Perlawanan Perempuan di Tanah Papua

Perlawanan Perempuan di Tanah Papua

Judul               : Tanah Tabu

Penulis            : Anindita S. Thayf

Penerbit         : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan          : kedua, November 2015

Tebal              : 240 halaman

 

Perusahaan di ujung jalan itu hanya setia pada emas kita. Tidak peduli apakah tanah air, dan orang-orang kita jadi rusak karenanya, yang penting semua emas punya mereka. Mereka jadi kaya, kita ditinggal miskin. Miskin di tanah sendiri!

Oleh: Mujawaroh Annafi

Dalam berbagai konflik dan penindasan, tak jarang kaum perempuan menunjukkan perlawanan sebagai penegasan bahwa perempuan tak layak dipandang sebagai jender kelas dua. Konflik yang sedang memanas antara masyarakat pegunungan Kendeng, Jawa Tengah dengan pihak PT Semen Indonesia, contohnya, memperlihatkan begitu dominannya perlawanan kaum perempuan menolak pembangunan pabrik semen. Keruan saja, sebab perempuan adalah pihak pertama yang paling merasakan dampak pengrusakan alam oleh korporasi.

Eksploitasi pegunungan karst tersebut jelas akan menghilangkan sumber air yang dibutuhkan untuk urusan mereka dalam rumah tangga seperti mencuci dan memasak hingga untuk bertani dan beternak, dua mata pencarian utama masyarakat Kendeng yang juga melibatkan perempuan sebagai pekerjanya.

Jika perempuan Kendeng melakukan perlawanan atas dasar menjaga sumber kebutuhan vital kehidupan mereka, di timur Indonesia, kaum perempuan, tanpa sorotan media, barangkali juga melakukan perlawanan atas penindasan bernama sistem patriarki yang sesungguhnya berkait-kelindan dengan berdirinya perusahaan tambang emas di sana, yang keberadaanya tak memberikan kesejahteraan bagi penduduk Papua, alih-alih justru menimbulkan masalah sosial dan berbagai bentuk penindasan. Anindita S Thayf menuliskan kisah penderitaan dan perlawanan perempuan Papua, yang tertindas oleh budaya patriarki dan kekuasaan.

Novel ini berkisah tentang tiga orang perempuan Papua suku Dani yaitu Mama Anabel yang akrab disapa Mabel, Mace Lisbeth menantu Mabel serta Leksi cucu Mabel yang masih berusia tujuh tahun. Ada juga tokoh lain yaitu Pum sahabat Mabel sejak kecil, Kwee yang setia menjaga Leksi serta tetangga Mabel, Mama Helda dan anaknya Yosi.

Dalam novel ini cerita lebih dominan terhadap Mabel. Mabel diceritakan sebagai sosok perempuan kuat yang menolak penindasan kaum laki-laki, menolak politik yang hanya mengutamakan perut sendiri, juga menolak penjajahan tak langsung dari orang asing yang hidup di atas tanah emas Papua.

Kerasnya kehidupan yang pernah Mabel jalani menjadikannya wanita yang berpikiran terbuka, cerdas dan berani mengungkapkan hal yang dianggapnya benar dan menolak segala bentuk penindasan oleh siapa pun. Meskipun tak pernah mengenyam bangku pendidikan, Mabel bisa membaca, menulis, dan berbahasa asing.

Ketika menginjak remaja Mabel menjadi pembantu sebuah keluarga Belanda yang baik hati. Di situlah ia belajar dan menjadi gadis Papua yang berpikiran maju. Kegemarannya membaca membuka pikirannya tentang berbagai pengetahuan yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan.

Namun, ketika keluarga Belanda itu kembali ke negeri asalnya, kembalilah pula Mabel ke kehidupan kelamnya, kembali ke kampung halaman dan menikah. Dua kali pernikahannya gagal. Ia juga sempat diculik dan dituduh bersekongkol dengan kelompok separatis serta dianggap pemberontak. Karena itulah ia disiksa dengan siksaan, yang binatang pun tak layak mendapatkannya oleh orang-orang berseragam militer, yang sering melakukan teror dan pembantaian terhadap orang-orang Papua.

Semua pengalaman baik dan buruk yang Mabel dapatkan menjadikannya wanita tegar yang disegani, bahkan oleh pria sekalipun.

Karena Mabel jugalah suara perempuan yang hanya terdengar nyaris seperti bisikan menjadi terdengar lantang di telinga semua orang. Mabel tak hanya dikenal pemberani tapi juga perempuan idealis yang sangat kritis terhadap segala bentuk pembodohan yang dilakukan berbagai pihak.

Begitu banyak ketimpangan-ketimpangan yang ingin diungkapkan penulis melalui novel ini, patriarki, kekuasaan, harta, politik hingga rumah tangga, semua diceritakan secara gamblang dari berbagai sudut pandang semua tokoh-tokoh dalam novel ini.

Tidur beralaskan emas, tetapi rakyat Papua justru tambah menderita, kelaparan, miskin dan penyakitan. Hutan tak lagi menghasilkan sagu, sedangkan sungai pun tercemar limbah perusahaan emas di ujung jalan sana. Datangnya investor asing ke Tanah Papua memang membawa perubahan dan modernisasi. Mereka mendirikan perusahaan, namun itu semua tak banyak memberikan manfaat bagi penduduk asli. Tambang emas yang terus-menerus digali, tempat yang dulunya asri telah berubah seiring kemodernan yang ditawarkan orang-orang asing tersebut.

Mabel menganggap kemiskinan di Tanah Papua juga tidak lepas dari peran orang-orang asing tersebut yang juga menjadi penyebab terjadinya ketimpangan sosial, meningkatnya patriarki di mana penindasan wanita oleh laki-laki menjadi hal yang biasa, seolah-olah perempuan diciptakan untuk menyenangkan hati suami dengan menjadi wanita yang mengorbankan sisa hidupnya demi keluarga, suami, kebun, dan babi.

