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.” (Q.S)
  5. Dalam kitab: ‘Alimu Awladakum Mahabbata Ahli Baitin Nabiy dijelaskan bahwa yang tergolong ahlul-bait adalah Sayyidatuna Fathimah, Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan dan Sayyinina Husain radhiyallahu ‘anhum.

Begitu pula istri-istri Nabi merupakan keluarga Nabi berdasarkan ke umuman ayat Al-Qur’an, serta manthuq (arti tersurat) hadits yang menerangkan tentang anjuran membaca shalawat kepada Nabi, istri dan keluarga beliau.

Yakni firman Allah SWT “Nabi itu lebih utama bagi orang mukmin daripada diri mereka sendiri. Dan Istri-istri Nabi adalah ibu mereka.” (QS. al-Ahzab: 6)[20]

Sedangkan sahabat Nabi adalah orang yang pernah bertemu Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup walaupun sebentar, dalam keadaan beriman dan mati dengan tetap membawa iman.

Dalam keyakinan kita Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), mencintai keluarga dan sahabat Nabi SAW, sekaligus memberikan penghormatan khusus kepada mereka merupakan suatu keharusan. Ada beberapa alasan yang mendasari hal tersebut.

Pertama, mereka adalah generasi terbaik Islam, menjadi saksi mata dan pelaku perjuangan Islam. Bersama Rasulullah SAW menegakkan agama Allah SWT di muka bumi. Mengorbankan harta bahkan nyawa untuk kejayaan Islam. Allah SWT meridhai mereka serta menjanjikan kebahagiaan di surga yang kekal dan abadi Firman Allah SWT yang artinya:

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kemu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta??atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilanghkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS al-Ahzab: 33)

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah : 100)

Kedua, Rasulullah SAW sangat mencintai keluarga dan sahabatnya. Dalam banyak kesempatan, Rasulullah selalu memuji para keluarga dan sahabatnya, melarang umatnya untuk menghina mereka.

“Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabat, janganlah kalian mencaci sahabatku! Demi Dzat Yang Menguasaiku, andaikata salah satu diantara kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, maka (pahala nafkah itu) tidak akan menyamai (pahala) satu mud atau setengahnya dari (nafkah) mereka.” (HR Muslim).[21]

Dari sinilah, mencintai keluarga dan sahabat Nabi adalah mengikuti teladan Rasulullah SAW yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mencintai Nabi SAW.Ketiga, tuntunan dan teladan ini juga diberikan oleh keluarga dan sahabat Rasul sendiri. Di antara mereka terdapat rasa cinta yang mendalam, antara satu dengan lainnya saling menghargai dan menghormati.

 

  1. BERZIARAH KEMAKAM RASULULLAH

Berkunjung kemakam Rasulullah merupakan amalan sunnah, yakni amalan yang sangat mulia dan sangat dianjurkan. Ibn Umar mengatakan bahwa Nabi Muhammad bersabda yang arinya : “Barang siapa berziarah kemakamku, maka ia dijamin akan mendapat syafaatku.” [22]

Saat melaksanakan haji merupakan kesempatan emas bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah sebanyak-banyaknya. Beribadah di Haramain (Makkah dan Madinah) mempunyai keutaman yang lebih dari tempat-tempat lainnya. Maka para jamaah haji menyempatkan diri berziarah ke makah Rasulullah SAW.Berziarah ke makam Rasulullah SAW adalah sunnah hukumnya.

Dari Ibn ‘Umar RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang melaksanakan ibadah haji, lalu berziarah ke makamku setelah aku meninggal dunia, maka ia seperti orang yang berziarah kepadaku ketika aku masih hidup.” (HR Darul Quthni)

Atas dasar ini, pengarang kitab I’anatut Thalibin menyatakan: ”Berziarah ke makam Nabi Muhammad merupakan salah satu qurbah (ibadah) yang paling mulia, karena itu, sudah selayaknya untuk diperhatikan oleh seluruh umat Islam”.

Dan hendaklah waspada, jangan sampai tidak berziarah padahal dia telah diberi kemampuan oleh Allah SWT, lebih-Iebih bagi mereka yang telah melaksanakan ibadah haji. Karena hak Nabi Muhammad SAW yang harus diberikan oleh umatnya sangat besar.

Bahkan jika salah seorang di antara mereka datang dengan kepala dijadikan kaki dari ujung bumi yang terjauh hanya untuk berziarah ke Rasullullah SAW maka itu tidak akan cukup untuk memenuhi hak yang harus diterima oleh Nabi SAW dari umatnya.

Mudah-mudahan Allah SWT membalas kebaikan Rasullullah SAW kepada kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.

Lalu, bagaimana dengan kekhawatiran Rasulullah SAW yang melarang umat Islam menjadikan makam beliau sebagai tempat berpesta, atau sebagai berhala yang disembah.. Yakni dalam hadits Rasulullah SAW:

Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kamu jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, dan janganlah kamu jadikan rumahmu sebagai kuburan. Maka bacalah shalawat kepadaku. Karena shalawat yang kamu baca akan sampai kepadaku di mana saja kamu berada. (Musnad Ahmad bin Hanbal: 8449)

Menjawab kekhawatiran Nabi SAW ini, Sayyid Muhammad bin Alawi Maliki al-Hasani menukil dari beberapa ulama, lalu berkomentar : “Sebagian ulama ada yang memahami bahwa yang dimaksud (oleh hadits itu adalah) larangan untuk berbuat tidak sopan ketika berziarah ke makam Rasulullah SAW yakni dengan memainkan alat musik atau permainan lainnya, sebagaimana yang biasa dilakukan ketika ada perayaan. (Yang seharusnya dilakukan adalah) umat Islam berziarah ke makam Rasul hanya untuk menyampaikan salam kepada Rasul, berdo di sisinya, mengharap berkah melihat makam Rasul, mendoakan serta menjawab salam Rasulullah SAW.

