Makalah: Study Qur’an, ulumul Qur’an

disusun oleh:

Siti Masithoh Nur Arrahmin

Mujawaroh Annafi

Sahrul Hidayat

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis haturkan kepada Allah SWT yang masih memberikan nafas kehidupan, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah “study Qur’an/ulumul Qur’an”. Tidak lupa shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan inspirator terbesar dalam segala keteladanannya. Tidak lupa penulis sampaikan terima kasih kepada dosen mata kuliah Study Qur’an/Ulumul Qur’an, Herlina. Semoga apa yang beliau ajarkan kepada kami menjadi manfaat dan menjadi amal jariyah bagi beliau di Akherat kelak. Amiin.

Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Study Qur’an. Dalam makalah ini akan dibahas beberapa pembahasan mengenai pengertian Ilmu Al – qur’an, Ruang Lingkup Al – qur’an, dan Sejarah Perkembangan Ilmu Al-Qur’an.

Penulis mengucapkan terima kasih atas perhatiannya terhadap makalah ini, dan penulis berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca yang budiman. Dengan segala kerendahan hati, saran-saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan dari guna peningkatan pembuatan makalah pada tugas yang lain dan pada waktu mendatang.

 

Penulis

 

 

DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………………………………………………………………………

Bab I Pendahuluan…………………………………………………………………………

1.1 Latar Belakang Masalah ………………………………………………………..

1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………………

1.3 Tujuan Penulisan…………………………………………………………………..

1.4 Metode Penulisan………………………………………………………………….

Bab II Pembahasan…………………………………………………………………………

2.1 Pengertian Ilmu Al-Qur’an…………………………………………………….

2.2 Ruang Lingkup Ilmu Al-Qur’an……………………………………………..

2.3 Sejarah Perkembangan Ilmu Al-Qur’an……………………………………

Bab III Penutup……………………………………………………………………………..

3.1 Kesimpulan………………………………………………………………………….

3.2 Saran…………………………………………………………………………………..

Daftar Pustaka……………………………………………………………………………….

 

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang Masalah

Al-Qur’an adalah kitab suci yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman untuk umat islam. Kitab yang mencakup hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan didunia maupun diakhirat yang dirangkum dalam Al-Qur’an. Banyak sejarah yang mengungkap bagaimana turunnya Al-Qur’an dan bagaimana cara nabi Muhammad SAW menyampaikan kepada umatnya. Banyak lika-liku yang dihadapi nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan ajaran agama islam dengan Al- Qur’an sebagai pedomannya. Begitu pentingnya Al-Qur’an sehingga umat islam wajib memahami, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an. Dalam mempelajari Al- Qur’an banyak aspek  yang dibahas mengenahi Al-Qur’an, salah satunya adalah ilmu Ulumul Qur’an. Ulumul Qur’an adalah cabang ilmu Al-Qur’an yang membahas tentang asal-usul Al-Qur’an baik asal-usul turunnya maupun isi yang terkandung didalamnya. Sehingga menjadi penting untuk mempelajari ilmu tersebut. Agar dalam memahami Al-Qur’an menjadi lebih mudah dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam makalah yang saya buat berisi pembahasan tentang  pengertian, ruang lingkup dan cabang-cabang ilmu Al-Qur’an.

  • Rumusan Masalah
  1. Apakah pengertian Ilmu Al-Qur’an?
  2. Apa saja ruang lingkup Ilmu Al-Qur’an?
  3. Apa sejarah perkembangan Ilmu Al-Qu’ran?
  • Tujuan Penulisan
  1. Mendeskripsikan pengertian Ilmu Al-qur’an.
  2. Mendeskripsikan ruang lingkup dalam Ilmu Al-Qur’an.
  3. Mendeskripsikan sejarah perkembangan Ilmu Al-Qur’an
    • Metode Penulisan

Dalam pembuatan makalah ini penulis menggunakan metode studi pustaka, yaitu dengan cara mengolah data dari beberapa sumber buku dan media elektronik.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  • Pengertian Ilmu Al-Qur’an