Kemiskinan mengantarkan para pria untuk melampiaskan kekesalan, kekecewaannya kepada keluarganya di rumah. Pria Komen, sebutan untuk lelaki asli Papua adalah pria perkasa yang gagah berani, mereka menganggap wanita adalah makhluk  yang lemah sehingga layak untuk dilindungi. Mati-matian mereka korbankan hidupnya demi wanita apabila diganggu oleh suku lain, tapi mati-matian pula mereka menghajar istrinya tergantung suasana hati.

Semakin miskin laki-laki semakin keras ia bekerja. Tapi semakin banyak ia mendapatkan uang dari bekerja maka semakin parah mereka menenggak arak. Imbasnya, anak istri di rumah yang tersiksa.

Baik Mabel ataupun Mace sama-sama pernah mengalami penindasan oleh kaum laki-laki, tapi Mabel memutuskan untuk melepaskan takdir yang membelenggunya. Dikatakannya kepada Mace untuk keluar dari kebodohan yang menjadi akar permasalahan kaum wanita. Bersama-sama mereka berdua menyekolahkan Leksi agar tumbuh menjadi wanita yang cerdas dan tidak terbelenggu oleh takdir yang dikatakan adat. Kepada Leksi Mabel berujar, ketahuilah, Nak. Rasa takut adalah awal dari kebodohan – jangan sekali-kali engkau memandangnya dengan sebelah mata – mampu membuat siapa pun dilupakan kodratnya sebagai manusia.”

Pengalaman mengajarkan Mabel untuk tidak mudah percaya pada janji-janji manis politikus. Sebagai seorang wanita yang berpengaruh ia banyak mendapatkan bujuk rayuan di musim pilkada. Tak segan-segan ia menolak terang-terangan calon-calon bermulut manis yang mengetuk pintu rumahnya sambil membawa kaos berwarna-warni. Tanpa Mabel sadari tindakannya membuat ia dijebak dan membuatnya kembali dicap sebagai pemberontak. Lagi, ia dijemput lantas diinterogasi seraya disiksa oleh tentara Indonesia.

Ini memang hanya fiksi, tapi berangkat dari realitas. Mungkin tak banyak yang mau tahu bagaimana nasib Mabel-Mabel dan Leksi-Leksi lain yang tinggal di sana. Yang jelas, perlawanan melawan penindasan dari satu pihak terhadap pihak lain harus terus diperjuangkan.

Novel ini sarat akan pesan kritik sosial, menggunakan bahasa yang mudah dipahami pembaca. Penulis mengambil sudut pandang dari setiap tokoh dalam novel Tanah Tabu ini sehingga pembaca tidak hanya melihat kejadian dari satu sudut pandang narator. Lebih kerennya lagi, penulis tidak hanya meletakkan manusia sebagai narator, pembaca tidak akan menyadari sebelum sampai di akhir cerita bahwa kisah kehidupan Mabel dan keluarganya juga diceritakan oleh tokoh yang bukan manusia. Namun pengambilan sudut pandang yang berganti-gantian acap kali membuat pembaca lupa siapa yang sedang bercerita.

Gaya bercerita yang unik, komposisi yang menarik, juga urgensi masalah menjadikan Tanah Tabu juara pertama dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2008, dengan dewan juri diantaranya dua sastrawan cum jurnalis kondang Linda Christanti dan Seno Gumira Ajidarma, sehingga tentu saja novel ini layak dan bagus untuk dimasukkan dalam daftar baca anda.

Iklan

Kaitan Matematika dalam Kehidupan Sehari-hari dan Hubungannya dengan Islam

Materi ini adalah mengenai lingkaran, suatu bangun datar yang banyak sekali aplikasinya di tengah kehidupan kita. Apa itu lingkaran? Lingkaran adalah himpunan semua titik-titik pada bidang datar yang berjarak sama terhadap  suatu titik tertentu, yang disebut titik pusat, sedang jarak yang sama disebut jari-jari.

Ibaratkan titik pusat adalah adalah sesuatu yang menjadi tujuan manusia, maka Tuhan memberikan jarak yang sama kepada setiap insan untuk mencapainya, tergantung seberapa besar usaha yang dilakukan untuk meraihnya. Seperti firman Allah dalam QS. Ar-Ra’d: 11 yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya.

Jika lingkaran diaplikasikan dalam roda, maka untuk mencapai tujuan akan sangat muda jika berada di puncak roda, dan akan sangat sulit jika berada di dasar roda, maka dari sebagai manusia, ketika sedang berada di atas bersyukurlah, dan ketika sedang berada di bawah bersabarlah.

Koboko Waterfall Pendakian Penuh Bonus

Kampar, lagi-lagi membuatku terkagum-kagum. Apalagi kalau bukan karena air terjunnya?. Dari semua air terjun di Kampar yang pernah ku kunjungi, Koboko lah yang menawarkan sensasi perjalanan yang seru.

Sekitar pukul delapan kami bertolak dari Pekanbaru menuju lokasi, tak lupa aku mengencangkan helmku dan duduk manis di dudukan penumpang. Tiga jam perjalanan diiringi gerimis mengundang mewarnai perjalanan yang panjang dan berliku.

“Selamat Datang di Air Terjun Koboko,”  Air Terjun Koboko ini terletak di Kecamatan Kampar Kiri tepatnya di Desa Lipatkain Selatan. Spanduk selamat datang sumringah menyambut kami ketika kami tiba di sana, sebelum masuk lebih jauh ke lokasi, terlebih dulu kami singgah di salah satu tambak ikan rekan temanku. Di situ kami menitipkan helm, baju ganti, motor dan sepatu agar tidak memberatkan perjalanan. Seperti air terjun pada umumnya, perjalanan pasti diawali dengan pendakian.

Berganti dengan sendal jepit, aku melangkahkan kakiku di tanah becek bewarna kuning, ya memang kala itu cuaca tidak terlalu mendukung. Satu hal yang ku sesalkan adalah meninggalkan motor di tempat kawannya kawanku. Kau tau kenapa? Ternyata perjalanan dari rumah dia hingga posko masuk bisa ditempuh dengan motor, dan sama sekali tidak selicin yang dikatakan. Ya sudahlah jalani saja, pikirku.
Cukup membayar lima ribu rupiah kami diizinkan masuk.

“Cuma tiga kali tanjakan dek,” kata petugas.