(Itu semua dilakukan) dengan tetap menjaga sopan santun yang sesuai dengan maqam kenabiannya yang mulia. (Manhajus Salaf fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat-Tathbiq, 103)[23]

Maka, berziarah ke makam Rasulullah SAW tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan sangat dianjurkan karena akan mengingatkan kita akan jasa dan perjuangan Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi salah satu bukti mengguratnya kecintaan kita kepada beliau.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 2013. Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Bogor : Pustaka Imam As-syafi’i.

‘Iyad Qodi Ibn Musa Al Yahsubi. 2002. Keagungan Kekasih Allah ‘Muhammad Saw’. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Abdullah Thaha Al-‘afifi. 2007. Sifat dan Pribadi Muhammad Saw. Jakarta : Darul al-‘arabiyyah.

http://bobhasan.wordpress.com/2011/06/28/5-contoh-contoh-bidah-yang-diamalkan-sahabat/g.

http://pondok-Abdusshomad.wordpress/about-akhlak -kepada-rasul.

  1. Salamullah, Alaika. 2008. Akhlak Hubungan Vertikal. Yogyakarta : Pustaka Insan Madani.

Putra, semarang. Akhlak kepada Rasul. http://www.eramuslim.com/syariah/tsaqofah-islam/drs-h-ahmad-yani-ketua-lppd-khairu-ummah-akhlak-kepada-rasul.

http://www.google.com.id/m/search?q=hadis-sahih-tentang-puasa-muharram.

Mazhahiri Husain Syaikh. Mencintai Keluarga Rasulullah.http://buletinmitsal.wordpress.com/about/m/mencintai-keluarga-rasul.

 

 

 

 

 

[1]  Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 245.

[2] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 246.

[3] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 249.

[4] Qodi ‘Iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah, Muhammad Saw, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 375.

[5] M.alaika Salamullah, Akhlak Hubungan Vertikal, Pustaka Insan Madani, Yogyakarta, 2008, hm. 39.

[6] Putra, Semarang, Akhlak kepada Rasul. http://www.eramuslim.com/syariah/tsaqofah-islam/drs-h-ahmad-yani-ketua-lppd-khairu-ummah-akhlak-kepada-rasul. Tgl. 30 . 10 . 2014.

[7] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 261.

[8] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 262.

[9] KH Muhyiddin Abdusshomad, akhlak kepada Rasul, http://pondok-Abdusshomad.wordpress/about-akhlak -kepada-rasul. Tgl. 30. 10 . 2014.

[10] M.alaika Salamullah, Akhlak Hubungan Vertikal, Pustaka Insan Madani, Yogyakarta, 2008. hlm. 51-52.

[11] Qodi ‘Iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah, Muhammad Saw, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 366 – 368.

[12] Bob, Hasan. http://bobhasan.wordpress.com/2011/06/28/5-contoh-contoh-bidah-yang-diamalkan-sahabat/g. Tgl . 30 . 10. 2014

[13] M.alaika Salamullah, Akhlak Hubungan Vertikal, Pustaka Insan Madani, Yogyakarta, 2008, hm. 52

[14] http://www.google.com.id/m/search?q=hadis-sahih-tentang-puasa-muharram. Tgl. 30. 10 . 2014.

[15] Qodi ‘Iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah, Muhammad Saw, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 419.

[16] [16]  Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 264-266.

[17] M.alaika Salamullah, Akhlak Hubungan Vertikal, Pustaka Insan Madani, Yogyakarta, 2008, hm. 42-43.

[18] Mazhahiri Husain Syaikh. Mencintai Keluarga Rasulullah.http://buletinmitsal.wordpress.com/about/m/mencintai-keluarga-rasul. Tgl. 30. 10. 2014

[19] Qodi ‘Iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah, Muhammad Saw, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 406-407.

[20] Thaha Abdullah Al-‘Afifi, sifat dan pribadi Muhammad, Darul Afaq al-Arabiyyah, Jakarta, 2007. Hlm : 8.

[21] Mazhahiri Husain Syaikh. Mencintai Keluarga Rasulullah.http://buletinmitsal.wordpress.com/about/m/mencintai-keluarga-rasul. Tgl. 30. 10. 2014

[22] Qodi ‘Iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah, Muhammad Saw, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 453.

[23] KH Muhyiddin Abdusshomad, akhlak kepada Rasul, http://pondok-Abdusshomad.wordpress/about-akhlak -kepada-rasul. Tgl. 30. 10 . 2014.

 

6

  1. Akhlak Kepada Allah SWT

Kata akhlak berasal dari kata bahasa arab, yaitu “khuluq” yang artinya budi pekerti, perangai tingkah laku atau tabiat, dan dapat kita ketahui bahwa akhlak sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam pada jiwanya. Sedangkan menurut istilah, akhlak ialah daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah dan tanpa berpikir dan di renungi lagi.[1][1]

Dengan demikian akhlak pada hakikatnya adalah sikap yang melekat pada diri manusia, sehingga manusia dapat melakukan tanpa berpikir, akhlak dikenal juga dengan istilah moral dan etika. Moral yang berati adat atau kebiasaan, moral selalu dikaitkan dengan ajaran baik dan buruk di terima umum atau masyrakat, karena adat istiadat dalam satu masyarakat merupakan standar menentukan baik dan buruknya.

Sedangkan akhlak kepada Allah dapat di artikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebgai makhluknya. Sehingga akhlak kepada allah dapat di artikan segala sikap atau pebuatan manusia yang di lakukan tanpa berfikir lagi yang memang ada pada diri manusia sebagai mamba Allah SWT.

 

  1. Do’a

Menurut bahasa “ad-du’aa” artinya memanggil, meminta tolong, atau memohon sesuatu. Sedangkan doa menurut pengertian syariat adalah memohon sesuatu atau memohon perlindungan kepada Allah SWT dengan merendahkan diri dan tunduk kepadaNya. Doa merupakan bagian dari ibadah dan boleh dilakukan setiap waktu dan setiap tempat, karena Allah SWT selalu bersama hamba-hambaNya.