Kata ‘ilmu’ berasal dari bahasa arab yaitu ‘ulum. Dan adapun ‘ulum adalah bentuk jamak dari kata ‘ilm[1]. ‘ilm dalam kamus bahasa arab berarti ilmu pengetahuan[2]. ‘Al-Qur’an’ menurut bahasa ialah: bacaan yang dibaca. Al-Qur’an adalah “mashdar” yang diartikan dengan arti isim maf’ul yaitu “maqru = yang dibaca”[3]. Al-Qur’an berasal dari kata qara’a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun. Adapun qiraah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata yang satu dengan yang lainnya dalam suatu ucapan yang tersusun rapi. Qur’an sebagaimana qiraah yaitu mashdar dari kata qaraah, qiraatan, quranan[4].
(Al-Qiyamah 17-18)

Artinya: “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (didadamu) dan (membuat pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaan itu.

Menurut istilah ahli agama (‘uruf Syara’), ialah: “Nama bagi kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad S.A.W yang ditulis dalam mashhaf”. Mashhaf boleh dibaca Mishhaf atau Mushhaf. Maknanya: Lembaran-lembaran yang dikumpulkan dan diikat, merupakan buku.

Para ahli ushul fiqh menetapkan bahwa Al-Qur’an adalah nama bagi keseluruhan Al-Qur’an dan nama bagi suku-sukunya. Ahli ushul membahas Al-Qur’an dari jurusan kedudukannya sebagai pokok dalil hukum. Maka tiap yang menjadi pokok dalil itu, ialah: ayat-ayatnya. Maka tiap satu ayat itu, dinamai “Al-Qur’an”[5].

 

Ulumul Qur’an memiliki beberapa definisi dari berbagai ulama’ diantaranya: menurut Al- Suyuti dalam kitab Itmamu al-Dirayah, Ulumul Qur’an ialah suatu ilmu yang membahas tentang keadaan al- Qur’an dari segi turun, sanad, adab, dan makna-maknanya, yang berhubungan dengan hukum-hukumnya dan sebagainya. Kemudian, menurut Al-Zarqani dalam kitab Manahilul Irfan fi Ulumil Qur’an yaitu: Ulumul Qur’an ialah pembahasan-pembahasan masalah yang berhubungan dengan al-Qur’an, dari segi turun, urut-urutan, pengumpulan, penulisan, bacaan, penafsiran mukjizat, nasikh dan mansukhnya, serta penolakan (bantahan) terhadap hal-hal yang  bisa menimbulkan keraguan terhadap al-Qur’an (yang sering dilancarkan oleh Orientasi dan Ateis dengan maksud untuk menodai kesucian al-Qur’an) dan sebagainya.

Sedangkan menurut Muhammad ‘ali al-Sabuni ‘ulum al-Qur’an adalah suatu pembahasan yang berkaitan dengan al-Qur’an al-Majid yang abadi dari segi caranya turun, pengumpulan, urutan, dan pembukuan, mengetahui, sebab-sebab turunnya, yang turun di mekkah atau di madinah, mengetahui nasihkh dan mansukh, yang muhkam dan yang mustasyabih dan lain sebagainya.[6]

Ulumul Qur’an adalah ilmu yang mencakup semua aspek ilmu al-Qur’an, tidak seperti ilmu tafsir yang menitik beratkan pada arti atau makna yang terkandung didalam al- Qur’an. Sehingga ruang lingkup dalam Ulumul Qur’an memiliki cakupan yang luas dan dalam. Keberadaan Ulumul Qur’an menjadi benteng yang dapat memperkuat dan menamgkis serangan yang berupa celaan terhadap kebenaran al- Qur’an.

Dari definisi-definisi diatas dapat disimpulkan, bahwa Ulumul Qur’an adalah suatu ilmu yang lengkap dan mencakup semua ilmu yang ada hubungannya dengan al-Qur’an, baik berupa ilmu-ilmu agama, misalnya tafsir, maupun ilmu bahasa arab, misalnya ilmu I’rabil qur’an.[7]

 

 

  • Ruang Lingkup Ilmu Al-Qur’an

2.2.3 Pembahasan ilmu-ilmu al-Qur’an yang pokok

Segala macam ilmu al-Qur’an, walaupun sedemikian banyak-nya, namun ia kembali kepada beberapa macam saja yaitu:

  1. Auqatun nuzul mawathinul nuzul

Berpaut dengan dia, dipautkan ayat-ayat yang diturunkan di Makkah yang dinamai Makkiyah, ayat-ayat yang diturunkan di kala Nabi diberada di kampung yang dinamai Hadlariyah, ayat-ayat yang diturunkan didalam saffar dinamai safariyah, ayat-ayat yang diturunkan disiang hari dinamakan nahariyah, ayat-ayat yang diturunkan di malam hari yang dinamai lailiyah, ayat-ayat yang diturunkan di musim panas dinamai shaifiyah, ayat-ayat yang diturunkan di musim dingin dinamai shitayyah, ayat-ayat yang diturunkan di kala nabi di pembaringan dinamai firasiyah.[8]

  1. Sababun Nuzul

Sebab-sebab Turunnya (suatu ayat) adalah ilmu Al-Qur’an yang membahas mengenai latar belakang atau sebab-sebab suatu atau beberapa ayat al-Qur’an diturunkan. Pada umumnya, Asbabun Nuzul memudahkan para Mufassir untuk menemukan tafsir dan pemahaman suatu ayat dari balik kisah diturunkannya ayat itu. Selain itu, ada juga yang memahami ilmu ini untuk menetapkan hukum dari hikmah dibalik kisah diturunkannya suatu ayat[9]. Ibnu Taimiyyah mengemukakan bahwa mengetahui Asbabun Nuzul suatu ayat dapat membantu Mufassir memahami makna ayat. Pengetahuan tentang Asbabun Nuzul suatu ayat dapat memberikan dasar yang kokoh untuk menyelami makna suatu ayat Al-Qur’an.[10]

  1. Tarikhun Nuzul
  2. Nuzul

Membahas tentang ayat-ayat yang menunjukkan tempat dan waktu turunnya al-Qur’an misalnya: makkiyah, madaniyyah, safariyah dan lain sebagainya. Kemudian juga membahas tentang asbabun nuzul dan sebagainya.

  1. Sanad

Membahas tentang hal-hal yang menyangkut tentang sanad yang mutawattir, ahad, para periwayat, para penghapal al-Qur’an dan cara tahammul (penerimaan riwayat).

  1. Ada’ al-Qiro’ah

Membahas tentang waqof, ibtida’, madd dan lain sebagainya.

  1. Pembahasan tentang lafadz al-Qur’an yang berujung pada pembahasan dalam ilmu Nahwu.
  2. Pembahasan makna al-Qur’an yang berhubungan dengan hukum, yaitu ayat yang mempunyai makna hukum dalam berbagai aspek baik duniawi maupun ukhrawi. Selain itu, pembahasan ini mengarah pada ilmu tafsir yang membahas berbagai makna, isi yang terkandung dalam al-Qur’an.

2.2.4 Bagian-bagian ilmu al-Qur’an dan macam-macamnya

Menurut T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy, pokok-pokok ilmu al-Qur’an yaitu:[11]

  1. Ilmu Mawathinin Nuzul

Ilmu yang membahas tentang tempat-turun ayat, musim awal dan akhirnya.

  1. Ilmu Tawarikhin Nuzul

Ilmu yang menjelaskan masa turun ayat dan tertib turunnya satu demi satu dari awal hingga akhir.

 

  1. Ilmu Asbabin Nuzul

Ilmu yang menerangkan tentang sebab-sebab turunnya ayat.

  1. Ilmu Qira’at

Ilmu yang menerangkan rupa-rupa bacaan-bacaan/qiraat yang diterima Rasulullah.

  1. Ilmu Tajwid

Ilmu yang menerangkan cara membaca al-Qur’an

  1. Ilmu Gharibil Qur’an

Ilmu yang menerangkan makna kata yang ganjil yang tidak terdapat didalam kitab kitab atau percakapan sehari-hari

  1. Ilmu I’rabil Qur’an

Ilmu yang menerangkan baris al-Qur’an dan kedudukan lafadz dalam susunan kalimat.

  1. Ilmu wujuh wan Nazhair

Ilmu yang menerangkan kata-kata al-Qur’an yang banyak arti.

  1. Ilmu Ma’rifatul Muhkam Wal Mutsyabih

Ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang dipandang muhkam dan ayat-ayat yang dianggap muhkam dan ayat-ayat yang dianggap mutasyabih.