Pernahkah kuceritakan padamu kawan? Meski aku lebih suka mendaki dari pada turunan, tapi aku tetap termasuk lamban. Seperti biasa aku selalu berada dipaling belakang, tapi tak pernah kusesalkan karena stok air semua ada padaku. Aku hanya tertawa picik.

Jalanan mulai menanjak, dengan terengah engah aku memantapkan langkahku. Pupus hatiku kala mendengar ketika temanku mengatakan. “Semangat wey, ini belum tanjakan pertama.”

“Gilak,” pikirku.

Untung saja, bukit-bukit indah di kanan kiri berhasil memanjakan mata kami ketika dalam perjalanan, dari kejauhan tampak sebuah bukit yang ditanami sawit yang belum tinggi.

Tibalah kami di sebuah pohon yang memiliki tanda panah ke bawah. (Tanda ini tertanda Sispala atau Siswa Pencinta Alam, sepertinya Mapala belum datang ke sini). Ku longokkan kepalaku mengintip ke bawah. Waw, tak mungkin perjalanan dilanjutkan lewat jurang ini, pikirku. Bayangkan, turunan tersebut memiliki kemiringan lebihh dari 45 derajat, ditambah gerimis sedari tadi dan pastinya licin. Di situ ada jalan ke atas, tetapi tanda menunjuk ke bawah. Dilema kami menentukan manakah jalan yang benar.

Berdasarkan pengalaman temanku yang dulu pernah ke koboko, ia mengatakan dengan ragu-ragu kalau jalan memang lewat turunan ini. Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti tanda. Gemericik air terdengar ketika kami melangkahkan kaki menuruni jurang curam ini. Tak pelak beberapa dari kami terpeleset saking licinnya. Aku pun mencengkeram rumput-rumput atau pohon-pohon dalam jangkauan tanganku, tak mau kubanyangkan diriku menggelinding ke bawah.

Sesampainya di bawah, perjalanan dilanjutkan dengan turunan-turunan. Tak ada lagi tanjakan seperti sebelum kami turun tadi, ditambah lagi dengan air yang mengalir di sela-sela kaki kami. Segar kurasakan, napas tak lagi terengah-engah. Kami berjalan seperti menyusuri aliran sungai dengan riak-riaknya yang manja. Tak menyesal kutinggalkan sepatu dan menggantinya dengan sendal jepit.
Bak sebuah game, aliran air yang kami lewati memiliki level yang semakin lama semakin sulit, awalnya hanya melewati genangan air, lalu melalui titian kayu-kayu yang disusun jarang seperti tangga yang direbahkan. Hanya saja sudah rusak dan lapuk.

Semakin jauh kami melangkah aliran air pun semakin besar. Dan melewati turunan yang cukup terjal, air yang melewati bebatuan berlumut kami lewati bersama-sama, bergantian saling berpegang agar tidak jatuh. Sesekali aku melepaskan sendalku agar tidak licin. Bahkan sendalku sempat hanyut terbawa derasnya air. Karena itu sendal pinjaman tentu saja aku tak boleh kehilangan dia. Wkwkwk.

Di turunan lainnya ada sebuah tali untuk berpegang, bahkan kami melewati sebuah batang yang dijadikan titian berdiameter kira-kira 15 cm, lagi-lagi aku melepas sendalku agar tak terpeleset, karena sungai di bawah kami sangat tenang dan terlihat dalam. Tahukah kau kawan? Kau harus berhati-hati dengan air yang tenang, karena kau tak tau ada apa di dalamnya.

Gemuruh air jatuh dari ketinggian terdengar sayup-sayup di telinga kami, bergegas kami menuju ke sana. Lagi kami harus melewati kali atau sungai yang tak dalam tapi cukup kuat arusnya.
Perjalanan kali ini memberikan sensasi yang luar biasa apalagi bagi yang suka menantang adrenalinnya. Datanglah dan buktikan sendiri.

Story Baper On Marapi

1486726209739

Singgalang dilihat dari Marapi

“Buk ngopi Buk.”

“Iya Pak,” sahutku. Aku merapatkan jaket tebalku agar angin malam tak terlalu menusuk tulangku. Kami membuat api unggun kecil bersama-sama yang sejak sore tadi kami kumpulkan.

Butuh waktu lama untuk menghangatkan air demi membuat kopi, segera setelah air panas, kami langsung menuangkannya ke dalam gelas yang telah diisi kopi.

“Ahhh, hangat,” ucapku. Cepat-cepat aku habiskan kopiku karena beberapa menit lagi kopi itu pasti akan menjadi dingin.

***

Sofiah, temanku yang aku kenal beberapa bulan yang lalu ketika kami Pelatihan di Lampung, ironis memang, meski sama-sama dari Riau tapi kami dipertemukan di ujung Sumatera. Dia kuliah di Universitas Islam Riau (UIR), biar lebih keren dia menyebutnya UI Riau. Beberapa minggu sebelumnya dia memberitahu melalui Blackberry Messenger (BBM), agar aku bersiap-siap untuk ikut dia mendaki tanggal 16 Januari ketika libur semester ganjil. Dengan santai aku menjawab aku ikut kalau uangku terkumpul ya. Aku menjawab dengan santai, dalam hati aku berpikir pasti ujung-ujung dari ajakan ini tidak jadi.

Hari terakhir ujian semester lima, aku dikejutkan dengan dering hp yang memang jarang sekali berbunyi. Nomor tak dikenal menghiasi layar hpku, tanpa pikir panjang aku pun mengangkatnya.

“Hallo, assalamualaikum,”

“dimana fi? Jadi ikut kan? Besok kita ke Sumbar, tapi gak jadi ke Singgalang jadinya ke Marapi,” kata suar di seberang hp, yang kutau itu adalah Sofi.

“jadi pergi? Besok? Tapi kan besok masih tanggal 15, aku belum siapkan revisi tugas ku lho,”

“Iya besok kita dari Pekanbaru, senin kita nanjak. Siapkan lah lagi tugasmu,”

“aku gak ada siap-siap do,”

“aman tu, biar kami yang siapkan. Ada aku teman sekosku sama satu anak Fikom,”

“Ok,” kataku menutup telpon.