Do’a dalam pengertian adalah pendekatan diri kepada Allah SWT dengan sepenuh hati[2][3], dan rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah menegaskan keistemewaan do’a di sisi Allah SWT adalah melebihi segala keistimewaan yang ada, dalam hal ini rasulullah bersabda: tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi allah di banding dengan do’a (hr. tarmizi, nasai,abu dawud). Do’a adalah bentuk pengagungan terhadap allah dengan di sertai keikhlasan hati serta permohonan petolongan disertai kejernihan nurani agar selamat dari segala. selamat dari segala musibah serta meraih keselamatan abadi. Doa berarti memohon atau meminta sesuatu yang baik kepada Allah SWT yang Maha Pemurah. Allah SWT menyuruh orang-orang Islam berdoa atau meminta sesuatu kepadaNya seperti firman Allah SWT Q.S Al-mu’min : 60.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

 

Etika dalam Berdo’a

Etika dalam do’a adalah bagian dari ibadah untuk mendapatkan kemakbulan dalam berdo’a.[3][4]

 

  1. Memulai Berdo’a dengan Membaca Basmalah

Berdoa hendaknya dimulai dengan membaca basmalah (karena malakukan perbuatan yang baik hendaknya dimulai dengan basmalah), hamdalah dan sholawat.

 

  1. Memilih Waktu

Seorang muslim dalam berdo’a hendaklah memilih waktu dan situasi yang baik sehingga do’anya dapat di kabulkan Allah SWT: seperti pada hari arafah, hari jumat, bulan ramdhan, malam lailatul-qadar,waktu sahur (menjelang shubuh), atau di tengah keheningan malam.

  • Hari harafah adalah hari dimana kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia berkumpul disuatu tempat, padang arafah , berkumpul untuk mendekatkan diri kepada allah dalam pelaksanaan ibadah haji.
  • Bulan ramadhan memiki keistimewaan untuk memprbanyak do’a dikarnakan pada bulan itu dibukakan pintu-pintu surga dibuka seleba-lebarrnya.
  • Hari jumat memiliki keistimewaan untuk memperbnyak do’a dikarnkan termasuk hari yang paling mulia dalam satu minggu.sebab di dalamnya terdapt waktu yang apabila seseorang memanjatkan pasti dikabulkan allah.
  • Malam lailatul-qadar memiliki keistimewaan untuk memperbnyak doa di karenakan termasuk malam yang palng di muliakan allah, beribadah di dalamnya lebih baik bribadah seribu bulan, Dalam hal ini rasulullah menegaskan: “Barang siapa melakukan ibadah pada malam qadar (lailatul qadar) di landasi iman dan keikhlasan hati, maka di ampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.
  • Waktu sahur (menjelang subuh) memiliki keistimewan untuk memperbanyak doa dikarnakan disaat itu hati seseorang sedang dalam keadaan tenang bersih lagi suci.
  • Pada waku sahur, allah menebarkan ampunan dan rahmat-nya kepada setiap manusia yang memanjatkan doa.

 

  1. Mengangkat Tangan dan Menghadap Kiblat

Seorang muslim ketika berdo’a hendaklah menghadap kiblat.sebab yang demikian adalah sunat. Disamping itu hendaklah mengangkat tangan ketika berdo’a, dan mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah ketika selesai brdo’a. Karna itu bagian dari sunnah rasul.

Do’a yang di panjatkan disertai mengangkat tangan mudah di kabulkan oleh Allah SWT, dalam hal ini Rasulullah menegaskan: “sesungguhnya tuhan mu hidup kekal lagi maha mulia, merasa malu terhadap hamba-nya yang mengangkat tangan tinggi-tinggi ketika berdo’a sehingga tidak ada lagi alasan untuk tidak mengabulkan permohonannya .”(HR A bu daud dan tirmidzi dari salaman AL-Fairisi).

 

  1. Dimulai dengan Memuji Allah SWT

Seoramg muslim ketika berdo’a hendaklah memulai do’anya dengan memuji keagungan Allah, bahwa pujian kepada Allah bershalawat kepada Nabi baik di tengah, di awal maupun di akhir do’a. Bahwa pujian kepadaAallah dengan menyebut asma-nya yang mulia (asmaul-husna) dan bacaan shalawat nabi ketika memulai suatu do’a merupakan etika dalam berdo’a. Sebuah do’a akan di kabulakan Allah bila disertai bacaan asmaul-husna dan shlawat nabi, dan para nabi meyakinin bahwa hal tersebut merupakan etika yang sngat tinggi di dalam berdo’a, sehingga mereka menjadikan pujian terhadap allah merupakan permulaan dari do’a.

 

  1. Khusyuk dalam Berdo’a

Ketika dalam berdo’a hendaklah menunjukkan siakap merendahkan diri dan kekhsyuk’an hati. Misalnya, dengan mengulang bacaan do’a hingga tiga kali, tidak tergesa-gesa , serta penuh keyakinan bahwa do’a yang panjatkan pasti di kabulkan oleh Allah SWT kepada setiap hambanya yang memanjatkan do’a dalam Al-Qur’an telah di tegaskan :

Artinya : ”berdo’a lah kepada tuhan mu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut .sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah allah memperbaikinya , dan berdo’alah kepadnya dengan rasa takut tidak di terima dan penuh harapan akan di kabulkan , sesungguhnya rahmat allah sngatlah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik .”(QS-A’raf:55-56).

 

  1. Dengan Suara Sederhana

Ketika memanjatkan do’a hendalah dengan volume suara yang sederhana, tidak tidak terlalu keras tidak pula terlalu pelan. Sebab orang yang berdo’a berarti sedang berdialog dan berhadapan langsung dengan Allah SWT, dan selayaknya bila dia merendahkan suara hingga hatinya lebih khusyuk dan merasa dekat dengan-Nya.

 

  1. Memilih Do’a Qur’ani dan Hadisi

Ketika berdo’a hendaklah kita memilih do’a-do’a yang telah di ajarkan Al-Qur’an maupun Al-Hadist, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’Ulumuddin menegaskan: yang terbaik bagi seseorang yang memanjatkan do’a adalah memilih do’a yang benar-benar telah diajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadist, sebab kemakbulannya sudah teruji, keberhasilannya dalam mendatangkan kemaslahatan bagi ummat.

