ILMU PENGETAHUAN MATEMATIKA (Pendidikan Sebagai Ilmu dan Sistem dalam Perspektif Matematika)

Pendidikan Sebagai Ilmu dan Sistem dalam Perspektif Matematika

written bye: Karsini, Mujawaroh Annafi, Tengku Aprilia Nurjannah as a task of lecturer: Musa Taher

Pendidikan Matematika 2C , UIN Suska Riau 2015

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pendidikan merupakan suatu keharusan bagi manusia karena pada hakekatnya manusia lahir dalam keadaan tidak berdaya, dan tidak langsung dapat berdiri sendiri, dapat memelihara dirinya sendiri. Manusia pada saat lahir sepenuhnya memerlukan bantuan orang tuanya. Karena itu pendidikan merupakan bimbingan orang dewasa mutlak diperlukan manusia

untuk menghasilkan hasil belajar yang baik maka seorang pendidik/guru harus memiliki ilmu pendidikan agar ketika melakukan proses belajar mengajar mampu menerapkan teori belajar di dalam kelas. Ilmu pendidikan adalah ilmu yang mempelajari serta memproses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, pembuatan mendidik.

Matematika merupakan subjek yang sangat penting dalam sistem pendidikan di seluruh dunia. Negara yang mengabaikan pendidikan sebagai prioritas utama akan tertinggal dari kemajuan segala bidang, dibanding negara lain yang memberikan tempat bagi matematika sebagai subjek yang sangat penting. Oleh karena itu, pendidikan sebagai ilmu diperlukan dalam proses pembelajaran matematika. Maka pendidikan sebagai ilmu dalam perspektif matematika menjadi salah satu topik yang menarik.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa yang dimaksud pendidikan dan sistem
  3. Apa yang dimaksud dengan matematika
  4. Bagaimana pendidikan menjadi ilmu dalam perspektif matematika
  5. Bagaimana pendidikan menjadi sistem dalam perspektif matematika
  6. Tujuan
  7. Mengetahui pengertian pendidikan dan sistem
  8. Mengetahui apa itu pendidikan yang menjadi dasar ilmu dalam perspektif matematika
  9. Mengetahui apa itu pendidikan sebagai sistem dalam perspektif matematika
  10. Menyelesaikan tugas Ilmu Pengetahuan Matematika

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Pendidikan dan Sistem

Pendidikan adalah hidup. Pendidikan adalah segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup. Pendidikan adalah segala situasi hidup yang mempengaruhi pertumbuhan individu. Sedangkan secara Definitif pendidikan (pedagogie) adalah suatu kegiatan bimbingan yang dilakukan secara sadar ataupun secara sengaja yang dilakukan orang dewasa kepada orang yang belum dewasa (baca : anak) sehingga timbul hubungan antara keduanya yang bertujuan untuk mendewasakannya.

Sistem adalah satu keseluruhan terpadu yang terdiri dari berbagai elemen yang masing-masing elemen terkait dengan elemen yang lain. Sedangkan sistem secara etimologis berasal dari bahasa yunani “systema” yang berarti sehimpunan bagian atau komponen yang saling berhubungan secara teratur dan merupakan suatu keseluruhan.

  1. Pengertian Matematika

Kata matematika berasal dari beerkataan latin mathematika yang mulanya diambil dari perkataan yunani mathematike yang berarti mempelajari.

Matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris. Kemudian pengalaman itu diproses didalam dunia rasio, diolah secara analisis dengan penalaran didalam struktur kognitif sehingga sampai terbentuk konsep-konsep matematika. Supaya konsep-konsep matematika yang terbentuk itu mudah dipahami oleh orang lain dan dapat dimanipulasi secara tepat, maka digunakan bahasa matematika atau notasi matematika yang bernilai global (universal). Konsep matematika didapat karena proses berpikir, karena itu logika adalah dasar terbentuknya matematika.[1]

Matematika adalah disiplin ilmu yang melatih bagaimana cara berpikir dan mengolah pikiran secara kualitatif dan mengajarkan manusia untuk berpikir kritis. Karena tujuan pendidikan matematika adalah melatih kemandirian dalam berpikir.

Matematika adalah ilmu yang tidak jauh dari realitas kehidupan manusia, dari zaman purba, berabad-abad sebelum masehi, manusia telah mempunyai kesadaran akan bentuk-bentuk benda disekitarnya yang berbeda satu dengan yang lain. Kesadaran inilah yang menjadi bibit lahirnya geometri.

Matematika dapat dipandang sebagai pelayan (servant) sekaligus ratu (queen) dari ilmu-ilmu lain. Sebagai pelayan matematika adalah ilmu dasar yang mendasari dan melayani berbagai ilmu pengetahuan yang lain. Tidak mengherankan apabila dalam fungsinya sebagai pelayan ilmu yang lain, matematika muncul di ilmu kimia, fisika, biologi, astronomi, psikologi, dan masih banyak yang lain. Sebagai ratu, perkembangan matematika tidak tergantung pada ilmu-ilmu lain. Banyak cabang matematika yang dulu biasa disebut matematika murni, dikembangkan oleh beberapa matematikawan/matematikawati yang mencintai dan belajar matematika hanya sebagai hobi tanpan mempedulikan fungsi dan manfaantnya untuk ilmu-ilmu yang lain. Dengan semakin berkembangnya teknologi, banyak cabang matematika murni yang ternyata dikemudian hari bisa diterapkan dalam berbagai ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir.[2]

  1. Pendidikan Sebagai Ilmu dalam Perspektif Matematika

PrespektifMerupakan sebuah cara pandang seseorang mengenai dunia sosia disekitarnya atau dapat juga disebut sebagai sudut pandang (point of view)[3]

Ilmu merupakan pengetahuan yang di dapatkan lewat metode ilmiah. Untuk melakukan kegiatan ilmiah secara baik perlu sarana berfikir, yang memungkinkan dilakukannya penelaahan ilmiah secara teratur dan cermat. Matematika adalah bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan berdasarkan pembuktian berdasarkan teori koheren. System matematika di susun di atas beberapa dasar pernyataan yang dianggap benar, yakni aksioma. Dengan mempergunakan beberapa aksioma maka disusun suatu teorema. Di atas teorema dikembangkan kaidah-kaidah matematika yang secara keseluruhan system yang konsisten. Plato (427-347 S.M) dan AristotelesEuclid dalam menyusun ilmu ukurnya (384-322 S.M) mengembangkan teori koheren berdasarkan pola pemikiran yang dipergunakan

Dalam abad ke-20 ini, seluruh kehidupan manusia sudah mempergunakan matematika, baik matematika ini sangat sederhana hanya untuk menghitung satu, dua, tiga, maupun yang sampai sangat rumit, misalnya perhitungan antariksa. Ilmu-ilmu pengetahuan pun , semuanya sudah mempergunakan matematika, baik matematika sebagai pengembangan aljabar maupun statistik, dll.

Perkembangan pesat di bidang teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika di bidang teori bilangan, aljabar, analisis, teori peluang dan matematika diskrit. Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini, sebab pada dasarnya pelajaran matematika diberikan untuk:

  1. Membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama.
  2. Mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain.
  3. melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsistensi, dan inkonsistensi.
  4. mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi, dan dugaan, serta mencoba-coba.
  5. mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. [4]

Matematika merupakan bidang studi yang dipelajari oleh semua siswa dari sekolah dasar hingga sekolah lanjutan tingkat atas, dan bahkan juga di perguruan tinggi. Cornelius (dalam Mulyono Abdurahman, 2003: 253) mengemukakan lima alasan perlunya belajar matematika karena matematika merupakan:

  1. Sarana berpikir yang jelas dan logis,
  2. Sarana untuk memecahkan masalah kehidupan sehari-hari,
  3. Sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi pengalaman,
  4. Sarana untuk mengembangkan kreativitas,
  5. Sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan budaya

Matematika memandang pendidikan sebagai ilmu ditinjau dari pola berpikirnya, di antaranya berpikir secara logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain. Berpikir merupakan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Apa yang disebut benar bagi tiap orang adalah tidak sama. Karena itu kegiatan proses berpikir untuk menghasilkan pengetahuan yang benar itu juga berbeda-beda. Dapat dikatakan

dan tiap-tiap jenis penalaran mempunyai kriteria kebenarannya masing-masing.

Sebagai suatu kegiatan berpikir maka penalaran mempunyai ciri-ciri tertentu. Ciri yang pertama ialah adanya pola pikir yang secara luas dapat disebut logika. Dalam hal ini dapat kita katakan bahwa tiap bentuk penalaran mempunyai logikanya tersendiri. Atau dapat juga disimpulkan bahwa kegiatan penalaran merupakan suatu proses berpikir logis. Berpikir logis disini harus diartikan sebagai kegiatan berpikir menurut pola tertentu, atau dengan kata lain, menurut logika tertentu.

Dapat dijelaskan bahwa beberapa manfaat mempelajari matematika:

  1. Matematika sebagai bahasa ilmu pengetahuan

Tanpa bekal matematika yang baik sedikit sekali ilmu pengetahuan modern untuk dapat dipelajari, hal ini disebabkan hukum-hukum dasar pengetahuan alam dinyatakan dalam bahasa matematika. Karena matematika sifatnya dinamis, maka ilmu pengetahuan lainnyapun makin banyak menggunakan matematika.

Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingi disampaikan.Lambang-lambang matematika bersifat “Artifisial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan kepadanya.Bila kita mempelajari kecepatan jalan kaki seseorang anak maka obyek “kecepatan jalan kaki seorang anak” dapat diberi lambang dengan v dalam hal ini v hanya mempunyai satu arti yaitu kecepatan jalan kaki seorang anak. Bila dihubungkan dengan dengan obyek lain umpanya “jarak yang ditempuh seoang anak” (s). maka dapat dibuat lambang hubungan tersebut sebagai t = s/v, di mana t melambangkan waktu berjalan kaki seorang anak. Pernyataan t = s/v kiranya jelas : Tidak mempunyai konotasi emosional dan hanya mengemukakan informasi mengenai hubungan s, v dan t, artinya matematika mempunyai sifat yang jelas, spesifik dan informatf dengan tidak menimbulkan konotasi yang bersifat emosional.

  1. Matematika mengajak berfikir logis

Logika adalah sarana untuk berpikir sistematik, valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, berpikir logis adalah berpikir sesuai dengan aturan-aturan berpikir, seperti setengah tidak boleh lebih besar daripada satu. Berpikir membutuhkan jenis-jenis pemikiran yang sesuai. Pikiran diikat oleh hakikat dan struktur tertentu, kendati hingga kini belum seluruhnya terungkap. Pikiran kita tunduk kepada hukum-hukum tertentu.

Salah satu kegunaan yang sering kita kemukakan ialah bahwa matematika melatih orang untuk berfikir secara logis. Badal karangan-karangan masa Purba, nama “LOGIKA” untuk pertama kali muncul pada Cicero (abad ke 1 sebelum masehi), dalam seni berdebat. Sekitar permulaan abad ke 3 sesudah masehi Alexander Aphrodisias adalah orang yang pertama menggunakan kata LOGIKA dalam arti yang sekarang.

Untuk menemukan pengetahuan kita harus dapat mengambil kesimpulan dari berbagai pernyataan berupa pakta atau pendapat. Logika formal adalah bidang ilmu yang membahas tentang pernyataan-pernyataan atau posisi dalam hubungannya dengan penalaran secara deduksi (Britannica, 1982). Proses Deduksi, yaitu penarikan kesimpulan bersifat individual dari pernyataan/ kerangka berpikir logis yang bersifat umum. Bidang ilmu tertua yang menerapkan deduksi berdasarkan logika formal adalah matematika. Salah satu yang dapat dipakai sebagai contoh Geometri Eulidus.

  1. Pendidikan Sebagai Sistem dalam Perspektif Matematika

Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mencapai tujuan pendidikan. Suatu usaha pendidikan menyangkut tiga unusur pokok, yaitu unsur masukan, unsur proses usaha itu sendiri, dan unsur hasil usaha. Hubungan ketiga unsur itu dapat digambarkan sebagai berikut Proses Pendidikan Sebagai Suatu Sistem

Masukan usaha pendidikan ialah peserta didik dengan berbagai ciri-ciri yang ada pada diri peserta didik itu (antara lain bakat, minat, kemampuan, keadaan jasmani,). Dalam proses pendidikan terkait berbagai hal, seperti pendidik, kurikulum, gedung sekolah, buku, metode mengajar, dan lain-lain, sedangkan hasil pendidikan dapat meliputi hasil belajar (yang berupa pengetahuan, sikap, dan keterampilan) setelah selesainya suatu proses belajar mengajar tertentu. Dalam rangka yang lebih besar, hasil proses pendidikan dapat berupa pembekalan peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama dan mampu mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan.Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1979) menjelaskan pula bahwa, “Pendidikan merupakan suatu sistem yang mempunyai unsur-unsur tujuan/sasaran pendidikan, peserta didik, pengelola pendidikan, struktur/jenjang. Kurikulum dan peralatan/fasilitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah kami uraikan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan adalah fenomena yang fundamental atau asasi dalam hidup manusia yaitu dimana ada kehidupan disitu pasti ada pendidikan. Pendidikan sebagai gejala sekaligus upaya memanusiakan manusia itu sendiri. Pendidikan adalah upaya sadar untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki manusia. Upaya pendidikan mencakup keseluruhan aktivitas pendidikan (mendidik dan dididik) dan pemikiran yang sistematik tentang pendidikan.

Ilmu pendidikan, yaitu ilmu yang menelaah fenomena pendidikan dalam perspektif yang luas dan integratif. Untuk mengembangkan disiplin ilmunya, ilmu pendidikan memiliki metode: normative, eksplanatori, teknologis, deskriptif fenomenologis, hermeneutis, dan analitis kritis. Sedangkan sifat-sifat ilmu pendidikan adalah: empiris, rohaniah, normatif, historis, teoritis, dan praktis

Matematika memandang pendidikan sebagai ilmu ditinjau dari pola berpikirnya, di antaranya berpikir secara logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dengan menggunakan simbol, tabel, diagram, dan media lain. Manfaat mempelajari matematika adalah matematika dapat digunakan sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Matematika juga mengajarkan kita untuk berpikir logis.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Andriani Melly, Hariyani Mimi, Pembelajaran Matematika SD/MI, Benteng Media, Pekanbaru, 2013

Supatmono Catur, Matematika Asyik, Grasindo, jakarta, 2009

Martono Nanang, Pendidikan Bukan Tanpa Masalah, Gava Media, Yogyakarta, 2010

Andriani Melly, Hariyani Mimi, Pembelajaran Matematika SD/MI, Benteng Media, Pekanbaru, 2013

 

 

[1] Andriani Melly, Hariyani Mimi, Pembelajaran Matematika SD/MI, Benteng Media, Pekanbaru, 2013, hal. 2

[2]Supatmono Catur, Matematika Asyik, Grasindo, jakarta, 2009, hal. 8

[3]Martono Nanang, Pendidikan Bukan Tanpa Masalah, Gava Media, Yogyakarta, 2010, hal. 18

[4]Andriani Melly, Hariyani Mimi, Pembelajaran Matematika SD/MI, Benteng Media, Pekanbaru, 2013, hal. 13

Makalah: Study Qur’an, ulumul Qur’an

disusun oleh:

Siti Masithoh Nur Arrahmin

Mujawaroh Annafi

Sahrul Hidayat

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang masih memberikan nafas kehidupan, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah “study Qur’an/ulumul Qur’an”. Tidak lupa shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan inspirator terbesar dalam segala keteladanannya. Tidak lupa penulis sampaikan terima kasih kepada dosen mata kuliah Study Qur’an/Ulumul Qur’an, Herlina. Semoga apa yang beliau ajarkan kepada kami menjadi manfaat dan menjadi amal jariyah bagi beliau di Akherat kelak. Amiin.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Study Qur’an. Dalam makalah ini akan dibahas beberapa pembahasan mengenai pengertian Ilmu Al – qur’an, Ruang Lingkup Al – qur’an, dan Sejarah Perkembangan Ilmu Al-Qur’an.

Penulis mengucapkan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca yang budiman. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan dari guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.

 

Penulis

 

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………………………………………………………………………

Bab I Pendahuluan…………………………………………………………………………

1.1 Latar Belakang Masalah ………………………………………………………..

1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………………

1.3 Tujuan Penulisan…………………………………………………………………..

1.4 Metode Penulisan………………………………………………………………….

Bab II Pembahasan…………………………………………………………………………

2.1 Pengertian Ilmu Al-Qur’an…………………………………………………….

2.2 Ruang Lingkup Ilmu Al-Qur’an……………………………………………..

2.3 Sejarah Perkembangan Ilmu Al-Qur’an……………………………………

Bab III Penutup……………………………………………………………………………..

3.1 Kesimpulan………………………………………………………………………….

3.2 Saran…………………………………………………………………………………..

Daftar Pustaka……………………………………………………………………………….

 

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman untuk umat islam. Kitab yang mencakup hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan didunia maupun diakhirat yang dirangkum dalam Al-Qur’an. Banyak sejarah yang mengungkap bagaimana turunnya Al-Qur’an dan bagaimana cara nabi Muhammad SAW menyampaikan kepada umatnya. Banyak lika-liku yang dihadapi nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan ajaran agama islam dengan Al- Qur’an sebagai pedomannya. Begitu pentingnya Al-Qur’an sehingga umat islam wajib memahami, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an. Dalam mempelajari Al- Qur’an banyak aspek  yang dibahas mengenahi Al-Qur’an, salah satunya adalah ilmu Ulumul Qur’an. Ulumul Qur’an adalah cabang ilmu Al-Qur’an yang membahas tentang asal-usul Al-Qur’an baik asal-usul turunnya maupun isi yang terkandung didalamnya. Sehingga menjadi penting untuk mempelajari ilmu tersebut. Agar dalam memahami Al-Qur’an menjadi lebih mudah dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam makalah yang saya buat berisi pembahasan tentang  pengertian, ruang lingkup dan cabang-cabang ilmu Al-Qur’an.

  • Rumusan Masalah
  1. Apakah pengertian Ilmu Al-Qur’an?
  2. Apa saja ruang lingkup Ilmu Al-Qur’an?
  3. Apa sejarah perkembangan Ilmu Al-Qu’ran?
  • Tujuan Penulisan
  1. Mendeskripsikan pengertian Ilmu Al-qur’an.
  2. Mendeskripsikan ruang lingkup dalam Ilmu Al-Qur’an.
  3. Mendeskripsikan sejarah perkembangan Ilmu Al-Qur’an
    • Metode Penulisan

Dalam pembuatan makalah ini penulis menggunakan metode studi pustaka, yaitu dengan cara mengolah data dari beberapa sumber buku dan media elektronik.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  • Pengertian Ilmu Al-Qur’an

Kata ‘ilmu’ berasal dari bahasa arab yaitu ‘ulum. Dan adapun ‘ulum adalah bentuk jamak dari kata ‘ilm[1]. ‘ilm dalam kamus bahasa arab berarti ilmu pengetahuan[2]. ‘Al-Qur’an’ menurut bahasa ialah: bacaan yang dibaca. Al-Qur’an adalah “mashdar” yang diartikan dengan arti isim maf’ul yaitu “maqru = yang dibaca”[3]. Al-Qur’an berasal dari kata qara’a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun. Adapun qiraah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata yang satu dengan yang lainnya dalam suatu ucapan yang tersusun rapi. Qur’an sebagaimana qiraah yaitu mashdar dari kata qaraah, qiraatan, quranan[4].
(Al-Qiyamah 17-18)

Artinya: “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (didadamu) dan (membuat pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaan itu.

Menurut istilah ahli agama (‘uruf Syara’), ialah: “Nama bagi kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W yang ditulis dalam mashhaf”. Mashhaf boleh dibaca Mishhaf atau Mushhaf. Maknanya: Lembaran-lembaran yang dikumpulkan dan diikat, merupakan buku.

Para ahli ushul fiqh menetapkan bahwa Al-Qur’an adalah nama bagi keseluruhan Al-Qur’an dan nama bagi suku-sukunya. Ahli ushul membahas Al-Qur’an dari jurusan kedudukannya sebagai pokok dalil hukum. Maka tiap yang menjadi pokok dalil itu, ialah: ayat-ayatnya. Maka tiap satu ayat itu, dinamai “Al-Qur’an”[5].

 

Ulumul Qur’an memiliki beberapa definisi dari berbagai ulama’ diantaranya: menurut Al- Suyuti dalam kitab Itmamu al-Dirayah, Ulumul Qur’an ialah suatu ilmu yang membahas tentang keadaan al- Qur’an dari segi turun, sanad, adab, dan makna-maknanya, yang berhubungan dengan hukum-hukumnya dan sebagainya. Kemudian, menurut Al-Zarqani dalam kitab Manahilul Irfan fi Ulumil Qur’an yaitu: Ulumul Qur’an ialah pembahasan-pembahasan masalah yang berhubungan dengan al-Qur’an, dari segi turun, urut-urutan, pengumpulan, penulisan, bacaan, penafsiran mukjizat, nasikh dan mansukhnya, serta penolakan (bantahan) terhadap hal-hal yang  bisa menimbulkan keraguan terhadap al-Qur’an (yang sering dilancarkan oleh Orientasi dan Ateis dengan maksud untuk menodai kesucian al-Qur’an) dan sebagainya.

Sedangkan menurut Muhammad ‘ali al-Sabuni ‘ulum al-Qur’an adalah suatu pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur’an al-Majid yang abadi dari segi caranya turun, pengumpulan, urutan, dan pembukuan, mengetahui, sebab-sebab turunnya, yang turun di mekkah atau di madinah, mengetahui nasihkh dan mansukh, yang muhkam dan yang mustasyabih dan lain sebagainya.[6]

Ulumul Qur’an adalah ilmu yang mencakup semua aspek ilmu al-Qur’an, tidak seperti ilmu tafsir yang menitik beratkan pada arti atau makna yang terkandung didalam al- Qur’an. Sehingga ruang lingkup dalam Ulumul Qur’an memiliki cakupan yang luas dan dalam. Keberadaan Ulumul Qur’an menjadi benteng yang dapat memperkuat dan menamgkis serangan yang berupa celaan terhadap kebenaran al- Qur’an.

Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan, bahwa Ulumul Qur’an adalah suatu ilmu yang lengkap dan mencakup semua ilmu yang ada hubungannya dengan al-Qur’an, baik berupa ilmu-ilmu agama, misalnya tafsir, maupun ilmu bahasa arab, misalnya ilmu I’rabil qur’an.[7]

 

 

  • Ruang Lingkup Ilmu Al-Qur’an

2.2.3 Pembahasan ilmu-ilmu al-Qur’an yang pokok

Segala macam ilmu al-Qur’an, walaupun sedemikian banyak-nya, namun ia kembali kepada beberapa macam saja yaitu:

  1. Auqatun nuzul mawathinul nuzul

Berpaut dengan dia, dipautkan ayat-ayat yang diturunkan di Makkah yang dinamai Makkiyah, ayat-ayat yang diturunkan di kala Nabi diberada di kampung yang dinamai Hadlariyah, ayat-ayat yang diturunkan didalam saffar dinamai safariyah, ayat-ayat yang diturunkan disiang hari dinamakan nahariyah, ayat-ayat yang diturunkan di malam hari yang dinamai lailiyah, ayat-ayat yang diturunkan di musim panas dinamai shaifiyah, ayat-ayat yang diturunkan di musim dingin dinamai shitayyah, ayat-ayat yang diturunkan di kala nabi di pembaringan dinamai firasiyah.[8]

  1. Sababun Nuzul

Sebab-sebab Turunnya (suatu ayat) adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan. Pada umumnya, Asbabun Nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatu ayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu. Selain itu, ada juga yang memahami ilmu ini untuk menetapkan hukum dari hikmah dibalik kisah diturunkannya suatu ayat[9]. Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui Asbabun Nuzul suatu ayat dapat membantu Mufassir memahami makna ayat. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul suatu ayat dapat memberikan dasar yang kokoh untuk menyelami makna suatu ayat Al-Qur’an.[10]

  1. Tarikhun Nuzul
  2. Nuzul

Membahas tentang ayat-ayat yang menunjukkan tempat dan waktu turunnya al-Qur’an misalnya: makkiyah, madaniyyah, safariyah dan lain sebagainya. Kemudian juga membahas tentang asbabun nuzul dan sebagainya.

  1. Sanad

Membahas tentang hal-hal yang menyangkut tentang sanad yang mutawattir, ahad, para periwayat, para penghapal al-Qur’an dan cara tahammul (penerimaan riwayat).