Ternyata Sofi benar-benar serius tentang ajakannya beberapa minggu silam, cepat-cepat aku menyelesaikan tugasku agar bisa ikut nanjak ke Marapi. Eitts, tunggu dulu. Marapi? Teringat percakapanku dengan seorang leader di pendakian pertamaku di Marapi. Aku tersenyum sendiri mengingat betapa bodohnya diriku sekarang. Aku mengambil laptop menyelesaikan tugas dan segera mengirimkannya ke salah seorang temanku agar ia yang mengumpulkannya ke dosen.

Salah satu alasanku ingin pergi menanjak lagi adalah, begitu banyak rencana yang aku buat bersama teman-teman satu kelasku jika ujian telah usai. Ujian memang sudah selesai tapi tugas masih terus membayangiku seolah-olah tak mengizinkanku lepas dari semester lima. Alih-alih lega setelah UAS kami disibukkan dengan tugas akhir yang menggunung, itulah yang membuat kami lupa tentang rencana-rencana relaksasi yang jauh-jauh hari kami rencanakan. Dari makan di Waroeng Steak, nonton bioskop, liburan ke Solok. Semuanya gagal, setelah selesai semuanya teman-temanku lebih memilih pulang kampung dari pada menjalankan rencana indah ini. Akhirnya aku memilih mengaminkan ajakan Sofi.

***

“kenalan dulu lah ya kita, ni Nafi, kawanku anak Gagasan, UIN” kata Sofi mengenalkan ku pada kedua temannya. “Fi ni Fitra, ini Laras,” tambahnya.

“Nafi,” balasku sambil tersenyum.

Pagi sebelum keberangkatan kami memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Mereka menyuruhku bersiap-siap sejak pagi, bahkan sebelum sarapan bersama aku sudah sarapan duluan di kos. Hingga akhirnya aku tertidur duluan sampai jam sepuluh pagi, hingga akhirnya mereka datang dan mengajak sarapan lagi. Menyebalkan. Dari pada nolak, kan gak enak wkwkwk.

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Sumatera Barat dengan Sepeda Motor, Fitra dengan Sofi dan aku dengan Laras. Yup kami memang Cuma berempat. Fitra sebagai satu-satunya laki-laki diantara kami, maka ia membawa beban yang paling berat, Sofi dan Carrier. (maaf ya Sof).

Berbekal GPS Sofi dan Fitra terus melaju ketika sampai di Sumbar, aku dan Laras hanya mengikuti mereka dari belakang. Menurut rencana kami, kami akan tiba di pos 1 sebelum matahari terbenam dan mendirikan tenda di area itu sebelum paginya mendaki. Tapi manusia hanya bisa berencana hasilnya Tuhan yang menentukan, arah yang ditunjukkan oleh GPS mengarahkan kami jalur pendakian yang lain, bukan jalur biasanya. arah itu memang ada tetapi tidak banyak yang melalui jalur itu atau bisa terbilang sepi bahkan katanya pos ditutup.

Hingga akhirnya, setelah bertanya kesana kesini tak menemukan jalan,kami memutuskan untuk kembali ke Padang Panjang dan menginap di hotel. (waw)

***

Kami masuk melalui jalur yang biasa dilalui oleh pendaki, lewat pasar Bukittinggi kemudian berbelok ke arah yang aku lupa nama jalannya hingga kami sampai di pos satu. Di situ kami menitipkan motor dan helm dan beberapa barang bawaan yang sekiranya tidak kami perlukan ketika digunung. (aku benar-benar menyesal telah menitipkan barangku di sini).

“hosh…hosh…” napas Sofi terengah-engah ketika kami baru mulai pendakian.

Jalanan masih semen belum mencapai tanah tapi ini benar-benar melelahkan, aku kasihan melihat Sofi, ini kali pertamanya ia mendaki. Sedangkan Laras dan Fitra, menurutku mereka sudah terbiasa mendaki. Tak jauh berbeda dengan Sofi aku juga mengalami kelelahan karena dulu barang bawaan dibawakan sedangkan sekarang harus membawa sendiri, meskipun tidak separah Sofi (hahaha), tapi aku paling banyak menghabiskan stok air minum. (yang ini aku benar-benar minta maaf, kalo aku dehidrasi bisa fatal akibatnya).

“pak… Buk… Naik pak? Semangat bu! ” sapa para pendaki yang turun dari gunung.
Bukan hal asing bila para pendaki saling menyapa baik ketika turun ataupun naik. Seolah-olah sudah menjadi kebiasaan dan bukti keramahtamahan para pendaki. Tak heran bila ada yang mengatakan bahwa mendaki mengajarkan bagaimana bersosialisasi dan beramah tamah. Di Marapi sapaan Bapak dan Ibu adalah sapaan yang lumrah digunakan para pendaki baik tua maupun muda, anak-anak maupun dewasa semua dipanggil sama, tergantung gender hehehe.
Dengan susah payah menanjak, memanjat dan melompat, akhirnya kami tiba di cadas. Kami memutuskan untuk berhenti dan beristirahat di warung kosong. Wajar apabila tidak ada yang berjualan karena biasanya pedagang berjualan di hari libur seperti hari minggu atau tanggal merah.
“alhamdulillah, akhirnya nyampe juga di cadas, ” ujarku sambil tiduran di salah satu dudukan warung yang memanjang.

Warung yang merupakan satu-satunya warung di cadas ini hanyalah bangunan yang dibuat seadanya dengan menggunakan atap terpal dan kayu-kayu sederhana dan terbuka, biasanya menjual gorengan, itu yang aku tahu.

Beberapa saat kemudian Sofi dan Laras menyusul aku dan Fitra yang sudah sampai duluan. Tanpa pikir panjang mereka langsung membaringkan tubuh mereka di dudukan satunya. Tak lama kemudian aku merasa diriku sudah berada di alam lain. Yup… Aku tertidur saking kelelahannya.
Sebelum kami tiba di pondokan tersebut ternyata sudah ada pendaki lain yang beristirahat di sana. Fitra mengajak mereka mengobrol santai, ternyata ketiga pendaki itu juga berasal dari Pekanbaru bahkan mereka dari kampus yang sama dengan ke tiga rekanku, UIR.