 

  1. Tidak Menyimpang dari Syariat

Ketika berdo’a hendaklah jangan menyimpang dari garis ajaran syariat Islam, dan jangan berdo’a untuk kesengsaraan orang lain atau untuk kecelakaan diri sendiri. Sebab sudah kebiasaan bagi manusia, bila dilanda musibah yang berat kemudian putus asa dan berdo’a dengan do’a yang konyol, misalnya, meminta agar segera meninggal atau mendapatkan musibah yang lebih berat lagi dan apabila marah pada orang lain, kemudian mendo’akannya dengan do’a yang tidak baik.

 

  1. Taubat

Taubat adalah kembali dari kemaksiatan kepada ketaatan atau kembali dari jalan yang jauh dari allah ke jalan yang lebih dekat ke pada allah dan meninggalkan seluruh dosa dan kemaksiatan, menyesali perbuatan dosa yang telah lalu, dan berkeinginan teguh untuk tidak mengulngi lagi perbuatan dosa tersebut pada waktu yang kan datang[4][5]. Allah berfirman Q.S. Al-Tahrim 8:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Hukum taubat adalah wajib bagi setip muslim atau muslimah yang sudah mukallaf (balig dan berakal). Taubat baru dinggap sah dan dapat menghapus dosa apabila telah memenuhi syarat yang telah di tentukan. Bila dosa itu terhadap Allah SWT. Maka syarat taubatnya ada tiga macam, yaitu:

  1. Menyesal terhadap perbuatan maksiat yang telah diperbuat.
  2. Meninggalkan perbuatan maksiat itu.
  3. Bertekan dan berjanji dengan sungguh-sungguh tidak akan    mengulangi lagi perbuatan maksiat itu.

Namun bila dosa itu terhadap sesama manusia, maka syarat taubatnya ditambah dua lagi yaitu :

  1. Meminta maaf kepada orang yang di dzalimi dan dirugikan.
  2. Menganti kerugian setimbang dengan kerugian yang di alaminya akibat perbuatan zalim itu atau minta kerelaan.

Dosa terhadap sesama manusia akibat perbuatan zalim itu hendaknya disellesaikan di dunia ini juga. Karena kalau tidak., pelaku dosanya di alam akhirat termasuk orang yang merugi bahkan celaka. Apabila seorang telah terlanjur berbuat dosa, kemudian bertaubat dengan sebenar-benarnya, tentu ia akan memperoleh banyak hikmah dan manfaat. Tentu saja taubat yang dilakukan harus memenuhi syarat taubat seperti tersebut. Adapu hikmah daan manfaat yang diperoleh dari taubat itu antara lain: dosanya diampuni, memperolah rahmat Allah, dan bimbingan untuk masuk surga. Allah  SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga”.  (Q.S At-Tahrim, 66 : 8).

Perlu diketahui dan disadari oleh setiap orang yang telah terlanjur berbuat dosa, bahwa seorang yang telah membaca istigfar (mohon ampunan dosa kepada Allah), tetapi terus menerus berbuat dosa, maka ia akan dianggap telah mengolok-ngolok Tuhannya. Demikian juga seorang yang berbuat dosa dan baru bertaubat ketika “sakaratul maut” maka taubatnya tidak akan diterima Allah SWT.

Taubat yang di terima dan benar itu   mempunyai beberapa tanda :

  1. Agar setelah taubat ia menjadi lebih baik dari sebelumnya.
  2. Agar rasa takut itu terusmenyertainya, dan tidak pernah merasa aman dari siksa allah SWT.
  3. Hatinya merasa terlepas, dan hancur tercabik-cabik karena menyesal dan merasa takut,sesuai dengan besar kecilnya dosanya.
  4. Merasa remuk-redam tersensiri dalam hati, yang tidak diserupai oleh apa pun, seperti seorang hamba yang telah berbuat salah dan memberontak kepada tuhannya.

Sebab – sebab manusia harus bertaubat :

  1. Telah melakukan dosa kecil atau dosa besar.
  2. Supaya setiap amalan diterima oleh Allah dengan mudah.
  3. Supaya manusia tidak sombong dengan kekuasaan dan keagungan Allah.

Sebab Allah menerima taubat hambanya :

  1. Allah maha penyayang dengan mengampunkan dosa hambanya.
  2. Supaya hambanya bersih daripada dosa dan memperoleh balasan syurga di akhirat.
  3. Orang yang bertaubat akan berasa benci dengan dosa yang dilakukan.
  4. Supaya seseorang itu sentiasa melakukan kebaikan dan meninggalkan kejahatan.

Syarat – syarat taubat :

  1. Menyesal terhadap maksiat yang dilakukan.
  2. Berhenti melakukan maksiat dengan segera.
  3. Berazam tidak akan mengulangi lagi.
  4. Berterus terang memohon maaf jika berkaitan dengan hak orang lain.

Hikmah Taubat :

  1. Memberi peluang kepada orang yang berdosa kembali kejalan Allah.
  2. Memberi ketenangan hati kepada muslim yang bertaubat.
  3. Mendapat keampunan serta petunjuk Allah.
  4. Sebagai satu cara mendekatkan diri kepada Allah.
  5. Dzikir

Pengertian dzikir menurut bahasa berasal dari kata “dzakaro” yang artinya ingat [5][6]. Kata dzikir mengambil dari masdarnya dzikron, kemudian terkenal dengan istilah dzikir. Sedangkan dzikir menurut syara’  adalah ingat kepada Allah dengan etika tertentu yang sudah ditentukan dalam Al Qur’an dan Hadits dengan tujuan mensucikan hati dan mengagungkan Allah.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab : 41).