  1. Ada’ al-Qiro’ah

Membahas tentang waqof, ibtida’, madd dan lain sebagainya.

  1. Pembahasan tentang lafadz al-Qur’an yang berujung pada pembahasan dalam ilmu Nahwu.
  2. Pembahasan makna al-Qur’an yang berhubungan dengan hukum, yaitu ayat yang mempunyai makna hukum dalam berbagai aspek baik duniawi maupun ukhrawi. Selain itu, pembahasan ini mengarah pada ilmu tafsir yang membahas berbagai makna, isi yang terkandung dalam al-Qur’an.

2.2.4 Bagian-bagian ilmu al-Qur’an dan macam-macamnya

Menurut T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, pokok-pokok ilmu al-Qur’an yaitu:[11]

  1. Ilmu Mawathinin Nuzul

Ilmu yang membahas tentang tempat-turun ayat, musim awal dan akhirnya.

  1. Ilmu Tawarikhin Nuzul

Ilmu yang menjelaskan masa turun ayat dan tertib turunnya satu demi satu dari awal hingga akhir.

 

  1. Ilmu Asbabin Nuzul

Ilmu yang menerangkan tentang sebab-sebab turunnya ayat.

  1. Ilmu Qira’at

Ilmu yang menerangkan rupa-rupa bacaan-bacaan/qiraat yang diterima Rasulullah.

  1. Ilmu Tajwid

Ilmu yang menerangkan cara membaca al-Qur’an

  1. Ilmu Gharibil Qur’an

Ilmu yang menerangkan makna kata yang ganjil yang tidak terdapat didalam kitab kitab atau percakapan sehari-hari

  1. Ilmu I’rabil Qur’an

Ilmu yang menerangkan baris al-Qur’an dan kedudukan lafadz dalam susunan kalimat.

  1. Ilmu wujuh wan Nazhair

Ilmu yang menerangkan kata-kata al-Qur’an yang banyak arti.

  1. Ilmu Ma’rifatul Muhkam Wal Mutsyabih

Ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang dipandang muhkam dan ayat-ayat yang dianggap muhkam dan ayat-ayat yang dianggap mutasyabih.

  1. Ilmu Nasikh Wal Mansukh

Ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang dianggap mansukh oleh sebagian mufassirin.

  1. Ilmu Ba’dail Qur’an

Ilmu yang menyatakan keindahan susunan bahasa Qur’an

  1. Ilmu I’jazil Qur’an

Ilmu yang menerangkan kekuatan susunan lafadz al-Qur’an hingga ia dipandang sebagai mukjizat dapat melemahkan segala ahli bahasa arab.

 

 

  1. Ilmu Tanasbi Ayatil Qur’an

Ilmu yang menerangkan persesuaian antara ayat yang didepan dengan ayat yang sesudahnya.

  1. Ilmu Aqsamil Qur’an

Ilmu yang menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan yang terdapat dalam al-Qur’an.

  1. Ilmu Amtasil Qur’an

Ilmu yang menerangkan tentang perumpamaan-perumpamaan al-Qur’an.

  1. Ilmu Jadalil Qur’an

Ilmu yang menerangkan macam-macam debatan yang telah dihadapkan al-Qur’an kepada segenap kaum musyrikin dan lain-lain.

  1. Ilmu Adabi Tilawatil Qur’an

Ilmu yang menerangkan segala rupa aturan yang harus dipakai dan dilaksanakan di dalam membaca al-Qur’an.

  • Sejarah Perkembangan Ilmu al-Qur’an[12]

Al-Qur’an adalah mukjizat dalam Islam yang abadi dimana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kemukjizatannya. Para sahabat sangat bersemangat untuk mendapatkan pengajaran Al-Qur’an Al-Karim dari Rasulullah. Mereka ingin menghafal dan memahamminya. Bagi mereka, ini merupakan suatu kehormatan. Abu Abdirrahman As-Sulami meriwayatkan, bahwa orang-orang yang biasa membacakan Al-Qur’an kepada kami, seperti Utsman bin Affan dan Abdullah bin Mas’ud, serta yang lainnya; apabila mereka belajar sepuluh ayat dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam, mereka enggan melewatinya sebelum memahami dan mengamalkannya. Mereka mengatakan, “Kami mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal sekaligus.”

 

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam tidak mengizinkan mereka menulis apa pun selain Al-Qur’an, sebab ditakutkan dapat tercampur aduk dengan yang lain. Muslim meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, bahwa Rasulullah saw bersabda,

لا تكتبوا عني ومن كتب عني غير القران فليمحه  وحدثوا غني ولا حرج ومن كذب علي متعمدا فليتبوا مقعده من النار

Artinya: “Jangan sekali-kali menulis apa pun dariku. Barangsiapa menulis sesuatu selain Al-Qur’an dariku maka hapuslah. Sampaikanlah haditsku, tidak masalah. Namun, barangsiapa mendustakan aku dengan sengaja, maka nerakalah tempatnya.”

Demikianlah yang terjadi pada masa Rasul, masa Khalifah Abu Bakar, dan Umar Radhiyallahu Anhuma. Lalu pada masa Khalifah Utsman Radhyallahu Anhu, sesuai dengan tuntunan kondisi –seperti yang akan dijelaskan kemudian membuat suatu terobosan ijtihad mulia, yaitu demi menyatukan kaum muslimin dengan pedoman satu mushaf yang kemudian diberi nama mushaf Al-Imam. Selanjutnya, mushaf tersebut dikirim ke berbagai negeri saat itu. Adapun tulisan huruf-hurufnya disebut sebagai rasm Utsmani, yang dikaitkan dengan nama Khalifah Utsman. Langkah ini adalah awal munculnya ilmu penulisan rasm Al-Qur’an. Hal ini dianggap sebagai cikal bakal dari munculnya ilmu Al-Qur’an.

Di antara para mufassir terpopular di kalangan sahabat Nabi adalah; empat khalifah, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy’ari dan Abdullah bin Az-Zubair. Di antara murid-murid Ibnu Abbas yang cukup termasyhur adalah Said bin Jubair, Mujahid, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Thawus bin Kisan Al-Yamani dan Atha’ bin Abi Rabah.

Murid Ubay bin Ka’ab yang popular di Madinah adalah Zaid bin Aslam, Abul Aliyah, dan Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi. Di Irak terdapat murid Abdullah bin Mas’ud yang juga terkenal sebagai mufassir. Mereka yaitu; Alqamah bin Qais, Masruq bin Al-Ajda’, Aswad bin Yazid, Amir Asy-Sya’bi, Hasan Al-Bashri, dan Qatadah bin Di’amah As-Sadusi.Abad kedua Hijriyah adalah masa kodifikasi.

Pada masa selanjutnya, sekelompok ulama melakukan penafsiran secara komprehensif terhadap Al-Qur’an sesuai tertibnya ayat yang ada dalam mushaf. Di antara mereka yang terkenal adalah Ibnu Jarir Ath-Thabari (wafat 310 H).

Demikianlah, pertama kali tafsir dilakukan dengan metode dari mulut ke mulut dan periwayatan, lalu melalui proses kodifikasi, tapi masih masuk dalam bab-bab hadits. Lalu pada tahap berikutnya dikodifikasikan secara mandiri. Kemudian muncul tafsir bil ma’tsur (yang menggunakan dalil-dalil Al-Qur’an, hadits Nabi, serta perkataan para sahabat dan salafushshalih) dan tafsir bir-ra’yi (yang menggunakan akal atau pendapat pribadi). Dalam bidang ilmu tafsir muncul karya-karya tematik yang berkaitan dengan tafsir Al-Qur’an yang cukup penting bagi seorang mufassir.

Sangat banyak karya-karya ulama yang mengkaji disiplin ulumul Qur’an. Karya-karya itu dirangkum dalam satu karya besar sebagaimana yang disinyalir oleh Az-Zarqani dalam kitabnya Manahil Al-’Irfan fi ‘Ulum Al-Qur’an bahwa di dalam Dar Al-Kutub Al-Mishriyah, ada sebuah kitab karya Ali bin Ibrahim bin Said, terkenal dengan sebutan Al-Hufi. Nama kitab tersebut Al-Burhan fi ‘Ulumi Al-Qur’an, terdiri dari 30 jilid. Di dalamnya terdapat 15 jilid yang mana di sana penulisannya menyebut ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan tertib mushaf yang mencakup pembahasan ulumul Qur’an.

 

Lalu, Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengikuti jejak Al-Hufi. Ia menulis kitab “Funun Al-Afnan fi ‘Aja’ibi ‘Ulum Al-Qur’an.” Badruddin Az-Zarkasyi (wafat 794 H) menulis “Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an.” Jalaluddin Al-Balqini (wafat 824 H) menulis “Mawaqi’ Al-’Ulum min Mawaqi’ An-Nujum,” menambahi sedikit kitab Az-Zarkasyi. Kemudian, Jalaluddin As-Suyuthi (wafat 911 H) dengan kitabnya yang cukup terkenal yaitu “Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an.”. Inilah beberapa kajian yang dikenal sebagai studi ilmu-ilmu Al-Qur’an. Sekarang, kita beralih kepada definisi singkat tentang ulumul Qur’an.

 

[1] Subhi Al-Salih, Mahabbits fi ‘Ulum Al-Qur’an, (Beirut, Darli al-malayyin, 1997)

[2] Achmad Sunarto, Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya, Pustaka Barokah, 2010), hlm 150.

[3] M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an Tafsir, (Yogyakarta, Bulan Bintang, 1980), hlm 15.

[4] Manna’ Khalil al-Qattan, Mahabbits fi ‘Ulum Al-Qur’an, (Beirut, Man syurat al-a’Asr al hadist, 1973), hlm 20.

[5]M. Hasbi Ash-shiddieqy, Op.cit, 1980, hlm 16.

[6] Al-Sabuni, al-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, (Tp: ‘Alma al-Kutub, tt), hlm 8 dalam Helina, Studi Al-Qur’an, (Pekanbaru, Benteng Media CV, 2013), hlm 4.

[7] http://www.academia.edu/8259383/Pengertian_Ruang_lingkup_dan_cabang2_ilmu_Al-Quran

[8] M. Hasbi ash-shiddieqy, Op.Cit., hlm 114

[9] Muchotob Hamzah, Studi Al-Qur’an Komprehensif, (Yogyakarta, Gama Media, 2003), hlm 3

[10] Hudzaifah.org – Asbabun Nuzul (Sebab-Sebab Turunnya Ayat) Surat Al Qadr

[11] T.M Hasbi Ash-Shiddieqy, Op.Cit., hlm 116

[12]H. Aunur Rafiq El-Mazni, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2010), hlm. 3 – 10.

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Ulumul Qur’an adalah suatu ilmu yang lengkap dan mencakup semua ilmu yang ada hubungannya dengan al-Qur’an, baik berupa ilmu-ilmu agama, misalnya tafsir, maupun ilmu bahasa arab, misalnya ilmu I’rabil qur’an.

Ruang lingkup Ilmu Al-Qur’an meliputi:

  1. Pembahasan ilmu Qur’an yang pokok, terdiri dari: Auqatun nuzul mawathinul nuzul, Sababun Nuzul, dan Tarikhun Nuzul
  2. Bagian-bagian ilmu al-Qur’an dan macam-macamnya, terdiri dari: Ilmu Mawathinin Nuzul, Ilmu Tawarikhin Nuzul, Ilmu Qira’at, Ilmu Tajwid, Ilmu Gharibil Qur’an, Ilmu I’rabil Qur’an, Ilmu wujuh wan Nazhair, Ilmu Ma’rifatul Muhkam Wal Mutsyabih, Ilmu Nasikh Wal Mansukh, Ilmu Ba’dail Qur’an, Ilmu I’jazil Qur’an, Ilmu Tanasbi Ayatil Qur’an, Ilmu Aqsamil Qur’an, Ilmu Amtasil Qur’an, Ilmu Jadalil Qur’an, Ilmu Adabi Tilawatil Qur’an.

Pada zaman rasulullah para sahabat menghafal dan memahami al-Qur’an karena bagi mereka itu adalah suatu kehormatan. Lalu pada masa Khalifah Utsman Radhyallahu Anhu, di susunlah Al-Qur’an menjadi satu mushaf untuk menyatukan kaum muslimin yang kemudian diberi nama mushaf Al-Imam. Hal ini dianggap sebagai cikal bakal dari munculnya ilmu Al-Qur’an. Pada masa selanjutnya, sekelompok ulama melakukan penafsiran secara komprehensif terhadap Al-Qur’an sesuai tertibnya ayat yang ada dalam mushaf.

3.2 Saran

Setelah mempelajari study qur’an, kita sebagai umat islam harus mempercayai kebenaran ilmu-ilmu Al-Qur’an dan mengamalkannya serta mengembangkan ilmu Al-Qur’an agar dapat memajukan umat islam.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Subhi Al-Salih, Mahabbits fi ‘Ulum Al-Qur’an. Beirut: Darli al-malayyin, 1997.

Achmad Sunarto, Kamus Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Barokah, 2010

  1. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an Tafsir. Yogyakarta: Bulan Bintang, 1980.

Manna’ Khalil al-Qattan, Mahabbits fi ‘Ulum Al-Qur’an. Beirut: Man syurat al-a’Asr al hadist, 1973.

Al-Sabuni, al-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, (Tp: ‘Alma al-Kutub, tt) dalam Helina, Studi Al-Qur’an. Pekanbaru: Benteng Media CV, 2013.

http://www.academia.edu/8259383/Pengertian_Ruang_lingkup_dan_cabang2_ilmu_Al-Quran

Muchotob Hamzah, Studi Al-Qur’an Komprehensif. Yogyakarta: Gama Media, 2003.

Hudzaifah.org – Asbabun Nuzul (Sebab-Sebab Turunnya Ayat) Surat Al Qadr

  1. Aunur Rafiq El-Mazni, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010.

 

 

 

 

 

 

 

 

MAKALAH AKHLAK “AKHLAK KEPADA RASULULLAH”

7

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur sebelumnya penulis ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “AKHLAK KEPADA RASULULLAH” ini dengan tepat waktu. Sholawat beserta salam tak lupa penulis sampaikan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang syafa’atnya kita nanti – nantikan di yaumul kiamah nanti.

Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada :

  1. Bapak Khairunnas Rajab, M.Ag, selaku dosen yang telah memberikan arahan kepada kami dalam rangka penyelesaian makalah ini.
  2. Kepada orang tua yang telah memotivasi kami sehingga makalah ini terselesaikan.
  3. Kepada teman – teman dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Penulis menyadari dalam penyusunan dan pembuatan makalah ini terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, baik dalam penulisan maupun penyajian materi. Untuk itu kritik dan saran yang membangun dari semua pihak sangat penulis harapkan demi kesempurnaan dalam penyusunan dan penulisan makalah ini kedepannya.

 

 

Pekanbaru, Desember 2014

 

 

Penulis

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Sebagai seorang muslim kita harus berakhlak kepada Rasulullah SAW, meskipun beliau sudah wafat dan kita tidak berjumpa dengannya, namun keimanan kita kepadanya membuat kita harus berakhlak baik kepadanya, sebagaimana keimanan kita kepada Allah, membuat kita harus berakhlak baik kepada-Nya. Pada dasarnya Rasulullah SAW adalah manusia yang tidak berbeda dengan manusia pada umumnya. Namun, terkait dengan status “Rasul” yang disandangkan Allah atas dirinya, maka terdapat pula ketentuan khusus dalam bersikap terhadap utusan yang tidak bisa disamakan dengan sikap kita terhadap orang lain pada umumnya.

  1. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang muncul adalah:

  1. Mengapa kita wajib mencintai dan taat kepada Rasulullah Saw ?, dan
  2. Bagaimana cara berakhlak kepada Rasulullah Saw ?
  3. Tujuan

Dari rumusan masalah di atas, tujuan pembuatan makalah ini adalah:

  1. Menjelaskan mengapa kita wajib mencintai dan taat kepada Rasulullah Saw.
  2. Menjelaskan bagaimana cara berakhlak kepada rasulullah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

“Akhlak Kepada Rasulullah”

Allah berfirman :

لَقَدْ جَاءَ كُمْ رَسُولٌ مِّنْ أُنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَاعَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِاُ لْمُؤْمِنِيْنَ رَءُ وْفٌ رَّحِيْمٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat rasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang – orang yang beriman.” (Q.S. at-taubah : 128)

Iman kepada para nabi merupakan salah satu butir dalam rukun iman. Sebagai umat islam, tentu kita wajib beriman kepada Rasulullah saw. beserta risalah yang dibawanya. Untuk memupuk keimanan ini, kita perlu mengetahui dan mempelajari sejarah hidup beliau, sehingga dari situ kita dapat memetik banyak pelajaran dan hikmah.

Ditinjau dari silsilah keturunannya, nama lengkap Rasulullah adalah Abu Qasim Muhammad bin ‘abdillah bin ‘abdil Muthathalib bin Khasyim bin Abdi Manaf bin Qushayy bin Khilab bin Murrah bin Ka’ bin Lu-ayy bin Ghalib bin fihhr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas binMudhar bin Nizar bin Ma’add bin ‘adnan, dan Adnan adalah salah satu keturunan Nabi Allah Isma’il bin Ibrahim al-Khalil. [1]

Beliau adalah penutup para nabi dan rasul, serta utusan Allah kepada seluruh umat manusia. Beliau adalah hamba yang tidak boleh disembah, dan rasul yang tidak boleh didustakan. Beliau adalah sebaik-baik makhluk, makhluk paling mulia dihadapan Allah, derajatnya paling tinggi, dan kedudukannya paling dekat oleh Allah.

Beliau diutus kepada manusia dan jin dengan membawa kebenaran dan petunjuk, yang diutus oleh Allah sebagi rahmad bagi alam semesta.

 

Sebagaimana firman Allah :

وَمَآ أَرْسَلْنَكَ أِلاَّ رَحْمَةً لِّلْعَلَمِيْنَ

“Dan kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmad bagi seluruh alam” (Q.S. Al-Anbiyaa’ : 107). [2]

Allah menurunkan kitab-Nya kepadanya mengamanahkan kepadanya atas agama-Nya, dan menugaskannya untuk menyampaikan risalah-Nya. Allah telah melindunginya dari kesalahan dalam menyampaikan risalah itu. Allah ta’ala mendukung nabi-Nya dengan mukzizat-mukzizat yang nyata dan ayat-ayat yang jelas, memperbanyak makan untuk beliau, memperbanyak air. Dan beliau mengabarkan sebagian perkara ghaib.

  1. KEWAJIBAN MENCINTAI RASULULLAH

Mencintai Rasulullah adalah wajib dan termasuk bagian dari iman, semua orang islam mengimani bahwa Rasulullah adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Makna mengimani ajaran Rasulullah Saw adalah menjalankan ajarannya, menaati perintahnya dan berhukum dengan ketetapannya.

Ahlus sunah mencintai Rasulullah Saw dan mengagungkannya sebagaimana para sahabat beliau mencintai beliau lebih dari kecintai mereka kepada diri mereka sendiri dan keluarga mereka, sebagaimana sabda Rasulullah :

لايؤمن أحدكم حتّى اكون أحبّ اليه من نفسه ووالِده وولَده والنّاس أجمعين.

Artinya: Tidak beriman salah seorang diantaramu, sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada dirinya sendiri, orang tuanya, anaknya dan manusia semuanya. (H.R. Bukhari Muslim).[3]

Sebagaimana yang terdapat dalam kisah “Umah bin Khaththab r.a., yaiu sebuah hadis dari sahabat ‘Abdullah bin Hisyam r.a, ia berkata ’ :

“kami mengiringi Nabi dan beliau menggandeng tangan ‘Umar bin Khaththab r.a,’ kemudian Umar berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, sungguh engkau sangat kucintai melebihi apapun selain diriku”, maka Rasulullah menjawab “tidak, demi yang jiwa ku berada ditangan-Nya, hingga aku sangat engkau cintai melebihi dirimu”, lalu Umar berkata “Sungguh sekaranglah saatnya, demiAllah engkau sangat kucintai melebihi diriku” maka Rasulullah berkata : “sekarang engkau benar wahai Umar”. (H.R. Al-Bukhori).[4]

Allah swt berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللهَ فَاتَّبِعُوْنِى يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَاللهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Katakanlah (Muhammad): “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS 3:31).[5]

 

Berdasarkan hadis-hadis diatas, maka mencintai Rasulullah adalah wajib dan harus didahulukan daripada kecintaan kepada segala sesuatu selain kecintaannya kepada Allah, sebab mencintai Rasulullah adalah mengikuti sekaligus keharusan dalam mencintai Allah. Mencintai Rasulullah adalah kecintaan karena Allah, ia akan bertambah seiring dengan kecintaannya kepada Allah.

 

  1. TAAT

Kita wajib menaati nabi Muhammad Saw dengan menjalankan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Hal ini merupakan konsekuensi dari syahadat (kesaksian) bahwa beliau adalah rasul (utusan Allah). Dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah memerintahkan kita untuk menaati nabi Muhammad Saw. diantaranya ada yang diiringi dengan perintah taat kepada Allah sebagaimana firman-Nya :

يَـأيُّهَا اْلَذِيْنَ ءَامَنُواْ أَطِيْعُواْ اللَّهُ وَأَطِيْعُواْ الرَّسُولُ…

“Wahai orang-orang yang beriman ‘taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad)’…..” (Q.S. Annisa : 59).

Allah SWT menyeru hamba-hamba-Nya yg beriman dengan seruan “Hai orang-orang yg beriman” sebagai suatu pemuliaan bagi mereka karena merekalah yg siap menerima perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Dengan seruan iman merekapun menjadi semakin siap menyambut tiap seruan Allah SWT. Kewajiban taat kepada Allah dan kepada Rasul-Nya adalah dengan melaksanakan perintah-perintah -Nya serta larangan-larangan -Nya.

Kaum muslimin harus taat kepada Ulil Amri apabila dalam memerintah mereka menyeru kepada yg ma’ruf dan mencegah yg munkar. Akan tetapi jika mereka menyuruh kepada hal-hal yg dapat melalaikan kewajiban untuk taat kepada Allah SWT atau bahkan menyuruh perbuatan yang melanggar aturan Allah SWT maka tiap kita kaum muslimin tidak boleh menaatinya. Rasulullah SAW telah bersabda yang artinya:

“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yg ma’ruf dan tidak ada ketaatan terhadap makhluk dalam maksiat terhadap sang Khaliq.

Jika terjadi perbedaan pendapat di antara kaum muslimin atau antara mereka dengan Ulil Amri atau sesama Ulil Amri maka wajib baginya mengembalikan persoalan itu kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yaitu dengan merujuk kepada kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.[6]

Jika benar-benar beriman seseorang hanya akan kembali kepada kitabullah dan unnah Rasul-Nya dalam menyelesaikan segala perkara dan tidak akan berhukum kepada selain keduanya. Jika tidak maka iman seseorang dapat diragukan dari ketulusannya.
Jika seseorang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir ia akan taat kepada Allah dan Rasul-Nya karena ia mengimani benar bahwa Allah SWT sesungguhnya Maha Mengetahui segala sesuatu baik yang nampak maupun yang tersembunyi

Terkadang pula Allah mengancam orang yang mendurhakai Rasulullah, sebagaimana firman-Nya :

…فَلْيَحْذَرِالَّذِيْنَ يُخَالِفُوْنَ عَنْ أَمْرِهِ،أَنْ تُصِيْبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْيُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ

“… Maka hendaklah orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (Q.S. An-Nur : 63).[7]

Artinya hendaknya mereka takut jika hatinya ditimpa fitnah kekufuran, nifaq, bid’ah, atau siksa pedih didunia. Allah telah menjadikan ketaatan dan mengikuti Rasulullah sebagai sebab hamba mendapatkan kecintaan Allah dan amounan atas dosa-dosanya, sebagai petunjuk dan mendurhakainya sebagai suatu kesesatan.

Allah mengebarkanbahwa pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagi segenap umatnya. Allah berfirman :

لَّقَدْكَانَ لَكُمْ فِى رَسُوْلِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْكَانَ يَرْجُوْاْ اللَّهَ وَالْيَوْمَ الأَخِرَوَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيْرًا

“Sungguh, telah ada pada diri rasulullah itu suri teladan yang baik untuk mu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmad) Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah ” (Q.S. Al-Ahzaab : 21).