“kami duluan ya Pak, ” ujar pria berambut panjang kepada Fitra.

“Iya Pak, ”

“Fit kita pasang tenda di mana?” tanyaku

“terserah”

“di sini ajalah,” kata sofi menimpali.

“Jangan di sini lah, kita cari tetangga biar enak nanti, ” kataku mengingat kami hanya punya satu laki-laki di antara kami.

“ya udah gimana kalo dekat sama abang yang tadi? Aku sih terserah kalian” tanya Fitra

“bolehlah terserah, ”

Fitra kembali memimpin perjalanan kami yang terhenti cukup lama. Dia berjalan sangat cepat dan kembali meninggalkan kami bertiga, aku duduk di bebatuan karena sudah sangat kelelahan. Yang ku tahu dia sudah menemukan tempat tak jauh dari tiga mahasiswa UIR tadi dan segera ia mendirikan tenda.

Setelah selesai kudengar salah seorang dari tetangga di bawah kami mengajak Fitra untuk mencari air. Aku tak tahu di mana mereka mengambil air karena Fitra juga tidak ada mengajak kami dan aku juga tidak akan pergi meskipun diajak.

Sekitar pukul lima kami menjamak salat dzuhur dan asar, aku dan Sofi mencari kayu-kayu kering untuk dibakar, kami tidak membawa kompor. Hal ini membuat kami menyesal karena sangat sulit menyalakan api tanpa bantuan minyak ditambah angin yang bertiup dari berbagai arah.
Menurut ku Sofi adalah pejuang tangguh, ia bersusah payah menghidupkan api yang sedari tadi tak kunjung hidup. Aku pun membantu mencarikan daun-daun kering yang mudah terbakar. Tak terhitung berapa banyak lembar tisu yang dibakar Sofi, tapi api hanya bertahan sebentar lalu padam. Padahal kami ingin membuat susu panas untuk Laras yang sedang tidak enak badan, juga untuk Fitra yang pasti lelah karena membawa beban paling berat, terspesial untuk aku dan Sofi yang memang sedang kepengen minum susu. Tapi sayang sampai Fitra datang dan Laras bangunpun api tak kunjung hidup.

“minum air hangat buk,? ” tawar tetangga kami.

“makasih pak, kami sedang proses”

“gak bawa kompor buk? ”

“kami mau menyatu dengan alam pak” jawabku beralasan.

Setelah sekian lama api tak kunjung hidup, abang berambut panjang datang membawa kompor kepada kami, mungkin dia kasian sama ibu-ibu yang berjuang hidup-hidupan demi api.
Dari ke tiga abang tetsebut kami memberi mereka nama sesuai dengan ciri khad mereka. Abang baik hati yang berambut panjang kami sebut Abang Cantik, karena rambutnya terlihat cantik dan kalau dilihat lama-lama abang tu memang cantik, abang satunya belakangan kami panggil Abang Ganteng, ya memang ganteng apalagi kalau dilihat lama-lama. Kalau yang satunya Abang Mapala, kata Sofi dia sering terlihat di sekre mapala yang dekat dengan sekrenya, LPM aklamasi.
Setelah makan malam Fitra yang kurus tinggi meringkuk kedinginan di dalam tenda. Kasihan dia jaket ungu kesayangannya tak cukup tebal menahan terpaan dinginnya malam. Sementara Sofi masih berjuang menghidupkan api. Poor Us.

Lelah dengan aktivitas sia-sianya akhirnya Sofi bergabung denganku menikmati kebesaran Tuhan yang menakjubkan, meski langit hanya menunjukkan sedikit bintangnya, tetapi awan enggan bergerak sehingga kami menikmati panorama singgalang di malam hari meski hanya siluetnya saja, lampu-lampu penduduk di bawah gunung juga terlihat bak bintang yang dipindahkan dari langit ke bawah. Ooh pantas saja langit sepi bintang ternyata begitu…

“fotoin Fi, ” kata Sofi membuyarkan lamunanku

Cekrek cekrek… Tiba-tiba Laras keluar dari tenda dan ikut berfoto bersama kami. Aku bersyukur ia sudah terlihat lebih baik daripada tadi, meski setelah itu ia kembali masukbke dalam tenda.
“Buk Ngopi Buk, ” abang cantik sudah ada di dekat tenda kami.
Sebelumnya abang cantik bertanya, apakah kami punya kayi bakar yang cukup, dari atas tentu saja kami punya tapi tak berguna. Dengan menggunakan kekuatan bulan… Oops jadi keinget Sailor Moon. Maksudnya memakai gas, abang cantik dengan mudah menyalakan api di kayu-kayu yang tak mau dibakar Sofi. Ternyata abang cantik juga membawa kompor gas kecil yang sore tadi dipinjamkan ke kami. Akhirnya kamipun bisa menikmati indahnya malam bersama kopi yang hangat. Tak lupa kami membangunkan Fitra dan Laras meski yang keluar cuma Fitra.

Fitra sangat pandai bercerita, aku Fitra, Sofi dan abang cantik bercengkerama menghabiskan sisa-sisa malam sampai aku dan Sofi beranjak karena sudah mengantuk. Aku tak tau kapan Fitra dan abang cantik meninggalkan kami, Fitra bilang dia akan tidur di tenda abang cantik. ketika aku terbangun tengah malam suasana sudah sepi, yang aku rasakan kaki-kaki di samping kanan dan kiriku menggigil kedinginan, aku benar-benar merindukan kasur.

***

“kalian mau ke Puncak tak, bentar lagi kita pergi ni, ” suara Fitra membangunkanku dari tidur yang tidak nyenyak.

Segera aku terbangun dan keluar tenda, kudapati waktu menunjukkan hampir pukul setengah empat subuh. Aku dan Sofi memutuskan untuk ikut naik ke Puncak Marapi dan menyaksikan sunrise yang konon katanya sangat indah. Laras lebih memilih menjaga tenda daripada ikut. “aku dah sering nengok” tuturnya.

Sebelum pergi kami bergabung dengan tenda tetangga kami. Abang cantik yang baik hati tengah memanaskan air untuk membuat kopi tak lupa ia menawarkanku kopi.