  1. Ilmu Nasikh Wal Mansukh

Ilmu yang menerangkan ayat-ayat yang dianggap mansukh oleh sebagian mufassirin.

  1. Ilmu Ba’dail Qur’an

Ilmu yang menyatakan keindahan susunan bahasa Qur’an

  1. Ilmu I’jazil Qur’an

Ilmu yang menerangkan kekuatan susunan lafadz al-Qur’an hingga ia dipandang sebagai mukjizat dapat melemahkan segala ahli bahasa arab.

 

 

  1. Ilmu Tanasbi Ayatil Qur’an

Ilmu yang menerangkan persesuaian antara ayat yang didepan dengan ayat yang sesudahnya.

  1. Ilmu Aqsamil Qur’an

Ilmu yang menerangkan arti dan maksud-maksud sumpah Tuhan yang terdapat dalam al-Qur’an.

  1. Ilmu Amtasil Qur’an

Ilmu yang menerangkan tentang perumpamaan-perumpamaan al-Qur’an.

  1. Ilmu Jadalil Qur’an

Ilmu yang menerangkan macam-macam debatan yang telah dihadapkan al-Qur’an kepada segenap kaum musyrikin dan lain-lain.

  1. Ilmu Adabi Tilawatil Qur’an

Ilmu yang menerangkan segala rupa aturan yang harus dipakai dan dilaksanakan di dalam membaca al-Qur’an.

  • Sejarah Perkembangan Ilmu al-Qur’an[12]

Al-Qur’an adalah mukjizat dalam Islam yang abadi dimana semakin maju ilmu pengetahuan, semakin tampak validitas kemukjizatannya. Para sahabat sangat bersemangat untuk mendapatkan pengajaran Al-Qur’an Al-Karim dari Rasulullah. Mereka ingin menghafal dan memahamminya. Bagi mereka, ini merupakan suatu kehormatan. Abu Abdirrahman As-Sulami meriwayatkan, bahwa orang-orang yang biasa membacakan Al-Qur’an kepada kami, seperti Utsman bin Affan dan Abdullah bin Mas’ud, serta yang lainnya; apabila mereka belajar sepuluh ayat dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam, mereka enggan melewatinya sebelum memahami dan mengamalkannya. Mereka mengatakan, “Kami mempelajari Al-Qur’an, ilmu, dan amal sekaligus.”

 

Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam tidak mengizinkan mereka menulis apa pun selain Al-Qur’an, sebab ditakutkan dapat tercampur aduk dengan yang lain. Muslim meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, bahwa Rasulullah saw bersabda,

لا تكتبوا عني ومن كتب عني غير القران فليمحه  وحدثوا غني ولا حرج ومن كذب علي متعمدا فليتبوا مقعده من النار

Artinya: “Jangan sekali-kali menulis apa pun dariku. Barangsiapa menulis sesuatu selain Al-Qur’an dariku maka hapuslah. Sampaikanlah haditsku, tidak masalah. Namun, barangsiapa mendustakan aku dengan sengaja, maka nerakalah tempatnya.”

Demikianlah yang terjadi pada masa Rasul, masa Khalifah Abu Bakar, dan Umar Radhiyallahu Anhuma. Lalu pada masa Khalifah Utsman Radhyallahu Anhu, sesuai dengan tuntunan kondisi –seperti yang akan dijelaskan kemudian membuat suatu terobosan ijtihad mulia, yaitu demi menyatukan kaum muslimin dengan pedoman satu mushaf yang kemudian diberi nama mushaf Al-Imam. Selanjutnya, mushaf tersebut dikirim ke berbagai negeri saat itu. Adapun tulisan huruf-hurufnya disebut sebagai rasm Utsmani, yang dikaitkan dengan nama Khalifah Utsman. Langkah ini adalah awal munculnya ilmu penulisan rasm Al-Qur’an. Hal ini dianggap sebagai cikal bakal dari munculnya ilmu Al-Qur’an.

Di antara para mufassir terpopular di kalangan sahabat Nabi adalah; empat khalifah, Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Musa Al-Asy’ari dan Abdullah bin Az-Zubair. Di antara murid-murid Ibnu Abbas yang cukup termasyhur adalah Said bin Jubair, Mujahid, Ikrimah maula Ibnu Abbas, Thawus bin Kisan Al-Yamani dan Atha’ bin Abi Rabah.

