Category: MATH


 Untuk mendapatkan file dalam bentuk Word silahkan klik Download Silabus

Baca Selengkapnya

Iklan

Nama Guru                         : Alfin Hidayatur Rahmika, S.Pd

Jabatan                                : Guru Matematika

Nama Sekolah                    : Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Indragiri Hilir

Waktu Wawancara            : Senin, 10 Juni 2017 (via telepon)

 

Pembelajaran di Indonesia saat ini menggunakan kurikulum 2013, dimana siswa dituntut untuk lebih aktif dalam pembelajaran. Hal ini juga berdampak pada pembelajaran matematika. Pembelajaran matematika dewasa ini, dituntut untuk menitikberatkan pembelajaran dengan siswa sebagai pusat pembelajaran (stundent center).

Alfin Hidayatur Rahmika, S.Pd, guru matematika di MAN 1 Indragiri mengungkapkan bahwa, pembelajaran matematika di sekolahnya saat ini sudah mengikuti kurikulum 2013. Kendati demikian masih ada guru di MAN 1 Indragiri yang masih menggunakan sistem ceramah sebagai metode mengajarnya. Menurutnya metode ceramah belum bisa ditinggalkan apalagi bagi guru-guru senior. Hal ini disebabkan karena metode ceramah dianggap metode paling efektif. Sedangkan untuk guru-guru yang masih terbilang muda sudah mulai menerapkan strategi dan metode baru untuk mewujudkan kurikulum 2013.

Menurut Alfin, kendala sebenarnya dari pembelajaran matematika adalah pada metode ceramah. Menurutnya metode ceramah akan efektif jika dilakukan pada jam pelajaran pagi dengan waktu 2 x 45 menit sementara mata pelajaran matematika saat ini memiliki waktu 3 x 45 menit. “Lebih dari itu tidak akan efektif,” ujarnya. Alfin bercerita ia pernah menggunakan metode  ceramah pada jam pelajaran siang dari pukul 1:30-2:45 WIB karena materi dirasa cukup sulit apabila dikerjakan secara berkelompok. Alih-alih paham siswa malah terlihat letih, lesu dan tidak bersemangat. “Kalau digunakan waktu siang, itu nggak cocok,” tambahnya.

Kendala lain yang ia hadapi selama menjadi guru matematika adalah siswa itu sendiri, Alfin menuturkan kebanyakan siswa tidak menyukai matematika. Hanya sekitar 30-40% siswa yang menyukai matematika, selebihnya menganggap belajar  matematika hanya sebagai formalitas saja.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Alfin menggunakan inovasi di bagian strategi pembelajaran, ia menggunakan cara komposisi, cerdas cermat antar kelompok atau individu dan menggunakan pembelajaran kelompok yang lebih berinovasi seperti jigsaw, colaborative learning dan lain-lain. “Jadi pembelajaran selama tiga jam di kelas tidak terasa panjang,” ungkapnya.

Setelah menggunakan strategi dan metode pembelajaran yang bervariasi, Alfin mengaku siswanya mengalami perubahan yang signifikan terkait minat mereka dalam belajar matematika.

***

Nama Guru                        : Lisna Syafitri, S.Pd

Jabatan                               : Guru Matematika

Nama Sekolah                   : MTs Sabilal Muhtadin Tembilahan

Waktu Wawancara           : Minggu, 11 Juni 2017 (via Whats App)

Terkait inovasi dalam pembelajaran matematika, Lisna Syafitri, S.Pd guru matematika MTs Sabilal Muhtadin menjelaskan bahwa di sekolahnya terdapat beberapa kendala yang membuatnya sulit mengadakan inovasi ataupun variansi dalam pembelajaran matematika.

Hal ini didasarkan karena banyak siswa yang berasal dari desa yang kemampuan dasar matematikanya belum cukup dan menjadikan kendala tersendiri bagi guru. “Sulit menggunakan inovasi baru, karena dasarnya mereka belum menguasai,” ungkapnya.

Mengatasi hal tersebut, Lisna memilih mengajar menggunakan metode ceramah, karena ia menilai metode ceramah adalah metode yang tepat untuk mengajar matematika agar memudahkan siswa untuk belajar dan membantu siswa mengulang kembali dasar-dasar matematika.