Allah sudah menunjukkan dasar pokok bahwa dzikir mampu menentramkan hati manusia. Hanya dengan dzikirlah hati akan menjadi tentram, sehingga tidak timbul nafsu yang jahat. Berdzikir dapat dilakukan dengan berbagai cara dan dalam keadaan bagaimamanapun, kecuali ditempat yang tidak sesuai dengan kesucian Allah. Seperti bertasbih dan bertahmid di WC.

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran : 191).

 

Dzikir Menurut Imam Nawawi Al BAntaniyu Penulis kitab Al Adzkar, menjelaskan dalam kitabnya bahwa dzikir bisa dilakukan dengan lisan dan hati. Tingkatan dzikir akan menjadi lebih sempurna jika melakukannya denga hati dan lisan. Jika harus memilih, mana yang lebih utama, menurutnya, harus dengan hati saja, namun akan lebih afdhol (utama) jika melakukannya dengan hati dan lisan sesuai dengan sunah Rosulullah.

Dzikir ialah menyebut allah dengan tasbih (subhanallah), membaca tahlil (la-ilaha illallahu), membaca tahmid (alhamdulillahi), baca tqdis (quddusun), membaca taqbir (allahu akbar), membaca hauqalah (la haula wala quata illa billahi), membaca hasbalah (hasbiyallahu), membaca basmalah (bismillahirrohmanirrohim)membaca Al-Qur’an dan membaca do’a-do’a yang di terima dari allah SAW.

 

  1. Bentuk dan Cara Berdzikir
  2. Dzikir dengan hati, yaitu dengan cara bertafakur, memikirkan ciptaan Allah sehingga timbul di dalam fikiran kita bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Semua yang ada di alam semesta ini pastilah ada yang menciptakan, yaitu Allah SWT. Dengan melakukan dzikir seperti ini, keimanan seseorang kepada Allah SWT akan bertambah.
  3. Dzikir dengan lisan (ucapan), yaitu dengan cara mengucapkan lafazh-lafazh yang di dalammya mengandung asma Allah yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada ummatnya. Contohnya adalah : mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, sholawat, membaca Al-Qur’an dan sebagainya.
  4. Dzikir dengan perbuatan, yaitu dengan cara melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Yang harus diingat ialah bahwa semua amalan harus dilandasi dengan niat. Niat melaksanakan amalan-amalan tersebut adalah untuk mendapatkan keridhoan Allah SWT. Dengan demikian menuntut ilmu, mencari nafkah, bersilaturahmi dan amalan-amalan lain yang diperintahkan agama termasuk dalam ruang lingkup dzikir dengan perbuatan.
  5. Manfaat Dzikirullah

Selalu ingat dan menyebut nama Allah setiap saat dan sepanjang waktu dikala berdiri, duduk dan berbaring merupakan gambaran nyata dari keimanan ,ketakwaan dan rasa tawakkal seseorang. Allah akan memperlihatkan menfaat nyata dari amalan dzikrullah seseorang dalam kehidupannya sehari hari hari antara lain :

  1. Mendapat ketenangan hati dan bebas dari perasaan jengkel, kecewa, sedih, duka, dendam dan stress berkepanjangan.
  2. Dikeluarkan Allah dari kegelapan (hidup yang penuh kesukaran, kesempitan,kepanikan, kekalutan ,kehinaaan dan serba kekurangan ) kepada cahaya yang terang benderang ( hidup bahagia,nyaman, aman, mulia, sejahtera dan berkecukupan).
  3. Terpelihara dan terhindar dari melakukan perbuatan keji dan mungkar.
  4. Terpelihara dari kelicikan dari tipu daya syetan yang menyesatkan.
  5. Selalu mendapat jalan keluar dari berbagai kesulitan yang datang menghadang dan mendapat rezeki dari tempat yang tidak pernah diduga, serta selalu dicukupkan semua kebutuhan hidupnya.

Untuk melaksanakan dzikir ada tata krama yang harus diperhatikan, yakni adab berdzikir. Semua bentuk ibadah bila tidak menggunakan tata krama atau adab, maka akan sedikit sekali faedahnya. Dalam kitab Al Mafakhir Al-’Aliyah fil Ma-atsir Asy-Syadzaliyah disebutkan pada pasal Adabuddz-Dzikr, sebagaiman dituturkan oleh Asy-Sya’roni bahwa adab berdzikir itu banyak tetapi dapat dikelompokkan menjadi 20 (dua puluh), yang terbagi menjadi tiga bagian; 5 (lima) adab dilakukan sebelum bedzikir, 12 (dua belas) adab dilakukan pada saat berdzikir,  2 (dua) adab dilakukan seelah selesai berdzikir.

Adapun 5 (lima ) adab yang harus diperhatikan sebelum berdzikir adalah :

  1. Taubat, yang hakekatnya adalah meninggalkan semua perkara yang tidak berfaedah bagi dirinya, baik yang berupa ucapan, perbuatan, atau keinginan.
  2. Mandi dan atau wudlu.
  3. Diam dan tenang. Hal ini dilakukan agar di dalam dzikir nanti dia dapat memperoleh shidq, artinya hatinya dapat terpusat pada bacaan Allah yang kemudian dibarengi dengan lisannya yang mengucapkan Lailaaha illallah.
  4. Menyaksikan dengan hatinya ketika sedang melaksanakan dzikir terhadap himmah syaikh atau guru mursyidnya.
  5. Meyakini bahwa dzikir thoriqoh yang didapat dari syaikhnya adalah dzikir yang didapat dari Rasulullah SAW, karena syaikhnya adalah naib (pengganti ) dari Beliau.