Murid Ubay bin Ka’ab yang popular di Madinah adalah Zaid bin Aslam, Abul Aliyah, dan Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi. Di Irak terdapat murid Abdullah bin Mas’ud yang juga terkenal sebagai mufassir. Mereka yaitu; Alqamah bin Qais, Masruq bin Al-Ajda’, Aswad bin Yazid, Amir Asy-Sya’bi, Hasan Al-Bashri, dan Qatadah bin Di’amah As-Sadusi.Abad kedua Hijriyah adalah masa kodifikasi.

Pada masa selanjutnya, sekelompok ulama melakukan penafsiran secara komprehensif terhadap Al-Qur’an sesuai tertibnya ayat yang ada dalam mushaf. Di antara mereka yang terkenal adalah Ibnu Jarir Ath-Thabari (wafat 310 H).

Demikianlah, pertama kali tafsir dilakukan dengan metode dari mulut ke mulut dan periwayatan, lalu melalui proses kodifikasi, tapi masih masuk dalam bab-bab hadits. Lalu pada tahap berikutnya dikodifikasikan secara mandiri. Kemudian muncul tafsir bil ma’tsur (yang menggunakan dalil-dalil Al-Qur’an, hadits Nabi, serta perkataan para sahabat dan salafushshalih) dan tafsir bir-ra’yi (yang menggunakan akal atau pendapat pribadi). Dalam bidang ilmu tafsir muncul karya-karya tematik yang berkaitan dengan tafsir Al-Qur’an yang cukup penting bagi seorang mufassir.

Sangat banyak karya-karya ulama yang mengkaji disiplin ulumul Qur’an. Karya-karya itu dirangkum dalam satu karya besar sebagaimana yang disinyalir oleh Az-Zarqani dalam kitabnya Manahil Al-’Irfan fi ‘Ulum Al-Qur’an bahwa di dalam Dar Al-Kutub Al-Mishriyah, ada sebuah kitab karya Ali bin Ibrahim bin Said, terkenal dengan sebutan Al-Hufi. Nama kitab tersebut Al-Burhan fi ‘Ulumi Al-Qur’an, terdiri dari 30 jilid. Di dalamnya terdapat 15 jilid yang mana di sana penulisannya menyebut ayat-ayat Al-Qur’an sesuai dengan tertib mushaf yang mencakup pembahasan ulumul Qur’an.

 

Lalu, Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengikuti jejak Al-Hufi. Ia menulis kitab “Funun Al-Afnan fi ‘Aja’ibi ‘Ulum Al-Qur’an.” Badruddin Az-Zarkasyi (wafat 794 H) menulis “Al-Burhan fi ‘Ulum Al-Qur’an.” Jalaluddin Al-Balqini (wafat 824 H) menulis “Mawaqi’ Al-’Ulum min Mawaqi’ An-Nujum,” menambahi sedikit kitab Az-Zarkasyi. Kemudian, Jalaluddin As-Suyuthi (wafat 911 H) dengan kitabnya yang cukup terkenal yaitu “Al-Itqan fi ‘Ulum Al-Qur’an.”. Inilah beberapa kajian yang dikenal sebagai studi ilmu-ilmu Al-Qur’an. Sekarang, kita beralih kepada definisi singkat tentang ulumul Qur’an.

 

[1] Subhi Al-Salih, Mahabbits fi ‘Ulum Al-Qur’an, (Beirut, Darli al-malayyin, 1997)

[2] Achmad Sunarto, Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya, Pustaka Barokah, 2010), hlm 150.

[3] M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an Tafsir, (Yogyakarta, Bulan Bintang, 1980), hlm 15.

[4] Manna’ Khalil al-Qattan, Mahabbits fi ‘Ulum Al-Qur’an, (Beirut, Man syurat al-a’Asr al hadist, 1973), hlm 20.

[5]M. Hasbi Ash-shiddieqy, Op.cit, 1980, hlm 16.

[6] Al-Sabuni, al-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, (Tp: ‘Alma al-Kutub, tt), hlm 8 dalam Helina, Studi Al-Qur’an, (Pekanbaru, Benteng Media CV, 2013), hlm 4.