Menurut Lisna, inovasi dari sekolah memang tidak ada dan semuanya tergantung dari masing-masing guru yang mengajar. Lisna mengaku ia  belum mendapatkan inovasi pembelajaran seperti apa yang sesuai dengan karakteristik siswa. “Pengalaman mengajar belum banyak, karena saya masih baru menjadi guru,” tuturnya.

Lisna juga menjelaskan, berdasarkan pengalaman yang telah ia peroleh selama Program Pengalaman Lapangan (PPL), sekolah-sekolah yang sudah bagus kebanyakan pembelajaran menggunakan inovasi-inovasi yang bervariasi, anak-anak di sekolah tersebut ketika diajarkan dengan metode ceramah menjadi tidak efektif, karena kebanyakan dari mereka hanya bermain-main dan tidak memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru karena mereka merasa sudah memahami materi yang diajarkan. “Kalau siswanya seperti ini, lebih baik menggunakan inovasi agar mereka tidak bosan,” tutupnya.

***

Ditulis oleh: Mujawaroh Annafi (11415201127)

Materi ini adalah mengenai lingkaran, suatu bangun datar yang banyak sekali aplikasinya di tengah kehidupan kita. Apa itu lingkaran? Lingkaran adalah himpunan semua titik-titik pada bidang datar yang berjarak sama terhadap  suatu titik tertentu, yang disebut titik pusat, sedang jarak yang sama disebut jari-jari.

Ibaratkan titik pusat adalah adalah sesuatu yang menjadi tujuan manusia, maka Tuhan memberikan jarak yang sama kepada setiap insan untuk mencapainya, tergantung seberapa besar usaha yang dilakukan untuk meraihnya. Seperti firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 11 yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya.

Jika lingkaran diaplikasikan dalam roda, maka untuk mencapai tujuan akan sangat muda jika berada di puncak roda, dan akan sangat sulit jika berada di dasar roda, maka dari sebagai manusia, ketika sedang berada di atas bersyukurlah, dan ketika sedang berada di bawah bersabarlah.

Matematika

Adalah disiplin ilmu yang membuat kita melatih bagaimana cara berfikir dan mengolah pikiran dan mengolah pikiran secara kualitatif, mengajarkan manusia untuk berpikir krites.

Dua hal yang penting dalam proses pembelajaran.

  1. Berpusaat kepada siswa yang belajar
  2. Berpusat kepada guru yang belajar.

Namun sekarang ini dituntut untuk siswa yang lebih aktif daripada guru sehingga ditujukan kepada siswa yang belajar. Ada kalanya guru menguasai pembahasan namun lebih di dominasikan ke siswa.

Konsep yang harus ditanamkan dalam pembelajaran matematika.

  1. Pembelajaran Matematika berorientasi kepada matematika formal.

Artinya bergelut pada rumus yang mengajarkan kepada siswa konsep formal matematika seperti vektor, relasi dll.

Matematika bersifat deduktif/berpikir deduktif

Matematika tidak menerima generalisasi berdasarkan pengamatan induktif tetapi harus berdasarkan pembuktian deduktif. Artinya harus berasal dari pengamatan-pengamatan sebelumnya. Artinya dari umum ke khusus. Ilmu baru tidak dapat diterima kebenarannya sebelum dibuktikan secara deduktif. Artinya dari pernyataan-pernyataan sebelumnya yang sudah ada akan kita kembangkan, namun harus dibuktikan kebenarannya terlebih dahulu.

  1. Pembelajaran matematika berorientasi kepada lingkungan sekitar.
  2. Konsep heuristik

Pembelajaran matematika sebagai sistem dimana pelajarnya dilatih untuk menemukan sesuatu secara mandiri. Karena tujuan akhir dari matematika adalah bagaimana melatih kemandirian siswa.

  1. Pembelajaran matematika berorientasi kepada matematika sebagai alat (komunikasi)

Sangat sulit untuk membuat siswa memahami keseluruhan apa yang diajarkan. Namun hal yang paling mendasar yang harus dilakukan yaitu bagaimana cara membuat siswa menyukai matematika. Tidak monoton dan membawa siswa untuk belajar matematika yang berorientasi kepada dunia sekitar. Tidak meonoton kepada buku dan memahami siswa.

Learning

Learning to know

Learning to do

Learning to be

Learning to live together

Learning how to learn

Learning to throughout learn