Sedangkan 12 (dua belas) adab yang harus diperhatikan pada saat melakukan dzikir adalah :

  1. Duduk di tempat yang suci seperti duduknya didalam shalat.
  2. Meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya.
  3. Mengharumkan tempatnya untuk berdzikir dengan bau wewangian, demikian pula dengan pakaian di badannya.
  4. Memakai pakaian yang halal dan suci.
  5. Memilih tempat yang gelap dan sepi jika memungkinkan.
  6. Memejamkan kedua mata, karena hal itu akan dapat menutup jalan indra dhohir, karena dengan tertutupnya indra dhohir akan menjadi penyebab terbukanya indra hati atau bathin.
  7. Membayangkan pribadi guru mursyidnya diantara kedua matanya. Dan ini menurut ulama thoriqoh merupakan adab yang sangat penting.
  8. Jujur dalam berdzikir. Artinya hendaknya seseorang yang berdzikir itu dapat memiliki perasaan yang sama, baik dalam keadaan sepi (sendiri) atau ramai (banyak orang).
  9. khlas, yaitu membersihkan amal dari segala ketercampuran. Dengan kejujuran serta keikhlasan seseorang yang berdzikir akan sampai derajat Ash-Shidiqiyah dengan syarat dia mau mengungkapkan segala yang terbesit di dalam hatinya (berupa kebaikan dan keburukan ) kepada syaikhnya.Jika dia tidak mau mengungkapkan hal itu, berarti dia berkhianat dan akan terhalang dari fath (keterbukaan bathiniyah).
  10. Memilih shighot dzikir bacaan La ilaaha illallah, karena bacaan ini memiliki keistimewaan yang tidak didapati pada bacaan-bacaan dzikir syar’i lainnya.
  11. Menghadirkan makna dzikir didalam hatinya.
  12. Mengosongkan hati dari segala apapun selain Allah dengan La ilaaha illallah, agar pengaruh kata “illallah” terhujam didalam hati dan menjalar ke seluruh anggota tubuh.

Dan 4 (Empat) adab setelah berdzikir adalah :

  1. Bersikap tenang ketika telah diam (dari dzikirnya), khusyu’ dan menghadirkan hatinya untuk menunggu waridudz-dzkir. Para ulama thoriqoh berkata bahwa bisa jadi waridudz-dzikr datang dan sejenak memakmurkan hati itu pengaruhnya lebih besar dari pada apa yang dihasilkan oleh riyadloh dan mujahadah tiga puluh tahun.
  2. Mengulang-ulang pernapasannya berkali-kali. Karena hal ini (menurut ulama thoriqoh) lebih cepat menyinarkan bashiroh, menyingkapkan hijab-hijab dan memutus bisikan-bisikan hawa nafsu dan syetan.
  3. Menahan minum air. Karena dzikir dapat menimbulkan hararah (rasa hangat di hati orang yang melakukannya, yang disebabkan oleh syauq dan tahyij (rasa rindu dan gairah) kepada Al-Madzkur/ Allah SWT yang merupakan tujuan utama dari dzikir, sedang meminum air setelah berdzikir akan memadamkan rasa tersebut.
  4. Para guru mursyid berkata:”Orang yang berdzikir hendaknya memperhatikan tiga tata krama ini, karena natijah (hasil) dzikirnya hanya akan muncul dengan hal tersebut.”Wallahu a’lam.

 

 

 

 

[1][1] Amril, Akhlak Tasawuf, (Pekanbaru: Program Pascasarjana uin suska riau, 2007), hlm 3

 

[2][3] Abu Naufal al-Mahalli, Doa yang didengar Allah, (Yogyakarta: Pustaka Firdausi, 2005), hlm 27

[3][4] Abu Naufal al-Mahalli, Doa yang didengar Allah, (Yogyakarta: Pustaka Firdausi, 2005), hlm 49

[4][5] Hasbi Ashiddieqy, Pedoman Dzikir dan Doa, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1956), hlm 60

[5] [6] Ibnul Qayyim al jauziyah, Tobat Kembali pada Allah, (Jakarta: Gema Insani Press, 2006), hlm 19

 

5

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Islam merupakan agama yang sempurna yang didalamnya terdapat aturan-aturan baik untuk didunia maupun akhirat. Aturan-aturan tersebut dapat kita ketahui melalui firman-firman Allah SWT.
Sebagai muslim, kita tidaklah sukar untuk menentukan baik buruk, sebab apa yang diperintahkan ALLAH sudah pasti baik dan apa yang dilarang ALLAH sudah tentu pula buruk, tinggal lagi kita kerjakan yang baik dan kita tinggalkan yang buruk.
Rasullah sebagai teladan bagi kehidupan setiap muslim. Dalam situasi sekarang ini hendaklah kita tunjukan ahlakul mahmudah contohnya tawakkal, syukur, haya’ dan lain-lain. Adapun hal-hal yang menyangkut akan permasalahan dalam TAWAKA, SYUKUR dan MALU (HAYA’) akan dikaji dalam makalah ini.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa tawakal itu ?
2. Bagaimana cara bersyukur ?
3. Apakah itu haya’ ?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui bagaimana cara tawakal
2. Untuk menjelaskan apa itu syukur
3. Untuk memahami apa itu haya’
BAB II
PEMBAHASAN

A. TAWAKKAL
a. Pengertian tawakal
Tawakkal adalah menyerahkan segala urusan kepada allah dengan penuh kepercayaan kepadanya disertai mengambil sebab yang diizinkan syariat. Berdasarkan pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa tawakkal yang dilakukan seseorang bisa dinilai sebagai tawakkal yang dibenarkan jika terpenuhi dua syarat:
a) Kesungguhan hati dalam bersandar kepada allah
b) Menggunakan sebab yang diizinkan syariat.
Tawakkal itu berasal dari kata wakalah disebutkan “Seseorang meng-wakalah-kan urusannya kepada Fulan, maksudnya adalah seseorang itu telah menyerahkan urusannya kepada si Fulan dan ia berpegang kepada orang itu mengenai urusannya. Orang yang kepadanya diserahi urusan disebut “wakil”. Orang yang menyerahkan kepadanya disebut “orang yang mewakilkan kepadanya atau muwakkil”. Maka tawakkal adalah suatu ibarat tentang pegangan hati kepada wakil sendiri.