[7] http://www.academia.edu/8259383/Pengertian_Ruang_lingkup_dan_cabang2_ilmu_Al-Quran

[8] M. Hasbi ash-shiddieqy, Op.Cit., hlm 114

[9] Muchotob Hamzah, Studi Al-Qur’an Komprehensif, (Yogyakarta, Gama Media, 2003), hlm 3

[10] Hudzaifah.org – Asbabun Nuzul (Sebab-Sebab Turunnya Ayat) Surat Al Qadr

[11] T.M Hasbi Ash-Shiddieqy, Op.Cit., hlm 116

[12]H. Aunur Rafiq El-Mazni, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an, (Jakarta, Pustaka Al-Kautsar, 2010), hlm. 3 – 10.

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Ulumul Qur’an adalah suatu ilmu yang lengkap dan mencakup semua ilmu yang ada hubungannya dengan al-Qur’an, baik berupa ilmu-ilmu agama, misalnya tafsir, maupun ilmu bahasa arab, misalnya ilmu I’rabil qur’an.

Ruang lingkup Ilmu Al-Qur’an meliputi:

  1. Pembahasan ilmu Qur’an yang pokok, terdiri dari: Auqatun nuzul mawathinul nuzul, Sababun Nuzul, dan Tarikhun Nuzul
  2. Bagian-bagian ilmu al-Qur’an dan macam-macamnya, terdiri dari: Ilmu Mawathinin Nuzul, Ilmu Tawarikhin Nuzul, Ilmu Qira’at, Ilmu Tajwid, Ilmu Gharibil Qur’an, Ilmu I’rabil Qur’an, Ilmu wujuh wan Nazhair, Ilmu Ma’rifatul Muhkam Wal Mutsyabih, Ilmu Nasikh Wal Mansukh, Ilmu Ba’dail Qur’an, Ilmu I’jazil Qur’an, Ilmu Tanasbi Ayatil Qur’an, Ilmu Aqsamil Qur’an, Ilmu Amtasil Qur’an, Ilmu Jadalil Qur’an, Ilmu Adabi Tilawatil Qur’an.

Pada zaman rasulullah para sahabat menghafal dan memahami al-Qur’an karena bagi mereka itu adalah suatu kehormatan. Lalu pada masa Khalifah Utsman Radhyallahu Anhu, di susunlah Al-Qur’an menjadi satu mushaf untuk menyatukan kaum muslimin yang kemudian diberi nama mushaf Al-Imam. Hal ini dianggap sebagai cikal bakal dari munculnya ilmu Al-Qur’an. Pada masa selanjutnya, sekelompok ulama melakukan penafsiran secara komprehensif terhadap Al-Qur’an sesuai tertibnya ayat yang ada dalam mushaf.

3.2 Saran

Setelah mempelajari study qur’an, kita sebagai umat islam harus mempercayai kebenaran ilmu-ilmu Al-Qur’an dan mengamalkannya serta mengembangkan ilmu Al-Qur’an agar dapat memajukan umat islam.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Subhi Al-Salih, Mahabbits fi ‘Ulum Al-Qur’an. Beirut: Darli al-malayyin, 1997.

Achmad Sunarto, Kamus Arab-Indonesia. Surabaya: Pustaka Barokah, 2010

  1. Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an Tafsir. Yogyakarta: Bulan Bintang, 1980.

Manna’ Khalil al-Qattan, Mahabbits fi ‘Ulum Al-Qur’an. Beirut: Man syurat al-a’Asr al hadist, 1973.

Al-Sabuni, al-Tibyan fi Ulum al-Qur’an, (Tp: ‘Alma al-Kutub, tt) dalam Helina, Studi Al-Qur’an. Pekanbaru: Benteng Media CV, 2013.

http://www.academia.edu/8259383/Pengertian_Ruang_lingkup_dan_cabang2_ilmu_Al-Quran

Muchotob Hamzah, Studi Al-Qur’an Komprehensif. Yogyakarta: Gama Media, 2003.

Hudzaifah.org – Asbabun Nuzul (Sebab-Sebab Turunnya Ayat) Surat Al Qadr

  1. Aunur Rafiq El-Mazni, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2010.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s