Al-Hafizh Ibnu Katsir r.a. berkata : “ayat yang mulia ini adalah pokok yang agung tentang meneladani rasulullah Saw dalam berbagai perkataan, perbuatan dan perilakunya.” Untuk itu, Allah Swt memerintahkan manusia untuk meneladani sifat sabar, keteguhan, kepahlawanan, perjuangan dan kesabaran nabi dalam menanti pertolongan dari Rabb nya ketika perang ahzab. Semoga Allah senantiasa mencurahkan salawat kepada beliau hingga hari kiamat.[8]

Kunci kemuliaan seorang mukmin terletak pada ketaatannya kepada Allah dan rasul-Nya, karena itu para sahabat ingin menjaga citra kemuliaannya dengan mencontohkan kepada kita ketaatan yang luar biasa kepada apa yang ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan kepada Rasul sama kedudukannya dengan taat kepada Allah, karena itu bila manusia tidak mau taat kepada Allah dan Rasul- Nya, maka Rasulullah tidak akan pernah memberikan jaminan pemeliharaan dari azab dan siksa Allah swt, di dalam Al-Qur’an, Allah swt berfirman:

 

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا

Barang siapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka (QS 4:80).

Di dalam ayat lain, Allah swt berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu”. (QS 47:33).[9]

 

Manakala seorang muslim telah mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan memperoleh kenikmatan sebagaimana yang telah diberikan kepada para Nabi, orang yang jujur, orang yang mati syahid dan orang-orang shaleh, bahkan mereka adalah sebaik-baik teman yang harus kita miliki, Allah swt berfirman:

 

وَمَن يُطِعِ اللّهَ وَالرَّسُولَ فَأُوْلَـئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاء وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَـئِكَ رَفِيقاً ﴿ألنسا ٦٩﴾

 

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya) mereka itu akan bersama- sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu nabi-nabi, para shiddiqin, orang yang mati syahid dan orang yang shaleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS 4:69).

Oleh karena itu, ketaatan kepada Rasulullah saw juga menjadi salah satu kunci untuk bisa masuk ke dalam surga. Adapun orang yang tidak mau mengikuti Rasul dengan apa yang dibawanya, yakni ajaran Islam dianggap sebagai orang yang tidak beriman.

 

  1. MENGHIDUPKAN SUNNAH

Bagi seorang muslim, mengikuti sunah atau tidak bukan merupakan suatu pilihan, tetapi kewajiban. Sebab, mengenalkan ajaran Islam sesuai denagn ketentuan Allah dan Rasul-Nya adalah kewajiban yang harus diaati. Mengenai kewajiban mengikuti Nabi dan menaati sunnahnya serta mengikuti petunjuknya, Allah berfirman :

 

…وَمَآءَائَـىكُمُ الرَّسُلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَكُمْ عَنْهُ فَاْنَتَهثوْاْ،وَاتَّقُواْ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيْدُ العِقَابِ

“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah.dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukum-Nya.” (Q.S. al-Hasyr : 7).[10]

 

Kemudian, Allah berfirman yang artinya :

“Berimanlah kamu sekalian kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi, yang beriman kepada Allah dan semua firman-firman-Nya. Hendaklah kamu mengikutinya, niscaya kamu akan mendapatkan petunjuk”. (7 : 157).

Diriwayatkan bahwa Nabi bersabda : “Al-Qur’an adalah berat dan sulit bagi orang-orang yang membencinya. Barangsiapa yang berpegang teguh dengan apa yang aku katakan, memahami dan menguasaianya, maka ia akan mendapatkan bahwa perkataanku adalah sama dengan al-qur’an. Barangsiapa meremehkan dan mengabaikan al-qur’an serta perkataanku maka ia akan merugi didunia ini dan diakhirat nanti. Ummatku diperintahkan menuruti perkataanku dan perintahku dan mengikuti sunnahku. Barangsiapa rela terhadap perkataanku mestilah ia rela terhadap al-qur’an”.

Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : “Barangsiapa menghadirkan sunnahku kedalam kehidupan maka sunggu ia telah menghadirkanku kedalam hidupnya. Dan barangsiapa menghadirkan aku dalam hidupnya ia akan bersama ku dalam surga”.

Kemudian ‘Amr ibn ‘Awf al-Muzani berkata bahwa rasulullah mengakatakan bahwa Bilal ibn al-Harits : “ barang siapa meghidupkan kembali sunnahku setelah wafatku ia akan menerima pahala dari semua orang yang bertindak dengan sunnahku tanpa mengurangi sedikitpun dari pahala mereka. Barang siapa memperkenalkan bid’ah sehingga Allah dan Rasul-Nya tidak berkenan karenanya ia akan sama seperti mereka yang bertindak dengan beliau tanpa mengurangi sedikitpun hukuman mereka.”.[11]

Aku tinggalkan kepadamu dua pusaka, kamu tidak akan tersesat selamanya bila berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitab Allah dan sunnahku (HR. Hakim).

Selain itu, Rasul Saw juga mengingatkan umatnya agar waspada terhadap bid’ah dengan segala bahayanya, beliau bersabda:

Sesungguhnya, siapa yang hidup sesudahku, akan terjadi banyak pertentangan. Oleh karena itu,. Kamu semua agar berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para penggantiku. Berpegang teguhlah kepada petunjuk-petunjuk tersebut dan waspadalah kamu kepada sesuatu yang baru, karena setiap yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan itu di neraka”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Hakim, Baihaki dan Tirmidzi).

Al-Hasan ibn al-Hasan meriwayat bahwa Rasulullah bersabda : “Mengerjakan perkara kecil yang tergolong sunnah adalah lebih baik daripada melakukan banyak hal yang tergolong bid’ah.”.

Al-‘Irbad Sarriya menyampaikan peringatan Rasulullah “Kamu haruslah mengikuti sunnahku dan sunnah khalifah-khalifah yang tertunjuki. Berpegang teguhlah kepada-Nya denga kuat dan berhati-hati terhadap hal-hal yang baru. Hal-hal baru ini adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”. Jabir menambahkan “setiap kesesatan berada dalam neraka.”

Secara umum bid’ah adaah sesat karena berada diluar perintah Allah Swt dan Rasul-Nya, akan tetapi banyak hal yang membuktyikan, bahwa Nabi membenarkan banyak persoalan yang sebelumnya belum pernah beliau lakukan. Kemudian dapat disimpulkan bahwa semua bentuk amalan, baik itu dijalankan atau tidak pada masa Rasulullah, selama tiak melanggar syari’at dan mempunyai tujuan , niat mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan ridho-Nya, serta untuk mengingat Allah serta Rasul-Nya adalah sebagian dari agama dan itu dperbolehkan dan diterima.

Sebagaimana nabi bersabda :

“Sesungguhnya segala perbuatan tergantung pada niat dan setaiap manusia akan mendapat sekedar paa yang diniatkan, siapa yang hijrahnya (tujuannya) itu adalah karena Alah dan Rasul-Nya, hijrahnya (tujuan) itu adalah berhasil.” (H.R. Bukhari)

 

Banyak sekali orang yang memfonis bid’ah dengan berdalil pada sabda Rasulullah :

“setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat”.

Juga hadis Rasulullah :

“barang siapa yang didalam agama kami mengadakan sesuatu yang tidak dari agama ia ditolak”.

Mereka tidak memperhatikan terlebih dahulu apakah yang baru diakukan itu membawa kebaikan dan yang dikehendaki oleh agama atau tidak. Jika ilmu agama sedangkal itu orang tidak perlu bersusah payah memperoleh kebaikan.

Ditambah lagi tuduhan golongan orang ingkar mengenai suatu amalan , adalah kata-kata sebagai berikut : Rasulullah tidak pernah memerintah dan mencontohkannya. Begitu pula para sahabat tidak ada satupun diatara mereka yang mengerjakannya. Dan jikalau perbuatan itu baik kenapa tidak dilakukan oleh Rasulullah, jika mereka tidak melakukan kenapa harus kita yang melakukannya. Bahkan dengan hal itu mereka menyebutkan bahwa hal baru seperti tahlilan atau berzikir bersama adalah bid’ah, dan itu adalah sesat.

Dimana harus kita fahami macam-macam sunnah, antara lain adalah :

  • Sunnah Qauliyyah : sunnah dimana Rasulullah saw sendiri menganjurkan atau menyarankan suatu amalan, tapi tidak ditemukan bahwa rasulullah tidak pernah mengerjakannya secara langsung. Jadi sunnah ini adalah sunnah rasulullah yang dalilnya sampai kepada kita bukan dengan cara dicontohkan, melainkan hanya diucapkan saja oleh beliau. Contohnya adalah hadis rasulullah yang menganjurkan orang untuk belajar berenang, tetapi kita belum pernah mendengar rasulullah atau para sahabat belajar berenang.
  • Sunnah Fi’liyah : sunah yan ada dalilnya dan pernah dilakukan langsung oleh Rasulullah. Misalkan sunnah puasa senin kamis, makan dengan tangan kanan, dan lain-lain.
  • sunnahTaqriyyah : sunah dimana Rasulullah tidak pernah melakukan secara langsung dan tidak pula pernah memerintahkannya. Melainkan hanya mendiamkannya saja. Contohnya adalah beberapa amalan para sahabat yang saat dilakukan rasulullah mendiamkannya saja.[12]
  • Begitu juga dengan amalan ibadah yang belum pernah dilakukan nabi dan para sahabat juga tidak pernah disampaikan dan tidak pula didiamkan oleh beliau, yaitu yang dilakukan oleh para ulama. Misalkan mengadakan majlis maulidin Nabi Saw dan yasinan. Tidak lain para ulama yang melakukan ini adalah mengambil dalil-dalil dari kitabullah yang menganjurkan agar manusia selalu berbuat kebaikan atau dalil tentang pahala bacaan dan amal ibadah. Dan berbuat kebaikan ini banyak caranya asalkan tidak bertentangan dengan islam.

 

 

 

 

Mari kita rujuk ayat al-qur’an berikut :

 

…وَمَآءَائَـىكُمُ الرَّسُلُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَكُمْ عَنْهُ فَاْنَتَهثوْاْ،وَاتَّقُواْ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيْدُ العِقَابِ

“… Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah.dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukum-Nya.” (Q.S. al-Hasyr : 7). [13]

Dalam ayat ini jelas bahwa perintah untuk tidak melakukan segala sesuatu jika telah tegas dan jelas larangannya.

Dan dalam hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh bukhari :

“Jika aku menyuruhmu melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampumu dan jika aku melarangmu melakukan sesuatu, maka jauhilah.”.

Maka para ulama mengambil kesimpulan bahwa bid’ah yang dianggap sesat adalah menghalalkan sebagian dari agama yang tidak diizinkan oleh Allah. Serta bertentangan dengan yang telah disyari’atkan oleh islam. Contoh bid’ah sesat yang mudah adalah sengaja shalat tidak menhadap kiblat, mengerjakan shalat dengan satu sujud, atau yang lebih banyak terjadi adalah bagi masyarakat keraton yaitu mendo’akan orang yang telah meninggal dengan sesaji serta memohon kepada Allah dan berdzikir menggunakan sesaji. Itulah yang dianggap sesat karna sesaji tidak ada dalam islam dan itu menyimpang dari stari’at islam.

Dengan demikian, menghidupkan sunnah Rasul menjadi sesuatu yang amat penting sehingga begitu ditekankan oleh Rasulullah Saw.

Contoh-contoh sunnah Rasulullah adalah :

  • Istigfar setiap waktu
  • Menjaga wudhu
  • Bersedekah
  • Shalat dhuha
  • Puasa Muharram dan shalat tahajud :

Dari Abu Hurairah r.a. dia berkata : “ Rasulullah Saw bersabda :

 

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ المُحَرَّمُ وَأَضَلُ الصَّلاَ ةِ بَعْدَالفَرِيْضَة صَلاَةُ اللَّيْلِ

“Seutama-utama puasa sesudah Ramadhan adalah puasa dibulan Muharram dan seutama-utama shalat sesudah shalat fardu ialah shalat malam.” ( H.R. Muslim no.1163).[14]

 

  1. MEMBACA SHALAWAT DAN SALAM.

Diantara hak Nabi Saw yang disyariatkan Allah atas umatnya adalah agar mereka mengucapkan shalawat dan salam untuk beliau. Allah Swt dan para malaikat-Nya telah bershalawat kepada beliau dan Allah memerintahkan kepada para hamba-Nya agar mengucapkan shalawat dan taslim kepada beliau.

Allah berfirman :

إِنَّ اللَّهَ وَمَلئِكَتَهُ, يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ, يـآيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُواْصَلُّواْعَلَيْهِ وَسَلِّمُواْتَسْلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi Saw. ‘Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.’” (Q.S. Al-Ahzab : 56).

Al-Mubarrad berpendapat bahwa akar kata bershalawat berarti memohonkan rahmad dengan demikian shalawat berarti rahmad dari Allah sedang shalawat malaikat berarti pengagungan dan permohonan rahmad Allah untuknya.[15]

Jika bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw hendaklah seseorang menghimpunnya dengan salam untuk beliau. Karena itu, hendaklah tidak membatasi dengan salah satunya saja. Misalnya dengan mengucapkan “Shallallaahu ‘alaih (semoga shalawat dilimpahkan untuknya).” Atau hanya mengucapkan ‘alaihissalam (semoga dilimpahkan untuknya keselamatan)”. Jadi digabung : “washshalaatu wassalaamu ‘ala Rasulillah, atau Allahumma shalli wa sallim ‘ala Nabiyyina Muhammad, atau shallallahu ‘alaihi wa sallam.”. hal itu karena Allah memerintahkan untuk mengucapkan keduanya.

Mengucapkan shalawat untuk Nabi Saw, diperintakan oleh syari’at pada waktu-waktu yang dipentingkan, baik yang hukumnya wajib dan sunnah muakaddah. Diantara waktu itu adalah ketika shalat diakhir tassyahud, diakhir qunud, saat khutbah seperti khutbah jum’at dan khutbah hari raya, setelah menjawab mu’adzin, ketika berdo’a, ketika masuk dan keluar masjid, jugaketika menyebut nama beliau.

Rasulullah Saw telah mengajarkan kepada kaum muslimin tentang tata cara mengucapkan shalawat. Rasulullah menyarankan agar memperbanyak shalawat kepadanya pada harijum’at, sebangaimana sabdanya :

 

أَكْثِيْرُ الصَّلاَةَ عَلَيَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ، فَمَنْ صَلّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهِ عَشْرًا

“Perbanyaklah kalian membaca shalawat untukku pada hari dan malam jum’at, barang siapa yang bershalawat untukku sekali, niscaya Allah bershalawat untuknya 10 kali.”

 

Kemudian ibnul qayyim menyebutkan beberapa manfaat dari membaca shalawat kepada Nabi, diantaranya adalah :

  • Shalawat merupakan bentuk ketaatan kepada perintah Allah
  • Mendapatkan 10 kali shalawat dari Allah bai yang bershalawat sekali untuk beliau
  • Diharapkan dikabulkannya do’a apabila didahului dengan shalawat
  • Shalawat merupakan sebab mendapatkan syafaat dari Nabi, diiringi permohonan kepada Allah agar memberikan wasilah (kedudukan yang tinggi) kepada beliau pada hari kiamat
  • Sebab diampuninya dosa-dosa
  • Shalawat adalah sebab sehingga nabi menjawab orang yang mengucapkan shalawt dan salam kepadanya.

Para ulama ahlus sunnah telah banyak meriwayatkan lafadz-lafadz shalawat yang shahih, sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah kepada para sahabatnya, diantaranya :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَهِيْنمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِبدٌ مَجِيْدٌ

“Ya, Allah berikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad , sebagaimana engkau telah memberikan shalawat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah berikanlah berkah kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan berkah kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”[16]

 

  1. MENCINTAI KELUARGA NABI

Mengikuti kerabat rasulullah Saw yang mulia dan berlepas diri dari musuh mereka, adalah masalah penting yang telah diwajibkan oleh islam dan telah dianggapnya sebagai bagian dari cabang agama. Rasulullah menggambarkan ahlil baitnya sebagai suatu benda yang berat dan berharga, sebanding dengan al-qur’an dan benda berharga lainnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Wahai manusia sesungguhnya aku tinggalkan dua perkara yang besar untuk kalian, yang pertama adalah Kitabullah(Al-Quran) dan yang kedua adalah Ithrati(Keturunan) Ahlul baitku. Barang siapa yang berpegang teguh kepada keduanya, maka tidak akan tersesat selamanya hingga bertemu denganku ditelaga al-Haudh.” (HR. Muslim dalam Kitabnya Sahih juz.2, Tirmidzi).[17]

Nabi Saw bersabda :

Dan sesungguhnya ulama adalah pewaris Nabi. Sesungguhnya Nabi tidak mewariskan uang dinar atau dirham, sesungguhnya Nabi hanya mewariskan ilmu kepada mereka, maka barangsiapa yang telah mendapatkannya, berarti telah mengambil bagian yang besar”. (HR. Abu daud dan Tirmidzi)

Karena ulama disebut sebagai pewaris Nabi, maka orang yang disebut ulama seharusnya tidak hanya memahami tentang beluk beluk agama Islam, tapi juga memiliki sikap dan kepribadian sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi dan ulama seperti inilah yang harus kita hormati. Adapun orang yang dianggap ulama karena pengetahuan agamanya yang luas, tapi tidak mencerminkan pribadi Nabi, maka orang seperti itu bukanlah ulama yang sesungguhnya dan berarti tidak ada kewajiban bagi kita untuk menghormatinya.

Rasulullah menyebut keluarga sucinya sebagai jalan kebebasan, pintu keselamatan, dan cahaya petunjuk. Rasulullah juga mewajibkan kita untuk mencintai dan menaati mereka.

Dari abi dzarr ia berkata, ‘saya mendengar Rasulullah Saw bersabda’: “Jadikanlah ahlul baitku bagimu tidak ubahnya seperti kepala bagi tubuh dan tidak ubahnya dua mata bagi kepala. Karena sesungguhnya tubuh tidak akan memperoleh petunjuk kecuali dengan kepala, dan begitu juga kepala tidak akan memperoleh petunjuk kecuali dengan kedua mata.”.

Kecintaan kepada kerabat Rasulullah Saw yang di istilahkan sebagai ahlul bait manfaatnya kembali kepada orang yang melakukannya. Rasulullah mengatakan bahwa kecintaan ini merupakan upah dari Allah Swt atas risalah yang disampaikannya. Sebagaimana firman Allah, “katakanlah, Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upah apapun atas seruanku, kecintaan kepada keluargaku” (Q.S. Asy-syura : 23).

Kecintaan yang disebutkan disini bukanlah kecintaan biasa, melainkan kecintaan yang mendorong manusia kepada maqam kedekatan ilahi, dan mampu memasuki pintu kebahagiaan abadi.[18]

Mengenai ruang lingkup ahli bait ini, para ulama masih berbeda penafsiran. Antara lain adalah :

  1. Menurut ahlus sunnah, cakupan ahli bait sangat luas dan beragam, mulai dari Ali, Hasan, Husein dan keturunannya, istri-istri Nabi saw., keluarga ja’far dan keluarga Abbas, serta bani Abdul Muthalib dan Bani Hasyim. Kepada a-‘Abbas Nabi bersabda: “Demi Allah yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya, keyakinan tidak akan munculah didalamhati seseorang sampai dia mencintai Allah dan Rasulullah. Barang siapa mencelakai paman saya ini berarti mencelakai saya. Seorang paman adalah seperti ayah sendiri”

Nabi juga berkata kepada al-‘abbas : “Berkanlah makanan kepada Ali dengan makanan yang engkau berikan kepada anak-anakmu, wahai pamanku.”. kemudian nabi mengumpulkan mereka dan menyelimuti mereka dengan jubahnya, sambil berkata, “Ini adalahpamanku dan layaknya ayahku dan mereka adalah Ahlul Baitku, jadi lindngilah mereka dari api neraka seperti saya menyelimuti mereka” Pintu dan dinding menjawab, Amin ! Amin !”.

Nabi sering menggandeng tangan Usamah ibn Zayd dan al-Hasan dan berkata : “cintailah mereka ya Allah, sebagaimana saya mencintai mereka”.

Abu bakar berkata : “Hormatilah nabi muhammad dengan menghormati Ahlul Baitnya”, ia juga berkata : “Demi Allah jiwaku dalam kekuasaan-Nya, kerabat terdekat Rasulullah lebih aku sayangi daripada kerabat dekatku sendiri.”

Rasul bersabda : “Allah mencintai siapa yang mencintai Hasan”.

Nabi juga bersabda : “Barang siapa mencintai dua orang tersebut dan ayah serta ibu mereka akan bersamaku pada hari kebangkitan”.

Rasulullah bersabda : “barang siapa merendahkan quraysh Allah akan merendahkan mereka”.

Rasulullah bersabda : “Cintailah kaum Quraysh dan janglah mendahului mereka”.

Kepada Ummu Salamah Nabi bersabda : “Janganlah melukaiku denagn menyakiti Aisyah”.[19]

  1. Sedangkan bagi kalangan Syiah, istilah ahli bait lebih sempit lagi. Yaitu berkisar kepada 12 imam : Ali, Hasan, Husein dan 9 keturunan Husain.
  2. Menurut Asy-Syeikh DR, Muhammad Abduh Al-Yamani menyimpulkan bahwa keluarga nabi saw., terdiri dari Fatimah, Ali, Hasan, Husain dan para keturunannya. Sedangkan istri Rasulullah juga termasuk keluarga Nabi Saw berdasarkan keumuman ayat Al-Qur’an serta konteks hadist.
  3. Dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari zaid bin Arqam r.a. disimpulkan bahwa diantara mereka yang termasuk ahli bait adalah anggota keluarga beliau ayng diharamkan menerima sadaqah yaitu keluarga Ali, keluarga Uqoil, keluarga Ja’far, keluarga Abbas. Sesungguhnya istri-istri beliau juga termasuk dalam anggota ahlul bait.
  4. Adapun istri-istri Rasulullah Saw dalam pendapat yang Raajih (benar) maka sesungguhnya mereka masuk kepada keluarga nabi. Sebagaimana firman Allah yang memerintahkan tentang berhijab kepada istri-istri Nabi, “Sesungguhnya Allah berkehendak untuk menghilangkan kekejian dari kalian Ahlul bait (keluarga Rasulullah Saw) dan mensucikan kalian sesuci-sucinya.” (Q.S)
  5. Dalam kitab: ‘Alimu Awladakum Mahabbata Ahli Baitin Nabiy dijelaskan bahwa yang tergolong ahlul-bait adalah Sayyidatuna Fathimah, Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan dan Sayyinina Husain radhiyallahu ‘anhum.

Begitu pula istri-istri Nabi merupakan keluarga Nabi berdasarkan ke umuman ayat Al-Qur’an, serta manthuq (arti tersurat) hadits yang menerangkan tentang anjuran membaca shalawat kepada Nabi, istri dan keluarga beliau.

Yakni firman Allah SWT “Nabi itu lebih utama bagi orang mukmin daripada diri mereka sendiri. Dan Istri-istri Nabi adalah ibu mereka.” (QS. al-Ahzab: 6)[20]

Sedangkan sahabat Nabi adalah orang yang pernah bertemu Nabi Muhammad SAW ketika beliau masih hidup walaupun sebentar, dalam keadaan beriman dan mati dengan tetap membawa iman.

Dalam keyakinan kita Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), mencintai keluarga dan sahabat Nabi SAW, sekaligus memberikan penghormatan khusus kepada mereka merupakan suatu keharusan. Ada beberapa alasan yang mendasari hal tersebut.

Pertama, mereka adalah generasi terbaik Islam, menjadi saksi mata dan pelaku perjuangan Islam. Bersama Rasulullah SAW menegakkan agama Allah SWT di muka bumi. Mengorbankan harta bahkan nyawa untuk kejayaan Islam. Allah SWT meridhai mereka serta menjanjikan kebahagiaan di surga yang kekal dan abadi Firman Allah SWT yang artinya:

Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kemu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ta??atilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilanghkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS al-Ahzab: 33)

“Orang-orang terdahulu lagi yang pertama (masuk Islam) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS at-Taubah : 100)

Kedua, Rasulullah SAW sangat mencintai keluarga dan sahabatnya. Dalam banyak kesempatan, Rasulullah selalu memuji para keluarga dan sahabatnya, melarang umatnya untuk menghina mereka.

“Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabat, janganlah kalian mencaci sahabatku! Demi Dzat Yang Menguasaiku, andaikata salah satu diantara kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud, maka (pahala nafkah itu) tidak akan menyamai (pahala) satu mud atau setengahnya dari (nafkah) mereka.” (HR Muslim).[21]

Dari sinilah, mencintai keluarga dan sahabat Nabi adalah mengikuti teladan Rasulullah SAW yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mencintai Nabi SAW.Ketiga, tuntunan dan teladan ini juga diberikan oleh keluarga dan sahabat Rasul sendiri. Di antara mereka terdapat rasa cinta yang mendalam, antara satu dengan lainnya saling menghargai dan menghormati.

 

  1. BERZIARAH KEMAKAM RASULULLAH

Berkunjung kemakam Rasulullah merupakan amalan sunnah, yakni amalan yang sangat mulia dan sangat dianjurkan. Ibn Umar mengatakan bahwa Nabi Muhammad bersabda yang arinya : “Barang siapa berziarah kemakamku, maka ia dijamin akan mendapat syafaatku.” [22]

Saat melaksanakan haji merupakan kesempatan emas bagi umat Islam untuk melaksanakan ibadah sebanyak-banyaknya. Beribadah di Haramain (Makkah dan Madinah) mempunyai keutaman yang lebih dari tempat-tempat lainnya. Maka para jamaah haji menyempatkan diri berziarah ke makah Rasulullah SAW.Berziarah ke makam Rasulullah SAW adalah sunnah hukumnya.

Dari Ibn ‘Umar RA. Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang melaksanakan ibadah haji, lalu berziarah ke makamku setelah aku meninggal dunia, maka ia seperti orang yang berziarah kepadaku ketika aku masih hidup.” (HR Darul Quthni)

Atas dasar ini, pengarang kitab I’anatut Thalibin menyatakan: ”Berziarah ke makam Nabi Muhammad merupakan salah satu qurbah (ibadah) yang paling mulia, karena itu, sudah selayaknya untuk diperhatikan oleh seluruh umat Islam”.

Dan hendaklah waspada, jangan sampai tidak berziarah padahal dia telah diberi kemampuan oleh Allah SWT, lebih-Iebih bagi mereka yang telah melaksanakan ibadah haji. Karena hak Nabi Muhammad SAW yang harus diberikan oleh umatnya sangat besar.

Bahkan jika salah seorang di antara mereka datang dengan kepala dijadikan kaki dari ujung bumi yang terjauh hanya untuk berziarah ke Rasullullah SAW maka itu tidak akan cukup untuk memenuhi hak yang harus diterima oleh Nabi SAW dari umatnya.

Mudah-mudahan Allah SWT membalas kebaikan Rasullullah SAW kepada kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.

Lalu, bagaimana dengan kekhawatiran Rasulullah SAW yang melarang umat Islam menjadikan makam beliau sebagai tempat berpesta, atau sebagai berhala yang disembah.. Yakni dalam hadits Rasulullah SAW:

Dari Abu Hurairah RA. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kamu jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan, dan janganlah kamu jadikan rumahmu sebagai kuburan. Maka bacalah shalawat kepadaku. Karena shalawat yang kamu baca akan sampai kepadaku di mana saja kamu berada. (Musnad Ahmad bin Hanbal: 8449)

Menjawab kekhawatiran Nabi SAW ini, Sayyid Muhammad bin Alawi Maliki al-Hasani menukil dari beberapa ulama, lalu berkomentar : “Sebagian ulama ada yang memahami bahwa yang dimaksud (oleh hadits itu adalah) larangan untuk berbuat tidak sopan ketika berziarah ke makam Rasulullah SAW yakni dengan memainkan alat musik atau permainan lainnya, sebagaimana yang biasa dilakukan ketika ada perayaan. (Yang seharusnya dilakukan adalah) umat Islam berziarah ke makam Rasul hanya untuk menyampaikan salam kepada Rasul, berdo di sisinya, mengharap berkah melihat makam Rasul, mendoakan serta menjawab salam Rasulullah SAW.

(Itu semua dilakukan) dengan tetap menjaga sopan santun yang sesuai dengan maqam kenabiannya yang mulia. (Manhajus Salaf fi Fahmin Nushush bainan Nazhariyyah wat-Tathbiq, 103)[23]

Maka, berziarah ke makam Rasulullah SAW tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan sangat dianjurkan karena akan mengingatkan kita akan jasa dan perjuangan Nabi Muhammad SAW, sekaligus menjadi salah satu bukti mengguratnya kecintaan kita kepada beliau.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Yazid bin Abdul Qadir Jawas. 2013. Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Bogor : Pustaka Imam As-syafi’i.

‘Iyad Qodi Ibn Musa Al Yahsubi. 2002. Keagungan Kekasih Allah ‘Muhammad Saw’. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Abdullah Thaha Al-‘afifi. 2007. Sifat dan Pribadi Muhammad Saw. Jakarta : Darul al-‘arabiyyah.

http://bobhasan.wordpress.com/2011/06/28/5-contoh-contoh-bidah-yang-diamalkan-sahabat/g.

http://pondok-Abdusshomad.wordpress/about-akhlak -kepada-rasul.

  1. Salamullah, Alaika. 2008. Akhlak Hubungan Vertikal. Yogyakarta : Pustaka Insan Madani.

Putra, semarang. Akhlak kepada Rasul. http://www.eramuslim.com/syariah/tsaqofah-islam/drs-h-ahmad-yani-ketua-lppd-khairu-ummah-akhlak-kepada-rasul.

http://www.google.com.id/m/search?q=hadis-sahih-tentang-puasa-muharram.

Mazhahiri Husain Syaikh. Mencintai Keluarga Rasulullah.http://buletinmitsal.wordpress.com/about/m/mencintai-keluarga-rasul.

 

 

 

 

 

[1]  Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 245.

[2] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 246.

[3] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 249.

[4] Qodi ‘Iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah, Muhammad Saw, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 375.

[5] M.alaika Salamullah, Akhlak Hubungan Vertikal, Pustaka Insan Madani, Yogyakarta, 2008, hm. 39.

[6] Putra, Semarang, Akhlak kepada Rasul. http://www.eramuslim.com/syariah/tsaqofah-islam/drs-h-ahmad-yani-ketua-lppd-khairu-ummah-akhlak-kepada-rasul. Tgl. 30 . 10 . 2014.

[7] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 261.

[8] Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 262.

[9] KH Muhyiddin Abdusshomad, akhlak kepada Rasul, http://pondok-Abdusshomad.wordpress/about-akhlak -kepada-rasul. Tgl. 30. 10 . 2014.

[10] M.alaika Salamullah, Akhlak Hubungan Vertikal, Pustaka Insan Madani, Yogyakarta, 2008. hlm. 51-52.

[11] Qodi ‘Iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah, Muhammad Saw, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 366 – 368.

[12] Bob, Hasan. http://bobhasan.wordpress.com/2011/06/28/5-contoh-contoh-bidah-yang-diamalkan-sahabat/g. Tgl . 30 . 10. 2014

[13] M.alaika Salamullah, Akhlak Hubungan Vertikal, Pustaka Insan Madani, Yogyakarta, 2008, hm. 52

[14] http://www.google.com.id/m/search?q=hadis-sahih-tentang-puasa-muharram. Tgl. 30. 10 . 2014.

[15] Qodi ‘Iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah, Muhammad Saw, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 419.

[16] [16]  Yazid bin Abdul Qodir Jawas, Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, Pusttaka Imam asy-syafi’i, Bogor, 2013, hlm. 264-266.

[17] M.alaika Salamullah, Akhlak Hubungan Vertikal, Pustaka Insan Madani, Yogyakarta, 2008, hm. 42-43.

[18] Mazhahiri Husain Syaikh. Mencintai Keluarga Rasulullah.http://buletinmitsal.wordpress.com/about/m/mencintai-keluarga-rasul. Tgl. 30. 10. 2014

[19] Qodi ‘Iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah, Muhammad Saw, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 406-407.

[20] Thaha Abdullah Al-‘Afifi, sifat dan pribadi Muhammad, Darul Afaq al-Arabiyyah, Jakarta, 2007. Hlm : 8.

[21] Mazhahiri Husain Syaikh. Mencintai Keluarga Rasulullah.http://buletinmitsal.wordpress.com/about/m/mencintai-keluarga-rasul. Tgl. 30. 10. 2014

[22] Qodi ‘Iyad Ibn Musa Al-Yahsubi, Keagungan Kekasih Allah, Muhammad Saw, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 453.

[23] KH Muhyiddin Abdusshomad, akhlak kepada Rasul, http://pondok-Abdusshomad.wordpress/about-akhlak -kepada-rasul. Tgl. 30. 10 . 2014.

 

MAKALAH AKHLAK “Akhlak kepada Allah SWT: Berdo’a,Bertaubat dan Berdzikir”

6

  1. Akhlak Kepada Allah SWT

Kata akhlak berasal dari kata bahasa arab, yaitu “khuluq” yang artinya budi pekerti, perangai tingkah laku atau tabiat, dan dapat kita ketahui bahwa akhlak sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam pada jiwanya. Sedangkan menurut istilah, akhlak ialah daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah dan tanpa berpikir dan di renungi lagi.[1][1]

Dengan demikian akhlak pada hakikatnya adalah sikap yang melekat pada diri manusia, sehingga manusia dapat melakukan tanpa berpikir, akhlak dikenal juga dengan istilah moral dan etika. Moral yang berati adat atau kebiasaan, moral selalu dikaitkan dengan ajaran baik dan buruk di terima umum atau masyrakat, karena adat istiadat dalam satu masyarakat merupakan standar menentukan baik dan buruknya.

Sedangkan akhlak kepada Allah dapat di artikan sebagai sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebgai makhluknya. Sehingga akhlak kepada allah dapat di artikan segala sikap atau pebuatan manusia yang di lakukan tanpa berfikir lagi yang memang ada pada diri manusia sebagai mamba Allah SWT.

 

  1. Do’a

Menurut bahasa “ad-du’aa” artinya memanggil, meminta tolong, atau memohon sesuatu. Sedangkan doa menurut pengertian syariat adalah memohon sesuatu atau memohon perlindungan kepada Allah SWT dengan merendahkan diri dan tunduk kepadaNya. Doa merupakan bagian dari ibadah dan boleh dilakukan setiap waktu dan setiap tempat, karena Allah SWT selalu bersama hamba-hambaNya.

Do’a dalam pengertian adalah pendekatan diri kepada Allah SWT dengan sepenuh hati[2][3], dan rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah menegaskan keistemewaan do’a di sisi Allah SWT adalah melebihi segala keistimewaan yang ada, dalam hal ini rasulullah bersabda: tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi allah di banding dengan do’a (hr. tarmizi, nasai,abu dawud). Do’a adalah bentuk pengagungan terhadap allah dengan di sertai keikhlasan hati serta permohonan petolongan disertai kejernihan nurani agar selamat dari segala. selamat dari segala musibah serta meraih keselamatan abadi. Doa berarti memohon atau meminta sesuatu yang baik kepada Allah SWT yang Maha Pemurah. Allah SWT menyuruh orang-orang Islam berdoa atau meminta sesuatu kepadaNya seperti firman Allah SWT Q.S Al-mu’min : 60.

Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”

 

Etika dalam Berdo’a

Etika dalam do’a adalah bagian dari ibadah untuk mendapatkan kemakbulan dalam berdo’a.[3][4]

 

  1. Memulai Berdo’a dengan Membaca Basmalah

Berdoa hendaknya dimulai dengan membaca basmalah (karena malakukan perbuatan yang baik hendaknya dimulai dengan basmalah), hamdalah dan sholawat.

 

  1. Memilih Waktu

Seorang muslim dalam berdo’a hendaklah memilih waktu dan situasi yang baik sehingga do’anya dapat di kabulkan Allah SWT: seperti pada hari arafah, hari jumat, bulan ramdhan, malam lailatul-qadar,waktu sahur (menjelang shubuh), atau di tengah keheningan malam.

  • Hari harafah adalah hari dimana kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia berkumpul disuatu tempat, padang arafah , berkumpul untuk mendekatkan diri kepada allah dalam pelaksanaan ibadah haji.
  • Bulan ramadhan memiki keistimewaan untuk memprbanyak do’a dikarnakan pada bulan itu dibukakan pintu-pintu surga dibuka seleba-lebarrnya.
  • Hari jumat memiliki keistimewaan untuk memperbnyak do’a dikarnkan termasuk hari yang paling mulia dalam satu minggu.sebab di dalamnya terdapt waktu yang apabila seseorang memanjatkan pasti dikabulkan allah.
  • Malam lailatul-qadar memiliki keistimewaan untuk memperbnyak doa di karenakan termasuk malam yang palng di muliakan allah, beribadah di dalamnya lebih baik bribadah seribu bulan, Dalam hal ini rasulullah menegaskan: “Barang siapa melakukan ibadah pada malam qadar (lailatul qadar) di landasi iman dan keikhlasan hati, maka di ampuni dosa-dosanya yang telah lalu”.
  • Waktu sahur (menjelang subuh) memiliki keistimewan untuk memperbanyak doa dikarnakan disaat itu hati seseorang sedang dalam keadaan tenang bersih lagi suci.
  • Pada waku sahur, allah menebarkan ampunan dan rahmat-nya kepada setiap manusia yang memanjatkan doa.

 

  1. Mengangkat Tangan dan Menghadap Kiblat

Seorang muslim ketika berdo’a hendaklah menghadap kiblat.sebab yang demikian adalah sunat. Disamping itu hendaklah mengangkat tangan ketika berdo’a, dan mengusapkan kedua telapak tangan ke wajah ketika selesai brdo’a. Karna itu bagian dari sunnah rasul.

Do’a yang di panjatkan disertai mengangkat tangan mudah di kabulkan oleh Allah SWT, dalam hal ini Rasulullah menegaskan: “sesungguhnya tuhan mu hidup kekal lagi maha mulia, merasa malu terhadap hamba-nya yang mengangkat tangan tinggi-tinggi ketika berdo’a sehingga tidak ada lagi alasan untuk tidak mengabulkan permohonannya .”(HR A bu daud dan tirmidzi dari salaman AL-Fairisi).

 

  1. Dimulai dengan Memuji Allah SWT

Seoramg muslim ketika berdo’a hendaklah memulai do’anya dengan memuji keagungan Allah, bahwa pujian kepada Allah bershalawat kepada Nabi baik di tengah, di awal maupun di akhir do’a. Bahwa pujian kepadaAallah dengan menyebut asma-nya yang mulia (asmaul-husna) dan bacaan shalawat nabi ketika memulai suatu do’a merupakan etika dalam berdo’a. Sebuah do’a akan di kabulakan Allah bila disertai bacaan asmaul-husna dan shlawat nabi, dan para nabi meyakinin bahwa hal tersebut merupakan etika yang sngat tinggi di dalam berdo’a, sehingga mereka menjadikan pujian terhadap allah merupakan permulaan dari do’a.

 

  1. Khusyuk dalam Berdo’a

Ketika dalam berdo’a hendaklah menunjukkan siakap merendahkan diri dan kekhsyuk’an hati. Misalnya, dengan mengulang bacaan do’a hingga tiga kali, tidak tergesa-gesa , serta penuh keyakinan bahwa do’a yang panjatkan pasti di kabulkan oleh Allah SWT kepada setiap hambanya yang memanjatkan do’a dalam Al-Qur’an telah di tegaskan :

Artinya : ”berdo’a lah kepada tuhan mu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut .sesungguhnya allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah allah memperbaikinya , dan berdo’alah kepadnya dengan rasa takut tidak di terima dan penuh harapan akan di kabulkan , sesungguhnya rahmat allah sngatlah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik .”(QS-A’raf:55-56).

 

  1. Dengan Suara Sederhana

Ketika memanjatkan do’a hendalah dengan volume suara yang sederhana, tidak tidak terlalu keras tidak pula terlalu pelan. Sebab orang yang berdo’a berarti sedang berdialog dan berhadapan langsung dengan Allah SWT, dan selayaknya bila dia merendahkan suara hingga hatinya lebih khusyuk dan merasa dekat dengan-Nya.

 

  1. Memilih Do’a Qur’ani dan Hadisi

Ketika berdo’a hendaklah kita memilih do’a-do’a yang telah di ajarkan Al-Qur’an maupun Al-Hadist, Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’Ulumuddin menegaskan: yang terbaik bagi seseorang yang memanjatkan do’a adalah memilih do’a yang benar-benar telah diajarkan Al-Qur’an dan Al-Hadist, sebab kemakbulannya sudah teruji, keberhasilannya dalam mendatangkan kemaslahatan bagi ummat.

 

  1. Tidak Menyimpang dari Syariat

Ketika berdo’a hendaklah jangan menyimpang dari garis ajaran syariat Islam, dan jangan berdo’a untuk kesengsaraan orang lain atau untuk kecelakaan diri sendiri. Sebab sudah kebiasaan bagi manusia, bila dilanda musibah yang berat kemudian putus asa dan berdo’a dengan do’a yang konyol, misalnya, meminta agar segera meninggal atau mendapatkan musibah yang lebih berat lagi dan apabila marah pada orang lain, kemudian mendo’akannya dengan do’a yang tidak baik.

 

  1. Taubat

Taubat adalah kembali dari kemaksiatan kepada ketaatan atau kembali dari jalan yang jauh dari allah ke jalan yang lebih dekat ke pada allah dan meninggalkan seluruh dosa dan kemaksiatan, menyesali perbuatan dosa yang telah lalu, dan berkeinginan teguh untuk tidak mengulngi lagi perbuatan dosa tersebut pada waktu yang kan datang[4][5]. Allah berfirman Q.S. Al-Tahrim 8:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Hukum taubat adalah wajib bagi setip muslim atau muslimah yang sudah mukallaf (balig dan berakal). Taubat baru dinggap sah dan dapat menghapus dosa apabila telah memenuhi syarat yang telah di tentukan. Bila dosa itu terhadap Allah SWT. Maka syarat taubatnya ada tiga macam, yaitu:

  1. Menyesal terhadap perbuatan maksiat yang telah diperbuat.
  2. Meninggalkan perbuatan maksiat itu.
  3. Bertekan dan berjanji dengan sungguh-sungguh tidak akan    mengulangi lagi perbuatan maksiat itu.

Namun bila dosa itu terhadap sesama manusia, maka syarat taubatnya ditambah dua lagi yaitu :

  1. Meminta maaf kepada orang yang di dzalimi dan dirugikan.
  2. Menganti kerugian setimbang dengan kerugian yang di alaminya akibat perbuatan zalim itu atau minta kerelaan.

Dosa terhadap sesama manusia akibat perbuatan zalim itu hendaknya disellesaikan di dunia ini juga. Karena kalau tidak., pelaku dosanya di alam akhirat termasuk orang yang merugi bahkan celaka. Apabila seorang telah terlanjur berbuat dosa, kemudian bertaubat dengan sebenar-benarnya, tentu ia akan memperoleh banyak hikmah dan manfaat. Tentu saja taubat yang dilakukan harus memenuhi syarat taubat seperti tersebut. Adapu hikmah daan manfaat yang diperoleh dari taubat itu antara lain: dosanya diampuni, memperolah rahmat Allah, dan bimbingan untuk masuk surga. Allah  SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman bertaubatlah kepada Allah dengan taubat semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga”.  (Q.S At-Tahrim, 66 : 8).

Perlu diketahui dan disadari oleh setiap orang yang telah terlanjur berbuat dosa, bahwa seorang yang telah membaca istigfar (mohon ampunan dosa kepada Allah), tetapi terus menerus berbuat dosa, maka ia akan dianggap telah mengolok-ngolok Tuhannya. Demikian juga seorang yang berbuat dosa dan baru bertaubat ketika “sakaratul maut” maka taubatnya tidak akan diterima Allah SWT.

Taubat yang di terima dan benar itu   mempunyai beberapa tanda :

  1. Agar setelah taubat ia menjadi lebih baik dari sebelumnya.
  2. Agar rasa takut itu terusmenyertainya, dan tidak pernah merasa aman dari siksa allah SWT.
  3. Hatinya merasa terlepas, dan hancur tercabik-cabik karena menyesal dan merasa takut,sesuai dengan besar kecilnya dosanya.
  4. Merasa remuk-redam tersensiri dalam hati, yang tidak diserupai oleh apa pun, seperti seorang hamba yang telah berbuat salah dan memberontak kepada tuhannya.

Sebab – sebab manusia harus bertaubat :

  1. Telah melakukan dosa kecil atau dosa besar.
  2. Supaya setiap amalan diterima oleh Allah dengan mudah.
  3. Supaya manusia tidak sombong dengan kekuasaan dan keagungan Allah.

Sebab Allah menerima taubat hambanya :

  1. Allah maha penyayang dengan mengampunkan dosa hambanya.
  2. Supaya hambanya bersih daripada dosa dan memperoleh balasan syurga di akhirat.
  3. Orang yang bertaubat akan berasa benci dengan dosa yang dilakukan.
  4. Supaya seseorang itu sentiasa melakukan kebaikan dan meninggalkan kejahatan.

Syarat – syarat taubat :

  1. Menyesal terhadap maksiat yang dilakukan.
  2. Berhenti melakukan maksiat dengan segera.
  3. Berazam tidak akan mengulangi lagi.
  4. Berterus terang memohon maaf jika berkaitan dengan hak orang lain.

Hikmah Taubat :

  1. Memberi peluang kepada orang yang berdosa kembali kejalan Allah.
  2. Memberi ketenangan hati kepada muslim yang bertaubat.
  3. Mendapat keampunan serta petunjuk Allah.
  4. Sebagai satu cara mendekatkan diri kepada Allah.
  5. Dzikir

Pengertian dzikir menurut bahasa berasal dari kata “dzakaro” yang artinya ingat [5][6]. Kata dzikir mengambil dari masdarnya dzikron, kemudian terkenal dengan istilah dzikir. Sedangkan dzikir menurut syara’  adalah ingat kepada Allah dengan etika tertentu yang sudah ditentukan dalam Al Qur’an dan Hadits dengan tujuan mensucikan hati dan mengagungkan Allah.

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.” (QS. Al-Ahzab : 41).

Allah sudah menunjukkan dasar pokok bahwa dzikir mampu menentramkan hati manusia. Hanya dengan dzikirlah hati akan menjadi tentram, sehingga tidak timbul nafsu yang jahat. Berdzikir dapat dilakukan dengan berbagai cara dan dalam keadaan bagaimamanapun, kecuali ditempat yang tidak sesuai dengan kesucian Allah. Seperti bertasbih dan bertahmid di WC.

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran : 191).

 

Dzikir Menurut Imam Nawawi Al BAntaniyu Penulis kitab Al Adzkar, menjelaskan dalam kitabnya bahwa dzikir bisa dilakukan dengan lisan dan hati. Tingkatan dzikir akan menjadi lebih sempurna jika melakukannya denga hati dan lisan. Jika harus memilih, mana yang lebih utama, menurutnya, harus dengan hati saja, namun akan lebih afdhol (utama) jika melakukannya dengan hati dan lisan sesuai dengan sunah Rosulullah.

Dzikir ialah menyebut allah dengan tasbih (subhanallah), membaca tahlil (la-ilaha illallahu), membaca tahmid (alhamdulillahi), baca tqdis (quddusun), membaca taqbir (allahu akbar), membaca hauqalah (la haula wala quata illa billahi), membaca hasbalah (hasbiyallahu), membaca basmalah (bismillahirrohmanirrohim)membaca Al-Qur’an dan membaca do’a-do’a yang di terima dari allah SAW.