“ibu mau kopi hitam atau kopi sponsor? ”

“kopi sponsor”

Sebelum naik penjaga pos memberikan setiap pendaki kopi Tora Bika dan berpesan untuk membawa turun dan memberikan bungkusnya lagi kepadanya. Mungkin itu yang membuat abang cantik menyebutnya kopi sponsor.

Sayangnya abang cantik dan abang mapala tidak berniat untuk melihat sunrise bersama kami, alasannya sama dengan Laras. Jadi hanya abang ganteng lah yang ikut naik ke Puncak, katanya ini kali pertamanya mendaki Marapi. Sedangkan Fitra, kurasa dia sebenarnya enggan naik ke Puncak, tapi mungkin ia kasihan dengan kami yang dari kemarin ngebet ingin ke Puncak. Meskipun ini bukan yang pertama bagiku tapi aku sudah lupa jalan ke sana, hanya Fitra yang tau.
Pukul empat kurang sepuluh, itu waktu yang kuingat. Kami mulai lagi pendakian, di cadas yang terjal, kami harus berhati-hati agar tidak menginjak dan berpegang pada batu yang salah. Jika tidak pasti kami akan tergelincir ke bawah. Aku tak mau membayangkan apa jadinya aku kalau sampai itu terjadi, bisa-bisa ada tugu baru di samping tugu Abel, beruntung kami tidak membawa beban berat, hanya tas berisi air minum dan sedikit makanan. Tentu saja Fitra yang membawanya. Poor Fitra.
Gelapnya subuh dan keringat yang dihembus angin pagi membuat gigi kami bergemelutuk, mengantarkan kami di sebuah lapangan luas bak lapangan sepak bola, kami berjalan santai melewati tanah yang landai dengan butiran pasir berwarna abu-abu. Bongkahan-bongkahan batu berserakan dimana-mana, sempat kulihat batu-batu yang disusun membentuk sebuah nama, tak hanya satu tapi cukup banyak. Mungkin itu kreativitas para pendaki.

Kami terus berjalan menuju bukit di seberang lapangan, bukit-bukit itu juga berbatu-batu, tidak ada satu tumbuhanpun sejauh mata memandang hanya pasir dan batu. Puncak Merpati, itulah tujuan kami.Tempat tertinggi di Marapi.

Sesampainya di sana kami bertemu dengan pendaki lain yang juga ingin menikmati sunrise. Ketika kami sampai di atas terdengar adzan subuh berkumandang dari desa di kaki gunung. Segera kami menunaikan salat subuh di Puncak, kubentamg sajadah yang dibawa Fitra, bertayamum dan salat bergantian di atas sana. Perlu kau ingat kawan, mengagumi kebesaran Tuhan bukan berarti kau harus meninggalkan kewajibanmu kepada Nya. Puncak Merpati tidak terlalu luas sehingga kami harus lebih berhati-hati agar tidak terpeleset.

Dari arah matahari terbit terlihat bukit berwarna hijau yang pasti itu adalah taman Edelwis, tempat hidup bunga abadi. Melihat ke arah Tenggara Danau Singkarak memantulkan langit pagi memanjakan mata kami, gunung-gunung tinggi seperti Singgalang dan Tandikek berdiri dengan gagah meremehkan kami. Melihat ke bawah, rumah-rumah, ladang-ladang penduduk membuatku menyadari, betapa kecilnya kami.

Sayang sekali yang ditunggu-tunggu muncul malu-malu dan bersembunyi di balik awan yang bergerak perlahan, entah apa dosaku hingga mentari terbit dengan enggannya meskipun kami sudah menunggu sedari subuh.

Matahari mulai beranjak naik, Fitra yang telah selesai memotret semua yang diinginkan memutuskan untu turun terlebih dahulu. Sedangkan aku, Sofi dan abang ganteng masih berfoto ria juga menyampaikan salam untuk teman-teman kami, dengan kertas yang ditulis dengan spidol.

Sofi punya banyak amunisi untuk kealayan makhluk abad 21 ini. Aku bersyukur karena itu berarti aku bisa memintanya. Setelah itu kertas-kertas tadi difoto dan cekrek… Tak cukup satu mungkin seribu.
Setelah puas berfoto kami langsung turun ke cadas, entah mengapa kami mengurungkan niat untuk pergi ke taman Edelwis. Tapi kami menyempatkan diri berfoto di Tugu Abel sebelum turun.
Tak perlu kuceritakan kisah memalukan ku saat turun. Singkatnya, aku sangat bersemangat ketika naik tapi aku seperti kehilangan separuh kehidupanku saat turun. Satu hal kuceritakan padamu kawan, aku rindu ketika turun melalui cadas ini bersama seseorang di pendakian pertamaku, kisah manis yang tak ingin kulupakan seumur hidupku. (alay? Biarlah! Ini ceritaku, bukan ceritamu!).
Lelah menuruni cadas yang curam, kami sampai di tenda masing-masing, bapak-bapak tetangga kami mengajak masak dan makan bersama yang tentu saja kami setujui. Kau tentu ingat kawan, kami tidak punya kompor. Segera kami mengumpulkan mie instan dan air yang kami miliki dan memberikannya ke bapak-bapak untuk dimasak. Kami lanjut selfie, hahaha benar-benar bukan istri idaman.
Lelah berselfie ria kami menuju tenda tetangga kami dan membantu sedikit yang kami bisa. (yakalee gak bantuin).

Tak pernah kusangka dan tak pernah kuduga, makanan yang disediakan sangat banyak satu porsi bisa untuk tiga kali makan. Aku berpikir bagaimana cara menghabiskannya.
“gilak, ini porsi makan dua hari, ” kata Sofi sambil mensuir-suir daging ayam.
Sambil menunggu semuanya siap abang mapala membuat teh jahe, bukan teh jahe instan tapi benar-benar jahe yang dipotong dan diseduh bersama gula dan teh, sementara abang cantik yang baik hati tengah asik membakar sampahnya.

“Fit bangun Fit, sarapan yok! Turun ke bawah ya” aku membangunkan Fitra yang sedang berkelana di alam mimpi.