Allah berfirman dalam surat almaidah ayat 23 :

Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”
Dan dalam surat an-nisa’ ayat 81 :

Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: “(Kewajiban kami hanyalah) taat.” Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi pelindung.”

b. Keutamaan Bertawakkal
a) Tawakkal adalah setengah agama
Sebagaimana yang tercantum dalam surat Al Fatihah ayat 5, Allah berfirman, yang artinya: “Hanya kepadaMu kami beribadah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.” Para ahli tafsir menjelaskan bahwa induk Al Qur’an adalah surat Al Fatihah.
b) Tawakkal merupakan pondasi tegaknya iman dan terwujudnya amal shaleh
Ibnul Qoyyim menyatakan, “Tawakkal merupakan pondasi tegaknya iman, ihsan dan terwujudnya seluruh amal shaleh. Kedudukan tawakkal terhadap amal seseorang itu sebagaimana kedudukan rangka tubuh bagi kepala. Maka sebagaimana kepala itu tidak bisa tegak kecuali jika ada rangka tubuh, demikian pula iman dan tiang-tiang iman serta amal shaleh tidak bisa tegak kecuali di atas pondasi tawakkal.” (Dinukil dari Fathul Majid 341)
c) Tawakal merupakan bukti keimanan seseorang
Allah berfirman, yang artinya: “Bertawakkal-lah kalian hanya kepada Allah jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al Maidah: 23). Ayat ini menunjukkan bahwa tawakkal hanya kepada Allah merupakan bagian dari iman dan bahkan syarat terwujudnya iman.
d) Tawakkal merupakan amal para Nabi ‘alahimus shalatu was salam
Hal ini sebagaimana keterangan Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma ketika menjelaskan satu kalimat: “hasbunallaah wa ni’mal wakiil” yang artinya, “Cukuplah Allah (menjadi penolong kami) dan Dia sebaik-baik Dzat tempat bergantungnya tawakkal.” Beliau mengatakan, “Sesungguhnya kalimat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alahis shalatu was salam ketika beliau dilempar ke api. Dan juga yang diucapkan Nabi Muhammad ‘alahis shalatu was salam ketika ada orang yang mengabarkan bahwa beberapa suku kafir jazirah arab telah bersatu untuk menyerang kalian (kaum muslimin)…” (HR. Al Bukhari &An Nasa’i).
e) Orang yang bertawakkal kepada Allah akan dijamin kebutuhannya
Allah berfirman, yang artinya, “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhannya).” (QS. At Thalaq: 3)

c. Macam-macam Tawakkal
Ditinjau dari sisi tujuanya, tawakkal dibagi menjadi dua macam:
a) TawakkalkepadaAllah
Bertawakkal kepada Allah merupakan bentuk ibadah yang sangat agung, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Tawakkal kepada Allah baru akan sempurna jika disertai keadaan hati yang merasa butuh kepada Allah dan merendahkan diri kepadaNya serta mengagungkannya.
b) Tawakkal kepada selain Allah
Bertawakkal kepada selain Allah ada beberapa bentuk:
1. Tawakkal dalam hal-hal yang tidak mampu diwujudkan kecuali oleh Allah, seperti menurunkan hujan, tolak balak, tercukupinya rizki dst. Tawakkal jenis ini hukumnya syirik besar.
2. Tawakkal dalam hal-hal yang hanya mampu dilakukan oleh Allah namun Allah jadikan sebagian makhluqnya sebagai sebab untuk terwujudnya hal tersebut. Misalnya kesehatan, tercukupinya rizqi, jaminan keamanan, dst. Yang bisa mewujudkan semua ini hanyalah Allah. Namun Allah jadikan dokter dan obat sebab terwujudnya kesehatan, Allah jadikan suami sebagai sebab tercukupinya rizqi keluarganya, Allah jadikan petugas keamanan sebagai sebab terwujudnya keamanan, dst.. Maka jika ada orang yang bersandar pada sebab tersebut untuk mewujudkan hal yang diinginkan maka hukumnya syirik kecil, atau sebagian ulama menyebut jenis syirik semacam ini dengan syirik khofi (samar). Namun sayangnya banyak orang yang kurang menyadari hal ini. Sering kita temukan ada orang yang terlalu memasrahkan kesembuhannya pada obat atau dokter. Termasuk juga ketergantungan hati para istri terhadap suaminya dalam masalah rizqi. Seolah telah putus harapannya untuk hidup ketika ditinggal mati suaminya… Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari bencana yang sering menimpa hati manusia ini..
3. Tawakkal dalam arti mewakilkan atau menugaskan orang lain untuk melakukan tugasnya. Tawakkal jenis ini hukumnya mubah selama tidak disertai jiwa merasa butuh dan penyandaran hati kepada orang tersebut.

B. DEFINISI SYUKUR
Menurut bahasa: terlihatnya bekas makan pada tubuh hewan, dikatakan “dabbatun syakur” jika hewan tersebut kelihatan gemuk.
Menurut istilah: terlihatnya bekas nikmat Allah dalam lisan hamba-Nya, dengan pujian dan pengakuan. Dan dalam qalbunya dengan kesaksian dan kecintaan.Dan dalam anggota badannya dengan tunduk dan taat.
Syukur adalah shighat mubalagoh bagi isim fa’il artinya pelaku syukur yang banyak melakukan, dengan demikian artinya : yang banyak bersyukur. Jadi dalam kemewahan atau hidup senang dan sejahtera banyak bersyukur atau berterima kasih kepeda yang memberi ikmat yakni ALLAH SWT.
Syukur adalah sarana untuk memanfaatkan dan memelihara karunia-Nya. Hati yang bersyukur memperkuat dan memantapkan kebaikan yang ada, serta akan menghasilkan kebaikan yang belum ada. Orang awam hanya bersyukur bila memperoleh rezeki material. Orang-orang yang telah mengalami pencerahan batin selalu bersyukur, baik ketika memperoleh nikmat maupun tidak. Orang-orang yang telah memperoleh nur ilahitidak mempedulikan nikmat maupun penderitaan, karna mereka melihat karunia dan rahmat allah dibalik semua penampakan serta pengalaman.
a. Kewajiban bersyukur
Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 152 :