 

  1. Bentuk dan Cara Berdzikir
  2. Dzikir dengan hati, yaitu dengan cara bertafakur, memikirkan ciptaan Allah sehingga timbul di dalam fikiran kita bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa. Semua yang ada di alam semesta ini pastilah ada yang menciptakan, yaitu Allah SWT. Dengan melakukan dzikir seperti ini, keimanan seseorang kepada Allah SWT akan bertambah.
  3. Dzikir dengan lisan (ucapan), yaitu dengan cara mengucapkan lafazh-lafazh yang di dalammya mengandung asma Allah yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada ummatnya. Contohnya adalah : mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil, sholawat, membaca Al-Qur’an dan sebagainya.
  4. Dzikir dengan perbuatan, yaitu dengan cara melakukan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Yang harus diingat ialah bahwa semua amalan harus dilandasi dengan niat. Niat melaksanakan amalan-amalan tersebut adalah untuk mendapatkan keridhoan Allah SWT. Dengan demikian menuntut ilmu, mencari nafkah, bersilaturahmi dan amalan-amalan lain yang diperintahkan agama termasuk dalam ruang lingkup dzikir dengan perbuatan.
  5. Manfaat Dzikirullah

Selalu ingat dan menyebut nama Allah setiap saat dan sepanjang waktu dikala berdiri, duduk dan berbaring merupakan gambaran nyata dari keimanan ,ketakwaan dan rasa tawakkal seseorang. Allah akan memperlihatkan menfaat nyata dari amalan dzikrullah seseorang dalam kehidupannya sehari hari hari antara lain :

  1. Mendapat ketenangan hati dan bebas dari perasaan jengkel, kecewa, sedih, duka, dendam dan stress berkepanjangan.
  2. Dikeluarkan Allah dari kegelapan (hidup yang penuh kesukaran, kesempitan,kepanikan, kekalutan ,kehinaaan dan serba kekurangan ) kepada cahaya yang terang benderang ( hidup bahagia,nyaman, aman, mulia, sejahtera dan berkecukupan).
  3. Terpelihara dan terhindar dari melakukan perbuatan keji dan mungkar.
  4. Terpelihara dari kelicikan dari tipu daya syetan yang menyesatkan.
  5. Selalu mendapat jalan keluar dari berbagai kesulitan yang datang menghadang dan mendapat rezeki dari tempat yang tidak pernah diduga, serta selalu dicukupkan semua kebutuhan hidupnya.

Untuk melaksanakan dzikir ada tata krama yang harus diperhatikan, yakni adab berdzikir. Semua bentuk ibadah bila tidak menggunakan tata krama atau adab, maka akan sedikit sekali faedahnya. Dalam kitab Al Mafakhir Al-’Aliyah fil Ma-atsir Asy-Syadzaliyah disebutkan pada pasal Adabuddz-Dzikr, sebagaiman dituturkan oleh Asy-Sya’roni bahwa adab berdzikir itu banyak tetapi dapat dikelompokkan menjadi 20 (dua puluh), yang terbagi menjadi tiga bagian; 5 (lima) adab dilakukan sebelum bedzikir, 12 (dua belas) adab dilakukan pada saat berdzikir,  2 (dua) adab dilakukan seelah selesai berdzikir.

Adapun 5 (lima ) adab yang harus diperhatikan sebelum berdzikir adalah :

  1. Taubat, yang hakekatnya adalah meninggalkan semua perkara yang tidak berfaedah bagi dirinya, baik yang berupa ucapan, perbuatan, atau keinginan.
  2. Mandi dan atau wudlu.
  3. Diam dan tenang. Hal ini dilakukan agar di dalam dzikir nanti dia dapat memperoleh shidq, artinya hatinya dapat terpusat pada bacaan Allah yang kemudian dibarengi dengan lisannya yang mengucapkan Lailaaha illallah.
  4. Menyaksikan dengan hatinya ketika sedang melaksanakan dzikir terhadap himmah syaikh atau guru mursyidnya.
  5. Meyakini bahwa dzikir thoriqoh yang didapat dari syaikhnya adalah dzikir yang didapat dari Rasulullah SAW, karena syaikhnya adalah naib (pengganti ) dari Beliau.

Sedangkan 12 (dua belas) adab yang harus diperhatikan pada saat melakukan dzikir adalah :

  1. Duduk di tempat yang suci seperti duduknya didalam shalat.
  2. Meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua pahanya.
  3. Mengharumkan tempatnya untuk berdzikir dengan bau wewangian, demikian pula dengan pakaian di badannya.
  4. Memakai pakaian yang halal dan suci.
  5. Memilih tempat yang gelap dan sepi jika memungkinkan.
  6. Memejamkan kedua mata, karena hal itu akan dapat menutup jalan indra dhohir, karena dengan tertutupnya indra dhohir akan menjadi penyebab terbukanya indra hati atau bathin.
  7. Membayangkan pribadi guru mursyidnya diantara kedua matanya. Dan ini menurut ulama thoriqoh merupakan adab yang sangat penting.
  8. Jujur dalam berdzikir. Artinya hendaknya seseorang yang berdzikir itu dapat memiliki perasaan yang sama, baik dalam keadaan sepi (sendiri) atau ramai (banyak orang).
  9. khlas, yaitu membersihkan amal dari segala ketercampuran. Dengan kejujuran serta keikhlasan seseorang yang berdzikir akan sampai derajat Ash-Shidiqiyah dengan syarat dia mau mengungkapkan segala yang terbesit di dalam hatinya (berupa kebaikan dan keburukan ) kepada syaikhnya.Jika dia tidak mau mengungkapkan hal itu, berarti dia berkhianat dan akan terhalang dari fath (keterbukaan bathiniyah).
  10. Memilih shighot dzikir bacaan La ilaaha illallah, karena bacaan ini memiliki keistimewaan yang tidak didapati pada bacaan-bacaan dzikir syar’i lainnya.
  11. Menghadirkan makna dzikir didalam hatinya.
  12. Mengosongkan hati dari segala apapun selain Allah dengan La ilaaha illallah, agar pengaruh kata “illallah” terhujam didalam hati dan menjalar ke seluruh anggota tubuh.

Dan 4 (Empat) adab setelah berdzikir adalah :

  1. Bersikap tenang ketika telah diam (dari dzikirnya), khusyu’ dan menghadirkan hatinya untuk menunggu waridudz-dzkir. Para ulama thoriqoh berkata bahwa bisa jadi waridudz-dzikr datang dan sejenak memakmurkan hati itu pengaruhnya lebih besar dari pada apa yang dihasilkan oleh riyadloh dan mujahadah tiga puluh tahun.
  2. Mengulang-ulang pernapasannya berkali-kali. Karena hal ini (menurut ulama thoriqoh) lebih cepat menyinarkan bashiroh, menyingkapkan hijab-hijab dan memutus bisikan-bisikan hawa nafsu dan syetan.
  3. Menahan minum air. Karena dzikir dapat menimbulkan hararah (rasa hangat di hati orang yang melakukannya, yang disebabkan oleh syauq dan tahyij (rasa rindu dan gairah) kepada Al-Madzkur/ Allah SWT yang merupakan tujuan utama dari dzikir, sedang meminum air setelah berdzikir akan memadamkan rasa tersebut.
  4. Para guru mursyid berkata:”Orang yang berdzikir hendaknya memperhatikan tiga tata krama ini, karena natijah (hasil) dzikirnya hanya akan muncul dengan hal tersebut.”Wallahu a’lam.

 

 

 

 

[1][1] Amril, Akhlak Tasawuf, (Pekanbaru: Program Pascasarjana uin suska riau, 2007), hlm 3

 

[2][3] Abu Naufal al-Mahalli, Doa yang didengar Allah, (Yogyakarta: Pustaka Firdausi, 2005), hlm 27

[3][4] Abu Naufal al-Mahalli, Doa yang didengar Allah, (Yogyakarta: Pustaka Firdausi, 2005), hlm 49

[4][5] Hasbi Ashiddieqy, Pedoman Dzikir dan Doa, (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1956), hlm 60

[5] [6] Ibnul Qayyim al jauziyah, Tobat Kembali pada Allah, (Jakarta: Gema Insani Press, 2006), hlm 19

 

MAKALAH AKHLAK “TAWAKAL SYUKUR DAN HAYA’’

5

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Islam merupakan agama yang sempurna yang didalamnya terdapat aturan-aturan baik untuk didunia maupun akhirat. Aturan-aturan tersebut dapat kita ketahui melalui firman-firman Allah SWT.
Sebagai muslim, kita tidaklah sukar untuk menentukan baik buruk, sebab apa yang diperintahkan ALLAH sudah pasti baik dan apa yang dilarang ALLAH sudah tentu pula buruk, tinggal lagi kita kerjakan yang baik dan kita tinggalkan yang buruk.
Rasullah sebagai teladan bagi kehidupan setiap muslim. Dalam situasi sekarang ini hendaklah kita tunjukan ahlakul mahmudah contohnya tawakkal, syukur, haya’ dan lain-lain. Adapun hal-hal yang menyangkut akan permasalahan dalam TAWAKA, SYUKUR dan MALU (HAYA’) akan dikaji dalam makalah ini.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa tawakal itu ?
2. Bagaimana cara bersyukur ?
3. Apakah itu haya’ ?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui bagaimana cara tawakal
2. Untuk menjelaskan apa itu syukur
3. Untuk memahami apa itu haya’
BAB II
PEMBAHASAN

A. TAWAKKAL
a. Pengertian tawakal
Tawakkal adalah menyerahkan segala urusan kepada allah dengan penuh kepercayaan kepadanya disertai mengambil sebab yang diizinkan syariat. Berdasarkan pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa tawakkal yang dilakukan seseorang bisa dinilai sebagai tawakkal yang dibenarkan jika terpenuhi dua syarat:
a) Kesungguhan hati dalam bersandar kepada allah
b) Menggunakan sebab yang diizinkan syariat.
Tawakkal itu berasal dari kata wakalah disebutkan “Seseorang meng-wakalah-kan urusannya kepada Fulan, maksudnya adalah seseorang itu telah menyerahkan urusannya kepada si Fulan dan ia berpegang kepada orang itu mengenai urusannya. Orang yang kepadanya diserahi urusan disebut “wakil”. Orang yang menyerahkan kepadanya disebut “orang yang mewakilkan kepadanya atau muwakkil”. Maka tawakkal adalah suatu ibarat tentang pegangan hati kepada wakil sendiri.

Allah berfirman dalam surat almaidah ayat 23 :

Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”
Dan dalam surat an-nisa’ ayat 81 :

Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: “(Kewajiban kami hanyalah) taat.” Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi pelindung.”

b. Keutamaan Bertawakkal
a) Tawakkal adalah setengah agama
Sebagaimana yang tercantum dalam surat Al Fatihah ayat 5, Allah berfirman, yang artinya: “Hanya kepadaMu kami beribadah dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan.” Para ahli tafsir menjelaskan bahwa induk Al Qur’an adalah surat Al Fatihah.
b) Tawakkal merupakan pondasi tegaknya iman dan terwujudnya amal shaleh
Ibnul Qoyyim menyatakan, “Tawakkal merupakan pondasi tegaknya iman, ihsan dan terwujudnya seluruh amal shaleh. Kedudukan tawakkal terhadap amal seseorang itu sebagaimana kedudukan rangka tubuh bagi kepala. Maka sebagaimana kepala itu tidak bisa tegak kecuali jika ada rangka tubuh, demikian pula iman dan tiang-tiang iman serta amal shaleh tidak bisa tegak kecuali di atas pondasi tawakkal.” (Dinukil dari Fathul Majid 341)
c) Tawakal merupakan bukti keimanan seseorang
Allah berfirman, yang artinya: “Bertawakkal-lah kalian hanya kepada Allah jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al Maidah: 23). Ayat ini menunjukkan bahwa tawakkal hanya kepada Allah merupakan bagian dari iman dan bahkan syarat terwujudnya iman.
d) Tawakkal merupakan amal para Nabi ‘alahimus shalatu was salam
Hal ini sebagaimana keterangan Ibn Abbas radliallahu ‘anhuma ketika menjelaskan satu kalimat: “hasbunallaah wa ni’mal wakiil” yang artinya, “Cukuplah Allah (menjadi penolong kami) dan Dia sebaik-baik Dzat tempat bergantungnya tawakkal.” Beliau mengatakan, “Sesungguhnya kalimat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim ‘alahis shalatu was salam ketika beliau dilempar ke api. Dan juga yang diucapkan Nabi Muhammad ‘alahis shalatu was salam ketika ada orang yang mengabarkan bahwa beberapa suku kafir jazirah arab telah bersatu untuk menyerang kalian (kaum muslimin)…” (HR. Al Bukhari &An Nasa’i).
e) Orang yang bertawakkal kepada Allah akan dijamin kebutuhannya
Allah berfirman, yang artinya, “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhannya).” (QS. At Thalaq: 3)

c. Macam-macam Tawakkal
Ditinjau dari sisi tujuanya, tawakkal dibagi menjadi dua macam:
a) TawakkalkepadaAllah
Bertawakkal kepada Allah merupakan bentuk ibadah yang sangat agung, sebagaimana yang telah dijelaskan di atas. Tawakkal kepada Allah baru akan sempurna jika disertai keadaan hati yang merasa butuh kepada Allah dan merendahkan diri kepadaNya serta mengagungkannya.
b) Tawakkal kepada selain Allah
Bertawakkal kepada selain Allah ada beberapa bentuk:
1. Tawakkal dalam hal-hal yang tidak mampu diwujudkan kecuali oleh Allah, seperti menurunkan hujan, tolak balak, tercukupinya rizki dst. Tawakkal jenis ini hukumnya syirik besar.
2. Tawakkal dalam hal-hal yang hanya mampu dilakukan oleh Allah namun Allah jadikan sebagian makhluqnya sebagai sebab untuk terwujudnya hal tersebut. Misalnya kesehatan, tercukupinya rizqi, jaminan keamanan, dst. Yang bisa mewujudkan semua ini hanyalah Allah. Namun Allah jadikan dokter dan obat sebab terwujudnya kesehatan, Allah jadikan suami sebagai sebab tercukupinya rizqi keluarganya, Allah jadikan petugas keamanan sebagai sebab terwujudnya keamanan, dst.. Maka jika ada orang yang bersandar pada sebab tersebut untuk mewujudkan hal yang diinginkan maka hukumnya syirik kecil, atau sebagian ulama menyebut jenis syirik semacam ini dengan syirik khofi (samar). Namun sayangnya banyak orang yang kurang menyadari hal ini. Sering kita temukan ada orang yang terlalu memasrahkan kesembuhannya pada obat atau dokter. Termasuk juga ketergantungan hati para istri terhadap suaminya dalam masalah rizqi. Seolah telah putus harapannya untuk hidup ketika ditinggal mati suaminya… Semoga kita diselamatkan oleh Allah dari bencana yang sering menimpa hati manusia ini..
3. Tawakkal dalam arti mewakilkan atau menugaskan orang lain untuk melakukan tugasnya. Tawakkal jenis ini hukumnya mubah selama tidak disertai jiwa merasa butuh dan penyandaran hati kepada orang tersebut.

B. DEFINISI SYUKUR
Menurut bahasa: terlihatnya bekas makan pada tubuh hewan, dikatakan “dabbatun syakur” jika hewan tersebut kelihatan gemuk.
Menurut istilah: terlihatnya bekas nikmat Allah dalam lisan hamba-Nya, dengan pujian dan pengakuan. Dan dalam qalbunya dengan kesaksian dan kecintaan.Dan dalam anggota badannya dengan tunduk dan taat.
Syukur adalah shighat mubalagoh bagi isim fa’il artinya pelaku syukur yang banyak melakukan, dengan demikian artinya : yang banyak bersyukur. Jadi dalam kemewahan atau hidup senang dan sejahtera banyak bersyukur atau berterima kasih kepeda yang memberi ikmat yakni ALLAH SWT.
Syukur adalah sarana untuk memanfaatkan dan memelihara karunia-Nya. Hati yang bersyukur memperkuat dan memantapkan kebaikan yang ada, serta akan menghasilkan kebaikan yang belum ada. Orang awam hanya bersyukur bila memperoleh rezeki material. Orang-orang yang telah mengalami pencerahan batin selalu bersyukur, baik ketika memperoleh nikmat maupun tidak. Orang-orang yang telah memperoleh nur ilahitidak mempedulikan nikmat maupun penderitaan, karna mereka melihat karunia dan rahmat allah dibalik semua penampakan serta pengalaman.
a. Kewajiban bersyukur
Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 152 :

“Karena itu ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku

Dalam ayat lain Allah berfirman dalam surah Ali Imran ayat 172 :

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.”
b. Nikmat Secara Umum
a) Nikmat penciptaan. Allah berfirman: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. 16: 78)
b) Nikmat sarana hidup. Allah berfirman: “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan. Dan kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air, Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?” (QS 36: 33-35)
c) Nikmat sistim hidup. Allah berfirman: “..bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. 2:185)
c. Nikmat Secara Khusus
a) Nikmat syurga. Allah berfirman: “Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan) (QS. 76: 22).
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS 4: 69)

b) Nikmat hidayah. Allah berfirman: “..dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang Telah menunjuki kami kepada (surga) ini. dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya Telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran.” dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS 7: 43)
c) Nikmat pertolongan. Allah berfirman: “Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 3: 126)
d. Cara Bersyukur
a) Dengan hati. Yaitu dengan mengakui bahwa hanya dari Allah semua nikmat itu datang. Allah berfirman: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS 16. 53)
b) Dengan lisan. Yaitu dengan banyak mengucapkan “alhamdulillaah”; dengan mengungkapkan nikmat Allah; semua ucapannya harus baik; berterima kasih atas kebaikan orang lain.
c) Dengan anggota badan: menggunakan nikmat Allah untuk ketaatan kepada-Nya dan bukan untuk kemaksiatan kepada-Nya; melakukan sujud syukur.
e. Keutamaan- keutamaan Bersyukur
a) Bertambahnya nikmat Allah. Allah berfirman: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS 14: 7)
b) Terpelihara dari godaan syaitan. Allah berfirman: “..Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS 7: 16-17).
c) Terpelihara dari siksa. Allah berfirman: “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ?dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS 4: 147)
d) Mendapat balasan yang baik. Allah berfirman: “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS 3: 145)
e) Mendapat keridlaan dari Allah. Allah berfirman: “Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu, dan dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu dia memberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan. Sesungguhnya dia Maha mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.” (QS 39: 7)
1. Haya’ (malu)
a. Pengertian malu
Malu adalah satu kata yang mencakup perbuatan menjauhi segala apa yang dibenci.[Lihat Raudhatul ‘Uqalâ wa Nuzhatul Fudhalâ’ (hal. 53)]
Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh berkata, “Malu berasal dari kata hayaah (hidup), dan ada yang berpendapat bahwa malu berasal dari kata al-hayaa (hujan), tetapi makna ini tidak masyhûr. Hidup dan matinya hati seseorang sangat mempengaruhi sifat malu orang tersebut. Begitu pula dengan hilangnya rasa malu, dipengaruhi oleh kadar kematian hati dan ruh seseorang. Sehingga setiap kali hati hidup, pada saat itu pula rasa malu menjadi lebih sempurna.
Perasaan malu didalam hati dikala akan melanggar larangan agama, malu kepada tuhan bahwa jika ia mengerjakan kekejian akan mendapat siksa yang pedih.perasaan ini menjadi pembimbing jalan menuju keselamatan hidup, perintis mencapai kebenaran dan alat yang menhalangi terlaksananya perbuatan yang rendah. Orang yang memiliki sifat ini, semua anggotanya dan gerkak geriknya akan senantiasa terjaga dari hawa nafsu, karna setiap ia akan mengerjakan perbuatan yang rendah, ia tertegun, tertahan dan akhirnya tiada jadi, karna desakan malunya, takut mendapat nama yang buruk,takut menerima siksaan allah swt kelak diakhirat. Tetapi janganlah malu itu hanya kepada manisia saja, maka berbuat yang baik kalau diketahui manusia tetapi kalau ditempat sunyi ai berbuat buruk sebab orang tida melihat. Maka hendaknya malu terhadap makhluk, juga lebih-lebih lagi malu terhadap kholik.
b. KeutamaanMalu
a) Malu pada hakikatnya tidak mendatangkan sesuatu kecuali kebaikan.
b) Malu adalah cabang keimanan.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.
“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan.
c) Allah Azza wa Jalla cinta kepada orang-orang yang malu.
d) Malu adalah akhlak para Malaikat.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ أَسْتَحْيِ مِنْ رُجُلٍ تَسْتَحْيِ مِنْهُ الْـمَلاَ ئِكَةُ.
“Apakah aku tidak pantas merasa malu terhadap seseorang, padahal para Malaikat merasa malu kepadanya.” [Shahîh: HR.Muslim (no. 2401)]
e) Malu adalah akhlak Islam.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.
“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu.” [Shahîh: HR.Ibnu Mâjah (no. 4181) dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jâmush Shaghîr (I/13-14) dari Shahabat Anas bin Malik t . Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 940)]
f) Malu sebagai pencegah pemiliknya dari melakukan maksiat.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Untuk beriman kepada allah kita harus mempunyai sifat tawakkal, syukur dan haya’.Karna sifat ini sangat dibutuhkan dalam memahami tentang beriman kepada allah.Yang tawakal adalah berserah diri kepada allah setelah usaha yang kita lakukan.Dan syukur adalah mensyukuri dari apa yang telah allah berikan untuk kita, karna apa yang menurut kita baik belum tentu menutur allah itu baik pula. Allah tidak memberikan apa yang kita mau tapi allah memberikan apa yang kita butuhkan.Dan haya’ adalah rasa malu yang kita miliki apabila kita tidak menjalankan perintah allah, dan malu apabila melanggar apa yang telah allah perintahkan kepada kita semua.

B. Saran
Dalam makalah ini mungkin masih banyak kesalahan-kesalahan yang terekspos karna kitapun masih dalam tahap belajar.Jika berkenan hendaknya pembaca mampu untuk mengkritik dan menambahkan kekurangan-kekurangan yang ada pada makalah ini. Kami sangat menghargai apapun kritikan itu selagi hal itu masih menyangkut akan masalah-masalah yang ada dalam makalh ini.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri.2008.Minhajul Muslim Konsep Hidup Ideal Dalam Islam.Jakarta.Daru. Haq
Prof.Dr.H.A.Rohman Ritonga Ma.2005.Amelia.Surabaya
Dr.Rasihon Anwar,M.Ag.2008.Aqidah Akhlak.Pustaka Setia Bandung
Imam Al Ghazali.2003.Ihya’ Ulumiddin Jilid VIII. Semarang.CV Asy Syifa’

Drs.barmawie umary.1995.materia akhlak.solo.ramadhani

Drs. Bukhari Dahlan.2006.tiga puluh tiga akhlak mukmin muslim.pekan baru. Suska press uin suska riau

Syekh fadhlalla.2012.al-hikam 264 hikmah dan renungan spritual harian.jakarta.PT serambi ilmu semesta

4

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufik dan inayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca.

Harapan kami semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

 

Pekan baru, 20 Desember 2014

 

 

 

 

Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………………… i

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………………… ii

BAB 1 PENDAHULUAN……………………………………………………………………………….. 1

  1. LATAR BELAKANG…………………………………………………………………………… 1
  2. RUMUSAN MASALAH………………………………………………………………………. 1
  3. TUJUAN……………………………………………………………………………………………… 2

BAB 2 PEMBAHASAN………………………………………………………………………………….. 3

  1. IMAN KEPADA ALLAH SWT……………………………………………………………. 3
  2. TAQWA KEPADA ALLAH SWT………………………………………………………… 8
  3. IKHLAS KEPADA ALLAH SWT………………………………………………………… 18

BAB 3 PENUTUP…………………………………………………………………………………………… 20

  1. KESIMPULAN…………………………………………………………………………………….. 20
  2. SARAN……………………………………………………………………………………………….. 20

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………. 21

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Kita sebagai umat islam memang selayaknya harus berakhlak baik kepada Allah karena Allah lah yang telah menyempurnakan kita sebagai manusia yang sempurna. Untuk itu akhlak kepada Allah itu harus yang baik-baik jangan akhlak yang buruk.Seperti kalau kita sedang diberi nikmat, kita harus bersyukur kepada Allah.

Menurut pendapat Quraish Shihab bahwa titik tolak akhlak kepada Allah adalah pengakuan dan kesadaran bahwa tiada Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji; demikian agung sifat itu, jangankan manusia, malaikat pun tidak akan mampu menjangkaunya.

Seorang yang berakhlak luhur adalah seorang yang mampu berakhlak baik terhadap Allah ta’ala dan sesamanya. Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

 

حُسْن الْخُلُق قِسْمَانِ أَحَدهمَا مَعَ اللَّه عَزَّ وَجَلَّ ، وَهُوَ أَنْ يَعْلَم أَنَّ كُلّ مَا يَكُون مِنْك يُوجِب عُذْرًا ، وَكُلّ مَا يَأْتِي   مِنْ اللَّه يُوجِب شُكْرًا ، فَلَا تَزَال شَاكِرًا لَهُ مُعْتَذِرًا إِلَيْهِ سَائِرًا إِلَيْهِ بَيْن مُطَالَعَة وَشُهُود عَيْب نَفْسك وَأَعْمَالك .

وَالْقِسْم الثَّانِي : حُسْن الْخُلُق مَعَ النَّاس .وَجَمَاعَة أَمْرَانِ : بَذْل الْمَعْرُوف قَوْلًا وَفِعْلًا ، وَكَفّ الْأَذَى قَوْلًا

وَفِعْلًا

 

Keseluhuran akhlak itu terbagi dua.Yang Pertama, akhlak yang baik kepada Allah, yaitu meyakini bahwa segala amalan yang anda kerjakan mesti (mengandung kekurangan/ketidaksempurnaan) sehingga membutuhkan udzur (dari-Nya) dan segala sesuatu yang berasal dari-Nya harus disyukuri.