“hmmm”

“cepat bangun”

“iyaa”

Nasi putih ditambah mie instan memenuhi piring-piring kami, kompor masih hidup berada di tengah-tengah tenda, tentu saja memanaskan sambal yang membeku. Setelah semuanya siap kami mulai menyantap sarapan bersama-sama, yup kami bertujuh dalam satu tenda menikmati sarapan pagi dengan panorama Singgalang di depan pintu tenda. Ooh benar-benar menyenangkan, “ini seperti keluarga” batinku

Tak pernah kusadari kisah semalam di gunung Marapi akan mengawali kisah baper yang tentunya disulut Fitra dengan aku sebagai bahan bullyannya. Menyebalkan.

1486726227094

***

“bang bagi foto-foto di atas tadi” pinta Sofi

“pakai Line aja lah Sof, ” kataku menimpali

“sekarang aja lah, pakai Bluetooth, line susah nanti”
Akhirnya mereka berduapun bertukar foto lewat Bluetooth.

“nanti kirim ke line ku ya Sof, ” pintaku.

“yoi”

Siang nanti kami harus segera turun biar tidak kemalaman sampai di bawah. Menurut perkiraan jika kami turun pukul 11 kami akan sampai pukul tiga sore. Aku hanya menatap sendu ke arah mereka.

“kita akan sampai dekat-dekat maghrib” kataku ketus. Sofi hanya tersenyum.

“kalau turun cepat nyo, ” timpal Fitra.

Laras sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Ketika turun aku yang memimpin dan Sofi di belakangku. Aku tak perlu risaukan Fitra dengan Laras. Mereka lebih kuat dibandingkan kelihatannya.
Meskipun awalnya aku yang memimpin, pada kenyataannya aku yang paling terakhir.

1486703988605 1486704467076 1486726253676

SISI KELAM SURGA DI UJUNG SUMATRA

pulau tegal

pulau tegal

Birunya air laut, luasnya hamparan pasir putih, deburan ombak beriak-riak manja di kaki-kaki manusia. Sebuah surga nun di ujung Sumatra.

Sebuh bangunan berbentuk persegi panjang  berukuran 6 x 3 meter, dengan warna putih kusam dipadu dengan cat merah jambu yang sudah memudar. Siapapun tak akan tahu ketika menapakkan kaki di Pulau Tegal, jika bangunan itu adalah sebuah sekolah dasar. Sebuah sekolah yang hanya memiliki dua kelas, kelas satu dan kelas dua.

img_6680

Sekolah yang telah berdiri sejak 15 tahun yang silam, timbul tenggalam diantara perubahan zaman, dihidupkan kembali Juli 2016 lalu, tanpa adanya tenaga pengajar tamatan Sekolah Tinggi, sekolah ini tetap mencoba berdiri tegar.

Bisa dibayangkan, seperti apa kondisi waktu belajar setiap hari, hanya ada satu orang guru tamatan SD, hanya berbekal idealisme sebagai pengajar, tanpa imbalan yang memadai sebagai pemberi ilmu bagi masa depan muridnya.

Pria paruh baya, bertubuh kurus dengan kulit kecoklatan  tengah mencoret-coret papan berwarna hitam dengan kapur putih di tangannya. Dihadapannya sepuluh anak-anak tampak serius memperhatikannya. Ya dialah satu-satunya pengajar di SD ini. Pria tamatan SD yang mengabdikan hidupnya untuk mengajar di Pulau kampung halamannya.

Basri namanya, pria berusia 51 tahun ini bercerita meninggalkan desa untuk mencari penghasilan yang layak bagi keluarganya, Basri juga berhenti mengajar selama tujuh tahun, tetapi Juli 2016 ia kembali ke Pulau Tegal untuk mengajar. Meskipun hanya berstatus tamatan SD, itu tak menyurutkan niatnya untuk mengajar. “Saya tidak punya pendidikan yang tinggi, tapi saya diminta sama warga buat ngajar anak-anak,” ucapnya.

basri

Senasib dengan gurunya, siswa-siswa yang hanya terdiri dari 18 orang ini, harus menerima kenyataan dan bersyukur bisa sekolah walaupun hanya sampai kelas dua. Untuk melanjutkan ke kelas tiga, siswa-siswa di sini harus menyeberang ke Pulau lain, sehingga kebanyakan dari mereka lebih memilih bekerja membantu orang tua ketika tamat kelas dua.

Ekonomi, uang, lagi-lagi menjadi penghambat majunya pendidikan di negeri kaya raya ini. Jika ingin melanjutkan sekolah ke kelas tiga saja anak-anak ini harus menyeberang ke Desa Sidodadi. Memang tak butuh waktu lama untuk sampai ke seberang, tetapi butuh kocek tebal untuk menyewa perahu, bisa sampai 200 ribu rupiah dalam satu kali sewa perahu yang memuat 11 orang. Tak hanya itu, gelombang lautan pun acapkali membuat pakaian basah lebih dulu sebelum sampai ke seberang meskipun hanya 15 menit.

Sharma, sosok wanita paruh baya yang berjualan jajanan kecil di dekat sekolah mengaku bersyukur, anaknya bisa sekolah walaupun tidak tamat SD. “Yang penting bisa baca tulis, kalau mau lanjut ya lanjut, tapi ya mau bagaimana lagi,” tuturnya.

Anak-anak di sini memakai pakaian keseharian ketika sekolah, beralaskan sendal atau bahkan tanpa memakai sendal, hanya satu atau dua diantara mereka yang memaki seragam merah putih dan memakai sepatu.

lampung

Lebih dari itu, bukan lagi hal aneh jika melihat anak berusia 12 tahun masih duduk di kelas dua. Adalah hal lumrah, jika seorang kakak yang berusia 12 tahun duduk satu kelas dengan adiknya yang berusia 10 tahun. Bisa dikatakan, mampu banca tulis disini adalah suatu hal yang istimewa dan patut disyukuri.

Lampung, kota tapis bersemi ini dikaruniai banyak keindahan alam yang menjadi kekuatan untuk memajukan perekonomian masyarakat Lampung.

Pulau Tegal salah satu Pulau di tanah Lampung dengan luas + 98 hektarare, dihuni oleh 36 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 100 penduduk ini, mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan dan juga sebagai petani sayuran.