“Karena itu ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku

Dalam ayat lain Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 172 :

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”
b. Nikmat Secara Umum
a) Nikmat penciptaan. Allah berfirman: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. 16: 78)
b) Nikmat sarana hidup. Allah berfirman: “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan. Dan kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air, Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?” (QS 36: 33-35)
c) Nikmat sistim hidup. Allah berfirman: “..bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. 2:185)
c. Nikmat Secara Khusus
a) Nikmat syurga. Allah berfirman: “Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan) (QS. 76: 22).
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS 4: 69)

b) Nikmat hidayah. Allah berfirman: “..dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang Telah menunjuki kami kepada (surga) ini. dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya Telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran.” dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS 7: 43)
c) Nikmat pertolongan. Allah berfirman: “Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 3: 126)
d. Cara Bersyukur
a) Dengan hati. Yaitu dengan mengakui bahwa hanya dari Allah semua nikmat itu datang. Allah berfirman: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS 16. 53)
b) Dengan lisan. Yaitu dengan banyak mengucapkan “alhamdulillaah”; dengan mengungkapkan nikmat Allah; semua ucapannya harus baik; berterima kasih atas kebaikan orang lain.
c) Dengan anggota badan: menggunakan nikmat Allah untuk ketaatan kepada-Nya dan bukan untuk kemaksiatan kepada-Nya; melakukan sujud syukur.
e. Keutamaan- keutamaan Bersyukur
a) Bertambahnya nikmat Allah. Allah berfirman: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS 14: 7)
b) Terpelihara dari godaan syaitan. Allah berfirman: “..Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS 7: 16-17).
c) Terpelihara dari siksa. Allah berfirman: “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ?dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS 4: 147)
d) Mendapat balasan yang baik. Allah berfirman: “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS 3: 145)
e) Mendapat keridlaan dari Allah. Allah berfirman: “Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu, dan dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu dia memberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan. Sesungguhnya dia Maha mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.” (QS 39: 7)
1. Haya’ (malu)
a. Pengertian malu
Malu adalah satu kata yang mencakup perbuatan menjauhi segala apa yang dibenci.[Lihat Raudhatul ‘Uqalâ wa Nuzhatul Fudhalâ’ (hal. 53)]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhûr. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.
Perasaan malu didalam hati dikala akan melanggar larangan agama, malu kepada tuhan bahwa jika ia mengerjakan kekejian akan mendapat siksa yang pedih.perasaan ini menjadi pembimbing jalan menuju keselamatan hidup, perintis mencapai kebenaran dan alat yang menhalangi terlaksananya perbuatan yang rendah. Orang yang memiliki sifat ini, semua anggotanya dan gerkak geriknya akan senantiasa terjaga dari hawa nafsu, karna setiap ia akan mengerjakan perbuatan yang rendah, ia tertegun, tertahan dan akhirnya tiada jadi, karna desakan malunya, takut mendapat nama yang buruk,takut menerima siksaan allah swt kelak diakhirat. Tetapi janganlah malu itu hanya kepada manisia saja, maka berbuat yang baik kalau diketahui manusia tetapi kalau ditempat sunyi ai berbuat buruk sebab orang tida melihat. Maka hendaknya malu terhadap makhluk, juga lebih-lebih lagi malu terhadap kholik.
b. KeutamaanMalu
a) Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.
b) Malu adalah cabang keimanan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan.
c) Allah Azza wa Jalla cinta kepada orang-orang yang malu.
d) Malu adalah akhlak para Malaikat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ أَسْتَحْيِ مِنْ رُجُلٍ تَسْتَحْيِ مِنْهُ الْـمَلاَ ئِكَةُ.
“Apakah aku tidak pantas merasa malu terhadap seseorang, padahal para Malaikat merasa malu kepadanya.” [Shahîh: HR.Muslim (no. 2401)]
e) Malu adalah akhlak Islam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.
“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” [Shahîh: HR.Ibnu Mâjah (no. 4181) dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/13-14) dari Shahabat Anas bin Malik t . Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 940)]
f) Malu sebagai pencegah pemiliknya dari melakukan maksiat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Untuk beriman kepada allah kita harus mempunyai sifat tawakkal, syukur dan haya’.Karna sifat ini sangat dibutuhkan dalam memahami tentang beriman kepada allah.Yang tawakal adalah berserah diri kepada allah setelah usaha yang kita lakukan.Dan syukur adalah mensyukuri dari apa yang telah allah berikan untuk kita, karna apa yang menurut kita baik belum tentu menutur allah itu baik pula. Allah tidak memberikan apa yang kita mau tapi allah memberikan apa yang kita butuhkan.Dan haya’ adalah rasa malu yang kita miliki apabila kita tidak menjalankan perintah allah, dan malu apabila melanggar apa yang telah allah perintahkan kepada kita semua.

B. Saran
Dalam makalah ini mungkin masih banyak kesalahan-kesalahan yang terekspos karna kitapun masih dalam tahap belajar.Jika berkenan hendaknya pembaca mampu untuk mengkritik dan menambahkan kekurangan-kekurangan yang ada pada makalah ini. Kami sangat menghargai apapun kritikan itu selagi hal itu masih menyangkut akan masalah-masalah yang ada dalam makalh ini.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri.2008.Minhajul Muslim Konsep Hidup Ideal Dalam Islam.Jakarta.Daru. Haq
Prof.Dr.H.A.Rohman Ritonga Ma.2005.Amelia.Surabaya
Dr.Rasihon Anwar,M.Ag.2008.Aqidah Akhlak.Pustaka Setia Bandung
Imam Al Ghazali.2003.Ihya’ Ulumiddin Jilid VIII. Semarang.CV Asy Syifa’

Drs.barmawie umary.1995.materia akhlak.solo.ramadhani

Drs. Bukhari Dahlan.2006.tiga puluh tiga akhlak mukmin muslim.pekan baru. Suska press uin suska riau

Syekh fadhlalla.2012.al-hikam 264 hikmah dan renungan spritual harian.jakarta.PT serambi ilmu semesta