Dengan demikian, anda senantiasa bersyukur kepada-Nya dan meminta maaf kepada-Nya serta berjalan kepada-Nya sembari memperhatikan dan mengakui kekurangan diri dan amalan anda.Kedua, akhlak yang baik terhadap sesama.kuncinya terdapat dalam dua perkara, yaitu berbuat baik dan tidak mengganggu sesama dalam bentuk perkataan dan perbuatan.

 

 

 

 

  1. Rumusan Masalah

Adapun contoh akhlak kepada Allah SWT yang akan di bahas dalam makalah ini adalah :

  1. Iman kepada Allah SWT
  2. Taqwa kepada Allah SWT.
  3. Ikhlas kepada Allah SWT.

 

 

 

 

  1. Tujuan Penulisan
  2. Tujuan umum

Agar seluruh muslimin dan muslimat senantiasa mengetahui cara berakhlak kepada Allah SWT.

 

  1. Tujuan khusus

Agar masing-masing mahasiswa mampu berakhlak kepada allah SWT dengan cara beriman kepada Allah SWT, bertaqwa kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintahnya dan menghentikan seluruh larangannya serta menerapkan sikap ikhlas dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

POKOK PEMBAHASAN

 

  1. IMAN KEPADA ALLAH

1.1 Pengertian Iman Kepada Allah SWT

Iman kepada Allah adalah mengakui adanya Allah yang maha pencipta semua mahkluk, pada hakikatnya iman kepada Allah bagi manusia sudah terjadi ketika manusia sudah terjadi ketika manusia iyu dilahirkan, manusia membutuhkan perlindungan atau pertolongan yang sifatnya mutlak[1]

Zat Allah adalah sesuatu yang ghaib, akal manusia tidak mungkin dapat memilarkan zat Allah, oleh sebab itu mengenai adanya Allah, kita harus puas dengan apa yang di jelaskan Allah melalui firman-firmannya dan bukti-bukti berupa adanya alam semesta ini, akal pikiran manusia dapat di gunakan untuk memikirkan dan merenungkan alam ciptaan tuhan, dengan di dukung oleh keterangan – keterangan ayat-ayat Al-Quran dan sunnah Rasullah , akan bertrambah subur iman seseorang kedudukan dan keteguhan iman sangat besar artinya dalam kehidupan seseorang. Iman yang teguh akan membuahkan sikap ihklas dan bersyukur dengan demikian seseorah yang teguh imannya senantiasa akan meras tenteram sebagaiman firman Allah (Q.S Ar-Ra’du: 28)

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ(28)

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

1.2.      Dasar beriman kepada Allah

Jika di perhatikan proses pengamatan manusia, mula-mula panca indera menerima rangsangan dari luar , kesan dan rangsangan itu disalurkan ke otak, otak menerima dan menyadari rangsangan itu, lalu meminta pertimbangan kepada hati, hasil pertimbangan dilaporkan kembali ke otak, melalui saraf, otak mengintruksikan anggota tubuh untuk berbuat[2]

Semua kesan / rangsangan dari luar tentang alam ini dipertimbangkan oleh hati, hati yang memberi pertimbangan atau berkeyakinan untuk berbicara berbuat, adanya alam semesta ini dan zat yang menciptakannya, yakni Allah di yakini oleh hati. Keyakinan ini di ikuti dengan ucapan pengakuan akan adanya Allah serta dibarengi pula dengan perbuatan berupa amal ibadah kepadanya, pengakuan hati merupakan dasar iman. Perlu di ingat bahwa hanya pengakuan tidak akan ada artinya tanpa ucapan lisan dan pengalaman anggota badan, sebab pengakuan hati, pengucapan lisan dan pengalaman anggota badan merupakan satu kesatuan yang tak dapat di pisahkan.

Namun demikian untuk mencapai iman yang benar tidak cukup adanyan dengan pengakuan hati,pengucapan lisan dan mengamalkan angota badan tetapi juga harus di padukan dengan tuntunan oleh Allah (Alquran)serta hadis rasullulah

 

 

1.3.Cara beriman kepada Allah

a.Bersifat Ijamli

cara beriman bersifat ini,maksudnya mempercayai Allah secara umum atau secara garis Allah,kita percaya akan allah itu ada dan allah maha pencipta,maha pengatur,maha pengusa hanya Allah yang pantas di sembah oleh manusia dan meminta pertolongan dan tempat manusia akan kembali.

b.Bersifat Tafsili

Cara beriman dengan tafsili yaitu mempercaiyai Allah secara terperenci,mempercai dengan sepenuh hati bahwa Allah mempunyai sifat wajib,dan Allah,mempunyai sifat mustahil yang jumlahnya sama dan memiliki sifat jaiz dalam hal kutrat dan iradatnya.

 

1.4. Bukti-Bukti adanya Allah

1.hakikat manusia sebagai makluk yang bertuhan

Pada hakikat manusia membutuhkan yang maha kuasa tempat berlindung dan semua agama mengakui adanya tuhan

2.ayat-ayat Alquran

Di dalam kitap alquran terdapat ayat-ayat adanya Allah tuhan yang maha kuasa di antaranya:

 

a.surat Albaqarah ayat 163

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ(163)

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

b.surat ar rum ayat 25

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ تَقُومَ السَّمَاءُ وَالْأَرْضُ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِذَا دَعَاكُمْ دَعْوَةً مِنَ الْأَرْضِ إِذَا أَنْتُمْ تَخْرُجُونَ(25)

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan iradat-Nya.Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu (juga) kamu keluar (dari kubur).

c.surat arrad ayat 2 s/d 4

اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ(2)وَهُوَ الَّذِي مَدَّ الْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ وَأَنْهَارًا وَمِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ جَعَلَ فِيهَا زَوْجَيْنِ اثْنَيْنِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ(3)وَفِي الْأَرْضِ قِطَعٌ مُتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَاءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا عَلَى بَعْضٍ فِي الْأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(4)

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas `Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan.Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan.Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya.Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang.Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.

3.kejadian alam semesta

Akal yang sehat tentu akan menyandari bahwa adanya sesuatu adanya yang mengadakannya.demikiaan pula dengan alam semesta ini beserta isi nya pasti ada yang menciptakan dan pencipta jagat raya ini pasti zat pencipta alam surat Ibrahim ayat 23 Allah berfirman

 

4.kejadian manusia

Lewat kejadian manusia terbukti manusia di ciptakan oleh zat maha kuasa.tidak mungkin manusia ada dengan sendirinya Allah berfirman Almukminun ayat 12-14

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ(12)ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ(13)ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ(14)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.

 

 

 

 

 

1.5.     Aspek-Aspek yang mencakup iman kepada Allah SWT

Adapun yang mencakup aspek iman kepada Allah SWT ialah:

  1. Iman Akan adanya Allah

Kebesaran Allah ini dapat dibuktikan oleh fitrah, akal, syara’ (Al-Quran dan Hadis) danperasaan, hal ini sebagaimana terperinci di dalam poin-poin berikut ini :

  1. Dalil kebesaran Allah berdasarkan fitrah.

Semua mahkluk di ciptakan oleh Allah dalam keadaan beriman kepada penciptanya, tanpa melalui proses berputar. Seseorang tidak akan berpaling dari fitrah ini kecuali jika ada sesuatu yang memalingkan hatinya dari fitrah tersebut. Sebagaimana sabda nabi

“tidak ada anak yang terlahir kecuali di lahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi dan Nasrani atau Majusi(H.R Bukhari)

  1. Dalil Keberadaan Allah Berdasarka Akal

Semua makhluk baik yang pada zaman dulu pmaupun yang kan dating pasti membutuhkan pencipta yang menciptakannya. Sedang mereka tidak mungkin ada dengan sendirinya atau mungkin ada secara kebetulan.

Allah telah menyebutkan dalil ‘aqli (aqal) dan bukti yang qath’I (pasti) pada surah at-thur yang artinya : “ apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri”.

Maksudnya ialah bahwa mereka tidak mungkin diciptakan tanpa ada yang menciptakannya. Dan tidak mungkin mereka menciptakan dirinya sendiri sehingga tidak ada yang lain kecuali Allah lah yang menciptakannya.

  1. Mengimani Allah Sebagai Rabbi

Maksudnya ialah mengimani bahwa Allah satu-satunya Rabbi, dimana tidak ada sesuatu ataupun penolong baginya dalam masalah ini. Yang dimaksud dengan rabi adalah zat yang menciptakan, menguasai dan memerintah, yaitu tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada raja kecuali Allah dan hak memerintah hanya miliknya semata.

Allah berfirman : Q.S Al-A’raf : 54

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ(54)

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam.Q.S Fathir : 13

يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ(13)

Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.

Dalam hal ini tak ada seorang pun manusia yang meningkari bahwa Allah adalah Rabbi kecuali orang-orang yang sombong yang ia sendiri tak yakin dengan apa yang ia katakan.

  1. Mengimani Allah sebagai Illah

Maksudnya adalah mengimani bahwa Allah adalah satu-satunya Illah yang sebenarnya dan tidak ada sekutu baginya. Yang dimaksud dengan Illah ialah Al-ma’luuh atau Al-Ma’buud yang berarti zat yang disembah oleh manusia dengan maksud untuk mencintai dan mengangungkannya. Allah berfirman (Q.SAl-Baqarah : 163)

وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ(163)

Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Al-Imran : 18

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ(18)

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

  1. Mengimani sifat-sifat dan Nama-nama Allah

Maksudnya Adalah menetapkan dan nama-nama sifat yang telah ditetapkan oleh Allah untuk dirinya sendiri baik dalam tetapnya maupun dalam sunnah Rasulnya. Tentunya dengan gambaran yang sesuai dengan keagungan Allah, tanpa harus merubah, mengingkari, memuaskan, tentang bentuk atau caranya ataupun menyerupakannya dengan sesuatu apapun. Allah SWT berfirman :

 

(Q.S Al-A’raaf : 180)

وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ(180)

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.

(Q.S Ar-Rum : 27)

وَهُوَ الَّذِي يَبْدَأُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ وَهُوَ أَهْوَنُ عَلَيْهِ وَلَهُ الْمَثَلُ الْأَعْلَى فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ(27)

Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nyalah sifat yang Maha Tinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(Q.S As-Syura : 11)

قَوْمَ فِرْعَوْنَ أَلَا يَتَّقُونَ(11)

(yaitu) kaum Fir`aun. Mengapa mereka tidak bertakwa?”[3]

 

 

 

  1. Taqwa Kepada Allah SWT

 

  • Pengertian Taqwa kepada Allah SWT.

 

Taqwa berasal dari kata waqa-yaqi-wiqayah yang artinya memelihara. Hujahnya adalah Al Quran At Tahrim ayat 6 yang bermaksud: “Wahai orang yang beriman, hendaklah kamu memelihara kamu dan keluargamu dari api neraka”. Dalam Al Quran, ALLAH sering menyeru dengan kalimat ittaqu atau yattaqi.

Tambahan huruf pada asal kata waqa membawa perubahan makna.Di sini ittaqullah mempunyai maksud hendaklah kamu mengambil ALLAH sebagai pemelihara /benteng/pelindung.Yaitu hendaklah jadikan Tuhan itu pelindung.Jadikan Tuhan itu benteng.

Bila sudah berada dalam perlindungan, kubu atau benteng Tuhan maka perkara yang negatif dan berbahaya tidak akan masuk atau tembus. Artinya jadikanlah Tuhan itu dinding dari segala kejahatan.

Taqwa merupakan perintah yang wajib atas setiap orang Islam.Setiap orang beriman diperintahkan oleh Allah dengan benar2 bertaqwa kepada Allah. Dalil2 Al-Qur’an dan  Hadis Nabi berkenaan “taqwa”  serta kewajipan “bertaqwa” terlalu banyak , diantaranya :

Firman Allah :

يأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُواْ اتَّقُواْ اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa kepada-Nya”. [Al-Imran (3) : 102]

Firman Allah :
قُل لاَّ يَسْتَوِى الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ فَاتَّقُواْ اللَّهَ يأُوْلِى الاٌّلْبَـبِ

لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Katakanlah (wahai Muhammad): Tidak sama yang buruk dengan yang baik, walaupun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu. Oleh itu bertaqwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal fikiran, supaya kamu berjaya.  
[Al-Maedah (5) : 100 ]

 

Sedangkan takwa secara lebih lengkapnya adalah, menjalankan segala kewajiban, menjauhi semua larangan dan syubhat (perkara yang samar), selanjutnya melaksanakan perkara-perkara sunnah (mandub), serta menjauhi perkara-perkara yang makruh(dibenci).

Kata takwa juga sering digunakan untuk istilah menjaga diri atau menjauhi hal-hal yang diharamkan, sebagaimana dikatakan oleh Abu Hurairah Radhiallaahu anhu ketika ditanya tentang takwa, beliau mengata-kan, “Apakah kamu pernah melewati jalanan yang berduri?” Si penanya menjawab, ”Ya”. Beliau balik bertanya, “Lalu apa yang kamu lakukan?”Orang itu menjawab, “Jika aku melihat duri, maka aku menyingkir darinya, atau aku melompatinya atau aku tahan langkah”. Maka berkata Abu Hurairah, ”Seperti itulah takwa.”

Pada prinsipnya ketakwaan seorang adalah apabila ia menjadikan suatu pelindung antara dirinya dengan apa yang ia takuti. Maka ketakwaan seorang hamba kepada Rabbnya adalah apabila ia menjadikan antara dirinya dan apa yang ia takuti dari Rabb (berupa kemarahan, siksa, murka) suatu penjagaan/pelindung darinya. Yaitu dengan menjalankan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Maka tampak jelas, bahwa hakikat takwa adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Thalq bin Hubaib, “Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah berdasarkan nur (petunjuk) dari Allah karena mengharapkan pahala dari-Nya. Dan engkau meninggalkan maksiat kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah karena takut akan siksa-Nya.”

Ketaqwaan seorang muslim kepada Allah SWT. Taqwa bukan sebatas melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan.Bukan sebatas menunai ketaatan dan menjauhkan kemaksiatan. Bukan sebatas membuat apa yang disuruh dan meninggalkan apa yang dilarang. Bukan juga sebatas meninggalkan apa yang haram dan menunaikan apa yang fardhu. Bukan sebatas menjauhkan yang syirik dengan beramal dan taat kepada Allah. Bukan sebatas menjauhkan diri dari segala apa yang akan menjauhkan diri kita daripada Allah. Bukan sebatas membatasi diri kepada yang halal saja dan bukan sebatas beramal untuk menjuruskan ketaatan kepada Allah semata-mata.

Usaha untuk menjadikan Allah sebagai pemelihara atau pelindung atau pembenteng ialah dengan melaksanakan perkara-perkara yang disuruh oleh Allah lahir dan batin. Dengan kata-kata yang lain, perkara yang disuruh itu ialah membina sifat-sifat mahmudah. Mengumpulkan dan menyuburkan sifat-sifat mahmudah itulah usaha bagi menjadikan Allah itu sebagai pemelihara atau pelindung. Membina sifat-sifat mahmudah itulah usaha ke arah taqwa

Definisi taqwa adalah memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala Perintahnya dan menjauhi segala larangannya.[4]

 

 

  • Empat Kriteria Taqwa

 

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam”. (QS. Ali Imran: 102).

Apa saja kriteria takwa itu? Imam Ali ra mendefinisikan taqwa dalam empat kriteria, yakni Al-khouf bil Jalil wal hukmu bit tanzil wal isti’dad li yaumil rahil war ridho bil qolil. (Takut kepada Allah yang Maha Mulia, berhukum dengan al-Quran yang telah diturunkan, bersiap diri untuk hari akhir, dan ridho dengan bagian sedikit)

Pertama,Al-Kouf bil Jalil (Takut kepada Allah yang Maha Mulia).Yang dimaksud takut disini bukan seperti kepada algojo atau atasan yang jahat. Namun, yang dimaksud takut disini adalah takut karena kebesaran dan kemahabijaksanaan Allah SWT, sehingga dia takut jika melanggar aturan Allah SWT, bahkan dia takut padaNya meskipun manusia tidak melihatnya.Hal ini pernah tercermin pada seorang wanita yang meminta Nabi saw agar ia dihukum rajam karena perbuatannya, sebab dia takut akan siksa Allah di akhirat.

Namun Rasulullah saw masih mengulur-ngulur waktu dalam menjatuhkan sangsi karena kehamilannya. Meskipun pelaksanaan sangsi diundur, namun wanita ini tidak sabar menunggu, dan pada waktunya ia pun dengan kesadaran sendiri mendatangi Nabi saw untuk dihukum. Setelah Nabi saw menjatuhkan hukuman rajam padanya hingga wafat, Nabi pun menshalatkan jenazahnya. Saat itu Umar bin Khattab ra bertanya memprotes Nabi, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau mau menshalatkan wanita penzina ini?” Nabi saw menjawab, “Wahai Umar, seandainya taubat wanita ini ditimbang dengan taubat sepuluh penduduk Madinah, pastilah taubatnya melampaui mereka”.
Perasaan takut kepada Allah inilah yang membuat manusia berhati-hati dalam melakukan segala kejahatan.
Kedua, al-hukmu bit tanzil (Berhukum kepada al-Quran yang diturunkan). Banyak di antara umat Islam yang ingin berhukum kepada Al-Quran, namun mereka masih memakai hukum kuffar.Mau bertuhankan Allah namun masih percaya dengan praktek klenik dan khurafat.
Suatu hari dua muallaf Yahudi telah resmi masuk Islam, namun dalam amalannya, mereka masih menikmati ritual agama Yahudi, dimana setiap hari sabtu masih melakukan ibadah cara Yahudi, maka turunlah ayat Allah SWT:

 

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS. Al-Baqarah: 208)

Ayat ini menunjukkan agar kita totalitas dalam berIslam serta hanya mengacu kepada tuntunan al-Quran dan sunnah Rasulullah saw, serta tidak mencampuradukkan ritual Islam dengan ritual agama lain.
Ketiga, Al-isti’dad li yaumil rahil (Menyiapkan diri untuk hari akhirat). Nabi saw pernah menyatakan bahwa orang yang cerdas adalah orang yang dapat menahan hawa nafsunya dan beramal untuk persiapan setelah meninggal dunia. Karena pada hakekatnya, hidup di dunia laksana menyebarang jalan.Artinya, dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan alam akhirt-lah tujuan akhir hidup kita.Oleh karena menyiapkan diri untuk tujuan akhir adalah penting, agar selamat sampai tujuan.

Suatu hari, tatkala Umar bin Abdul Aziz menerima tampuk kekhalfihan, beliau bersitirahat sejenak setelah menghadiri upacara pemakaman khalifah sebelumnya. Baru saja umar rebahan untuk beristirhat, tiba-tiba ada orang yang berkata, “Wahai, tidakkah anda segera mengembalikan harta yang pernah diambil khalifah sebelummu secara zhalim?”. Umar bin Abdul Aziz menjawab, “Tunggulah sebentar, aku akan beristirahat terlebih dahulu, nanti setelah zuhur akan aku serahkan harta yang pernah diambil secara zalim itu”. Namun kemudian orang itu berkata, “Siapakah yang menjaminmu tetap hidup setelah zuhur nanti?”. Mendengar kata-kata itu, segera saja Umar bin Abdul aziz tersentak dan tidak bisa tidur lagi, dan beliau segera mengembalikan harta yang pernah diambil secara zalim oleh khalifah sebelumnya.
Perasaan Umar seperti di atas adalah karena beliau ingin agar di akhirat tidak dituntut siapapun.Ini adalah penyikapan orang yang selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan akhirat.
Keempat, al-ridho bil qolil (Ridho dengan bagian yang sedikit).Sikap ini sepadan dengan makna qona’ah (rasa puas dengan pemberian Allah).Sikap ini sangat sulit jika tidak didorong dengan sikap husnuzzhon (baik sangka) kepada Allah SWT, sebab sifat dasar manusia adalah selalu ingin lagi dan ingin lagi.
Keluarga pasangan Ali bin bi Thalib dan Fatimah adalah cermin manusia yang ridho dengan pembagian Allah, bahkan saat Allah telah memberi rezeki pada mereka, mereka harus memberikannya kembali kepada orang yang lebih tidak mampu dari mereka.
Itulah empat kriteria takwa yang didefiniskan Saidina Ali bin Abi Thalib.

 

Adakah kriteria itu dalam diri kita?Jika belum, berarti waktu / masa kita yang lalu harus dievaluasi, demikian juga fungsi wasiat takwa.Wallahu a’lam.[5]

 

 

 

 

 

  • Unsur Takwa

 

  • Takut kepada Allah, dalam artian kita menanamkan rasa bahwa Allah itu mutlak adanya, Esa, dimana gerak kita selalu terlihat oleh-Nya.Taqwa jenis ini merupakan tingkatan awal, dalam hal ini Allah berfirman :

 

Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah dan bertaqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. 24:52)

 

“Hai manusia, bertaqwalah kepada Rabbmu; sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat).(Ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah segala kandungan wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal mereka sebenarnya tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat keras. (QS. 22:1-2)”

 

Sekarang, sudah mulai jelas bukan? Jika kita mendasarkan pemahaman hanya pada tingkat ini saja, kapan kita akan merasakan nikmatnya iman? Kapan kita akan mengarahkan taqwa dengan benar? Jika yang kita ketahui hanya satu ”takut pada Allah”. Sedangkan takut pada Allah itu sendiri ada prosesnya.

 

“Demi kemuliaan-Ku, Aku tidak akan mengumpulkan dua rasa takut dan dua rasa aman pada seorang hamba. Jika ia takut kepada-Ku di dunia, maka Aku akan memberinya rasa aman di akhirat. Dan jika ia merasa aman dari-Ku di dunia, maka Aku akan memberinya rasa takut di akhirat.”

 

  • Setelah kita melaui proses pertama, barulah kita beranjak pada tahapan yang kedua yaitu menjalankan perintah al-Qur`an dan menjauhi apa yang jelas-jelas di larang dalam kitab-Nya. Al-Qur`an surat al-Isra: 9 menjelaskan:

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.”

“Barang siapa membaca al-Qur`an dan mengamalkannya, pada hari kiamat kelak kelak Allah akan memakaikan mahkota pada kedua orang tuanya, yang gemerlapan (sinarnya) lebih baik daripda sinar matahari dalam salah satu rumah dunia, sekiranya sinar itu di dalamnya. Lantas bagaimana dugaan kalian mengenai orang yang mengamalkannya sendiri.”

 

“Demikianlah (perintah Allah), barang siapa mengagungkan syair-syair Allah (lambang-lambang-Nya), sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati (QS. Al-Hajj:32)”

 

“Barang siapa membaca al-Qur`an dan menguasainya (benar-benar memahami maknanya), kemudian ia menghalalkan yang dihalalkan oleh al-Qur`an dan mengharamkan yang diharamkannya, kelak al-Qur`an akan memasukkannya ke dalam surga dan mengizinkan ia memberi syafaat kepada sepuluh orang keluargannya (semuanya) yang telah diharuskan masuk neraka. (HR. Tirmidzi)

 

  • Mempersiapkan  diri untuk Hari Akhir. Tingkatan ketiga yaitu mempersiapkan untuk hari Akhir.Tahapan taqwa ini merupakan tolak ukur dimana kita melakukan semua aktifitas di dunia ini dalam rangka mempersiapkan diri untuk bertemu dengan-Nya.Membuktikan ketaqwaan kita secara tepat untuk melangkah pada fase kehidupan ke-3 dan seterusnya (alam barzah dan akhirat).

 

“Tidak seorangpun di antara kalian kecuail diajak bicara oleh Allah tanpa penerjemah. Kemudian ia menoleh ke kanan, maka ia tidak melihat sesuatu melainkan apa yang pernah dilakukannya (di dunia). Ia pun menoleh ke kiri, maka ia tidak melhat sesuatu melainkan apa yang pernah dilakukannya (di dunia). Lalu ia menoleh ke depan, maka ia tidak melhat sesuatu melainkan neraka di depan wajahnya. Karena itu, jagalah diri kalian dari neraka meski dengan sebutir kurma.”

 

  • Ikhlas menerima apa yang ada. Tahapan terakhir, setelah kita melakukan proses taqwa di atas, kita harus menyertakan rasa rela. Rela di sini dalam artian kita sepenuhnya ridha (ikhlas) dengan ketetapan Allah yang digariskan kepada kita baik lahir maupun batin, rela pada kuantitas bentuk materi yang sedikit.