Suatu area pesisir pantai dengan deburan ombak yang tenang. Air laut yang jernih diwarnai dengan hamparan pasir putih. Serta panorama bahari bawah laut yang masih terjaga, dan mampu membias mata orang yang memandang dengan  terumbu karangnya yang tersembunyi. Namun sayang, surga dunia di ujung Sumatra ini tak mampu mensejahterakan penghuninya.

Bak dua sisi mata uang logam, ironis memang, tapi itulah kenyataan. Sebuah potret buram pendidikan di Indonesia yang tersampul dengan cover  yang mempesona.

MENGUAK BERBAGAI SUDUT PANTAI SARI RINGGUNG DAN PULAU TEGAL

Langit cerah biru di Bandar Lampung, mentari pagi yang menyibakkan sinarnya disela dedaunan. Bus berwarna biru langit, menghantarkan melewati tanjakan dan turunan serta kelokan yang membuat badan oleng kekanan dan kekiri kala bus berbelok di kelokan tajam. Menikmati pemandangan bukit-bukit dengan pepohanan hijau serta batuan cadas yang membuat mata celingak-celinguk ke arah jendela.

1,5 jam waktu yang dibutuhkan dari Bandar Lampung menuju wisata Pantai Sari Ringgung yang terletak di Desa Sidodadi, Pesawaran. Harga tiket masuk Pantai Sari Ringgung, tarif untuk perorang 10 ribu rupiah, motor 5 ribu rupiah, mobil 10 ribu, bus sedang 200 ribu dan bus besar 250 ribu. Harga dapat berubah sewaktu-waktu.

Memasuki kawasan Pantai Sari Ringgung, mata disuguhkan pemandangan yang akan membuat insan kekinian merogoh kocek mengambil kamera, birunya lautan, halusnya pasir putih, dan debur ombak di pesisir. Kapal-kapal berwarna-warni dengan bendera merah putih terlihat berjejer di dermaga, menanti penumpang yang ingin mengekplore Pulau lain yang tak jauh dari Sari Ringgung.

Berfoto atau selfie merupakan aktivitas yang tidak bisa dipisahkan oleh manusia zaman sekarang, dimanapun, kapanpun tanpa mengenal siapapun. Apalagi ketika sedang perjalanan, setiap hal adalah momen yang tidak dapat dilewatkan, spot selfie adalah hal yang biasa dicari-cari.

Berfoto di tepi pantai dan merasakan deburan ombak yang menyapu jejak-jejak yang ditinggalkan ditambah dengan semilir angin laut, apalagi terdapat background Pulau-pulau yang berada diseberang Sari Ringgung.

Untuk mendapatkan jangkauan pandangan yang lebih luas, pengunjung dapat mendaki Puncak Indah, dimana dari Puncaknya bisa melihat pemandangan Anak Gunung Krakatau yang perkasa. Bahkan tak perlu sampai puncak, di beberapa tempat tertentu wisatawan bisa melihat seluruh Sari Ringgung beserta gugusan Pulau-pulau yang ada disekitarnya. Jalan menuju puncak sebagian sudah diperkeras, dan diberikan tangga-tangga untuk memudahkan pengunjung mencapai puncak.

 

Tak cukup hanya Sari Ringgung, diseberangnya membentang Pulau Tegal. Untuk sampai ke sana, pengunjung bisa menyewa perahu, penduduk disini menamakannya dengan Taksi Perahu. Mencapai Pulau Tegal harus menyeberangi laut dengan gelombang yang lumayan besar, acapkali pakaian basah lebih dulu sebelum sampai ke Pulau. disarankan kepada pengunjung untuk tidak menjilt bibir, karena pasti akan terasa asin.

Butuh waktu kurang lebih 15 menit untuk mencapai pulau tegal, sewa taksi sekitar 200 ribu yang mampu menampung sebelas orang. Ditengah perjalanan pengunjung bisa menikmati pesona Masjid Apung Al-Aminah dan juga keramba yang sekilas mirip rumah di tengah laut.

Deburan ombak yang tenang. Air laut yang jernih diwarnai dengan hamparan pasir putih yang lembut dan luas. Serta panorama bahari bawah laut yang mengagumkan. Membias mata orang yang memandang dengan keindahan terumbu karang yang tersembunyi. itulah sedikit gambaran dari keindahan pulau Tegal yang kurang diperhatikan oleh pemerintah.

4

Pulau Tegal masih belum begitu terekspose, Lebih dari pada itu, Pulau Tegal memang menyimpan surga tersembunyi, beranjak dari Labuan Apung, menggunakan taksi perahu selama 15 menit, terdapat area snorkeling yang terletak di kawasan Batu Payung, memiliki biota laut yang kaya dan ekosistem yang beragam, tak perlu menyelam terlalu dalam karena surga bawah laut ini bisa dinikmati bahkan dari kedalaman kurang dari satu setengah meter.

5

Biasanya taksi perahu juga menyewakan peralatan snorkeling, jadi tidak perlu repot-repot mencari kesana kemari, cukup membayar 40 ribu rupiah pengunjung bisa menikmati karang-karang di Batu Payung, bahkan nahkoda perahu bersedia jika pengunjung memintanya menjadi guide.

Hutan yang masih rimbun dengan pemandangan yang hijau asri menambah keindahan desa Gebang. Pulau dengan luas + 98 hektarare yang dihuni oleh 36 kepala keluarga dengan jumlah sekitar 100 penduduk ini, mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan dan juga sebagai petani sayuran. Penghasilan mereka sebagai nelayan dan petani belum mencukupi kebutuhan ekonomi.

Nurjani, nahkoda taksi perahu menuturkan penghasilan perbulannya hanya mencapai 600 ribu, itu pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dapurnya saja, belum lagi untuk membeli bahan bakar minyak. Ia berharap pemerintah mencanangkan program agar penduduk Pulau Tegal tidak tertinggal, “meskipun kita sedikit, tapi kan kita masih rakyat Indonesia,” ujar Nurjani.

Oleh: Kelompok 6 (Ifroh, Nafi, Hani, Kristina) PJTLN TEKNOKRA 2016