Barang siapa meninggalkan dunia (wafat) dengan membawa keikhlasan karena Allah swt.saja,ia tidak menyekutukan Allah sedikitpun, ia melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat, maka ia telah meninggalkan dunia ini  dengan membawa ridha.

 

Bersyukur juga harus kita perhatikan, mengapa? Karena begitu sedikit manusia yang bersyukur, banyak dari mereka menganggap syukur hanya dengan kalimat al-hamdulillah namun tak banyak dari mereka mengetahui cara bersyukur.

 

Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS. 34:13)

 

Dan orang-orang yang berjuang untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. 29:69)

 

Seperti itulah tahapan bertaqwa kepada Allah.Seperti itu pula konsep taqwa, yang bila salah satu dari keempatnya hilang, maka berkuranglah ketaqwaan itu.  Oleh sebab itu, surat al-Baqarah: 41 yang artinya “maka hanya kepada-Ku kamu harus bertakwa“. Pertanyaannya; taqwa yang bagaimana?Dan di tingkat mana ketaqwaan itu tertanam?

 

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan ketaqwaan sebenar-benarnya.(Al-Imran: 102)[6]

 

2.4  Tingkatan Takwa

 

  • Taqwa nya Orang Orang yang hanya Melaksanakan Perintah Allah dan Menjauhi Larangan Allah dengan Sekedarnya atau hanya melaksanakan agar gugur kewajiban saja.

Taqwa semacam ini, adalah taqwa nya orang orang yang nggak sehat rohani nya.karena orang yang taqwa semacam ini hanya menjadikan beban saja kepada orang yang melakukannya. semisal orang tersebut melaksanakan sholat tanpa ada kesadaran dari hati untuk melaksanakan sholat tapi lebih karena orang tersebut takut akan berdosa jika tidak melaksanakan sholat atau meninggalkannya. sholatnya pun asal saja, tidak tepat waktu, tidak sholat secara berjamaah di masjid atau musholla tapi “yang penting melaksanakan sholat”.

 

  • Taqwa nya Orang Orang yang ingin menjadikan ibadah itu sebagai suatu hal yang terbaik dalam hidupnya agar bisa menjadi Solusi dan Penolong bagi dirinya dalam menghadapi Problematika Hidup.

Dalam Tingkatan Taqwa yang kedua ini, akan diilustrasi sebuah Kisah yang sangat menarik. Kurang lebihnya Kisah itu seperti Ini : “Pada saat itu Hujan Deras dan angin bertiup sangat kencang. ada Tiga orang yang terjebak didalam  sebuah Gua yang tertutup sebongkah Batu Besar akibat tertiup angin. sehingga ketiga orang ini tidak bisa keluar dari goa.

Namun Karena ketiga orang ini masing masing adalah seorang yang bertaqwa dan beramal sholeh maka mereka akhirnya bisa keluar dari dalam Goa karena Pertolongan dari Allah.

Saat terjebak didalam Goa, Orang Pertama yang berprofesi sebagai Penggembala berdoa :” Ya Allah, Aku adalah seorang Penggembala, tiap malam aku selalu memeras susu dari ternakku untuk aku minumkan kepada kedua orang tuaku.  pernah pada suatu malam kedua orang tuaku karena kecapek’an, mereka tertidur, dan akhirnya aku belum sempat meminumkannya, pada saat itu anakku menangis minta susu itu, tapi aku tidak memberikan susu itu kepada anakku karena kedua orang tuaku belum meminumnya. aku menunggunya sampai mereka bangun dari tidurnya, lalu aku meminumkannya, baru setelah itu baru aku berikan susu itu kepada anak dan istri ku.” jika hal itu adalah sesuatu yang terbaik menurut Engkau, Tolong Engkau bukakan Batu yang menutup Goa ini agar Kami dapat keluar. maka seketika itu juga Batu besar yang menutup Goa itu membuka sedikit, namun Mereka bertiga masih belum bisa keluar dari Goa.

Orang kedua kemudian Berdoa lagi, “Ya Allah… aku Pernah akan Berbuat Zina dengan saudari sepupuku, karena Dia butuh Uang, kemudian aku bilang kepadanya, aku akan berikan uang / harta  kepadamu tapi dengan syarat engkau harus mau berzina denganku, lalu pada saat aku akan menidurinya…, aku terigat kepadaMu dan aku tidak jadi Melakukannya, lalu aku tinggalkan Uang dan hartaku untuk saudari sepupuku yang tidak jadi aku zinahi. Jika hal itu adalah termasuk perbuatan terbaik yang pernah aku lakukan, maka aku mohon kepadaMu ya Allah… Buka kan Pintu mulut Goa ini agar Kami bisa Keluar. Maka Batu yang menutupi pintu goa itupun bergeser sedikit… namun masih juga mereka bertiga belum bisa keluar.

Lalu Orang Ketiga juga Berdoa… Orang ketiga ini adalah seorang Pengusaha Kaya Raya (Majikan) dan mempunyai banyak Karyawan.pada saat gajian, ada seorang karyawannya yang tidak hadir dan belum mengambil gaji nya. lalu pengusaha ini mengambil inisiatif untuk membelikan gaji karyawan tersebut beberapa ekor kambing. beberapa tahun berlalu si karyawan ini tidak muncul juga hingga akirnya kambing pun bertambah banyak sampai sampai bukit penuh dengan kambing. suatu ketika karyawan yang belum mengambil gaji nya tersebut menghadap sang majikan untuk mengambil hak nya yang belum sempat diambil pada waktu itu. tanpa disangka oleh karyawan.., majikan itu ternyata memberikan seluruh kambing itu kepada si karyawan, betapa senang si Karyawan itu.

Dari cerita diatas, lalu Majikan ini ber do’a… “Ya Allah… Jika perbuatanku itu Kau catat sebagai Amal Ibadah terbaikku..aku mohon PadaMu… agar engkau menolongku agar Batu yang menutup Goa ini terbuka lebar… dan Akhirnya… dari ketiga amal sholeh dan perbuatan terbaik ketiga orang ini goa pun terbuka lebar sehingga mereka bertiga bisa  selamat dan keluar dari Goa.

Oleh karena itu, Amalan yang terbaik yang timbul dari hati itulah sebaik baik taqwa dan bisa memberikan Pertolongan kepada diri kita sendiri.

 

  • Taqwa nya Abu Bakar As-sidiq (Yaitu Taqwa yang sudah habis habisan, mengorbankan segalanya di jalan Allah.. termasuk Jiwa Raga dan Harta Benda namun masih merasa masih terlalu banyak dosa)

Menurut Riwayat Hadist Soqih, Abu Bakar assidiq adalah Sahabat Nabi yang Kaya Raya, dan mempunyai banyak super market, Lalu kemudian menjadi Miskin dan tidak memiliki harta apapun, bahkan jubah dan sorban nya pun hanya dari karung goni yang kusut. semua harta nya di gunakan untuk membantu perjuangan Rasullullah. namun pengorbanannya itu tidak menjadikan abu Bakar assyidiq berbangga diri, malah beliau masih merasa masih sangat banyak dosa dan selalu berdoa mohon ampun kepada Allah SWT. inilah taqwa yang menduduki tingkatan paling atas.[7]

 

 

2.5  Syarat Takwa

 

  1. Ilmu

Dijadikan sebagai syarat untuk menggapai derajat taqwa, karena ilmu adalah merupakan langkah awal untuk melakukan  atau menentukan sesuatu untuk mencapai tujuan. Seseorang bila ingin mencapai sebuah tujuan, maka dia harus mengetahui (baca: meng-ilmu-i) hakikat (bentuk, rupa dan keriteria) tujuan tersebut dengan jelas, tidak samar-samar, lalu dia harus mengetahui persiapan apa yang ia lakukan untuk mencapai tujuan tersebut, dan dia harus mengetahui apa konsekuensi yang harus ia pelihara ketika telah mencapai tujuan tersebut… dan seterusnya – dan seterusnya.

Allah berfirman:

فَاعْلَمْأَنَّهُلَاإِلَهَإِلَّااللَّهُوَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ

“Ketahuilah bahwasannya tiada tuhan (yang patut disembah dengan benar) melainkan Allah, dan mohon ampunlah atas dosa-dosamu”.[QS. Muhammad:19]

 

Pada ayat ini Allah berfirman dengan menggunakan fi’il ‘amr (kata kerja perintah), yaitu: ف – اعلم , dimana fi’il ini mashdarnya adalah علم (Ilmu), yang ma’nanya adalah: “Ketahuilah” atau “ilmuilah” . Oleh karena itu dengan berdasarkan dalil ini Al Imam Muhammad bin Isma’il Al Bukhoriy dengan kedalaman ilmunya dalam memahami Al Qur’an, dan dengan kecerdikannya dalam ber – istinbath (mengeluarkan hukum dari/dengan dalil), meletakan sebuah Bab dalam kitab Shahihnya, dengan berkata:

 

باب العلم قبل القول و العمل

“Bab Ilmu terlebih dahulu sebelum berkata dan beramal / berbuat”  [Shahih Bukhoriy – Kitab Al Ilmu]

 

Demikian juga dengan taqwa, taqwa adalah merupakan puncak tujuan yang paling mulia bagi manusia dalam beragama, oleh karena itu satu hal yang lebih utama lagi bagi seorang muslim untuk berilmu tentangnya, dan ini suatu keharusan, yaitu diantaranya berilmu tentang hakikat taqwa, lawazim (unsur-unsur) taqwa, tentang syarat dan rukunnya, tentang konsekuensinya, dan kepada siapa dia bertaqwa.

Ringkas kata kita harus berilmu tentang taqwa dengan baik dan benar serta jelas dan tidak samar-samar, sebelum kita berkata, dan berbuat/beramal dalam melangkah menggapai derajat taqwa.

 

Lawan dari ilmu adalah kejahilan (kebodohan). Maka suatu hal yang tidak mungkin (mustahil) seseorang akan mencapai tujuan, bila ia bodoh atau  tidak mengetahui alias jahilterhadap tujuannya sendiri. Demikian juga dengan ketaqwaan, seseorang tidak akan pernah mencapai derajat taqwa bila ia jahil (bodoh) tentang ketaqwaan.

Akan tetapi Ilmu yang dimaksud secara mutlak, yang tidak boleh seorang muslim bodoh (jahil) tentangnya adalah: Ma’rifatullah (mengenal Allah), Ma’rifat An Nabi (mengenal Nabi), dan Ma’rifat Diin Al Islam bil Adillah (mengenal agama Islam dengan dalil). Inilah yang dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab bin Sulaiman At Tamimiy dalam “Al Ushul Ats Tsalatsah”.

 

Sebagian ulama menyatakan, bahwa ilmu yang dimaksud adalah: Apa yang Allah Firmankan dalam Al Qur’an, dan apa yang Rasululah sabdakan dalam Al Hadits, dan apa yang para shahabat Rasul katakan dalam memahami Al Qur’an dan Al Hadits.

 

Semua itu adalah lawazim taqwa yang sangat mendasar, setiap muslim bila ingin mencapai derajat taqwa harus bertolak dari ilmu-ilmu tersebut, bila tidak ia akan lemah dan rapuh, tidak akan pernah mencapai derajat taqwa.

  1. Ikhlas

Yang dimaksud adalah mentauhidkan Allah dalam segala bentuk peribadahan kepada -Nya, memurnikan ibadah hanya untuk Allah, dalam rangka menjalankan perintah dan menjauhi larangan -Nya, semuanya dilakukan hanya karena dan untuk Allah tabaraka wa ta’ala.

 

 

Allah berfirman:

 

وَمَاأُمِرُواإِلَّالِيَعْبُدُوااللَّهَمُخْلِصِينَلَهُالدِّينَحُنَفَاءَوَيُقِيمُواالصَّلَاةَوَيُؤْتُواالزَّكَاةَوَذَلِكَدِينُالْقَيِّمَةِ

” Dan tidaklah mereka diperintah kecuali agar mereka menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepadanya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan agar mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus”. [QS. Al Bayyinah: 5]

 

Agama yang lurus adalah agama yang jauh dari kesyirikan (menyekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan

 

Dijadikan ikhlas adalah sebagai syarat untuk mencapai derajat taqwa, karena tidak mungkin seorang muslim disebut orang yang bertaqwa sedangkan ia berbuat kesyirikan, memalingkan ibadah kepada selain Allah, menjadikan ibadahnya perantara-perantara kepada Allah dengan apa yang tidak diizinkan oleh Allah, atau Allah tidak menurunkan keterangan -Nya dalam kitab -Nya, atau dalam ibadahnya hanya untuk mencari penghidupan dunia, atau hanya karena wanita yang akan dinikahiya, hal-hal tersebut adalah yang merusak keikhlasan dalam beribadah kepada Allah. Bagaimana seseorang akan mencapai derajat taqwa sedangkan ibadahnya rusak, dan tertolak disisi Allah?

Allah berfirman:

ذَلِكَهُدَىاللَّهِيَهْدِيبِهِمَنْيَشَاءُمِنْعِبَادِهِوَلَوْأَشْرَكُوالَحَبِطَعَنْهُمْمَاكَانُوايَعْمَلُونَ

Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya.seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. [QS. Al An’am: 88]

 

Oleh karena itu ikhlas adalah merupakan syarat mutlak untuk mencapai ketaqwaan.

 

 

 

  1. Ittiba’

mengikuti contoh (suri tauladan) Nabi Muhammad Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam diseluruh totalitas kehidupan kita dalam beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hal ini dikarenakan 2 hal:

 

Pertama: Karena Rasulullah adalah manusia dan hamba Allah yang pertama kali yang telah mencapai puncak ketaqwaan. Beliaulah orang yang paling bertaqwa didunia. Oleh karena beliau orang yang paling mengerti tentang apa yang dikehendaki oleh Allah, sehingga beliau orang yang pertama kali yang mengerjakan semua perintah Allah, dan orang yang paling pertama kali yang menjauhi larangan Allah berdasarkan bimbingan dari Allah.

 

Kedua: Karena orang yang beramal atau ibadah kepada Allah, sedangkan ibadahnya tersebut tidak pernah ada ajarannya dari Rasulullah Muhammad shalallahu’alaihi wa sallam , maka amalannya atau ibadahnya tersebut tertolak disisi Allah subhanahu wa ta’ala.

Rasulullah bersabda:

“Barang siapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak ada atasnya ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak”.[HR. Al Bukhoriy & Muslim, dari Ummul Mu’minin Aisyah radliallahu’anha]

 

Bagaimana kita akan mencapai ketaqwaan sedangkan amal ibadah kita tertolak disisi Allah? Oleh karena itu Ittiba’ (mengikuti contoh / sunnah) Rasul, adalah syarat untuk mencapai derajat taqwa.

Adapun ayat-ayat Al Qur’an yang berbicara dan memerintahkan untuk ittiba’ kepada Nabi, banyak diantaranya:

Allah berfirman:

قُلْإِنْكُنْتُمْتُحِبُّونَاللَّهَفَاتَّبِعُونِييُحْبِبْكُمُاللَّهُوَيَغْفِرْلَكُمْذُنُوبَكُمْوَاللَّهُغَفُورٌرَحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad), jika kamu (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampunkan dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.[QS. Ali Imran: 31].

 

Dan Allah berfirman:

“… Dan apa-apa yang didatangkan oleh Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa-apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah…” [QS. Al Hasyr: 7]

 

Dan Allah berfirman: “Barangsiapa yang taat kepada Rasul maka sungguh ia telah mentaati Allah” [QS.An Nisa: 80][8]

 

 

  1. Ikhlas Kepada Allah SWT

 

3.1. Pengertian Ikhlas Kepada Allah SWT

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Jadi segala apa yang kita lakukan itu semata-mata hanya mengharap ridho Allah SWT. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.

Dan apabila seseorang menghendaki sesuatu yang lain dengan ibadahnya ia ingin mendekatkan diri kepada selain Allah S.W.T. dalam ibadah ini dan untuk mendapatkan pujian makhluk (riya, pent.). Maka ini menggugurkan amal ibadah dan ia termasuk syirik. Di dalam Shahih dari hadits Abu Hurairah t, sesungguhnya Nabi S.A.W. bersabda, Allah S.W.T. berfirman (hadits qudsi):

(( أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ, مَن عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيْهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ ))

Artinya :

‘Aku adalah orang yang paling tidak membutuhkan sekutu, barangsiapa yang melakukan suatu amal ibadah yang ia menyekutukan selain-ku bersama-Ku, niscaya Aku meninggalkannya dan sekutunya.[9]

 

3.2. Hakikat Ikhlas

Sesuatu yang bersih dari campuran yang mencemarinya dinamakan sesuatu yang murni.Perbuatan membersihkan dan memurnikan itu dinamakan ikhlas. Allah SWT berfirman “(Berupa) susu yang bersih diantara tahi dan darah yang mudah ditelan bagi orang orang yang meminumnya”. (Q.S An-Nahl : 66). Apabilah suatu perbuatan bersih dari riya’ dan ditujukan bagi Allah SWT maka perbuatan itu dianggap murni

 

3.3 Pendapat para sufi tentang Keikhlasan

As-Susiy berkata, “Keikhlasan itu iyalah ketiadaan melihat ikhlas.Karena barang siapa menyaksikan keikhlasan didalam keikhlasan maka keikhlasannya membutuhkan keikhlasan”. Dikatakan kepada Sahl, “Manakah yang lebih berat terhadap nafsu?”.

Sahl menjawab “Keikhlasan, Keikhlasan karena ia tidak punya bagian dalam Keikhlasan”.

Ia berkata pula, “ Keikhlasan ialah tenangnya manusia dan gerak geraknya karena Allah SWT semata mata”

Al-Junaid berkata, “Keikhlasan adalah pembersihan amal amal dan kekeruhan-kekeruhan”

Al-Fudhail berkata “ Meninggalkan amal karena manusia adalah Riya dan beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan keikhlasan itu iyalah bila Allah SWT membebaskannya dari kedua sifat itu” dikatakan bahwa keikhlasan itu ialah pengawasan yang terus menerus dan melupakan segala kenikmatan. [10]

 

Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui hal-hal apa sajakah yang dapat membantu kita agar dapat mengikhlaskan seluruh amal perbuatan kita kepada Allah semata, dan di antara hal-hal tersebut adalah :

  1. Banyak Berdoa
  2. Menyembunyikan Amal Kebaikan
  3. Memandang Rendah Amal Kebaikan
  4. Takut Akan Tidak Diterimanya Amal
  5. Menyadari Bahwa Manusia Bukanlah Pemilik Surga dan Neraka

 

 

BAB III

 

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

 

Seorang muslim itu harus berahlak baik kepada Allah SWT. Karena kita sebagai manusia yang di ciptakan oleh Allah dan untuk menyembah kepada Allah, sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya dan tidaklah Kami (Allah) ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Dari uraian-uraian diatas dapat dipahami bahwa akhlak terhadap Allah SWT, manusia seharusnya selalu mengabdikan diri hanya kepada-Nya semata dengan penuh keikhlasan dan bersyukur kepada-Nya, sehingga ibadah yang dilakukan ditujukan untuk memperoleh keridhaan-Nya.

Adapun macam-macam akhlak kepada Allah SWT adalah,Iman kepada Allah SWT, Taqwa kepada Allah SWT, dan ikhlas kepada Allah SWT.

 

  1. Saran

Demi perbaikan mutu pembuatan makalah dikemudian hari maka kami sebagai penulis berharap berbagai kritik serta saran dari seluruh pembaca yang bersifat membangun dan bisa memotivasi mahasiswa supaya mengetahui cara berakhlak kepada Allah dengan cara bertaqwa dan menerapkan sifat iklas dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Mesan Alfat, Aqidah Ahklak, (Semarang :CV Toha Putra ,1994)
  2. Syaihk Muhammad bin Shalih Al- ukaimin, sifat Allah dalam pandangan Ibnu Tamiyah,(Jakarta : pustaka Azzam,2005)
  3. Husein, Mochtar. 2008. Hakikat Islam Sebuah Pengantar Meraih Islam Kaffah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  4. http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/takwa-semudah-itukah.html
  5. http://id.wikipedia.org/wiki/Taqwa
  6. Kahar, Masyhur.1985.Membina Moral Dan Akhlak.Jakarta:Kalam Mulia.
  7. Mth, Asmuni.1999.Akhlak Dalam Perspektif Al-Qur’an.Jakarta:Kalam Mulia
  8. Ilyas,Yunahar, Dr.H,Lc,MA, Kuliah Akhlak, Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam. 2007
  9. Imam Ghazali, Ringkasan Ihya’ ulumuddin, (Surabaya : Bintang Usaha Jaya, 2007)

 

 

[1]Mesan Alfat, Aqidah Ahklak, (Semarang :CV Toha Putra ,1994) Hal 48

[2]Ibid, Hal ,50

[3]Syaihk Muhammad bin Shalih Al- ukaimin, sifat Allah dalam pandangan Ibnu Tamiyah,(Jakarta : pustaka Azzam,2005) Hal 88

[4]Husein, Mochtar. 2008. Hakikat Islam Sebuah Pengantar Meraih Islam Kaffah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hal 45

[5]http://muslim.or.id/akhlaq-dan-nasehat/takwa-semudah-itukah.html

[6]http://id.wikipedia.org/wiki/Taqwa

[7]Kahar, Masyhur.1985.Membina Moral Dan Akhlak.Jakarta:Kalam Mulia. Hal 51

[8] Mth, Asmuni.1999.Akhlak Dalam Perspektif Al-Qur’an.Jakarta:Kalam Mulia. Hal 54

[9]Ilyas,Yunahar, Dr.H,Lc,MA, Kuliah Akhlak, Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam. 2007 Hal 18

[10] Imam Ghazali, Ringkasan Ihya’ ulumuddin, (Surabaya : Bintang Usaha Jaya, 2007) Hal 214

MAKALAH AKHLAK “Problematika Akhlak dalam Kehidupan”

3

Tugas Terstruktur:                                                      Dosen :

   Akhlak                                                  Drs.Khairunnas Rajab, M.Ag

 

Problematika Akhlak dalam Kehidupan

DISUSUN OLEH KELOMPOK III

Cindy Amelia Sentosa

Habibah

Siti Ati Zulfia

             KELAS: 1A

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

T/P 2014-2015

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Adanya persaingan hidup yang sangat kompetitif dapat membawa manusia mudah stress dan frustasi.Akibatnya menambah jumlah masyarakat yang sakit jiwa.Pola hidup materialism dan hedonisme kini kian digemari dan pada saat mereka tidak lagi mampu menghadapi persoalan hidupnya , mereka cenderung mengambil jalan pintas seperti bunuh diri. Semua masalah ini akarnya adalah karena jiwa manusia itu telah terpecah belah. Mereka perlu diintegrasikan kembali melalui ajaran akhlak tasawuf.

Masyarakat modern pada dewasa ini mempunyai banyak problematika dari segi ekonomi , teknologi , sosial dan budaya.Dengan banyaknya problematika ini masyarakat modern dituntut untuk tetap exist dalam kehidupan sehari-hari, disinilah peran akhlak tasawuf dalam kehidupan spiritual manusia yang mempengaruhi kehidupan non spiritual mereka.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa yang dimaksud dengan masyarakat modern ?
  3. Apa yang dimaksud dengan Akhlak Taswuf ?
  4. Apa saja problematika masyarakat modern ?
  5. Bagaimana peran akhlak tasawuf dalam kehidupan masyarakat modern ?

 

 

  1. Tujuan
  2. Mendiskripsikan apa yang dimaksud dengan Masyarakat Modernisme.
  3. Mendiskripsikan apa yang dimaksud dengan Akhlak Tasawuf.
  4. Memberi tahu pembaca tentang problematika masyarakat modern.
  5. Memberi tahu pembaca tentang dampak dan peran akhlak tasawuf terhadap masyarakat moder


BAB II

PEMBAHASAN

  1. Masyarakat Modern
  2. Pengertian Masyarakat Modern

       Istilah masyarakat modern terdiri dari dua kata, yaitu masyarakat dan modern. Istilah masyarakat dalam bahasa inggris disebut society yang asal katanya socius yang berarti kawan. Sedangkan dalam bahasa arab dikenal dengan istilah syirk yang berarti begaul.Adapun kata moden dalam kamus bahasa indonesia diartikan dengan terkini, muttakhit, dan terbaru.

Jadi, berdasarkan dua pengertian tersebut, maka masyarakat modern adalah sekelompok manusia yang hidup dalam kebersamaan yang saling mempengaruhi dan terikat dengan norma-norma serta sebagian besar anggotanya mempunyai orientasi nilai budaya untuk menuju kehidupan yang lebih maju.

  1. Ciri-ciri masyarakat modern
  2. Bersifat Rasional,yakni lebih mengutamakan pendapat akal pikiran daripada pendapat emosi.Sebelum melakukan pekerjaan selalu dipertimbangkan terlebih dahulu untung ruginya pekerjaan tersebut secara logika.[1]
  3. Berpikir untuk masa depan yang lebih jauh,tidak hanya memikirkan masalah yang bersifat sesaat,tetapi selalu dilihat dampak sosialnya secara lebih jauh.
  4. Menghargai waktu , yaitu selalu melihat bahwa waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dan perlu dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
  5. Bersikap terbuka, yaitu mau menerima saran,masukan, baik berupa kritik,gagasan,perbaikan darimanapun datangnya.
  6. Berpikir objektif,yakni melihat segala sesuatu dari sudut fungsi dan kegunaannya bagi masyarakat.


  1. Tasawuf

Pengertian Akhlak Tasawuf

Definisi Tasawuf[2] dirumuskan oleh para ulama’ dengan sangat berfariasi. Jumlahnya mencapai ratusan bahkan ribuan.

Berikut ini adalah beberapa definisi dari para pakar tasawuf

  1. Al ghozali dalam kitabnya menulis bahwa pakar tasawuf adalah mereka yang menempuh jalan Allah, yang berakhlak tinggi nan bersih, bahkan berjiwa bersih, lagi bijaksana
  2. Radim bin Ahmad Al Bagdadi berpendapat, tasawuf memiliki tiga elemem penting yaitu faqr, rela berkorban, dan meninggalkan kebathilan.
  3. Ma’ruf Al Karkhi mengemukakan tasawuf dengan kalimat mengambil yang hakikat dengan mengabaikan segala kenyataan yang ada pada selain Allah dan barang siapa yang belum mampu merealisasikan hidup miskin maka ia belum mampu dalam bertasawuf.
  4. Amin Al kurdi, mengatakan bahwa tasawuf adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang kebaikan dengan keburukan jiwa, bagaimana cara membersihkam sifat sifat buruk dan menggantinya dengan sifat sifat terpuji, serta sebagaimana jalan menuju keridhaan kepada Allah.
  5. Dzun nun Al Misri berpendapat bahwa sufi[3] adalah orang yang di dalam hidupnya tidak disusahkan dengan permintaan dan tidak pula dicemaskan dengan terampasnya barang. Selanjutnya, al Misri juga mengatakan itu merupakan komunitas yang mendahlukan Allah di atas segalanya, sehingga Allah pun mendahulukan mereka di atas segalanya.
  6. Problematika Masyarakat Modern

Kehidupan masyarakat modern identik dengan mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi, mengesampingkan pemahaman agama. Mereka beranggapan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi akan mampu meningkatkan taraf kehidupan. Padahal tidak selamanya seperti yang diharapkan karena kemajuan di bidang teknologi yang berkembang pada masyarakat modern akan memberikan dua dampak bagi kehidupan manusia, yaitu dapat memberikan dampak positif dan, pada sisi lain, juga dapat menimbulkan dampak negatif.

Dampak positifnya tentu saja akan meningkatkan keragaman budaya yang tersedia melalui penyediaan informasi yang menyeluruh sehingga memberikan kesempatan untuk mengembangkan kecakapan kecakapan baru dan dapat memberikan pengetahuan yang bermanfaat untuk meningkatkan taraf masyarakat.

Adapun dampak negatif dari kemajuan teknologi pada masyarakat modern,[4] ialah :

  1. Desintegrasi Ilmu Pengetahuan.

Kehidupan modern ditandai dengan adanya spesialisasi di bidang ilmu pengetahuan.Masing-masing ilmu pengetahuan memiliki caranya sendiri dalam memecahkan masalah yang dihadapi.Keadaan berbagai ilmu pengetahuan yang saling bertolak belakang antara satu disiplin ilmu atau filsafat dan lainnya terdapat kerenggangan, bahkan tidak tahu-menahu.Hal ini merupakan pangkal terjadinya kekeringan spiritual.Maka,manusia modern semakin berada pada garis tepi ,sehingga tidak lagi memiliki etika dan estetika yang mengacu pada sumber ilahi.

  1. Kepribadian yang Terpecah.

Karena kehidupan manusia modern dipolakan oleh ilmu pengetahuan yang coraknya kering nilai-nilai spiritual,maka manusia menjadi pribadi yang terpecah.Kehidupan manusia modern diatur menurut rumus ilmu eksak dan kering.Akibatnya,hilang proses kekayaan rohaniyah karena dibiarkannya perluasan ilmu-ilmu positif dan ilmu social.

Jika proses keilmuan yang berkembang itu tidak berada dibawah kendali agama,maka proses kehancuran pribadi manusia akan terus berjalan.

Dengan berlangsungnya proses tersebut,semua kekuatan yang lebih tinggi untuk mempertinggi derajat kehidupan manusia menjadi hilang ,sehingga bukan hanya kehidupan kita yang mengalami kemorosotan,tetapi juga kecerdasan dan moral.

  1. Penyalahgunaan Iptek

Sebagai akibat dari terlepasnya ilmu pengetahuan dan teknologi dari ikatan spiritual,maka iptek telah disalahgunakan dengan segala implikasi negatifnya.Kemampuan di bidang rekayasa genetika diarahkan untuk tujuan jual-beli manusia.Kecanggihan di bidang teknologi komunikasi dan lainnya telah digunakan untuk menggalang kekuatan yang menghancurkan moral umat.

  1. Pendangkalan Iman.

Sebagai akibat lain dari pola pikiran keilmuan,khususnya ilmu-ilmu yang hanya mengetahui fakta-fakta yang bersifat empiris menyebabkan manusia dangkal imannya.Mereka tidak tersentuh oleh informasi yang diberikan oleh wahyu,bahkan informasi yang dibawa oleh wahyu itu menjadi bahan tertawaan dan dianggap sebagai tidak ilmiah dan kampungan.

  1. Pola Hubungan Materialistik.

Pola hubungan satu dan lainnya ditentukan oleh seberapa jauh antara satu dan lainnya dapat memberikan keuntungan yang bersifat material.Demikian pula penghormatan yang diberikan seseorang atas orang lain banyak diukur oleh sejauh mana orang tersebut dapat memberikan manfaat secara material.Akibatnya,menempatkan pertimbangan material di atas pertimbangan akal sehat,hati nurani,kemanusiaan dan imannya.

  1. Menghalalkan Segala Cara.

Sebagai akibat lebih jauh dari dangkalnya iman dan pola hidup materialistik[5],maka manusia dengan mudah dapat menggunakan prinsip menghalalkan segala cara dalam mencapai suatu tujuan.Jika hal ini terjadi maka terjadilah kerusakan akhlak dalam segala bidang,baik ekonomi,sosial,politik,dan lain sebagainya.

 

  1. Stres dan Frustasi.

Kehidupan modern yang demikian kompetitif[6] menyebabkan manusia harus menyerahkan seluruh pikiran, tenaga dan kemampuannya. Mereka akan terus bekerja dan bekerja tanpa mengenal batas dan kepuasan.Apalagi jika usaha dan proyeknya gagal,maka dengan mudah kehilangan pegangan,karena memang tidak lagi memiliki pegangan yang kokoh berasal dari Tuhan.Akibatnya jika terkena problem yang tidak dapat dipecahkan maka akan stress dan frustasi yang jika hal ini terus-menerus berlanjut akan membuat manusia tersebut menjadi gila.

  1. Kehilangan Harga Diri dan Masa Depan.

Terdapat sejumlah orang yang terjerumus atau salah memilih jalan kehidupan.Masa mudanya dihabiskan untuk menuruti hawa nafsunya.Namun pada saat sudah tua renta,fisiknya sudah tidak berdaya,tenaganya sudah tidak mendukung,dan berbagai kegiatan sudah tidak bisa dilakukan .Fasilitas dan kemewahan hidup sudah tidak berguna lagi,karena fisik dan mentalnya sudah tidak memerlukan lagi.Manusia yang seperti ini merasa kehilangan harga diri dan masa depannya.

Selain problematika dalam aspek pengembangan intelektual khususnya pengmbangan ilmu pengetahuan dan taknologi, dalam masyarakat modern mengalami berbagai problem dalam aspek lainnya, seperti dalam aspek politik, apek pluralisme agama, apek spiritual, dan aspek etika. Dalam aspek politik, banyak terjadi perabutan kekuasaan, politik menghalalkan segala cara dan politik kampu menghilangkan menjadikan manusia lipa akan kehidupan akhirat. Selain itu aspek pluralitas agama, masyarakat seringkali mencampuru urusan keercayaan agama lain, saling menganggap agam yang diikuti adalah benar dan yang lainnya adalah salah. Hal ini menimbulkan perpecahan antar umat beragama. Padahal, pluralitas agama dalam masyarakat modern adalah sesuatu yang wajar, yang sudah menjadi sunnatullah.

Tidak bisa di pungkiri adanya pluralitas dalam kehidupan harus disikapi dengan toleran, jujur, terbuka, bijaksana dan adil. Berkaitan dengan pluralitas agama, konsep tasawuf memandang bahwa inti ajaran semua agama adalah sama yaitu penyerahan diri kepada Tuhan pencipta alam seisinya. Sebagaimana dalam ajaran tasawuf dikenal dengan konsep wihdat al-adyan[7]. Konsep ini memandang bahwa sumber agama adalah satu, hanya berbeda bungkus luarnya saja.

Dalam aspek spiritual, masyarakat modern senantiasa terbuai dalam situasi keglamoran, mendewakan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadikan mereka meninggalkan pemahamn agama, hidup dalam sikap sekuler yang menghapus visi keilahian. Hilangnya visi dan keilahian tersebut  mengakibatkan kehampaan spiritual dan mengakibatkan manusia jauh dengan Sang Maha Pencipta, meninggalkan ajaran-ajaran yang dimuat dalam dogma agama.    Akibat dari itu, maka dalam kehidupan masyarakat modern sering dijumpai banyak orang yang merasa gelisah, tidak percaya diri, strees dan tidak memiliki pegangan hidup. Kegelisahan hidup mereka sering disebabkan karena takut kehilangan apa yang dimiliki. Rasa khawatir terhadap masa depan yang tidak dapat dicapai sesuai dengan harapan,daya saing yang tinggi dalam memenuhi kebutuhan hidup, dan akibat banyak pelanggaran dosa yang dilakukan.

Dalam aspek etika, masyarakat moderen mengalami krisis moral yang berkepanjangan. Masyarakat modern seringkali menampilkan sifat-sifat yang kurang dan tidak terpuji dan menyimpang dengan norma-norma yang berlaku, baik norma agama, adat istiadat dan hukum. Bentuk penyimpangan moral tersebut seperti, menurunnya kualitas moral bangsa yang dicirikan dengan membudayanya praktek KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme), berbagai konflik yang merajalela (antar etnis, agama, politik, ormas dan lain-lain), meningkatnya kriminalitas diperbagai kalangan, serta menurunnya etos kerja di berbagai instansi-instansi pemerintahan, merosotnya nilai-nilai keadilan, spiritual, kemanusiaan dan masih banyak lagi.

Di dalam beberapa dasawarsa terakhir yang dirasakan penuh dengan krisis, kiranya tujuan dakwahlah islamiyah ini makin penting dan perlu mendapatkan sorotan khusus dunia dakwah. Para kritisi barat mengemukakan sekurang-urangnya sekarang ini di dunia pasca-modern mengalami lima krisis:

  1. Krisis identitas, dimana manusia sudah kehilangan kepribadiannya dan bentuk dirinya. Dalam hal ini, akan mudah mencari jawabannya dalam dakwah Islamiyah.
  2. Krisis legalitas, dimana manusia sudah mulai kehilangan penentuan peraturan untuk diri dan masyarakat. Dakwah islamiyah penuh dengan ajaran tentang tuntunan hidup itu.
  3. Krisis penetrasi[8], dimana manusia telah banyak kehilangan pengaruh yang baik untuk diri dan masyarakatnya, penuh dengan polusi fisik maupun mental. Dakwah Islamiyah datang untuk menjernihkan pikiran manusia dan filter terhadap tingkah lakunya, melalui persiapan mental yang etis dan bertanggung jawab.
  4. Krisis partisipasi, dimana manusia telah kehilangan kerjasama, terlalu individualistis. Dakwah Islamiyah memberikan obat yang manjur.
  5. Krisis distribusi, dimana manusia dihantui oleh tidak adanya keadilan dan pemerataan income masyarakat. Dakwah Islamiyah mengajarkan keadilan secara utuh.

Terhadap semua krisis yang dialami manusia sekarang ini, sudah tentu Dakwah Isalamiyah akan mengatasinya. Islam adalah agama yangrohmatan lil’alamin. Manusia yang makin materialis pandangan hidupnya perlu dijinakkan untuk mengenal dirinya dan menghamba kepada Tuhannya agar tidak merusak alam lingkungannya.

Dari berbagai macam krisis moral di indonesia, korupsi menempati peringkat pertama. Sebagaimana hasil survei PERC (Political and Economic Risk Consultacy) yang berkedudukan di hongkong pada tahun 2002 dan 2006 menjelaskan bahwa peringkat indonesia dalam skor korupsi adalah tertinggi di Asia  dengan nilai skor 8,16 (dari total skor 10).

Fenomena diatas merupakan sekilas gambaran umum problematika yang terjadi dalam kehidupan masyarakat maju dan modern yang terlihat cenderung obsesi keduniannya lebih mendominasi daripada spiritual dan ukhrawinya. Dengan demikian, manusia mengalami degradasi moral yang dapat menjatuhkan harkat dan martabatnya. Masyarakat kehilangan identitas diri, mereka merasa bingung karena proses modernisasi yang disalahgunakan dapat menimbulkan ketidakberesan di segala bidang aspek kehidupan manusia, seperti aspek hukum, moral, norma, etika dan tata kehidupan lainnya.

 

  1. Dampak dan Peran Akhlak Tasawuf Bagi Masyarakat Modern

Melihat gejala manusia modern yang penuh dengan problematika dan mengakibatkan kehampaan spiritual, maka saatnya untuk mencari sebuah solusi untuk melakukan perbaikan dalam segala aspek kehidupan masyarakat dan di sinilah akhlak tasawuf memiliki peran yang amat penting. Tasawuf berperan melepaskan kesengsaraan dan kehampaan spiritual untuk memperoleh keteguhan dalam mencari Tuhan. Karena inti ajaran tasawuf adalah bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga seseorang merasa di hadirat-Nya dan terlepas dari kegundahan, kesedihan, dan kegalauan. Adapun ajaran tasawuf yang paling mendasar yang dapat dijadikan sebuah solusi dalam mengatasi problematika kehidupan masyarakat modrn yaitu dengan mengadakan instropeksi diri atau dalam bahasa tasawuf dikenal dengan muhasabah terhadap diri sendiri.

Upaya tersebut akan melahirkan ketahanan diri serta terhindar dri kemungkinan pelencengan kepribadian. Hasil dari sikap ini adalah sikap rendah hati, tidak arogan.

Dalam pandangan tasawuf, penyelesaian dan perbaikan di atas tidak dapat tercapai secara optimal jika hanya berorientasi untuk mencari kehidupan lahir, karena kehidupan lahir hanya merupakan gambaran atau akibat dari kehidupan manusia yang digerakkan oleh tiga kekuatan pokok yang ada pada diri manusia, yaitu : akal, syahwat, dan nafsu amarah. Oleh sebab itu, untuk dapat menghasilkan secara optimal dalam membenahi keadaan masyarakat modern, tasawuf mempunyai potensi untuk menawarkan kbebasan spiritual, dapat memberikan jawaban-jawaban terhadap kebutuhan spiritual, mempersenjatai diri manusia dengan nilai nilai rohaniah yang akan membentengi diri saat menghadapi problem kehidupan yang serba materialistik dan berusaha merealisasikan keseimbangan jiwa ssehingga timbul kemampuan menghadapi problem-problem yang ada, mengajak mnusia mengenal dirinya sendiri dan akhirnya tasawuf mengajak mengnal Tuhannya melelui ajaran ajarannya yang mampu memberikan solusi bagi manusia untuk menghadapi krisis krisis dunia.

Ajaran ajaran tersebut perlu dijadikan landasan dalam seluruh aspek kehidupan seperti ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial, politik, kebudayaan, dan lain sebagainya. Usaha perbaikan tersebut dapat ditempuh melalui tiga tahapan yang terkandung dalam ajaran tasawuf, yaitu takhalli, tahalli, dan tajalli yang diyakini mampu memberikan solusi untuk memprbaiki kondisi masyarakat modern yang sedang mengalami kerusakan moral dan kehampaan nilai nilai spiritual disebabkan karena meninggalkan ajaran agama.

Pertama, takhalli. Tahapan ini adalah langkah awal yang harus ditempuh oleh seorang hamba dalam rangka mengosongkan diri dari sikap ketergantungan terhadap kelezatan hidup dunia. Hal ini dicapai dengan jalan menjauhkan diri dari kemaksiatan dalam segala bentuknya dan berusaha melenyapkan dorongan hawa nafsu. Langkah awal ini merupakan tahapan seorang hamba menuju pda kesempurnaan kepribadian yang dilengkapi sikap terbuka. Maksudnya, seorang hamba yang bersangkutan menyadari betapa burukny sifat sifat yang ada pada dirinya, menyadari bahwa masih banyak kepribadian dan sikap yang harus diperbaiki.

Kedua, tahalli, yakni tahapan pengisian jiwa yang telah dikosongkan pada tahapan pertama, menghiasu diri dengan jalan membiasakan diri untuk bersikap terpuji, brusaha dalam setiap nafas, gerak dan langkahnya berjalan sesuai dengan syariat yang diajarkan agama. Dalam tahapan ini, seorang hamba berusaha melewati maqam maqam yang mapu mengantarkan pada tahapan ketiga, yaitu tahapan terbukanya nur gaib (nur ilahi) dalam hati seorang hamba.

Ketiga adalah tajalli. Dalam tahapan ini seorang hamba berada dalam keadaan tma’ninah, mampu membedakan antara bathil dengan haqq dan mencapai tahapan tertinggi dalam pencapaian ma’rifatullah.

Maqamat yang dilalui oleh seorang hamba dalam rangka menuju tajalli juga mampu memberikan sebuah solusi dalam mengatasi problematika masyarakat modern. Seperti halnya, bahwa sifat materialistik dan hedonistik yang mewarnai kehidupan moern dapat diahapus dengan menerapkan konsep zuhud[9] yang terkandung dalam ajaran tasawuf. Konsep zuhud mengajarkan manusia untuk tidak terbuai dengan kesenangan dunia, tidak menuruti amarh, hawa nafsu, dan kesenangan belaka, sehingga meninggalkan dari mengingat Allah yang mengakibatkan manusia terjerumus ke jurang kenistaan. Sikap frustasi yang dihilangkan dengan konsep sabar, tawakal, dan ridha. Demikian juga ajaran Uzlah, yaitu usaha mngasingkan diri dari terperangkap tipu daya keduniaan, dapat pula digunakan untuk membekali kehidupan manusia moderngar tidak menjadi budak yang tertangkap dalam kesengngan dunia belaka, tidak tahu lagi mana yang haqq(benar dan baik)dan yang bathil(keliru,sesat,salah). Konsep ini berusaha membesaskan manusia dari pernhkap perangkap kehidupan yang memprbudaknya. Bukan berarti konsep ini mengajarkan manusia untuk ber-Uzlah dan ber-tapabrata dalam masjid atau goa. Akan tetapi, konsep ini mengajarkan pada kita untuk tatap berkiprah dalam masyarakat dan aktif serta tetap beraktifitas di berbagai aspek kehidupan sesuai dengan nilai nilai ketuhanan dan bukan sebaliknya, larut dalam pengaruh keduniaan dan kemewahan.

Beberapa ajaran tasawuf tampaknya dapat memberikan sumbangan positif yang dapat diamalkan dalam kehidupan masyarakat modern dan dapt digunakan sebagai solusi masyarakat, sebagai benteng spiritual dalam menghadapi berbagai problematikan modern. Untuk itu, dalam mengatasi problematika masyarakat modern, tasawuf harus dijadikan alternatif terpenting. Ajaran tasawuf perlu di aplikasikan dalam seluruh aspek kehidupan manusia modern, aspek ekonomi, sosisl, politik, kebudayaan, dan lain sebagainya. Dengan menerapkan ajaran tasawuf secara proporsional dan menerapkan prinsip prinsip moral Islam, maka akan terwujud kapribadian manusia utama yang mampu menjadi warga masyarakat dan bangsa yang baik dan bermanfaat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  • Kesimpulan

Kehidupan masyarakat modern identik dengan mendewakan ilmu pengtahuan dan teknologi, mengesampingkan pemahaman agama. Mereka beranggapan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi akan mampu meningkatkan taraf kehidupan. Padahal tidak selamanya seperti yang diharapkan karena kemajuan di bidang teknologi yang berkembang pada masyarakat modern akan memberikan dua dampak bagi kehidupan manusia, yaitu dapat memberikan dampak positif dan, pada sisi lain, juga dapat menimbulkan dampak negatif.

Melihat gejala manusia modern yang penuh dengan problematika dan mengakibatkan kehampaan spiritual, maka saatnya untuk mencari sebuah solusi untuk melakukan perbaikan dalam segala aspek kehidupan masyarakat dan di sinilah akhlak tasawuf memiliki peran yang amat penting. Tasawuf berperan melepaskan kesengsaraan dan kehampaan spiritual untuk memperoleh keteguhan dalam mencari Tuhan

  1. Saran
  2. Penulis berharap kepada para pembaca agar memberikan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan makalah ini kedepannya.
  3. Penulis berharap para pembaca dapat menjadikan ini sebagai acuan dalam mempelajari tentang Problematika Akhlak dalam kehidupan

 

Daftar Pustaka

Tim Penyusun MKD IAIN Sunan-Ampel. 2012. Akhlak Taswuf. Surabaya : IAIN Sunan-Ampel Press.
Mahmud, Ali Abdul. 1995. Akhlak Mulia. Jakarta : GEMA INSANI
Azra, Azyumardi. 2012. Pendidikan Islam. Jakarta : Kencana Prenada Media Group.
Nata, Abuddin. 2006. Akhlak Tasawuf. Jakarta : Rajawali Press
Hidayat, Komaruddin . 1987 cet.II. Upaya Pembebasan Manusia. Jakarta : Grafiti Pers
Musthofa, Ahmad.2005.Akhlak Tasawuf.Bandung : CV Pustaka Setia
Anwar, Rosihan. 2009. Akhlak Tasawuf . Bandung : CV Pustaka Setia
Deliar,Noer 1987. Pembangunan di Indonesia . Jakarta : Mutiara
Mulder,Niels.2000 Inside Indonesian Society : Culture Change in Java. Jakarta : Sinar Harapan
Mujieb,Abdul M.Syafi’ah,Ismail Ahmad M.2009. Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali. Jakarta: Hikmah (PT Mizan Publika)
Shah, Idries.2004. The Way of the Sufi . Jakarta : Lentera
Suhardi, Imam dkk .2003. Pilar Islam bagi Pluralisme Modern.Jakarta : Tiga Serangkai
Yusuf, Asrof M.2002. Kaya karena Allah. Jakarta : Kawan Pustaka
Moeljono, Djokosasonto.2000.Lead! Keunggulan Kompetitif. Jakarta: Erlangga

 

 

[1] Niels Mulder (Inside Indonesian Society : Culture Change in Java) hlm.237

[2] .M.Abdul Mujieb,Syafi’ah,H.Ahmad Ismail M.(Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali 2009) hlm.41

[3] Idries Shah (The Way of the Sufi 2004) hlm.9

[4] Imam Suhardi dkk (Pilar Islam bagi Pluralisme Modern ) hlm.92

[5] Muhammad Asrof Yusuf ,M.A(Kaya karena Allah) hlm4

[6] Dr.Djokosantoso Moeljono (Lead! Keunggulan Kompetitif) hlm.23

[7] K.H Muhammad Sholikhin (Menyatu Diri dengan Ilahi)hlm.579

[8] Turner(Pengantar Teori Komunikasi 1) hlm.196

[9] Muhammad Asrof Yusuf ,M.A(Kaya karena Allah) hlm4